OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 289 BIARKAN AKU SENDIRI



Liang Jia menikmati secangkir teh yang disuguhkan Xin Er sebelum pamit kembali ke tempatnya untuk istirahat sejenak. Ia menyulam gambar wajah Weini yang diambil dari internet, pose Weini dari sudut dekat begitu memikat ibunya. Walaupun hanya wajah dari topeng, kecantikan anak gadisnya tidak diragukan.


Seorang pelayan masuk membawakan kudapan untuk Liang Jia, “Silahkan nyonya.” Ujar pelayan itu begitu menaruh kudapan itu di atas meja.


Liang Jia hanya menjawab sekenanya tanpa menatap si pelayan, namun ia merasa tengah disoroti tatapan pelayan yang belum juga beranjak dari sana, seketika itu juga Liang Jia menoleh ke arah pelayan itu. “Kamu ngapain masih di sini?”


“Maaf nyonya.” Pelayan ini menunduk lalu membungkuk hormat sebelum balik badan.


“Tunggu!” Liang Jia mencegat pelayan itu berlalu, ia perlu memastikan sesuatu. Pelayan itupun menghadap Liang Jia tanpa berani menatapnya.


“Kamu pelayan baru? Siapa yang mengirimmu ke sini?” Tanya Liang Jia.


Pelayan itu tampak gugup, ia menyembunyikan wajah dalam posisi menunduk. “Hamba … Ampun nyonya, hamba baru satu minggu. Bibi Gu yang meminta hamba melayani nyonya.”


Liang Jia mengernyit, ia tidak membutuhkan pelayan tambahan tetapi kenapa bibi Gu mengirim orang baru kemari. Pelayan yang bertugas di paviliunnya adalah pelayan berpengalaman, orang baru seperti gadis yang berdiri di hadapan Liang Jia ini biasanya akan dilatih dan di tempatkan pada bagian lain, dapur misalnya.


“Pergilah, bilang pada Gu agar kau dipindah ke tempat lain. Aku belum perlu pelayan baru.” Seru Liang Jia.


Selepas pelayan itu pergi, Liang Jia melanjutkan rajutannya. Pikirannya terus menerawang jauh, menncurigai sesuatu. Tindak tanduk pelayan itu cukup mencurigakan, Liang Jia bahkan menatap kudapan yang diberikan pelayan itu. Ia khawatir ada racun di dalam makanan ringan itu.


Xin Er kembali dari istirahat, pas di saat Liang Jia perlu teman bicara yang dapat dipercaya. Wanita tua itu mendapati majikannya mengendus kue kering yang dipegangnya.


“Ada apa nyonya? Apa ada yang salah dengan kue itu?” Tanya Xin Er seraya mengambil satu keu kering lalu mencontoh Liang Jia. Ia tak mencium aroma aneh dari kue tersebut.


Liang Jia menatap Xin Er dengan sorot serius lalu menyuruhnya duduk merapat. Xin Er menurut meskipun heran namun ia tetap diam.


Liang Jia memastikan ruangannya kedap suara dan tirai tetap tertutup, “Aku merasa Li San mengirim mata-mata untuk mengawasiku.” Bisiknya pada Xin Er.


Xin Er jelas terkejut, ini bukan kabar baik yang didengarnya. “Lalu kita harus bagaimana nyonya? Apa nyonya takut ini ada racunnya? Saya akan singkirkan itu.” Xin Er menyingkirkan piring berisi kudapan itu menjauh dari hadapan Liang Jia.


Liang Jia meraih jemari Xin Er, menggenggamnya erat. “Xin Er, bagaimana caramu terhubung dengan Wei? Tolong sampaikan ke dia agar hati-hati, perasaanku tidak enak sekarang. Aku yakin Li San tahu sesuatu dan diam-diam berbuat sesuatu.”


Xin Er ikutan memasang raut sedih, jika benar firasat Liang Jia maka suaminya akan kembali menghadapi kesulitan besar. Ia dan nyonya besar ini berada dalam posisi yang sama, mencemaskan orang kesayangan mereka. “Saya … Saya tidak yakin apa ini sebuah cara, tapi Wei bisa telepati. Tiap aku rindu, aku akan bicara dalam hati dan menyebutkan namanya, berharap ia mendengarkanku.”


Liang Jia mengangguk, ia menaruh harapan besar pada Xin Er. “Kalau begitu, kabari dia agar lebih waspada. Aku menggantungkan keselamatan putriku padanya.”


***


Haris mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, saat ini ia sedang menyiapkan makan malam untuk porsi sendiri. Namun begitu mendengar langkah kaki yang dihapalnya, ia mengernyit heran lalu menatap bahan masakan yang disiapkannya. Sepertinya ia harus merubah rencana, seporsi makanan tidak akan cukup untuk berdua.


Weini langsung menghambur ke kamarnya, tanpa menyapa Haris terlebih dulu. Ia menahan diri agar tetap normal hingga bisa kembali ke kamarnya untuk bertapa dalam kesendirian. Haris mencium ketidak-wajaran sikap Weini, ia menghampiri lalu mengetuk pintu kamarnya.


“Ada apa lagi? Kalian bertengkar lagi?” Hanya Xiao Jun yang bisa membuat Weini begitu, dan Haris hanya perlu mencari tahu masalahnya. Sayangnya Weini tidak memikirkan apa-apa, sejak tahu bahwa Haris bisa membajak pikirannya, gadis itupun lebih berhati-hati dalam berpikir.


Weini membiarkan ketukan kamar itu semakin menjadi, tidak ada niat untuk mengijinkan ayahnya masuk. Biarlah hanya kali ini ia bersikap egois, toh ia juga sudah beranjak dewasa. Tetapi Haris tak mudah menyerah, hanya sebuah pintu bukan penghalang besar baginya. Ia meraih gagang pintu dan hanya perlu mengeluarkan sedikit saja tenaga dalamnya untuk membuka kunci dari dalam.


Bunyi pintu terbuka disusul munculnya sosok Haris membuat Weini tersentak kaget, sedetik kemudian gadis itu menyengir. Haris sudah berdiri di depannya dengan senyuman tenang, tiada kata maaf, yang ada malah mencari pembenaran. “Kamu yang memaksaku mengeluarkan bakat malingku.”


Weini memalingkan wajah, meskipun ucapan Haris memang jenaka tetapi ia tak berniat tertawa. Haris tetap tersenyum, gadis itu hanya butuh suntikan semangat. “Ada dua anak muda yang lagi bermasalah, kemarin dia datang mencariku dan juga terlihat kusut. Lalu sekarang kamu … Kenapa percintaan anak jaman sekarang banyak lika-likunya, masih enakan jamanku dulu.” Goda Haris.


Weini mendongak, tak lagi menyembunyikan wajahnya. Ia mengernyitkan dahi menatap keseriusan Haris. “Dia datang cari ayah kemarin? Apa yang dia bahas?”


Haris mengangkat bahu lalu mengambil posisi duduk di samping Weini. “Hanya sedikit merindukan keluarganya, dia hanya meminta saranku sebagai sesama pria.” Jawab Haris yang jelas hanya kebohongan, Xiao Jun kemari untuk menodongnya mengaku, bukan untuk curhat masalah perasaan.


Weini menunduk sedih, “Oh ….” Kilahnya singkat.


“Dia datang ke tempat kerjaku penuh emosi lalu bertanya siapa aku sebenarnya.” Ujar Weini lirih.


Haris terkejut, putranya semakin melewati batas. Rasa ingin tahunya kian menyesatkan, jika terus begini Haris cemas jika Weini akan dipaksa buka mulut seperti yang dilakukan Xiao Jun kepadanya.


“Aku tidak bisa menjawab dia saat itu, sikapnya sangat mengejutkan. Belum pernah aku melihat dia marah seperti itu. Tapi semakin dipikir, dia memang benar. Aku memang menyimpan rahasia besar darinya. Bagaimana aku bisa menikahinya dengan sebuah kebohongan besar dalam diriku? Ayah, perlukah aku terus terang bahwa aku adalah Yue Hwa?”


Haris terdiam sejenak, ini bukanlah keputusan yang mudah. Sorot mata Weini tampak mendesaknya untuk segera memberi jawaban. Haris langsung menggelengkan kepala dengan tegas, Weini dibuat kecewa melihat isyarat jawaban ayahnya.


“Kalau begitu tolong keluarlah, biarkan aku sendiri.” Pinta Weini. Hanya untuk saat ini, ia ingin sendiri.


***