
Hanya ada kau dan aku di atas langit tanpa batas
Menembus rasa yang belum jelas
Hanya ada kau dan aku, menunggu kata itu terucap
Mengisi ruang yang sudah kusiapkan untuk kau tempati
Di sini… di hatiku…
_Quote of Weini aka Yue Hwa_
***
Meja bundar yang awalnya hanya diletakkan minuman, kini mulai terisi dengan hidangan lezat. Satu ekor angsa panggang yang sudah dipotong menjadi beberapa bagian kecil namun masih memperlihatkan keutuhan, sup
ikan fillet, dimsum, Stinky Tofu, dua mangkuk kecil nasi putih beserta sumpit dan aneka pudding sebagai pencuci mulut.
Weini nyaris ngiler melihat kemunculan satu demi satu masakan khas kota kelahirannya itu. Aroma angsa panggang kian mengelitik lambung, ia tak sabar menanti ajakan Xiao Jun untuk mulai menyantap.
“Selamat makan, Weini.” Xiao Jun banyak mengumbar senyum saat bersama Weini. Melihat tingkah gadis itu yang apa adanya saja sudah cukup membuatnya lupa kepenatan kerjaan.
“Mari makan!” Weini meraih sumpit lalu mengambil sepotong daging angsa bakar. Menu itu sudah diincar sejak disajikan. Mata Weini terpejam meresapi cita rasa masakan itu, lezatnya mengingatkan masa lalu saat ia setiap hari mencicipi masakan enak di rumah ayahnya. Ia mencicipi menu lain, semua itu benar-benar membangkitkan nostalgianya.
“Kau sengaja mengatur ini semua kan? Good job Men!” ujar Weini dengan mulut penuh makanan.
“Hanya kebetulan, aku tidak seniat itu menyiapkan.” Tepis Xiao Jun.
“Ah, semua terasa seperti terencana dengan baik. Di dunia ini nggak ada kebetulan, pasti ada alasannya. Whatever lah, yang penting worth it banget makan malamnya. Trims!” Weini kini melahap sup ikan yang dicocor dengan Stinky tofu.
“Habiskan semuanya! Kokinya khusus didatangkan dari Hongkong.” Perintah konyol dari Xiao Jun, mana mungkin Weini sanggup menghabiskan semua masakan itu meskipun porsinya standar.
“Wow… hebat. Koki saja pake impor hahaha. Kenapa serepot itu bukankah di sini banyak koki handal?” tanya Weini. meskipun ia lebih tertarik mencicipi semua makanan ketimbang mendengar jawaban Xiao Jun.
“Karena kau sangat suka masakan Hongkong. Koki asli dari sana tentu lebih original rasanya.”
Mendengar Jawaban Xiao Jun langsung membuat Weini berhenti mengunyah. Ia terharu pria itu sepenuh hati menyiapkan kejutan untuknya. Meskipun Xiao Jun enggan mengakui, namun Weini sangat yakin semua ini
sudah direncanakan.
“Makanlah, mana bisa kenyang kalau hanya dilihatin makanannya.” Weini berlagak bawel.
Xiao Jun nyengir sebelum ikut menyantap, ia meraih sumpit dan menjepit tofu sebagai desert. Selera makan Weini memang bagus, perut gadis itu bak terbuat dari karet. Hanya melihatnya makan saja Xiao Jun sudah merasa kenyang.
“Anyway… thanks!” Weini mengucapkan itu dengan nada yang sangat pelan. Wajahnya bersemu merah, ia merasa cukup malu padahal hanya berterima kasih.
“Bu ke qi (sama-sama). Kalau kau mau, lain kali kita makan langsung ke Hongkong lalu pulang. Kuajak makan mie pangsit paling enak di sana langsung dari kedainya.” Xiao Jun mencicipi sup ikan tanpa melihat ekspresi wajah Weini yang berubah kaku saat mendengar ajakannya.
“Eh… ke Hongkong…” bukan bersemangat, Weini justru lemah. Mana mungkin ia kembali ke kota itu untuk cari mati?
“Yup, pakai jet ini. Kita makan lalu pulang.”
“Aku nggak bisa… jadwalku padat, apalagi setelah ujian nasional.” Weini mencari alasan yang masuk akal.
Weini mengangguk. Rupanya Xiao Jun tidak seegois yang ia kira, bos muda itu masih punya pengertian untuk tidak memaksa kehendak.
“Btw, kita mau kemana?” Weini menoleh ke jendela, mereka masih terkatung di udara.
Xiao Jun mengangkat bahu, “Aku hanya menginstruksikan pilot mutar-mutar ibu kota saja sampai kita selesai makan. Kamu pengen kemana katakana saja.”
Duaaaar! Bak kesambar geledek. Xiao Jun dengan enteng berkata demikian, seakan dunia sanggup ia takhlukkan dengan kuasanya. Jiwa miskin Weini bergejolak, walaupun ia sudah memiliki tabungan yang lumayan dari hasil syuting namun jika dibandingkan dengan pria itu mungkin kekayaan Weini hanya seujung kukunya.
“Aku nggak punya tujuan. Hahaha ini makan malam tergokil yang pernah ada.” Weini kembali mencicipi makanan yang belum sempat ia sentuh.
“Apa rencanamu setelah lulus?” tanya Xiao Jun.
Weini tampak berpikir, ia malah belum kepikiran sampai ke situ. “Ng… rencana jangka pendek mungkin aku fokus karier dulu. Rutinitas sekolah sudah membuatku sangat jenuh. Kalau kamu? Berapa lama tinggal di sini?”
“Dua tahun kalau tidak ada halangan.” Jawab Xiao Jun lirik. Hatinya terasa berat saat melontarkan kata-kata itu.
“Owh…” Weini tak kalah galau saat mendengar waktu dua tahun. Setahunya Xiao Jun sudah hampir Sembilan bulan di Jakarta, berarti tinggal satu tahunan lagi. Meski bukan siapa siapa Weini, tapi ia cukup mengenal Xiao Jun dan Lau dan merasa seperti keluarga. Jika mereka pergi, Weini mungkin akan sangat kehilangan.
“Aku bisa datang berkunjung kok. Kamu juga bisa ke tempatku.” Xiao Jun serba salah, suasana yang semula santai mendadak jadi canggung gara-gara pembahasan ini.
“Yaaa… kau harus sering membawakanku makanan enak! Jika kau masih ingat aku…” goda Weini tanpa merasa bersalah. Ia menyantap tofu goreng dengan santai seakan tidak mengucapkan kata itu.
“Bertemu karena kejodohan. Aku bukan orang yang mudah melupakan orang. Apalagi jika orang itu berkesan.” Xiao Jun mulai mengarahkan pembicaraan tentang perasaannya. Ini mungkin saat yang tepat untuk menyatakan kesungguhan hatinya terhadap Weini.
“Ng…” Weini seketika gugup, kata berkesan itu terngiang dalam pikirannya. Apa Xiao Jun akan menyatakan perasaan? Apa pria itu menyukainya? kalau dia nembak sekarang, Weini harus menjawab apa? Kegalauan
terus berkecamuk, ia berdoa semoga Xiao Jun tidak menggiring pembicaraan ke hal itu. Ia belum siap memberi jawaban.
“Weini, Aku…”
***
Li San serius menyimak rekaman video yang dikirimkan pengawalnya. Semenjak Chen Kho menentangnya dengan menyukai anak gadis Wei, ia telah mengirim mata-mata untuk mengawasi gerak gerik keduanya. Raut marah
terlihat jelas, Chen Kho rela hujan-hujanan dan pingsan demi mengejar gadis itu.
“Kurang ajar!” Li San melempar ponsel hingga terpisah beberapa bagian lantaran emosi. Ia enggan meneruskan nonton, berani sekali keponakannya mencoreng harga diri keluarga hanya untuk mengemis cinta gadis yang tidak sepadan.
“Tuan besar, mohon jangan emosi. Apa perlu kami habisi gadis itu?” Mata-mata Li San mengajukan solusi.
“Jangan dulu. Ini masalah serius, dia jatuh cinta pada gadis itu saja sudah masalah, jika kita bunuh sekarang, kakakku bisa balik menyerangku.”
Awalnya Li San tak percaya pada pernyataan Chen Kho tentang dukungan keluarganya, tapi setelah ia kroscek dengan San Jing, ternyata benar bahwa mereka merestui pilihan Chen Kho siapapun itu.
“Sementara kita jadi penonton dulu. Siapa tahu Chen Kho hanya menjadikannya mainan, setelah bosan pasti ia campakkan. Jangan sentuh gadis itu, aku tidak mau Xiao Jun tahu perlakuanku kepada kakaknya.”
“Hamba mengerti Tuan besar.”
***