
“Jangan berdiri di sana! Kita harus tidak terlihat oleh mereka, tapi ada di sekitar sini.” Gumam Dina yang sejak tadi sangat perfeksionis mengomentari teman temannya. Ada saja yang salah di matanya.
Stevan mulai capek karena sejak tadi dikomplain oleh gadis manager itu. “Sebenarnya kita disuruh ke sini ngapain sih? Ini kan momen mereka berdua, lebih romantis kalau nggak serame ini kan?” Celetuk Stevan.
Dina nyengir, bersiap mencibir pria itu. “Lu aja kapan hari lamaran rame yang lihatin. Kenapa mereka nggak boleh? Lagian kita kan orang orang terdekatnya, harusnya kita merasa bangga karena diajak terlibat. Bos Jun mah bisa aja lamaran secara privat, kalau mau dari tadi aja udah dilakukan. Tapi kan dia mencari timing yang tepat, dan di sinilah tempat eksekusinya.” Jelas Dina.
Grace manggut-manggut, ia pro seratus persen pada gadis manager itu. “Benar, aku setuju banget sama kamu. Stev sih nggak ngerti gimana perasaan cewek, dilamar kayak gini tuh so sweet banget tahu.” Ujar Grace kemudian bertoas ria dengan Stevan.
Stevan menaikkan satu alisnya, pernyataan Grace barusan agak menguras pikirannya. “Sayang, jadi menurut kamu lamaran aku kapan hari itu nggak sweet ya?” Ujar Stevan sedikit lesu.
Grace berhenti tersenyum, baru menyadari kalau ia sudah membuat tunangannya salah paham. “Bukan gitu, ya maksud aku tuh tiap orang punya cara. Cara kamu kemarin berkesan banget kok, aku sangat terharu. Dan aku yakin Yue Hwa juga akan terharu mendapatkan lamaran dari Jun seperti ini.”
Dina ikut menganggukkan kepala, padahal Weini yang sedang dibicarakan namun ia yang merasa perlu menyentil seseorang. Lirikan matanya menjurus ke arah Ming Ming, bahkan sengaja berdehem agar pria itu mengerti. Ming Ming mengerutkan dahinya. Ia jelas peka terhadap keinginan Dina, hanya saja ada yang mengganjal di hatinya. Dengan keterbatasan kemampuannya, Ming Ming tentu tidak bisa memberikan acara kejutan lamaran seperti yang Xiao Jun lakukan. Jika suatu saat ia telah siap melamar Dina, ia hanya bisa melakukan dengan cara serta kemampuannya.
Ponsel di kantong celana Dina bergetar, reflek ia mengeluarkannya kemudian segera membacanya. “Guys, ini dari bos Jun. Kayaknya bentar lagi sampai deh.” Ujar Dina bersemangat, padahal ia belum membaca sepenuhnya pesan masuk itu. Yang lain yang mendengarnya langsung menegakkan tubuh, bergegas akan menuju posisi yang sudah ditunjuk Dina.
“Eh... ternyata diundur.” Timpal Dina dengan lesu. Semangat membaranya mendadak terkubur lantaran aba aba Xiao Jun mengatakan bahwa segalanya diundur dulu. Mereka yang mendengar apa yang Dina sampaikan ikutan merasa lemas, Stevan malah terlihat gusar lalu melayangkan pertanyaan pada Dina.
“Jangan bilang kalau dia nggak jadi lamar adikku. Eh, tapi mereka berdua kan adikku. Hmm....”
Dina menggeleng mantap, dia memang juru bicara Xiao Jun yang paling bisa diandalkan. “Tenang saja, aku yakin ini hanya masalah waktu. Mungkin mereka kejebak macet kan ke sini.” Ujar Dina berpikiran positif.
“Bukannya mereka naik jet? Masa di langit bisa macet?” Timpal Grace yang ikutan bingung dan tidak sabaran.
Dina mengerucutkan bibirnya, tampak sangat menggemaskan. “Iya juga sih, ah entahlah pokoknya ini hanya diundur. Bos Jun nggak bilang batal jadi pasti akan dia laksanakan malam ini juga.”
Semua kembali diam, lesu dan terduduk di tempat yang membuat mereka merasa nyaman. Menunggu memang pekerjaan yang paling membosankan, apalagi jika disuruh menunggu yang tidak pasti, serasa setengah mati menantikan waktu itu menghampiri.
Pesan itu terkirim beserta bukti sebuah foto kamar yang telah dipenuhi dekorasi yang membuatnya tampak manis. Dina berharap mendapatkan balasannya, ia pun mendekap ponsel itu seraya terus berdoa agar alat komunikasi itu segera berdering.
***
“Jun, aku akan mengajak ibuku ke sini. Kamu tidak keberatan kan kalau nanti pas ibuku datang, biarkan kami menginap di sini satu malam saja.” Pinta Weini bersungguh sungguh, setelah Xiao Jun melantunkan sebuah lagu untuknya dan masih merasa malu lantaran merasa suaranya pas pasan, padahal Weini sama sekali tidak mengungkit tentang kemampuannya.
Xiao Jun berpikir sejak, menimbang nimbang permintaan Weini dari berbagai sisi. “Hmm... tapi agak merepotkan kalau warga di sini menyadari, mereka akan heboh sendiri dan mungkin saja kalian tidak akan nyaman. Belum lagi kalau ada wartawan usil, meskipun aku bisa mengusahakan keamanan, bukan berarti bisa mengandalkannya seratus persen Hwa. Sebaiknya tinggal di apartemen saja ya. Lagian masih ada satu unit yang kosong, kalian bisa lebih nyaman di sana.”
Weini sedikit manyun, padahal ia tahu keinginannya sangat kecil harapan untuk disetujui, tetap saja ia ingin menyuarakannya. Berharap barangkali Xiao Jun akan mempertimbangkannya. “Yah... sayang sekali, padahal aku ingin banget mengenalkan rumah ini pada ibu. Biar ibu tahu di tempat seperti apa aku dibesarkan ayah.” Gumam Weini lirih.
Xiao Jun jelas mengerti kekecewaan yang dirasakan Weini, tapi apa boleh buat. Inilah yang disebut resiko menjadi publik figur atau tokoh yang sangat berpengaruh seperti Weini. Tindak tanduknya pasti akan jadi sorotan publik serta selalu dinantikan celahnya agar bisa dijadikan berita. “Sabarlah, aku akan cari cara agar kalian bisa mengunjungi rumah ini dengan aman. Tapi tidak untuk menginap ya.” Gumam Xiao Jun yang sedikit luluh karena tak sanggup melihat raut wajah Weini yang sedikit kecewa.
Senyuman manis terlihat jelas dari wajah Weini, walaupun belum sepenuhnya pasti tetap saja ia merasa senang karena Xiao Jun mau mengusahakannya. “Makasih Jun, aku tahu kamu pasti bisa diandalkan.” Gumam Weini, senang.
Xiao Jun melirik jam di dinding yang nyaris jam sembilan malam, sudah terlalu lama mereka di rumah ini. Dan sudah saatnya pula ia mengajak Weini ke tujuan terakhir yang sekaligus mengungkapkan misi seharian ini. “Hwa, kita lanjut lagi yuk.” Ajak Xiao Jun, tangannya terjulur menantikan tangan Weini yang akan menyambutnya.
Weini merasa sudah puas melepas kangennya di rumah ini, ia pun mengangguk setuju sambil memberikan tangannya untuk digenggam. Belum juga langkah kaki mereka keluar, Weini teringat sesuatu dan berhenti meneruskan langkahnya. “Jun, sebentar deh. Ada sesuatu yang mau aku tunjukkan padamu.” Gumam Weini.
Xiao Jun terlihat bingung namun menurut saja saat Weini menarik tangannya. Menuntunnya masuk ke dalam kamar yang dulu ia tempati. “Ada apa Hwa?” tanya Xiao Jun saat mereka sudah di dalam namun belum ada yang Xiao Jun pahami.
❤️❤️❤️
Dilike dan komen ya guys. Makasih.