OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 488 TERNIAT



"Makasih ya." Seru Dina dengan senyum lebar ketika tangannya mengambil dua kantong plastik besar berisi makanan cepat saji yang ia pesan antar.


Kurir pengantar makanan itupun tersenyum membalas keramahan Dina lalu pamit berlalu dari sana. Dina menutup pintu apartemen kemudian berjingkrak masuk ke dalam.


"Cihuuuy... akhirnya bisa pesta makan makan. Duh, udah lama nggak makan pizza, keturunan juga huhu...." Celoteh Dina kegirangan, gaya kekanakannya yang riang terus diperhatikan oleh 3 pasang mata di ruang tamu. Tapi Dina tidak peduli, yang penting hatinya senang.


Dua kantong plastik itu ditaruh ke atas meja, ada banyak perut keroncong yang menunggu untuk dikenyangkan. "Mari makaaan!" Seru Dina penuh semangat.


Fang Fang membantu menyiapkan makanan itu lalu memberikan pada Grace.


"Biar aku saja yang antarkan pada ayahku." Gumam Grace begitu melihat Fang Fang hendak membawakan semangkuk sup jagung hangat dan nasi untuk Kao Jing.


Stevan memerhatikan dengan tatapan lembut, mengangumi betapa perhatiannya Grace pada ayahnya.


"Jangan dikagumi terus, buruan dilamar biar nggak diambil orang ntar." Goda Dina yang kini dengan santai mengunyah ayam gorengnya.


Steven melirik Dina dengan dongkol, tapi tak mungkin bisa kesal padanya. "Tunggu aja tanggal mainnya. Btw, lu makan nggak bisa pelan apa? Kayak orang seminggu nggak makan." Ejek Stevan yang memelototi Dina makan dengan lahap.


Seolah tersugesti, Dina malah tersedak dan batuk. Tangannya buru buru meraih minuman kaleng jatahnya lalu meneguknya pelan hingga tidak seret di kerongkongan lagi.


"Lu tahu nggak sih, gue tuh belum terbiasa sama makanan di tempatnya non Weini. Enak sih, tapi dasar lidahku yang bercita rasa lokal ini malah merasa makanan di sana terlalu tawar. Oh... selera makanku lagi bagus nih, udah nemu yang pas ama lidah he he...." Tawa Dina kemudian kembali makan.


Fang Fang yang sedari tadi diam menyimak hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


Stevan menyodorkan sekotak makanan jatah Fang Fang kemudian mengambilkan untuk Grace yang belum datang dan terakhir untuk dirinya.


"Iya sih, gue juga merasa belum biasa sama makanan di sana. So far enak enak aja kok, lagian lu nya yang belum biasa kali dilayani kayak gitu." Ledek Stevan, ia mulai membuka kotak makanannya namun melirik lagi ke arah Fang Fang yang masih belum menyentuh apapun.


"Eh, makan aja Fang, keburu makin dingin loh." Seru Stevan yang mengira gadis pelayan itu sungkan harus makan bersama mereka.


Fang Fang tersenyum lalu menjawab, "Kamu duluan aja, aku mau nunggu nona."


Spontan tangan Stevan yang sudah membuka kotak makanannya pun kembali menutupnya. Ia mengurungkan niatnya walaupun sudah lapar, jika Fang Fang saja sangat setia sampai segitunya pada Grace, ia pun seharusnya bersikap demikian.


"Loh kok nggak jadi makan? Santai aja, aku nggak apa-apa kok." Ujar Fang Fang yang merasa tak enak karena Stevan tak jadi makan gara-gara perkataannya.


"Aku juga mau nunggu kekasihku biar makan sama-sama." Ujar Stevan mantap.


Dina nyaris tertawa jika saja mulutnya tidak penuh makanan. "Ciyee so sweet banget sih lu. Tapi maaf banget ya, gue sampai lupa acara nunggu makan bareng. Gue udah duluan makan, nggak apa-apa ya." Ujar Dina yang merasa tidak enak dan takut dianggap tidak setia kawan.


"Lu mah makan aja, biar nggak bawel mulu." Ujar Stevan terkekeh.


Dina hanya mendelik, selebihnya ia tidak berselera meladeni Stevan lagi. Sambil makan, Dina merasakan ada yang kurang dengan dirinya. "Hmmm... kayaknya benar deh kata lu, gue merasa ada yang kurang nih. Beberapa hari di sana terbiasa ada yang melayani, apa apa disiapin, eh aku kayak ketagihan. Sekarang apa apa kerjain sendiri, hmm... non Weini sekarang hidupnya pasti enak ya. Nggak kekurangan apapun lagi, nggak kayak di sini harus berjuang."


"Aku rasa sih nggak, tetap aja ada yang ia perjuangkan. Jadi orang yang posisinya tinggi itu nggak asyik juga loh, banyak beban." Gumam Stevan yang memang lebih mengerti tentang Weini.


"Hmmm... Padahal aku ingin jadi managernya lagi, tapi apa daya aku tidak mengerti bahasanya." Keluh Dina putus asa.


Dina berpikir menanggapi kata-kata Stevan. Ada benarnya juga, setidaknya ada sedikit yang ia pahami tentang Ming Ming. "Lu benar, mereka saja bisa bahasa kita, masa kita kalah " Gumam Dina kembali bersemangat.


Fang Fang yang sejak tadi diam menyimak malah keceplosan tersenyum, spontan dua pasang mata melirik ke arahnya tak senang.


"Kenapa? Kok lihatin aku seperti itu?" Tanya Fang Fang risih.


"Fang... Ajarin kita dong bahasa kalian, plis." Ujar Dina dengan dua tangan yang ditangkupkan dan memelas.


"Eh?" Fang Fang jadi serba salah, apalagi sekarang Stevan menatap kepadanya dengan mimik yang sama.


"Duh, belajar bahasa itu nggak semudah itu. Aku takut kalian nyerah duluan." Gumam Fang Fang yang masih salah tingkah dipelototi dengan tatapan melas.


"Sesulit apa sih!? Kamu aja bisa fasih ngomong bahasa Indonesia." Gumam Stevan belum menyerah membujuk gadis itu sebagai guru.


"Itu beda... duh tolong jangan menatap seperti itu." Pinta Fang Fang nyaris luluh.


Dina dan Stevan tak peduli, mereka masih menyoroti Fang Fang dengan jurus andalan mereka.


"Oke oke... aku ajari, tapi janji ya harus serius dan nggak boleh mengeluh!" Ujar Fang Fang yang akhirnya kalah karena tatapan menyedihkan mereka.


Dina berteriak girang, sementara Stevan tersenyum kalem. "Yeeee.... gitu dong baru teman, tenang aja kami pasti serius dan nggak mengeluh." Ujar Dina optimis.


Mereka bertiga memulai kelas bahasa sembari mengisi waktu kosong saat menunggu Grace kembali. Entah apa yang dilakukan gadis itu hingga belum juga muncul untuk makan. Untung saja terpikir ide untuk belajar sejenak sambil menunggu. Fang Fang hanya mengajarkan bahasa lisan pada dua murid dadakannya yang antusias itu, karena ia yakin mereka akan kesulitan jika langsung diajarkan mengenal aksara Mandarin.


Langkah Grace ringan menuju ruang tengah, ia tersita sejenak di kamar Kao Jing demi menyuapi ayahnya makan. Saat sampai kemari Kao Jing masih tampak fit, namun begitu masuk ke kamarnya, pria tua itu merasakan efek perjalanan lama dan kelelahan. Jika Grace tidak membujuknya makan, mungkin pria itu akan membiarkan perutnya kosong hingga besok. Grace merasa tak enak meninggalkan teman temannya agak lama, ia yakin mereka pasti sudah kenyang sekarang dan tinggal ia yang belum makan.


"Eh?" Grace terkejut melihat ketiga orang di sana sedang serius. Dina dan Stevan tampak sedang menghapalkan kata yang dilontarkan Fang Fang.


"Kalian lagi ngapain?" Tanya Grace yang spontan membuat aktivitas mereka terhenti.


"Kamu udah selesai, yuk makan bareng." Ujar Stevan yang berdiri menyambut kedatangan Grace.


Grace masih menyipitkan matanya, tak percaya dengan ajakan Stevan barusan. "Kalian belum makan?"


Stevan mengangguk, "Kecuali Dina yang khilaf tadi, kami nungguin kamu biar barengan."


"Sorry ya Grace, aku laper sampe khilaf. Tapi ini berdua nungguin kamu kok, sambil nunggu kita juga belajar bahasa Mandarin. Iya kan Fang?" Celetuk Dina semangat.


"Benar nona, ayo silahkan dimakan." Ujar Fang Fang yang sudah menyiapkan jatah Grace.


Grace terdiam, ia terharu dengan niat kekasihnya dan pelayannya. Tak disangka mereka begitu niat menunggunya demi hal sekecil ini.


"Makasih ya, mari makan sekarang, kalian pasti udag kelaparan." Gumam Grace, dan suasana tawa pun menemani makan malam mereka saat itu.


💟💟💟