
Kembali menjadi tahanan kamar membuat Liang Jia terkenang kejadian belasan tahun silam, ketika ia dipisahkan secara paksa dengan Yue Hwa. Kini Li San memberi hukuman yang sama agar ia merenungkan kesalahan. Liang Jia tidak peduli apapun yang dilakukan suaminya, pria kejam itu tidak akan berani membunuhnya. Justru kesempatan menyendiri ini bisa dipergunakan untuk merindukan Yue Hwa, dan memandangi sepuasnya wajah gadis dari foto yang diam-diam ia simpan.
Liang Jia heran dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, mengapa ia senang bahkan merasa begitu menyayangi gadis yang kabarnya adalah kekasih Xiao Jun. “Yue Hwa mungkin seumuran gadis ini andai dia masih hidup.” Liang Jia membelai foto itu dengan senyum penuh kasih sayang.
Seorang pelayan masuk mengantarkan makan siang, Liang Jia bergegas menyembunyikan foto itu di bawah bantal. “Letakkan saja di situ. Jangan menungguku makan.”
“Baik nyonya.” Pelayan muda itu menaruh nampan ke atas meja lalu membungkuk hormat sebelum pergi.
“Tunggu. Apa Xin Er diberi makan?” tanya Liang Jia. Sejak kemarin ia terpisah dari pelayan setianya. Terkurung tanpa bisa bertemu siapapun cukup menyulitkan Liang Jia mencari informasi, namun pelayan dapur ini pasti tahu kondisi terkini Xin Er.
“Ng… belum nyonya. Tuan besar perintahkan kami memberi dia makan sehari sekali.” Jawab pelayan itu ketakutan.
Liang Jia geram mendengar itu, diremasnya sapu tangan dalam genggaman dengan erat. Li San begitu mudah tersulut emosi, sejak dulu suaminya lebih percaya pada saudara ketimbang dirinya. “Tolong berikan ia makanan yang lebih banyak dan aku titip obat ini. Dia harus minum obatnya, kau harus mematuhiku.”
Dua botol obat Xin Er disodorkan ke pelayan itu, tetapi ia malah mengelak. Tangannya tidak berani terjulur menerimanya. “Ampuni hamba, nyonya. Hamba tidak berani, kalau tuan besar tahu… hamba bisa dihukum mati.” Saking takutnya, pelayan itu terisak menangis.
Liang Jia meghela napas lalu memijit keningnya, kepalanya pusing menghadapi situasi rumit ini. “Dengar, andai tuan besar tahu. Aku akan pasang badan untukmu, suruh dia menghukumku karena aku yang memaksamu. Sekarang tolong bantu aku, Xin Er bisa kumat lagi kalau obat ini tidak diminum.”
Pelayan itu menerima titipan Liang Jia, walau masih ada rasa takut mengancamnya. Ia juga tidak tega terhadap Xin Er, sesama pelayan seperti mereka sudah seperti saudara. Hanya saja keadaan yang menekan kebebasan untuk berbuat sesuai hati nurani.
“Aku sangat berterima kasih padamu, kelak aku pasti memberimu imbalan besar.” Liang Jia bersungguh-sungguh, ia tersenyum pada pelayan muda yang undur diri dari hadapannya.
Ketika melangkah keluar, pelayan itu dicegat oleh dua nona muda Yue Xin dan Yue Xiao. Mereka menguping skandal antara ibunya dengan si pelayan dan pasti tidak akan memberi kemudahan pada rencana mereka.
“Heh, mau ke mana?” Yue Xin menyeret kerah baju pelayan ini hingga mereka menepi di samping pilar besar depan kamar Liang Jia.
“Ho… hormat pada nona kedua dan nona ke-empat. Hamba mau kembali ke dapur.” Pelayan itu gemetaran, suaranya terdengar bergetar saat menjawab. Yue Xin masih menggenggam kerah bajunya.
“Serahkan obat itu!” Yue Xiao membentak pelayan itu hingga ia memejamkan mata saking ketakutan.
“Ampun nona, saya tidak tahu obat apa.” Kilah si pelayan masih mencoba menutupi.
“Oh, kamu mau uji kesabaran kami? Dikira kami nggak tahu apa yang kalian bicarakan di dalam?” seru Yue Xin mulai naik pitam.
“Cari mati dia, kalau nggak mau ngaku kita lapor ke ayah saja kak. Kita lihat sehebat apa ibu yang lagi dihukum melindungi dia. Eh… kamu tuh hanya pelayan kecil, nyawamu nggak berharga bagi kami. Terserah mau hidup atau mati, jangan salahkan kami kalau masih nggak mau kerjasama.” Yue Xiao menimpali kakaknya.
“Ampuni nyawa saya nona, saya didesak nyonya. Saya mohon jangan laporkan kepada tuan besar.” Pelayan itu segera bersujud berkali-kali sembari menangis, ia tahu betapa kejamnya Li San, andai dua nona itu buka mulut maka kelarlah hidupnya.
Yue Xin melirik pelayan itu dengan tatapan risih, “Baguslah kamu diri. Nyawamu ada di tangan kami, kelak jangan bikin perkara lagi. Kamu hanya boleh menerima perintah dari kami, atau ayahku pasti tak segan mengeksekusimu.”
Pelayan itu berulang kali bersujud menghadap Yue Xin dan Yue Xiao, “Hamba mengerti nona. Terima kasih… terima kasih.”
“Udah sana enyah dari sini!” Yue Xiao mengusir pelayan itu, ia tidak membutuhkan orang lemah itu lagi. Sekarang apa yang ia inginkan sudah di tangan.
“Nggak nyangka, kita dapat ijin dari ayah untuk menjenguk ibu tapi malah mendengar skandalnya. Apa sih bagusnya pelayan tua itu sampai ibu masih mikirin dia segitunya. Kita aja belum tentu diperhatikan ibu, yang ada dipikirannya hanya Yue Hwa, Xin Er. Kita kan juga anaknya!” protes Yue Xiao geram.
Yue Xin membaca keterangan dalam botol obat itu, ia bisa menebak penyakit apa yang diderita Xin Er dari indikasinya. “Biarin saja. Mereka bisa main belakang, kita juga bisa.”
Yue Xiao terpancing penasaran melihat obat itu, “Jadi kita apain obat ini kak?”
Senyum licik tersungging dari lekuk bibir Yue Xin, “Simpan pada tempatnya, hahaha…” Dua botol obat yang berharga milik Xin Er berakhir tragis dalam tong sampah. Obat yang diperjuangkan Liang Jia dengan membawa Xin Er ke Guangzhou nyatanya tak lebih dari sekedar sampah yang harus disingkirkan.
Kedua bersaudara itu melenggang pergi dengan kepuasan batin yang tak terkatakan. Keterpurukan Liang Jia adalah kesempatan emas untuk melebarkan kuasa, mereka tinggal memainkan peran untuk mengontrol segala yang dimiliki ibunya menjadi milik mereka.
***
Lau bergegas membuka pintu ketika ia menyadari Xiao Jun sudah tiba, ia tak sabar lagi ingin membahas masalah penting itu. Xiao Jun terkesiap melihat Lau begitu antusias menyambutnya, ini pasti bukan perkara mudah sampai pengawalnya yang berpembawaan tenang menjadi sepanik itu.
“Paman, apa yang terjadi?” Xiao Jun tidak bisa menahan pertanyaan itu sampai ia masuk ke dalam rumah.
Lau menutup pintu lalu mengisyaratkan agar Xiao Jun duduk dulu untuk obrolan lebih lanjut. Ia mengambil ponsel dan menunjukkan histori call terbaru. “Tuan, kita dalam masalah besar. Tuan Li San tahu anda membawa nona Weini ke Guangzhou, beliau barusan menelponmu tapi tidak terhubung. Sebaiknya tuan menghubungi balik, ah…
aku bilang bahwa itu hanya makan malam bisnis. Kita harus menyamakan alasan agar terdengar masuk akal.”
Xiao Jun tidak bisa berkata apa-apa, ia sendiri bingung bagaimana Li San bisa mengetahui privasinya. “Paman, pasti ada penyusup di sekitar kita. Tolong selidiki orang baru di perusahaan atau yang mencurigakan. Urusan tuan besar biar aku yang mengatasinya!”
Hidup ibarat permainan ular tangga, tergantung jumlah dadu yang dilemparkan akan membawa nasibmu berjalan datar, naik ke atas atau bahkan merosot hingga ke lubang terbawah. Kebahagiaan kemarin tidak menjamin terbawa hingga esok hari, mungkin saja rasa senang itu hanya pemanis agar kuat menghadapi kepahitan setelahnya. Dan… siapa yang tahu rencana Tuhan, hanya bisa menghadapi kenyataan dan berharap masa sulit itu segera terlewatkan. Keep strong, my dear Xiao Jun – Weini.
***