
Haris, Xiao Jun dan Wen Ting membentuk satu tim yang punya kepentingan sama dan duduk di ruang tamu yang mewah dan berfasilitas lengkap. Kumpulan pria itu terlibat pembicaraan serius ditemani hidangan yang disuguhkan asisten tuan rumah. Sesekali Haris melirik ke arah kubu para wanita yang sedari tadi sibuk tertawa dan berkomentar tentang gaun yang sedang mereka coba. Haris tersenyum melihat Xin Er menggendong cucu pertama mereka selagi Li Mei memakai gaun. Ia tidak pernah berharap muluk tentang kebahagiaan, tak perlu mewah, kaya, cukup hidup bersama dan saling menyayangi saja sudah membuat Haris patut bersyukur.
Xiao Jun tersenyum saat melirik ayahnya, sebagai sesama pria meskipun pengalaman Xiao Jun masih kalah jauh dari ayahnya, namun soal perasaan jelas Xiao Jun paham bagaimana bahagianya bisa menatap wajah orang yang paling dicintai apalagi dalam jarak sedekat ini, setelah sekian lama terpisahkan.
“Ibu kelihatan cantik kan, ayah?” Goda Xiao Jun dengan suara pelan.
Tanpa sadar Haris langsung mengangguk, setelahnya ia baru sadar sudah terjebak pertanyaan iseng dari putranya. Raut wajahnya menekuk, ia menatap Xiao Jun sambil menggerakkan telunjuknya. “Kamu berani menggoda orangtuamu.” Gumam Haris yang setelah itu justru tertawa. Xiao Jun ikut tertawa, begitupula Wen Ting hingga suara mereka menarik perhatian para wanita lalu menoleh menatap mereka dengan tanda tanya.
“Aku tidak menyangka sudah menjadi seorang kakek, tadinya aku pikir akan mendapatkan cucu pertama dari Li An dan kamu.” Gumam Haris penuh dengan rasa bangga.
Wen Ting tersenyum, “Kami akan segera menyusul, ayah. Doakan yang terbaik ya, semoga Li An melahirkan anak yang sehat dan dia pun sehat.”
Xiao Jun terdiam, setelah pernikahan Li An maka tinggal dia yang masih melajang. Namun pikirannya tidak serumit beberapa bulan lalu, terlebih setelah Grace menyatakan mundur tanpa paksaan, Xiao Jun yakin setelah ini akan lebih mudah meyakinkan Li San untuk membatalkan pertunangannya dengan Grace.
“Selalu kudoakan untuk semua anak-anakku. Jangan banyak pikiran, besok kamu harus tampil prima sebagai pengantin.” Ujar Haris, rasanya terlalu berlebihan ketika ia baru kenal dengan menantunya namun sudah terlibat pembicaraan berat.
Wen Ting tersenyum namun tampaknya ia tidak mengindahkan permintaan ayah mertuanya. Ia merasa perlu mendiskusikan sebuah topik serius saat ini juga, menundanya sampai besok atau lusa mungkin akan berbeda cerita lagi. “Ayah, maaf kalau aku lancang bertanya. Li An sudah menceritakan sedikit tentang ayah padaku, namun aku masih kurang mengerti satu hal jadi mohon ijinkan aku bertanya.”
Haris melirik Wen Ting, dari raut wajah tenang pria itu dia sudah tahu isi pikiran Wen Ting. Sembari tersenyum, Haris mengangguk mempersilahkan menantunya bertanya.
“Ayah tinggal sekian lama dengan putri bungsu klan Li. Tapi kenapa masih merahasiakan pada nona itu? Bukankah lebih cepat dia tahu, lebih baik dan bisa mencari cara untuk meyakinkan ayahnya?” Pertanyaan itu memang terus berkutat dalam benak Wen Ting sejak Li An menceritakan semua yang ia ketahui.
Haris menatap lekat pada Wen Ting, begitupula dengan Xiao Jun. Meskipun tahu jawabannya, namun Xiao Jun tetap membiarkan Haris yang menjawab. Dulu ia pun sama seperti Wen Ting, mempertanyakan apa alasan ayahnya
menyimpan rahasia begitu rapat dan sekian lama.
“Agak rumit, pertimbanganku lebih penting menemukan cara melepaskan topengnya. Semakin ia bertambah besar, kekuatan sihir topeng itu semakin merasuk dan akan sulit bagi dia mendapatkan wajah aslinya kembali.” Ujar Haris serius. Kecemasan itupun dirasakan Xiao Jun, bagaimanapun ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Weini.
Wen Ting terkesiap, ia memang awam soal kehidupan supranatural atau sejenisnya, tetapi berhubung orang terdekatnya memang ahli dalam sihir, ia pun hanya bisa takjub meskipun masih belum sepenuhnya menerima
dengan logika. “Ya, Li An sempat cerita seperti itu. Dia bertanya apa aku punya kenalan yang punya keahlian sihir, tapi aku tidak yakin ada. Relasiku memang banyak namun hanya soal bisnis yang kami bahas, selebihnya masalah pribadi tidak pernah jadi bahan pembicaraan.” Wen Ting sedikit kecewa tidak bisa melakukan hal berguna untuk membantu kesulitan keluarga Li An. Tetapi Haris bisa memakluminya, ia pun tidak banyak menaruh harap pada siapapun soal ini, termasuk pada Xiao Jun yang merupakan calon pewarisnya. Dia saja tidak sanggup, apalagi
Xiao Jun yang kemampuannya masih kalah di banding Weini.
“Tidak masalah, jangan terlalu dipikirkan. Sambil berlalunya waktu, aku akan terus mencari cara. Lagipula besok lusa dia akan menyusul kemari, aku sudah berpikir panjang … Memang sudah waktunya dia tahu semua ini. Ketika dia kemari dan melihat Xin Er, maka tidak ada rahasia yang bisa ditutupi lagi.” Seru Haris, rautnya menjelaskan betapa serius tekadnya kali ini.
“Syukurlah, memang seharusnya segera diberitahu. Ada sebagian orang yang lebih rela terluka oleh kenyataan daripada harus hidup dalam kebohongan terutama dibohongi oleh orang terdekatnya. Aku hanya cemas kalau dia tidak terima menjadi orang yang paling terakhir tahu tentang kenyataan bahwa Xiao Jun adalah anak dari orang yang sudah ia anggap ayah.” Ujar Wen Ting, perkataannya itu membuat Xiao Jun merasa tegang. Mungkin ada benarnya kekhawatian Wen Ting, bagaimana jika Weini tersinggung dan malah menyalahkan Xiao Jun yang tidak memberitahunya.
Haris dengan tenang hanya menyunggingkan senyum, “Kita lihat saja nanti, sekarang lebih baik aku bersantai sejenak. Ah, cucuku terlihat menggemaskan, aku harus menggendongnya.” Gumam Haris penuh semangat, ia berdiri dari sofa yang diduduki kemudian berjalan menghampiri Xin Er yang menggendong cucunya.
***
Chen Kho tengah berbaring santai dalam kamarnya, ketika Kao Jing masuk dengan terburu-buru. Mau tidak mau, Chen Kho membuka mata lalu bangun untuk meladeni ayahnya. “Bukankah ayah main catur dengan paman?
Kenapa secepat ini sudah kembali?”
Kao Jing menatap sinis pada Chen Kho kemudian menghela napas. Air mukanya menampakkan suasana hatinya
yang berantakan. “Dia sepertinya mulai menarik diri dari kita. Aku rasa dia sudah mencurigai kita, kamu harus berhati-hati, aku tidak mau mendengar kegagalan lagi.” Kecam Kao Jing.
Chen Kho menarik seulas senyum yang lebih mengarah pada seringaian. “Biarkan saja, sebentar lagi kita tidak membutuhkan dia lagi. Terserah dia mau curiga atau tahu sekalian, dia tidak bisa apa-apa nantinya. Tinggal kita singkirkan saja beserta semua keturunannya.”
Kao Jing melirik serius pada putranya, “Kamu tahu kan, ini kesempatan terakhirmu mendapat kepercayaanku. Aku percayakan semua di tanganmu, termasuk bagian adikmu!”
Chen Kho bergeming, hanya sorotan tajam yang ditujukan pada ayahnya sebagai isyarat jawaban bahwa kali ini ia tidak main-main. Chen Kho tak sabar melihat reaksi Li San begitu tahu kejutan yang ia persiapkan untuknya. Ia tak sabar melihat bola panas yang digulirkan oleh Li San akan berbalik memangsa dirinya.
***
Li San duduk di singgasananya dengan wajah tegang, ia menaruh perhatian lebih pada apa yang dilaporkan tangan kanannya.
“Semuanya sesuai dengan rencana, orang bayaran kita sudah siap di sana.” Seorang pengawal memberikan
laporannya sembari setengah membungkukkan badan.
“Bagus!” Gumam Li San singkat, hanya itu yang perlu ia pastikan. Dan ia yakin segala sesuatu akan terjadi seperti yang diinginkannya.
***