OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 323 SAMA SAMA TERLUKA



Fang Fang menjerit histeris ketika tangannya meraih tubuh lemah Grace yang terkulai di lantai. Setelah melihat kondisi itu, ia baru sadar percikan darah di lantai berasal dari muntahan Grace. Ujung bibir gadis itu masih menyisakan bercak merah itu, dan keadaannya sudah tak sadarkan diri. “Nonaa ….” Fang Fang memekik, ia mengguncang tubuh Grace beberapa kali setelah merasakan nadinya masih berdetak. Hanya saja Grace sudah tidak sadarkan diri dan begitu lemah.


“Apa yang terjadi, nona?” Fang Fang mulai terisak, bukan hanya takut sesuatu yang buruk menimpa majikannya namun ia tak sanggup mendapati kenyataan akan kehilangan seorang nona yang telah memperlakukannya


dengan baik. Fang Fang memijit dahinya, ia berpikir keras apa yang harus dilakukan kemudian berlari ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Orang pertama yang bisa diandalkan menolong pada saat ini hanyalah tetangga terdekat.


Tangan Fang Fang gemetaran dan mulai tak sabar menunggu sambungan telpon itu masuk. Setelah suara berat seorang pria terdengar menyapa, Fang Fang bergegas menyampaikan dengan terbata-bata. “Tuan, cepat kemari! Nona Grace terluka parah dan tak sadarkan diri.” Pekik Fang Fang gugup.


Lau tak kalah terkejutnya, tanpa menunda waktu pria itu berlari menghampiri tetangga apartemennya. Malam sudah sangat larut namun masih ada kejadian terduga yang begitu mengejutkan.


“Kenapa dia?” Tanya Lau saat Fang Fang membukakannya pintu.


Penampilan wajah Fang Fang sudah berantakan oleh air mata dan ekspresi panik, ia menggeleng cepat lalu bergegas berlari ke kamar Grace lagi diikuti Lau. Begitu melihat kondisi Grace yang terkulai, Lau pun tersentak lalu bergegas menghubungi nomor darurat untuk pertolongan.


“Aku sudah panggil ambulance, sekarang yang paling penting kita kembalikan kesadarannya.” Lau meraba nadi Grace lalu meletakkan telunjuk di depan hidung bangir gadis itu, dari hembusan napas lemah itu serta pemeriksaan fisik lainnya dari wajah, mata dan tangan Grace, sepertinya Lau bisa mengambil kesimpulan dininya.


“Dia keracunan. Bahaya jika terlambat menyelamatkannya.” Ungkap Lau cemas.


Fang Fang terhuyung mendengar perkataan Lau, ia segera berlutut lalu menampari wajahnya berulang kali. “Ini semua salahku, aku membiarkan dia pergi bersama pria itu. Aku pikir ada baiknya membiarkan dia bahagia daripada selalu bersedih sepanjang hari. Maafkan aku tuan, aku lalai melakukan tugasku. Aku pantas mati, tuan.” Isak Fang Fang penuh penyesalan.


Lau menatap Fang Fang dengan serius, “Pria siapa yang kamu maksud?” Tanyanya tegas.


Fang Fang menelan ludah, ia perlu sedetik menata hati. “Stevan.” Jawabnya dengan suara yang terdengar bergetar.


“Aku akui kesalahanku, beberapa kali aku membantunya mendekati nona. Pria itu tampak tulus mencintai nona. Kalau tuan Xiao Jun tidak mencintai dan tidak ada harapan bersama dia, apa salah jika aku membantu nonaku


mendapatkan cinta sejati? Dia juga berhak bahagia, dia juga sangat pantas mendapatkan cinta dari pria lain yang tulus. Daripada dia selalu bersedih, aku kasihan padanya, Tuan.” Fang Fang menyuarakan seluruh uneg unegnya. Namun yang tidak ia sangka, apa mungkin Stevan setega itu mencelakakan Grace?


***


Stevan merebahkan tubuh dengan melipat kedua tangan di belakang sebagai bantalan. Ia memandangi langit-langit kamar dengan senyuman, seakan wajah Grace terlukis di sana. Rekaman ingatan beberapa jam lalu bersama Grace diputar ulang, rasanya terlalu singkat kebersamaan manis tadi. Namun Stevan harus berpuas diri dulu, ia yakin setelah ini masih banyak kesempatan menghabiskan waktu bersama Grace.


“Jodohmu belum diajak kenalan.” Terngiang suara Haris yang pernah meramalkan nasib cinta Stevan. Jika dipikir lagi, rasanya memang tepat karena saat itu ia belum mengenal Grace. Dan begitu pertama kali bertemu pun, belum ada getaran cinta yang dirasakan karena ia belum mengenal lebih dekat. Baru setelah mereka terlibat proyek film bersama, Stevan punya banyak kesempatan untuk membuka mata dan hatinya lebar-lebar untuk mengenali Grace.


Lamunan indahnya dibuyarkan oleh dering ponsel. Jika ponsel itu tidak berbunyi, Stevan bahkan lupa menyentuh alat komunikasinya itu semenjak di pesta. Ia beranjak dari tiduran lalu melirik nama pemanggil dari layar ponsel. Keningnya mengernyit, untuk apa Fang Fang menelpon selarut ini?


Stevan terkesiap, ia baru saja mendengar kata-kata yang berkonotasi tudingan sepihak. “Eh? Aku nggak ngapain dia. Hei, ada apa dengan Grace?” Kali ini gentian Stevan yang serius bertanya, hatinya menegang tak karuan membayangkan apa yang terjadi pada gadis yang dicintainya.


Isakan tangis Fang Fang terdengar jelas dan semakin meresahkan Stevan.


“Fang?” Desak Stevan.


“Dia keracunan, sekarang masih kritis di rumah sakit X.” Pekik Fang Fang yang disusul tangisan keras.


Stevan terkejut bukan main sehingga ponsel dalam genggamannya terjatuh. Bagaimana bisa Grace keracunan sedangkan gadis itu tampak baik-baik saja saat bersamanya? Stevan tak mau berspekulasi dengan pikirannya lagi, tanpa pikir panjang ia raih kemeja yang baru dilepaskan beberapa saat kemudian meraih kunci mobil dan ponsel lalu pergi dari apartemennya.


***


Koridor rumah sakit terasa sangat panjang ketika sepasang kaki tak sabaran berlari menghampiri ruang gawat darurat. Di sana sudah ada Lau dan Fang Fang yang berdiri di luar pintu ICU yang tak boleh dimasuki siapapun selama pasien masih di dalam. Stevan tak bisa berkata-kata, hatinya hancur hanya dengan melihat Fang Fang yang menangis berantakan. Tubuh pria itu gontai dan menyandar lemah pada dinding, air matanya pun tak tertahankan


lagi. Ia sungguh takut kehilangan Grace yang baru saja ada harapan untuk dimiliki.


“Dokter bilang apa?” Tanya Stevan dengan suara parau.


“Keracunan, tapi belum tahu jenis racun dan medianya dari mana. Selama aku bersamanya, nona baik-baik saja. Apa yang kalian lakukan sekian lama? Apa dia memakan sesuatu yang aneh bersamamu?” Curiga Fang Fang,


secara tidak langsung ia sedang menyudutkan Stevan.


Stevan menggeleng lemah, “Kami hanya bicara, dia tampak sangat bahagia.” Ujarnya pelan dengan tatapan kosong ke depan. Tetapi seketika Stevan tersentak karena teringat sesuatu yang janggal dengan sikap Grace hari itu. Ia segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memeriksa pesan masuk. Rasa shocknya berlanjut saat membaca pesan Dina tadi sore yang mengabarkan kondisi Weini yang juga sakit.


“Kenapa bisa kebetulan begini? Weini juga sakit mendadak.” Kesal Stevan. Ia bergegas menelpon Weini untuk memastikan, tak peduli waktu sudah beranjak subuh dan mungkin saja gadis itu sudah terlelap. Stevan tetap


tidak bisa menahan rasa kuatirnya hingga fajar menjelang.


Lau menaruh perhatian serius dengan ucapan Stevan, “Nona Weini juga sakit?” Pria itu pun saling berpandangan dengan Fang Fang. Mereka berasumsi dengan pikiran masing-masing, memikirkan apa sebenarnya yang terjadi pada dua gadis yang baru saja menjadi sahabat.


Haruskah aku mengabari tuan Xiao Jun? Lau bertanya pada dirinya sendiri dalam hati. Hanya satu hari ditinggal, dua gadis yang berhubungan dengan tuan mudanya sama-sama terluka. Bahkan salah satunya terancam kehilangan nyawa, apa ini kebetulan atau memang takdir?


***