
Dina sudah survei jalan keluar yang aman untuk kabur. Jet pribadi Xiao Jun menanti di halaman belakang sekolah yang saat itu disterilkan dari jangkauan pengunjung. Ia memimpin jalan untuk kedua bosnya, demi menghindari kejaran wartawan Xiao Jun dan Weini harus rela berlarian seperti buronan.
“Buru Non, belok kanan 10 meter udah sampe.”
Mereka sampai pada pintu keluar terakhir yang menghubungkan halaman belakang. Weini merasakan angin menerpa wajahnya, sensasi dingin yang membuatnya menggigil sejenak. Ia tidak tahan dengan udara dingin
dan rentan terkena flu.
Xiao Jun melepas jas dan menutup pundak terbuka Weini, Ia peka bahwa gadisnya kedinginan dan tanpa diminta pun segera memberinya kehangatan. Sesaat mereka saling bertatapan, Xiao Jun mengira Weini akan mengucapkan terima kasih, namun yang terjadi justru ia bersin tepat di muka Xiao Jun.
“Maaafff…” Weini merasa malu dan sangat bersalah, ia mengusap wajah Xiao Jun dengan tissue. Tangannya diraih Xiao Jun yang dan menuntunnya membersihkan di tempat yang semestinya.
Dina mematung. Jiwa jomblonya meronta akibat tontonan tidak lolos sensor di depannya. Adegan romantis sekecil apapun terasa ngenes bagi orang yang belum menemukan pasangan seperti dirinya.
“Ehem… nggak nyangka di sini bakal ketemu artis papan atas. Gue minta waktu bentar dong empat mata, lima menit.” Sisi muncul begitu saja mengejutkan tiga orang di sana. Dina mengira ia berhasil mengamankan lokasi dan tidak terjangkau siapapun, nyatanya masih tersisa satu orang yang sangat tidak diharapkan.
Dina menghadang di depan dan bersiap menarik Weini pergi, padahal tangan Weini yang satunya masih digenggam Xiao Jun. Kekasih Weini itu cemas jika Weini bersedia bicara dengan mantan sahabatnya tanpa
pengawasan mereka. Weini justru tersenyum meyakinkan ia baik-baik saja dan melepas genggaman di kedua tangannya.
“Bentar aja kok. Trust me!” Weini melangkah menjauhi Dina dan Xiao Jun kemudian Sisi menyusul di belakangnya
Dua gadis yang pernah akrab lalu bentrok itu canggung memulai pembicaraan. Meskipun sudah berlalu, namun gading yang terlanjur retak itu mustahil direkatkan seperti semula. Sisi yang meminta kesempatan bicara, jadi ia sadar diri harus segera buka suara atau lima menit yang ia minta berlalu begitu saja.
“Congrate ya udah lepas jadi anak SMA.” Sisi mengulurkan tangan dan sebisa mungkin tersenyum meskipun sangat jelas terlihat paksaan.
“Kamu juga. Sukses ya, habis ini jadi anak kuliahan.” Weini menerima uluran tangan itu dan berjabat tangan dengan lembut. Tangan yang dulu sering merangkulnya saat di sekolah, kini akan sepenuhnya terlepas.
“Yup. Dan lu bisa bebas berkarier. Lu bakal jadi artis paling ngetop dan beruntung.” Seru Sisi, ia mulai menjadi dirinya sendiri di hadapan Weini.
“Dan kamu bakal jadi kembang kampus. Pengen ngejar senior ganteng dan pacaran ama yang ngetop. Itukan impian lu.” Ujar Weini. Seketika mereka lupa pernah bersitegang di masa lalu dan tertawa lepas bersama.
“Okay, good luck ya. Udah lima menit, gue harus balikin lu ke yang punya.” Sisi membalikkan tubuh Weini membelakanginya lalu mendorong Weini agar kembali pada dua orang yang menunggunya di kejauhan.
Weini sempat mundur selangkah akibat dorongan pelan Sisi, namun ia bertahan dan berbalik memeluk Sisi hingga membuat gadis dalam pelukannya terkejut.
“Take care.” Bisik Weini.
Sisi membalas pelukan Weini kemudian memejamkan mata, “You too…”
Pelukan seerat apapun akan mengendor pada waktunya. Hanya yang sejatilah yang mampu mempertahankan sebuah hubungan, entah itu cinta atau persahabatan. Tidak akan rela meninggalkan, pun tak sanggup saling
melukai. Dan Weini kembali pada Xiao Jun dan Dina yang menantinya dengan penuh kecemasan.
***
Weini baru saja janjian makan siang bersama Dina, ia merasa perlu mentraktir managernya sebagai ucapan terima kasih atas kerja kerasnya semalam. Kencan kejutan yang disiapkan Xiao Jun ternyata masih ada andil dari Dina. Weini mulai berpikir sejak kapan managernya bisa klop dengan kekasihnya?
“Kamu tidak bisa keluar dulu, para pengacau itu menyerbu rumah lagi. Kali ini kasus apalagi yang melibatkanmu?”
“Wartawan?” Weini keluar kamar dengan gusar. Ini pasti karena kemunculan Xiao Jun yang menggemparkan, kini para pemburu berita mencari Weini untuk klarifikasi.
“Yaaaa… kamu bikin ulah apalagi?” tanya Haris sewot. Tidur siangnya di hari minggu terganggu karena ketukan pintu, bunyi bel dan suara para pers di luar rumah.
Weini tersenyum kaku, serba salah harus berterus terang pada Haris. “Ng… itu Xiao Jun umumkan kami pacaran.” Ujarnya sembari mengetuk dua jemari, ia agak gelagapan menyampaikan pada Haris apa yang terjadi semalam.
“Hahaha… hanya karena pernyataan pacaran sampe heboh gini? Weini sepertinya kamu sudah di atas puncak ketenaran.” Seru Haris Bangga.
“Bukaaan. Itu pasti karena Xiao Jun yang lebih mereka sorot.”
Haris mengernyit, “Kok bisa? Yang artis kan kamu, kenapa dia lebih menarik?”
Weini nyengir, Haris sungguh polos dengan perkembangan berita yang viral. “Ayah, Xiao Jun itu sosok terkenal di dunia bisnis. Dia selama ini misterius, tiba-tiba muncul trus ngaku pacarku. Gimana nggak bikin gempar?”
Haris mangut-mangut, ia mulai paham benang merahnya. Tak ia duga rupanya kekasih Weini yang sering ia anggap anak muda yang baru mengenal dunia itu ternyata sangat berpengaruh. Bahkan nilai jualnya lebih tinggi dibandingkan Weini yang seorang artis ternama.
Weini meraih ponsel dan mengirim pesan pada Dina. Managernya tidak boleh terjebak kerumunan manusia kepo di luar. “Ayah, aku udah kesiangan. Gimanapun aku harus keluar. Ayah pake cara kayak waktu itu aja!” pinta Weini, mereka pernah berhasil membuat para wartawan pergi dengan hipnotis.
Haris menopang dagu, ada hal yang menjadi pertimbangan. “Emmm… kurang seru kalau pake cara lama. Sihir klan Wei banyak jurus ampuh, hmmm…”
Weini bengong. Haris sungguh inovatif, bahkan jurus saja enggan dilakukan pengulangan. Kali ini jurus apalagi yang akan pria itu tampilkan.
“Ah… aku tahu. Kamu masih ingat jimat penghilang yang dulu kamu pakai waktu kabur dari tukang pukul kiriman ayahmu?”
Weini mengingat sejenak ingatan masa kecilnya. Haris memang pernah memberinya sebuah jimat kuning yang dipegang untuk menghilang dari pandangan musuh. “Iya, ingat. Trus mereka mau dihilangin pake jimat itu?”
Haris terbahak mendengar ide Weini yang tidak nyambung. “Kamu sering tanya kapan sihirmu bisa dipraktekkan. Ini kesempatan emasmu, cepat bikin jimat itu dan coba keberhasilannya.” Seru Haris penuh semangat, ia masuk ke kamar dan muncul sembari membawa selembar kertas kuning polos, kuas bamboo dan tinta hitam.
“Ng… harus aku yang bikin? Ini bukan waktu yang tepat buat coba-coba. Kalo aku gagal, sama aja nyerahin diri ke musuh. Ayaah… kali ini ayah yang bikinin deh plis.” Rengek Weini ketakutan. Ia lebih kuatir gagal dan dikerumunin wartawan dengan todongan pertanyaan yang mengerikan.
“Percaya diri adalah salah satu modal seorang ahli sihir. Lakukanlah!” Haris tidak bersedia membantu Weini, ia harus tega demi kebaikan gadis itu. Disodorkannya peralatan perang yang sudah siap dirakit.
Weini tidak punya pilihan selain mencoba, jika ia tidak pernah mengukur kemampuan maka apa yang selama ini ia pelajari hanya teori saja. Ia harus berhasil keluar dari kerumuman media itu dan menemui Dina secepatnya.
“Ayah, kalau aku gagal… jangan pecat aku jadi muridmu ya.” Weini selesai membuat secarik jimat, kekuatannya baru akan teruji ketika ia melangkah keluar.
“Hahaha… oke. Tapi tetap ada sanksinya. Jangan lupa keluar dari pintu samping, jimat itu tidak berfungsi dari pintu utama.” seru Haris sembari menyemangati Weini yang terlihat setengah yakin akan keberhasilan jimat buatannya.
“Wish me luck, ayah!” dengan mata terpejam, Weini memberanikan diri membuka pintu samping dan berjalan keluar. Di samping rumah pun banyak berkumpul wartawan, Weini kembali terpejam sambil melangkah. Ia
benar-benar ketakutan.
Apa mereka melihatku?
***