
Lembaran baru cinta kita dimulai sejak chapter ini, aku harap tak ada lagi yang dapat memisahkan kita hingga di penghujung cerita.
Quote of Weini aka Yue Hwa
***
Xiao Jun mengakhiri sarapannya dengan segelas green tea hangat, ia mengelap bibirnya dengan sapu tangan yang disediakan di samping peralatan makannya. “Masakanmu sangat enak, terima kasih paman.” Xiao Jun memuji hasil masakan Lau yang cocok dengan seleranya, senyumnya terus melekat seolah sedang diobral.
Lau menatap tuannya dengan takjub, rona wajah Xiao Jun lebih bersemangat ketimbang hari sebelumnya. Pengawal tua itu memerhatikan perubahan sikap Xiao Jun sejak tadi malam, ketika tuannya pulang begitu larut namun masih menyempatkan untuk memberinya ucapan selamat tidur. Sungguh, ini adalah tingkah aneh namun menyenangkan yang pernah dilihat Lau sepanjang ia mengenal Xiao Jun.
“Ehem, tuan … Apakah anda sudah berbaikan dengan nona Weini?” Lau sengaja berdehem sebelum mengajukan pertanyaan blak-blakan itu. Ia terus memantau perubahan ekspresi Xiao Jun saat mendengar pertanyaan hingga melontarkan sebuah jawaban.
Xiao Jun mengumbar senyum, tak ada yang perlu ditutupinya dari Lau. Semalam ia berniat menyampaikan kabar baik itu, namun kondisi yang sudah cukup larut membuat Xiao Jun menunda hingga keesokan hari. Xiao Jun mengangguk mantap, “Berkat doamu, paman”
Lau tertawa bahagia, kepalanya menggeleng untuk menolak pujian tersebut. “Itu berkat kekuatan cinta kalian, tuan. Jika masih saling cinta, tetap akan kembali bersama apapun caranya.”
“Begitu ya?” Xiao Jun malah sok polos bertanya kemudian menyusul tawa Lau yang belum berhenti. Namun ketika ia teringat sesuatu yang tak kalah penting untuk dibahas, tawa itu seketika berhenti.
“Oh ya, paman … Anehnya aku malah tidak merasakan apapun saat dekat dengan Weini. Tidak terdeteksi energi seperti yang aku rasakan saat di kantor. Dia biasa saja, aku bahkan lupa tujuanku ke sana selain untuk berbaikan dengannya juga ingin menyelidikinya. Apa mungkin aku yang terlalu berlebihan mencurigainya?” Kecurigaan Xiao Jun terhadap Weini mulai tergoyahkan, ia bahkan merasa bahwa dirinya yang berlebihan menilai gadisnya.
Lau memainkan kumisnya, pria tua itu tampak berpikir serius. “Agak sulit dijelaskan tuan, karena saya juga tidak punya kemampuan sihir. Saya tidak bisa merasakannya juga, jadi maaf tuan jika saya tidak sanggup memberi saran terbaik untuk anda. Mungkin memang benar, kondisi anda yang sedang tidak stabil sehingga banyak berpikir yang tidak-tidak saat itu.”
Xiao Jun terdiam, ia memang melihat kepiawaian Weini dalam permainan Guzheng. Gadis itu juga sangat fasih berbicara bahasa Mandarin, bahkan dengan logat yang sama dengannya. Hanya seni kungfunya saja yang belum
pernah ia saksikan secara langsung, jika terbukti Weini menguasai jurus yang hanya diketahui oleh klannya maka bisa dipastikan bahwa kecurigaan Xiao Jun bukan hal yang berlebihan. “Tidak, tidak!” Xiao Jun membantah sendiri, kepalanya bergeleng beberapa kali.
“Kenapa tuan?” Lau salah paham dan mengira Xiao Jun menanggapi pendapatnya barusan.
Xiao Jun menengadah menatap Lau, “Bukan apa-apa, ayo berangkat paman.”
***
Dina membaca pesan singkat dari Lau dengan wajah yang sumingrah. Beban moral dalam batinnya seketika buyar karena kabar bahagia itu. Usaha yang tidak membohongi hasil, sungguh tak sia-sia ia berjuang untuk menyatukan sepasang kekasih yang bermasalah itu.
Kedua majikan kita sudah baikan, terima kasih atas kerja kerasmu.
Pesan dari Lau itu dibaca sekali lagi sebelum dihapus untuk menghilangkan jejak. Weini memang tidak pernah mengorek privasinya, namun Dina tetap cemas jika suatu saat keadaan tak berpihak padanya dan rekam jejak itu terbaca orang lain, maka habis sudah kepercayaan Weini untuknya.
***
“Ayah, terima kasih.” Weini sudah berpenampilan rapi dan cantik, tinggal menunggu managernya datang menjemput dan mereka akan mulai kerja di depan kamera lagi. Ia menghampiri Haris yang merapikan ruang kursusnya.
Haris mendongak dan menatap anak gadisnya, siapapun yang melihat aura Weini sekarang pasti sependapat pada Haris bahwa gadis itu tampak sangat bahagia. “Terima kasih atas apa? Aku belum melakukan apa-apa untukmu.”
Weini menarik sebuah kursi lipat lalu mendudukinya. “Atas puddingnya, atas pengertiannya, dan atas kesempatan yang ayah berikan untuk kami. Ayah sudah tahu kan dia pasti datang, persiapan ayah di kulkas bahkan cukup untuk dimakan lebih dari tiga orang.”
Haris tertawa kecil, tatapannya lembut mengarah pada Weini. “Hari ini kamu sudah mulai syuting lagi?” Haris malah membahas topik lain, kerjaannya di ruang ini telah selesai dan ia siap meladeni Weini.
Weini mengangguk, “Tapi cuman reading naskah dulu dengan semua pemeran, setelah itu baru bisa dijadwalkan syuting perdananya. Ayah mau ikut?” Tanya Weini penuh antusias.
Haris mengernyit, “Tumben kamu ajak ayah? Bukannya kamu paling grogi kalau kerja ditemani ayah?” Goda Haris, ia menatap Weini dengan sorot tak percaya.
Weini terkekeh, selama ini ia memang paling anti dibuntuti Haris ke lokasi syuting dan entah mengapa ia bisa keceplosan begitu saja mengajaknya. “Lupakan saja, ayah. Aku nggak tega melihatmu bosan menunggu. Nanti
cukup lama dan hanya yang bersangkutan yang boleh masuk dalam studio.”
“Kamu sudah pintar ngerjain ayah sekarang. Nanti aku mau mampir ke rumah om Felix, sudah lama nggak silaturahmi ke sana.” Seru Haris.
“Sampaikan salamku untuk mereka. Dan, sekali lagi xie xie ayah.” Ujar Weini pelan, ia sungguh berterima kasih atas campur tangan Haris yang halus hingga kadang tak disadarinya namun selalu berhasil membuat Weini keluar dari masalah itu.
Haris mengangguk sembari melayangkan senyumnya. “Yang akur, sampai menikah!”
Mendengar saran Haris langsung menyebabkan dua pipi Weini memerah, Haris terlalu blak-blakan. “Apaan sih, ayah.” Weini berdecak, ia tak kuasa meladeni candaan Haris lagi.
“Orang pacaran kan memang menuju ke sana. Pacaran itu sama saja pernikahan yang tertunda, tapi tetap dalam batasan normalnya. Tuh, Dina sudah di depan, bawa sedikit kue untuknya.” Haris melirik ke arah luar, ia tahu sesaat lagi akan ada yang mengetuk pintu.
Weini beranjak dari tempat duduknya, sebelum keluar dari ruangan itu, ia berdiri tepat di hadapan Haris kemudian membungkukkan tubuhnya. Haris terkesiap, gadis muda itu sedang memberinya penghormatan ala keluarganya.
“Terima kasih ayah, terimalah hormatku.” Ujar Weini yang sangat lapang dan penuh syukur memiliki seorang pria hebat yang berjasa membesarkannya.
Alangkah bahagianya jika hidup tanpa masalah, namun masalah juga tidak selalu berakhir buruk. Jika sebelas tahun lalu peristiwa itu tidak terjadi, apakah aku masih bisa tumbuh menjadi seorang gadis dengan didikan budi pekerti sebaik yang diajarkan ayah Haris padaku? Atau mungkin aku akan tumbuh menjadi nona yang egois dan sombong dengan kekuasaan di tanganku? Takdir ini, sedikit demi sedikit sudah bisa kuterima. Aku tak lagi sepenuhnya menyalahkan ayahku, meskipun masih ada rasa kecewa besar dalam hatiku. Tapi, dalam hidup yang belum kumenangkan ini, aku berikrar untuk kembali ke tempat di mana aku berasal. Akan kudapatkan lagi segalanya yang memang ditakdirkan untukku!
***