OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 225 MEMPERBAIKI KEADAAN



Mengapa kaca depan mobil lebih besar dari spion di samping? Kalian pasti tahu filosofinya kan, tidak perlu lagi sering menengok ke belakang, mengingat masa lalu yang menyakitkan atau bahkan kegagalan hari kemarin. Dan di sinilah Weini berada sekarang, di hadapan Stevan yang menunggunya lari mendekap, mencegahnya pergi. Pria itu tersenyum seraya mengangguk, mengijinkan Weini melukainya sekali lagi kalau memang tak terhindarkan.


“ACTION!” pekik Bams mengawali syuting scene yang gagal tempo hari.


Weini yang semula menatap penuh optimis, langsung berubah ekspresi dan menangis sedih mengejar Stevan. Semua akan baik-baik saja! Batin Weini menyemangati diri sendiri.


Tangannya telah mendekap Stevan dengan erat sesuai naskah, sepasang mata terpejam dengan rintik air mata yang menyayat hati siapapun yang menonton. Weini sungguh menghayati perannya. Dalam pelukan itu, Stevan pasrah merasakan setruman ringan yang muncul lagi. Toh, ia sudah berjaga-jaga jika kembali pingsan, ada tim medis yang siap menyelamatkannya. Saking memaksakan diri untuk syuting dengan kondisi yang belum stabil, ia sebenarnya belum diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Namun Stevan keukeh hingga meminta beberapa perawat menemaninya syuting. Ia akan kembali diinfus ketika waktu istirahat.


Weini berupaya keras tetap fokus dengan konsentrasi yang terbagi dua, antara mengontrol kekuatannya serta beracting sekaligus. Hawa Yang dari Stevan mulai hangat menjalari tubuh gadis itu, mereka masih berdialog


dalam pelukan. Stevan menguatkan dirinya yang mulai melemah, kalau bukan karena Weini mungkin ia tidak punya alasan untuk terus bertahan.


Puncak energi yang tersedot sampai ke batas maksimal, Weini peka merasakannya. Tubuhnya terlalu serakah, meskipun ia tidak memerlukan energi tambahan namun dorongan energi dari luar terus masuk ke tubuhnya. Ini saatnya! Batin Weini, ia mantap dengan keputusannya melakukan tindakan selanjutnya. Stevan mulai terpejam, tubuhnya kian tak kuat dipaksakan.


“CUT! Good Job Stevan, Weini!” teriak Bams puas.


Stevan membuka mata, terheran-heran dengan apa yang ia rasakan. Pria itu menatap sekujur tubuhnya yang masih berdiri tegak. “Eh?” desisnya bingung. Ia tidak jadi pingsan? Malah badannya terasa lebih segar.


"What happen?” bisik Stevan menatap Weini yang malah berdiri sembari tersenyum manis, dengan wajah sok polos tanpa dosa.


“Just a magic.” Jawab Weini seraya berbisik lalu pergi menghampiri Dina yang sudah menunggunya kembali dengan sebotol air mineral dingin.


Stevan masih berdiri terbengong, ia baru saja menjadi korban magic Weini? Apa betul yang dikatakan Weini? Tetapi Stevan justru ragu melihat gadis itu dengan entengnya mengakui bahwa sensasi hangat dan dingin yang ia rasakan di waktu bersamaan adalah pengaruh sihir. Selang beberapa menit kemudian, Stevan tersenyum sendiri lalu berjalan menuju tempat istirahatdengan perawat dan infus yang menunggu.


Lu emang aneh tapi nyata, Weini.Batin Stevan, ia sangat senang bukan karena tak jadi pingsan, tapi lantaran melihat keceriaan Weini yang sudah kembali seperti biasanya.


“Gue nggak perlu infus lagi, udah fit total.” Stevan dengan percaya diri menolak tindakan medis lagi, apa yang ia khawatirkan tidak jadi kenyataan. Ucapannya yang lantang barusan terdengar oleh Weini dan Dina. Manager


Weini itu langsung menghampiri Stevan.


“Yang bener? Coba periksa ulang, jangan-jangan cuman sugesti lu doang.” Dina tak langsung percaya dan meminta tim medis memeriksa aktor itu untuk memastikan kebenaran.


Sementara Stevan melemparkan senyuman lebar pada Weini yang hanya dibalas dengan anggukan oleh gadis itu.


***


Kelanjutan cerita Weini dan Haris di malam sebelumnya ….


Weini meminta Haris mengatakan cara apa yang dimaksud, apapun akan ia lakukan selagi dapat menangkal kekuatan anehnya.


“Yin Yang itu simbol keseimbangan, ada Yin (unsur dingin) harus ada Yang (unsur panas). Wanita disimbolkan dengan Yin, dan pria disimbolkan Yang. Asal bisa menyeimbangkan salah satu unsur yang berlebihan maka kekuatanmu bisa stabil.” Tutur Haris dari sudut pandangnya, ia belum menemukan solusi yang seratus persen tepat, namun mereka harus berani berspekulasi ketimbang berpangku tangan membiarkan kekacauan tak bersolusi.


Weini paham teori itu tetapi belum mengerti maksud Haris yang sebenarnya. “Jadi, menurut ayah aku harus gimana?”


Haris agak ragu namun ia tetap mengutarakan pendapat, “Dapat menerima berarti dapat memberi, kamu bisa ambil energi orang, harusnya bisa mengembalikannya. Sihir Klan Wei hanya menguasai transfer energi, jika kamu bisa mempelajarinya dalam waktu satu malam, maka kamu tidak akan mencelakakan orang lain lagi besok.”


Pernyataan Haris sangat serius dan menjadi tantangan besar bagi Weini. Kalau bukan karena kejadian ini, Weini tidak akan tahu bahwa Haris menguasai kemampuan memindahkan energi. Kalau dikombinasikan, maka Weini


jelas memiliki sihir dua unsur, Yin Yang. Masalahnya adalah, sanggupkah Weini menguasai ilmu yang level tinggi itu?


Haris masih bergeming, ada ganjalan lain di benaknya. Weini sampai memiringkan kepala demi menatap sorot mata Haris yang ke meja dengan pandangan gusar. “Ayah?”


“Weini, aku minta maaf … kondisiku belum sepenuhnya pulih dan tidak bisa mengeluarkan tenaga dalam. Dengan sangat terpaksa, kamu harus mengandalkan kemampuan sendiri.” Rasa bersalah yang membuat Haris sempat


terdiam karena masalah ini, ia hanya memberi tahu cara dan manteranya, selebihnya harus mengandalkan kemampuan Weini.


Subuh datang menyisakan embun yang hanya berumur singkat sebelum hangatnya mentari meleburkannya. Weini terjaga sepanjang malam di kamarnya, menciptakan privasi agar fokus berkonsentrasi. Berulang kali ia merapalkan mantera, menciptakan lingkaran sihir dengan formasi bintang bercahaya dari tempatnya berpijak. Kedasyatan kekuatan yang mengguncangkan rumahnya, serta mendatangkan angin dalam ruangan tertutup rapat. Weini berdiri


dengan mata terpejam, merasakan pusaran angin menerbangkan tubuhnya yang masih dalam posisi berdiri. Ia seolah terlahir kembali dengan kekuatan penuh dan mengendalian diri yang lebih terlatih. Di tengah pusaran angin itu, kedua matanya terbuka dan senyumnya mengembang penuh. Senyum  keberhasilan.


“Ayah, ayah ….” Weini menggugah Haris yang tertidur di ruang tamu dengan pelan.


Pria itu terjaga lalu menatap Weini, kantuknya langsung hilang. “Gimana Weini?”


Weini tersenyum, “Aku berhasil, ayah. Ayo kita coba!”


Haris menegakkan posisi duduk lalu menyilangkan kedua kali seperti posisi meditasi. Sementara Weini cukup berdiri saja di tempat semula, tanpa ragu ia memegang pergelangan tangan kiri Haris dan memusatkan perhatian sembari merapalkan mantera di dalam hati. Tenaganya yang mubajir saking banyaknya tengah ia salurkan pada Haris, pria itu terdeteksi masih cukup lemah. Weini bahkan jauh lebih unggul dibanding guru sihirnya itu.


Hawa sejuk terserap dari pori-pori kulit Haris, dalam kondisi mata terpejam ia tersenyum puas. Weini memang gadis istimewa, Haris mengakui kemampuan gadis itu kelak pasti mengunggulinya.


“Gimana ayah? Kau merasa segar sekarang?” Tanya Weini senang, ia tidak perlu jawaban karena ia bisa mendeteksinya. Haris sudah normal, kekuatannya sudah dipulihkan.


Haris tertawa kecil, “Kau hanya basa-basi bertanya. Syukurlah, dengan begitu kau bisa mengendalikan kekuatan tambahanmu. Sementara, sampai kita temukan cara patennya.”


Weini mengangguk mantap, ia bisa menghela napas lega. Kekacauan kemarin tidak akan terulang kembali, ia pastikan itu selagi kemampuannya sanggup dikontrol. Setelah apa yang telah menimpa hidupnya belakangan ini, Weini mengambil hikmahnya dan tetap mensyukuri apa yang masih ia milik. Ayah yang baik, sahabat yang setia, kekuatan bonus yang berbahaya, memikirkan yang masih ada itu cukup ampuh memberinya semangat menjalani


hari-hari. Tak peduli esok seperti apa, yang pasti berbuat yang terbaik untuk saat ini, di hari yang sedang ia jalani.


“Weini, apa Stevan tahu kamu bisa sihir?” Tanya Haris.


Weini mengeryit lalu mengangguk pelan. “Tapi dia janji bakal tutup mulut.”


Haris berdecak, “Nanti kuajarkan sihir penghapus ingatan, atau bawa dia ke sini biar aku yang urus.”


Weini terkesiap, “Ayah, sihirmu banyak banget. Kenapa tidak bilang dari dulu kalau ada sihir seperti itu?” Tatapan Weini mulai aneh, dan isi pikirannya terbaca jelas oleh Haris.


“Sudah … sudah … lupakan saja! Singkirkan niat busukmu, ayah tahu yang kau mau.” Ujar Haris sembari menggelengkan kepala.


“Kenapa gitu, ayah? Ayolah … hapuskan ingatanku tentang dia dan segala yang menyakitkan!” bujuk Weini, modus.


“Lupakan saja, ayah tidak akan mengajarimu.” Haris beranjak dari sofa, lebih baik ke dapur menyiapkan sarapan daripada mendengar rengekan tak masuk akal dari Weini.


“Ayaaaahhh …”


***