OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 172 PESAN YANG TERSAMPAIKAN?



Dina sedari tadi mondar mandir mengecek situasi di luar, apes rasanya tanpa persiapan apapun mereka tengah dikepung kawanan pers yang nekad mendatangi lokasi syuting. Semenjak hubungan Weini dan Xiao Jun go public, rumor mereka nyaris setiap hari menjadi konsumsi publik. Beragam pemberitaan yang bagus bahkan yang telah didramatisasi beredar seolah itulah fakta sesungguhnya lantaran belum sekalipun Weini angkat bicara soal hubungannya.


“Yang lucu itu kenapa mereka ngototnya sekarang? Lah kemarin kemana aja kirain bakal senyap sendiri kalau nggak direspon non Weini. Ini kok malah kompak banget pada nyerbu, kayak ada yang ngatur buat prescon di sini.” Dina sungguh sewot, kepulangan mereka tertahan gara-gara menghindari wartawan.


Weini diam, tak ada mood memberi komentar. Ia sendiri penasaran apa yang memancing animo pers mengincar klarifikasinya pada urusan pribadinya.


“Aduuuh non, lama-lama non bisa diangkat jadi artis kontroversi bukan karena prestasi tapi gossip. Lah, baru aja senyap kasus skandal Lisa, eh nongol lagi berita miring gini.” Dina makin uring-uringan, ia mengacak rambutnya yang semula rapi hingga persis tali kusut.


Mendengar celotehan Dina yang makin kehabisan akal, membuat hati Weini terasa panas. Ia bukan tipe orang yang suka cari sensasi namun entah mengapa setiap gerak-geriknya malah dipelintir seolah setingan. “Ayo kak, hadapi aja mereka!” ujar Weini tegas. Ia merasa konyol bersembunyi terus dan membiarkan oknum yang memanfaatkan kediamannya untuk memperkeruh suasana.


“Eh?” Dina terkejut dan belum sempat mencegat Weini menuju pintu. Di luar sana kerumuman pencari berita bak singa lapar yang menanti mangsa keluar dari kandang. Setelah mendapat mangsa dan kenyang, belum tentu mereka puas dan pasti akan datang mengintai lagi.


Bantuan tak terduga datang dari Stevan yang tiba-tiba menggandeng Weini dari samping. Weini yang tak siap tangannya diraih paksa itu spontan meronta, namun ketika ia melihat si pemilik tangan, perlahan ia melemaskan tenaga. Ia memincingkan mata menatap Stevan yang pandangannya lurus ke depan sembari mendekati jalan keluar satu-satunya. Angin apa yang bertiup hingga Stevan main nyosor menggandengnya padahal ini bukan waktu syuting.


“Tenang, gue bantu ngomong.” Jawab Stevan tanpa ditanya alasan sikap mendadaknya.


Dina mengekori pasangan drama itu sembari menjinjing tas perlengkapan Weini, ia memilih mengunci mulut dan pasrah menerima kenyataan yang penting mereka segera keluar dari ruangan ini dan kembali ke rumah.


Sorot kamera yang menjepret kemunculan Weini sekejab menyilaukan mata. Weini melenggang keluar dengan tampang kalem, hanya sekedar senyum sembari menyesuaikan irama langkah Stevan. Kemunculan Weini yang bergandengan dengan Stevan langsung dipotret oleh pers, mereka beralih fokus dengan tudingan ada hubungan pribadi di antara dua pelakon itu.


“Weini … Stevan … minta waktunya bentar dong.” Teriak para wartawan.


Stevan melambaikan tangan sembari tersenyum sementara Weini berusaha kalem namun berjalan sambil menunduk.


“Kalian berdua cinlok beneran ya? Klarifikasi dikit dong? Weini apa bener kabar hubungan sama bos Hongkong itu cuman setingan? Jadi sebenarnya siapa dong pacar Weini?”


Weini berhenti dan menatap tajam pada sumber suara yang melontarkan pertanyaan itu.


“Selow, gue aja yang jawab. Lu pura-pura sakit.” Bisik Stevan mencegat Weini buka suara.


Stevan menghadap ke puluhan kamera yang ada di depan, sementara masih ada beberapa kamera yang mengambil dari sudut samping. “Temen-temen, makasih banget udah repot-repot datang ke lokasi syuting kami. Soal rumor kita no komen dulu, Weini lagi kecapekan. Syuting kita striping mas, mbak, so sorry banget next time aja


pasti bakal dijawab kok.” Stevan langsung merangkul Weini yang terdiam tanpa melambatkan langkah.


“Kapan mas Stevan bakal klarifikasi? Satu jawaban aja hubungan mas dengan mbak Weini apa?” tim pemburu berita tetap menodong beragam pertanyaan.


“Mbak Weini kapan mau prescon? Bener ya mbak kalau hilangnya pengusaha Li Xiao Jun ada kaitannya sama mbak sampai perusahaannya terancam kolaps?”


Tudingan miring barusan berhasil menghentikan langkah Weini, berita sampah itu kian tak masuk akal diteruskan. Kepulangan Xiao Jun ke Hongkong memang ada kaitannya dengan Weini, namun dampak sebesar itu apa benar hanya karena masalah percintaan hingga merembet ke bisnis?


“Sorry mbak, maksud pertanyaan barusan apa ya?” Weini menyentil seorang wartawati yang mengeluarkan statement itu.


Stevan menguatkan cengkraman di tangan Weini, memintanya menjaga ucapan agar tak kelewat batas. Ia yakin gadis yang disukainya itu belum tahu rumor miring tentang hubungannya dan Xiao Jun yang sedang ditanyakan. Para wartawan kian antusias memancing setelah pertahanan Weini goyah. Semua hal yang berkaitan dengan kehidupan asmara Weini dikorek habis oleh mereka. Dina segera membantu mengamankan Weini ketika melihat pers tak lagi menjaga jarak. Dina dengan sigap menjadi perisai Weini yang menghadang dari arah depan.


“Aku hargai usaha teman-teman tapi maaf tolong hargai batasan kami. Aku memang kenal dengan pengusaha yang kalian sebut itu, sejauh apa hubungan kami maaf belum saatnya untuk dibuka. Dan lagi, rumor itu baru aku dengar sekarang dari kalian. Benar tidaknya, kalau dari saya tidak benar. Makasih.” Weini mengakhiri penjelasannnya. Ia bergegas menuju mobil tanpa dituntun lagi oleh Stevan.


Dina menghalangi pers yang menyerbu Weini dan menyulitkannya masuk ke mobil. Stevan auto menjadi bodyguard dan meminta managernya ikut membuka jalan agar Weini berhasil sampai ke mobil. Dalam kondisi mendesak, Stevan mengesampingkan egonya dan kembali melindungi Weini. Mendiamkan Weini beberapa minggu bukan berarti mematikan rasa pedulinya, ia tetap menjadi yang orang pertama yang pasang badan untuk melindungi gadis itu.


“Jalan pak, buru!” Dina menepuk kursi supir. Bersusah payah masuk dan kabur dari serbuan pemburu berita dan kini ia bisa bernapas lega sejenak.


Stevan masih terjebak dalam kerumunan itu, tinggal ia yang jadi sasaran empuk. Berbondong-bondong alat perekam disodorkan dekatnya, beruntung ia mempunyai manager yang sigap memotong kenekatan mereka dan berhasil kabur ke mobil.


Weini mengintip ke belakang melihat Stevan yang menyusul jejaknya meninggalkan Kerumanan orang-orang super semangat itu. Lagi-lagi Stevan muncul sebagai  pahlawan di saat yang tepat, selalu bersedia terluka untuknya. Dalam jarak yang terbentang puluhan meter, Weini hanya mampu bergumam mengucapkan terima kasih


pada Stevan.


“Non, nggak usah digubris mereka ngasal banget bikin berita. Kita bisa tuntut kalo non mau.”


Weini menggeleng, percuma melakukan pembelaan diri dengan kekerasan. Ia tetap harus menjaga hubungan baik dengan pihak media. “Kak, mana hapeku? Sebenarnya apa sih yang mereka bahas? Kok bisa muncul berita gitu darimana coba?”  Weini penasaran, sejak kejadian dengan Xiao Jun, ia berusaha tidak membuka berita online ataupun TV. Ternyata tanpa kontrol lantaran enggan pusing dengan gossip murahan itu hanya mampu bertahan hingga sekarang. Ia harus mencari tahu sendiri sejauh mana asumsi media kepadanya.


Dina menyodorkan ponsel yang Weini minta, ketika alat komunikasi pintar itu dinyalakan justru fokus Weini yang beralih. Mengungkit tentang Xiao Jun membuatnya ingat pesan singkat yang ia kirim tadi pagi, dengan iseng Weini membuka aplikasi chat untuk mengecek status.


“Eh?” gumam Weini kaget. Pesan itu berpindah status menjadi delivery dan sudah centang biru. Pesannya sudah terbaca sejak kapan? Xiao Jun, akhirnya kau kembali?


***