
Xin Er canggung mendapati sikap Grace yang tiba-tiba menempel sambil tersedu sedan padanya. Grace tak sungkan memeluknya dan membasahi baju Xin Er karena air mata. Beruntung sekeliling cukup sepi, jika tidak mungkin orang yang melihat adegan ini akan mengira bahwa Xin Er sedang menyakiti nona muda itu.
“Nona, jangan menangis lagi. Lukanya tidak apa-apa, pasti cepat sembuh asal diobati.” Xin Er mengelus rambut Grace penuh kasih sayang, sikapnya yang hangat dan tulus itu terasa sangat menenangkan Grace. Sayangnya
Xin Er salah tafsir, kesedihan Grace yang berujung pecahnya tangisan bukan disebabkan oleh luka kecil itu. Ada luka yang jauh lebih besar dan sulit dibasuh di dalam hatinya.
Grace sesengukan walau ia berusaha keras untuk diam, “I … ibu, aku Grace. Salam hormat untuk ibu mertua.” Ucap Grace terbata-bata.
Panggilan ‘ibu mertua’ itu menghentakkan Xin Er, meskipun baru berkesempatan bicara empat mata dengan Grace tetapi Xin Er tidak menyangka bahwa gadis itu mempunyai keberanian untuk memanggilnya dengan sebutan akrab. Ia memang tunangan putranya, namun segalanya belum tentu pasti sebelum pernikahan itu terjadi. Grace terlalu percaya diri dan terlalu cepat menganggap dirinya sudah menjadi seorang menantu.
“Nona, anda salah panggil. Saya hanya pelayan biasa yang bekerja untuk nyonya besar.” Jawab Xin Er pura-pura, lagian secara status memang benar bahwa yang menjodohkan Grace dengan Xiao Jun adalah sepihak dari
tuan besar. Mertua yang semestinya diakui Grace adalah Li San dan Liang Jia, di mata Xin Er hanya ada satu calon menantu yang mendapat pengakuan, yakni si gadis pemilik cincin warisan.
Grace menggelengkan kepala dan tersenyum manis pada Xin Er, tatapan penuh semangat gadis itu seolah meminta pengakuan lantaran ia telah tahu semuanya. “Ibu, aku sudah tahu semuanya. Ibu tetap adalah mertuaku, karena Xiao Jun putra kandungmu. Aku tidak menyangka akan bertemu ibu, bahkan ibu yang menolongku.” Ujar Grace sangat bahagia.
Xin Er terdiam sejenak, ia bukan tipe orang yang mampu berpikir cepat ataupun bersandiwara. Dan sekarang ia bingung bagaimana harus bersikap, Grace sudah tahu semua. Lantas ia harus berkomentar apa? “Nona, kita berada di lingkungan yang banyak aturan. Mohon nona lebih mengendalikan diri, Jun memang putraku tapi dia juga putra kesayangan tuan dan nyonya besar. Mereka yang lebih pantas nona hormati, kelak jika bertemu lagi mohon nona lebih hati-hati bersikap agar tidak jadi masalah bagi kita.”
Penolakan halus Xin Er langsung mengecewakan Grace, wajah yang semula sudah berseri penuh semangat kini kembali mengkerut. “Tapi aku tetap mau menghormatimu, Ibu. Kau adalah orang yang Xiao Jun cintai dan aku
juga akan mencintaimu, aku janji akan jadi menantu yang baik dan merawatmu, Ibu.” Ujar Grace, masih mencoba memaksakan kehendaknya. Ia tidak mau ditolak seperti itu, ia pun mau mencintai dan merasa dicintai oleh wanita tua itu.
“Kebaikanmu membuatku tersentuh, nona. Kau sangat cantik dan baik, nona juga masih muda, masih banyak kesempatan bahagia. Terima kasih untuk niat baikmu, aku permisi dulu nona. Nyonya besar pasti sudah menungguku.” Xin Er tetap berupaya menolak secara halus niat baik Grace, berusaha tidak memberikan harapan palsu sejak awal ketimbang terkesan menjaga perasaannya, gadis itu akan lebih terluka jika makin lama berharap.
“Ibu, panggil aku Grace. Jangan panggil aku nona lagi, ku mohon ….” Pinta Grace mengiba, setiap kali mendengar Xin Er memanggilnya nona, ia merasa tidak dianggap sebagai orang dekat.
Xin Er tersenyum, permintaan yang sangat berat dan tidak bisa ia patuhi. “Maaf nona Grace, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik dan sebaiknya segera obati lukamu.” Xin Er memilih cara ini untuk menarik diri dari hadapan Grace, ia beranjak meninggalkan Grace yang masih berdiri diam.
“Aku menangis bukan karena luka ini, tapi karena Xiao Jun! Ibu, aku sangat mencintai dia tapi dia tidak!” teriak Grace mencegah Xin Er berlalu semakin jauh. Jika ia terus diam, maka kesempatan di depan mata ikut raib.
Xin Er berhenti melangkah, teriakan Grace yang mengutarakan perasaannya itu terdengar lirih, memilukan. Cinta bukan hal sepele yang hanya melibatkan satu hati saja, bukan juga perasaan yang bisa dipaksakan tumbuh dan menguat. Xin Er tetap tidak bisa apa-apa, urusan hati sepenuhnya milik Xiao Jun. Siapapun tidak bisa menggugatnya sekalipun dipaksa.
“Kau masih muda, jika membahagiakan lanjutkan. Jika tidak, tinggalkan saja nona.”
Li An, Xiao Jun, Wen Ting sudah berkumpul di kediaman Liang Jia. Nyonya besar itu menjamu mereka di sebuah pendopo di tengah taman. Li An terlihat gusar, mereka berkumpul lantaran sudah janjian dengan Liang Jia yang bersedia menjembatani pertemuan mereka dengan Xin Er. Tetapi hingga saat ini, wanita tua itu belum juga datang dan menurut pengakuan Liang Jia, ini tidak biasanya terjadi.
“Aku utus pengawalku mencari dia, kalian tenanglah. Xiao Jun juga jangan sembarang bertindak, biar aku yang urus.” Ujar Liang Jia menenangkan kedua anak muda yang tampak mencemaskan ibunya.
Xiao Jun mengetukkan jemari di atas meja, ia bersedia mendengarkan saran Liang Jia. “Terima kasih ibu.”
Li An juga mengucapkan kata yang sama, tetapi hatinya tetap gusar hingga Wen Ting merangkul untuk menenangkannya.
Perhatian pria muda itu menarik perhatian Liang Jia, ia tersenyum senang melihat pasangan baru itu. Betapa beruntungnya Li An, tidak terlahir dalam keluarga bangsawan, hanya gadis biasa yang berparas rupawan,
meskipun sempat menderita semasa kecil dan belia namun ia akhirnya menemukan kebahagiaan dan pasangan yang sangat mencintainya. Nasib yang jauh lebih beruntung dibandingkan kelima putrinya yang lahir dengan gelar dan kehormatan tetapi hidupnya tak lebih baik daripada boneka. Yang jelas, Liang Jia turut berbahagia dengan apa yang Li An dapatkan sekarang. Gadis Wei itu pantas mendapatkannya.
“Kalian pasangan yang serasi, semoga segera dapat momongan ya setelah menikah.” Ujar Liang Jia menyelipkan sebuah harapan bagi pasangan itu.
Wen Ting tersenyum pada Liang Jia, pria muda itu menunjukkan respeknya dengan menganggukkan kepala. “Terima kasih nyonya.” Ujar Wen Ting bersamaan dengan Li An.
“Mulai sekarang, panggil saja aku ibu. Apa kalian bersedia menganggapku sebagai ibu juga?” tanya Liang Jia penuh harap.
Li An mengangguk hormat, “Dengan senang hati, anda telah banyak membantu ibuku. Terima kasih ibu Liang Jia.”
Wen Ting ikut senang mendengar tawaran itu, ia bergegas mengangguk. “Orangtuaku sudah lama meninggal, rasanya beruntung sekali mempunyai seorang ibu yang bersedia menyayangiku. Terima kasih ibu.”
Lagi-lagi Xiao Jun hanya menjadi penonton atas kebahagiaan orang lain, sementara giliran bahagianya masih belum diterawang kapan datang. Yang pasti, ia sangat bahagia melihat senyuman Li An yang selalu menghiasi wajah cantiknya. Xiao Jun baru sadar bahwa wanita memang lebih cantik jika tersenyum.
“Oya, kalian akan tinggal di Beijing setelah menikah, sering-seringlah pulang kalau ada waktu.” Seru Liang Jia.
“Tenang ibu, pasti kami sempatkan. Setelah ini aku akan urus resepsi pernikahan di Beijing, kedua ibu wajib hadir ya.” Ujar Wen Ting bersemangat.
Liang Jia mengangguk mantap, “Pasti! Ibu tak sabar untuk segera terwujud.”
“Dan, setelah itu aku ingin mengajak ibu Xin Er tinggal bersama kami. Apa ibu bisa membantuku membujuk tuan Li?” Wen Ting mengajukan sebuah permohonan yang langsung membuat senyap suasana. Semua mata tertuju pada Wen Ting, menatap lekat pada wajah yang sedang tersenyum memamerkan lesung pipi, mencari keseriusan dari apa yang dilontarkan dengan enteng dari pria hebat dan penuh kejutan itu.