OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 165 PERTEMUAN DUA SAUDARA YANG MENGHARUKAN



Li An baru saja menyelesaikan masakannya, ketika ia mendengar suara ketukan keras dari luar. Tidak biasanya ia memiliki tamu, apalagi di waktu senja berganti malam. Satu-satunya orang yang selama ini datang mencarinya hanya Chen Kho, ia tinggal seorang diri tanpa tetangga dan terasingkan dari kehidupan sosial. Li An tetap merasa takut, Chen Kho tak pernah mengunjunginya pada saat malam. Ia sengaja mengabaikan suara di luar dan berpura-pura seolah rumah kosong, namun ketukan di luar makin nyaring dan intens.


Setengah ketakutan dengan debaran jantung yang kencang, Li An mengendap-endap menuju pintu. Dari celah dinding kayu, ia mengintip siapa yang berada di luar. Teras tanpa penerangan  mengaburkan sosok tamu


misterius itu, Li An hanya tahu orang yang berdiri di depan adalah seorang pria. “Siapa ya?” tanya Li An pelan dan penuh waspada. Ia sendiri ragu suaranya terdengar sampai keluar.


“Kakak, aku pulang ….” Jawab suara pria itu, dari nada suaranya terdengar lirih.


Li An mengernyitkan dahi, seorang pria memanggilnya kakak dan menyatakan dia pulang. Ia terkesiap hingga membungkam mulut dengan kedua tangannya. Orang yang memanggilnya kakak dan pulang ke rumah ini pasti adalah dia. Hanya dia yang bisa melakukannya.


“Ini aku kak, Wei Li Jun pulang.” Xiao Jun mengulang katanya dengan lebih detail, ia gusar tidak mendapat respon setelah memberi keterangan. Bisa ia pahami mungkin Li An sangat berhati-hati dan tidak sembarang menerima tamu lantaran ia hanya tinggal sendirian.


Pintu mendecit panjang dan habis bisa terbuka separuh saking lapuknya kayu. Li An muncul dari dalam dan langsung menghambur memeluk Xiao Jun. Ia menangis sejadi-jadinya, terisak tanpa sepatah kata. Kerinduan yang tertahan belasan tahun, tak pernah menyangka akan bertemu kembali dalam kehidupan ini. Ketika ia sudah sangat pasrah kehilangan orangtua dan saudara, akhirnya Li An menjumpai adik laki-lakinya yang sudah beranjak dewasa.


Xiao Jun membalas pelukan Li An, semasa kecil ia belum siap dengan perpisahan. Keseharian mereka sebagai saudara yang tinggal seatap membuat mereka hidup tanpa tekanan, meskipun setiap hari selalu rebutan mainan, bertengkar kemudian akur kembali, mereka tak membayangkan akan cekcok gara-gara bermain saat itu adalah yang terakhir dan belum sempat mengucapkan maaf. Hati Xiao Jun yang tegar dan keras menyembunyikan perasaan nyatanya luluh terbawa suasana, ia pun menitikkan air mata haru, senang, sedih, bercampur aduk rasanya.


“Kakak, maaf dulu aku mematahkan sisir kesayanganmu.” Dalam kesempatan ini Xiao Jun bergegas menyampaikan maaf yang tertunda lama, ia ingat terakhir bertengkar dan membuat Li An menangis gara-gara kenakalannya rebutan sisir hingga patah. Belum sempat mereka diakurkan oleh Xin Er, sekelompok pengawal sudah menjemput paksa mereka.


Li An melepas pelukannya dan beralih menatap wajah dewasa Xiao Jun dengan lekat, ia tersenym geli mendengar pengakuan barusan. “Dasar bocah, hampir dua belas tahun nggak bertemu dan yang langsung kau katakan adalah itu? Bukannya tanya kabar cece (kakak) mu ini gimana, malah ngomongin sisir. Aku saja udah lupa.” Li An menjitak lembut kepala Xiao Jun kemudian kembali tersenyum dalam tangisan. Ia masih tak percaya dengan yang dilihatnya, berharap semua ini bukan mimpi.


Xiao Jun diam saja, membiarkan Li An melakukan apapun untuk melampiaskan perasaan. Ia jauh lebih prihatin melihat penampilan fisik Li An yang mengenakan pakaian lusuh, banyak jahitan serta ketinggalan mode. Xiao Jun bisa membayangkan kesulitan hidup yang dialami kakaknya, dan penderitaannya mungkin tidak seberapa dibanding Li An. Meskipun tekanan batin, setidaknya ia hidup penuh kemewahan bahkan berkelimpahan. Xiao Jun tak perlu merasakan kekurangan materi, hanya kekurangan kasih sayang dan pastinya juga dirasakan kedua saudaranya.


“Kakak, apa kabarmu? Maaf aku tak berguna, membiarkanmu hidup susah.” Xiao Jun nyaris tak mampu menyelesaikan ucapannya. Perasaannya terpukul, berkecamuk rasa bersalah dan sedih. Ia anak laki-laki yang harusnya melindungi ibu dan kakaknya, tapi apa yang selama ini sudah ia perbuat? Xiao Jun menitikkan air mata, ya … dia tetap manusia biasa meskipun terlahir sebagai pria bukan berarti ia tak boleh menangis.


Li An meraih kedua tangan adiknya, menggenggamnya erat kemudian melepaskan salah satu tangan untuk mengusap air mata Xiao Jun. “Jangan berkata begitu, Jun. Kamu adikku yang paling hebat, aku bangga sama kamu. Selamat datang kembali ke rumah kita.” Li An menarik Xiao Jun masuk ke dalam rumah, mereka sudah beradegan sedih di gelapnya teras dan dinginnya hembusan angin. Pintu ditutup rapat dan kehangatan mulai menjalari tubuh mereka di dalam lindungan rumah kayu yang lapuk itu.


“Aku udah masak, kita makan malam bersama ya. Senangnya, kali ini aku ada teman makan.” Li An menyiapkan makanan, hanya satu macam sayur yang ia masak dan seporsi nasi putih yang ia bagi dua. Melihat makanan yang sedikit itu membuat Xiao Jun tidak tega menyantapnya meskipun ia cukup lapar, tapi kakaknya pasti lebih membutuhkan makanan itu.


“Ng, aku masih kenyang. Aku temani kakak makan, tapi semua ini kakak yang habiskan.” Tolak Xiao Jun dengan halus.


Li An menggeleng kepala, “Alasan apa itu, kita ini saudara apapun harus berbagi. Banyak sedikit yang penting sama sama menikmati. Aku tidak tahu kamu akan datang, kalau gitu kan bisa masak lebih banyak.” Li An tetap membagi makanannya bahkan mengambilkan sayur ke dalam mangkuk Xiao Jun.


Jelas Xiao Jun tak bisa menolak disuguhkan seperti itu, Li An masih mengingat ajaran ayahnya untuk selalu berbagi pada saudara. Baik senang maupun sedih, yang memiliki lebih harus berbagi pada yang kekurangan. Tak boleh berebut harta, tahta yang memecah belah saudara. Saling mempercayai dan setia dalam persaudaraan. Itulah


yang selalu ditekankan Wei pada ketiga anaknya.


“Kakak, ini sangat enak.” Gumam Xiao Jun setelah mengunyah suapan pertama. Cah kailan polos dan nasi putih setengah mangkuk itu sangat lezat, mengalahkan masakan mewah di kediaman Li San.


Li An tertawa kecil mendengar sanjungan adiknya, “Kalau gitu habiskan semuanya, lain kali kalau kau datang aku masakkan yang lebih banyak dan enak.” Ujar Li An yang mulai mengoper sayur dalam mangkuknya ke dalam mangkuk Xiao Jun. Di mata Li An, pria dewasa di hadapannya masih sama dengan bocah kecil yang dulu


menjadi teman sepermainannya.


“Lain kali, aku tidak janji bisa datang lagi kak.” Ujar Xiao Jun lirih.


Jawaban Xiao Jun seketika membuyarkan kegembiraan pertemuan saudara yang mengharukan, mereka kembali disadarkan kenyataan bahwa kebahagiaan yang mereka idamkan masih terhalang sebuah kekuasaan. Selama kekuasaan itu belum terpatahkan, mereka akan terpisah oleh strata dan status hukuman.


***