
Semenjak menakhlukkan Xiao Jun, Chen Kho nyaris tidak menampakkan diri di hadapan Li San. Bukan karena merasa bersalah, namun masih ada strategi selanjutnya yang akan ia fokuskan.
“Apa? Orangku dilumpuhkan oleh seorang gadis? Dasar tidak becus, kalian berani sebut diri sebagai pengawal professional padahal menghadapi serangan gadis saja sudah ambruk!” Chen Kho marah besar ketika tahu pengawal nomor satunya yang diutus melindungi tim professionalnya kalah telak diserang seorang gadis. Ia tak
mengira ada lawan yang begitu kuat di sana, sepertinya aku yang terlalu meremehkan kondisi di sana. Gumam Chen Kho dalam batin, ia sangat kecewa atas celakanya salah satu tangan kanannya.
“Kau tahu siapa gadis brengsek itu?” Chen Kho menggertakkan gigi, jika ia tidak tahu siapa gadis kuat itu maka tidurnya tidak akan nyenyak malam ini. Kemarahannya kian membuncah ketika mendapat jawaban yang di luar perkiraan, tumpukan buku di atas mejanya menjadi sasaran amukan. Semua buku tak bersalah itu berhamburan ke
lantai dengan satu kali tepisan tangan Chen Kho.
“Dasar tidak becus! Ku beri kalian waktu 1 hari untuk mencari tahu siapa nama dan identitas gadis itu! Jika sampai aku yang turun tangan ke sana, jangan harap kalian masih bisa bernapas.” Ancaman Chen Kho serius, ia tak pernah asal bicara jika berurusan dengan anak buahnya.
Dari pihak seberang, ada yang mengambil alih pembicaraan dan membeberkan sebuah petunjuk yang membuat senyum Chen Kho menyeringai. “Oh, jadi gadis itu mengaku kekasih Xiao Jun. Hmmm … menarik! Cari tahu namanya dan kirimkan profilnya padaku.
Ketika Chen Kho hendak mengakhiri pembicaraan, pengawal tak becus yang masih babak belur itu kembali menyerobot jatah bicara.
“Kau lagi! Apa yang mau diomongkan heh?” bentak Chen Kho, ia masih belum memaafkan kekalahan pengawal terbaiknya itu.
Wajah Chen Kho mengkerut seketika, informasi yang disampaikan pengawalnya terasa sangat mencurigakan. “Kau yakin tidak salah mengenali?”
Chen Kho mencoba mempercayai apa yang ia dengar, pengawalnya mengaku telah kalah oleh salah satu jurus andalan Klan Wei. Meskipun hanya sekilas namun pengawal itu terkecoh karane terkejut melihat kemampuan kungfu gadis itu yang menyerupai kungfu dari seseorang yang ia kenal.
“Baiklah, buktikan dulu dugaanmu. Cari tahu profil gadis itu semakin cepat semakin bagus.”
Satu babak permainan belum selesai kemudian muncul teka-teki baru yang menantang. “Gadis yang menguasai jurus kungfu klan Wei? Cih … Apa ada kebetulan senyata ini? Gadis Wei yang tersisa ada dalam genggamanku, lalu siapa gadis luar yang kebetulan menguasai ilmu warisan klan Wei yang misterius? Kecuali … Wei si pengkhianat itu masih hidup dan berkeliaran di luar sana.” Chen Kho mengambil analisanya sendiri. Rahasia yang ia temukan di dalam rumah Li An, pernyataan Li An bahwa pewaris Wei tidak akan mati semudah itu, dan gadis dengan kungfu aliran Wei. Jika ditarik benang kusut itu, Chen Kho berfirasat bahwa Wei dan Yue Hwa masih hidup
dan bersembunyi selama ini.
Senyum liciknya tersungging, “Tunggu sampai aku mengumpulkan semua bukti, kita lihat sejauh mana kalian bisa bersembunyi.”
Seorang pengawal utusan Li San datang menghadap Chen Kho, ia diminta untuk datang ke Aula utama menemui tuan besar. Chen Kho tak kuasa menolak, ia yakin maksud Li San mengundangnya bukan untuk menghakimi masalah kemarin.
Li San duduk dengan penuh kharisma di kursi kebesarannya. Chen Kho menunduk memberi hormat, ia mulai membiasakan diri dengan aturan yang berlaku di rumah ini. Selain untuk meraih simpati, Chen Kho perlu menunjukkan kerendahan hati untuk membungkukkan separuh badan pada pamannya agar ia dinilai telah
menyesuaikan diri dan berubah menjadi lebih baik.
“Duduklah, ada yang harus kita bahas.” Li San mempersilahkan Chen Kho duduk di tempat yang telah ia sediakan. Secangkir teh hangat mengebul sudah ditaruh di atas meja di samping kursi yang akan diduduki keponakannya.
“Masalah apa yang ingin paman bicarakan? Aku bersedia membantu paman semampuku.” Ujar Chen Kho basa basi.
Li San tertawa kecil mendengar keramahan dan kesiapan keponakannya. “Mengenai perjodohan Xiao Jun dan adikmu, aku sudah mengatur kedatangan mereka besok. Semua akan berjalan sesuai rencanaku, ketika mereka datang bantulah adikmu menyesuaikan diri.”
Senyum puas Chen Kho merekah, ia harus berpura-pura baru mengetahui kabar itu padahal Kao Jing lebih dulu mengabarinya. “Ini kabar bagus yang aku dengar hari ini paman. Besok Grace dan ayahku akan datang, aku siap membuat adikku betah di sini. Paman jangan cemaskan dia, percayakan padaku. Apa Xiao Jun sudah setuju
dengan perjodohan ini?”
berat hati tetapi perjodohan ini harus berlangsung.
“Soal itu ... tidak perlu persetujuan dia. Aku yang punya kuasa mengatur segalanya.” Ujar Li San mantap.
Chen Kho tersenyum, dalam hati ia kegirangan melihat betapa keras kepalanya Li San. “Terima kasih paman, semoga dengan pernikahan mereka bisa membawa kejayaan pada klan Li. Leluhur kita pasti akan memberkati Grace dan Xiao Jun.”
Li San hanya mengangguk setuju dengan ekspresi datar. Entah mengapa ia tidak begitu yakin dengan harapan Chen Kho, walaupun ia juga berharap demikian namun ia merasa berat dengan hubungan yang ia paksakan itu apalagi melihat watak keras Xiao Jun. Entah berapa lama Xiao Jun baru bisa berpaling hati pada gadis yang dijodohkan untuknya.
Chen Kho menatap Li San yang tengah sibuk dalam pikirannya. Ia perlu memancing respon Li San untuk memastikan sesuatu. “Paman, maaf sebelumnya apa aku boleh bertanya sesuatu?”
Lamunan Li San buyar seketika, ia mengernyit sejenak mendengar basa basi Chen Kho lalu tertawa. “Sejak kapan kau seformal itu? biasanya tanpa minta ijin saja kau sudah antusiasbertanya. Apa yang ingin kau ketahui?”
Chen Kho tersipu mendapati respon seperti itu, ia mengepalkan tangan memberi hormat sebelum menanyakan hal yang mungkin bisa menyinggung Li San. Pria tua itu mengernyitkan kening, ia paham arti hormat itu namun heran mengapa Chen Kho begitu segan hanya untuk sebuah pertanyaan.
“Aku mohon pengampunan bila yang kutanyakan ini menyinggung paman.” Chen Kho berdiri dan membungkuk hormat. Li San mengisyaratkannya untuk bicara dan tidak perlu berlaku formal.
“Paman, apakah pernah terpikir bahwa putri bungsu paman, Li Yue Hwa masih hidup?”
Li San tercengang, pertanyaan yang tak terduga itu bisa-bisanya terlontar dari keponakannya yang tidak banyak tahu tentang masalah internal keluarganya. Meskipun agak tersinggung, tapi ia berusaha tetap tenang agar tahu motivasi Chen Kho mengungkit masa lalunya.
“Aku sudah lama melupakan dia, untuk apa peduli dia masih hidup atau mati.” Ujar Li San dengan angkuh.
Chen Kho belum puas dengan jawaban yang klise itu, ia masih mencoba mengorek isi hati pamannya. “Maafkan kelancanganku, paman. Aku pantas dihukum! Hanya saja, membahas soal kelangsungan keturunan Li membuatku teringat tentang dia. Andai ayahku menyetujui perjodohan kami, Yue Hwa pasti masih di sini. Paman, jika dia
masih hidup, apa paman bersedia menerimanya kembali?”
Deg! Pertanyaan tersulit yang tak pernah diprediksi Li San. Sejak kematian Wei, ia telah memasang sayembara ke seluruh penjuru Hongkong untuk menemukan anak gadisnya namun hingga bertahun-tahun keberadaan Yue Hwa seakan hilang dari permukaan bumi. Belum ada satu orangpun bahkan yang tinggal di perbatasan pernah
melihatnya, mungkin saja ia sudah mati di suatu tempat karena tak mampu bertahan hidup sebatang kara. Dan Li San tidak merasa menyesal atas tragedy putri bungsunya. Ia memiliki empat putri lainnya, kehilangan satu saja terasa tak berarti apa-apa.
“Untuk apa berandai pada hal yang tidak pasti. Aku sudah terlanjur membunuhnya, di hatiku tidak ada tempat untuk dia lagi.” Sekejam itulah ucapan Li San meskipun hati kecilnya masih menyisakan penolakan.
“Paman, aku tetap merasa kematian Wei sangat janggal. Apa paman melihat jasatnya? Firasatku mengatakan, mereka masih hidup dan bersembunyi entah di mana.” Chen Kho mulai masuk ke pertanyaan yang lebih dalam. Ia mengeluarkan uneg-unegnya pula, Li San harus ikut memikirkannya.
Li San tersentak kaget hingga dadanya terasa sesak, ia bergegas mengambil cangkir dan meneguk air hangat untuk menenangkan. Jelas sekali saat itu ia dihadiahi sepotong kepala Wei, meskipun tidak melihat jasat utuhnya namun mustahil seseorang yang sudah tak berkepala bisa hidup kembali.
“Dia sudah mati, aku melihat kepalanya. Jika masih hidup kenapa ia tidak muncul balas dendam padahal anak dan istrinya menerima hukumanku. Sudahlah kau jangan terlalu jauh berpikir, masih banyak urusan yang perlu perhatianmu.” Li San mengakhiri sepihak pembahasan ini, ia enggan mengungkit masa lalu. Baik Liang Jia bahkan kini Chen Kho berturut-turut menyebut nama Yue Hwa. Semakin menguak masa lalu itu, luka lamanya kian ternganga dan ia hanya berusaha menepis rasa bersalahnya.
"Tapi paman ...." Chen Kho masih berusaha melanjutkan obrolan ini padahal Li San sudah berjalan melewatinya.
"Tidak ada tapi!" Li San bergegas meninggalkan Chen Kho sebelum amarahnya meledak.
***