OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 332 TAK SESUAI HARAPAN



Xiao Jun memandang hampa pemandangan dari atas langit, saat ini ia sedang menempuh perjalanan pulang bersama ayahnya. Perpisahan yang amat berat ia rasakan, pasalnya belum puas melepas rindu bersama keluarga


lengkapnya. Haris menatap lembut pada putranya, ia tahu beban pikiran yang diemban Xiao Jun. Dengan tenang Haris menepuk pundak Xiao Jun dan membuat pria muda itu terkesiap.


“Jangan terlalu dipikirkan, kakak iparmu bisa diandalkan. Setidaknya itu sudah meringankan tanggung jawab kita.” Hibur Haris sekaligus meyakinkan putranya.


Xiao Jun tersenyum lalu mengangguk setuju, memang beruntung mereka memiliki Wen Ting sebagai anggota keluarga baru. Sebelum jet pribadi ini lepas landas, Wen Ting masih berusaha meyakinkan Haris agar mengijinkannya campur tangan. Wen Ting ingin melindungi Haris dan Xiao Jun dengan bantuan bodyguard andalannya. Tetapi Haris tetap berpegang pada prinsipnya, menolak secara halus dan memberi pengertian pada menantunya itu.


“Ayah benar, dia bersedia melindungi kakak dan ibu saja, kita sangat bersyukur.” Ujar Xiao Jun.


Haris mengangguk, “Sekarang yang terpenting utamakan keselamatan Weini. Aku khawatir masih ada jebakan, ada oknum yang sengaja menunggu kita lengah lalu menyerang nona muda.”


Xiao Jun manggut manggut, dugaan Haris ada benarnya. Kekacauan yang terjadi saat mereka bersenang-senang itu pasti karena ada orang dalam yang membocorkan pada pihak musuh.


“Ayah, apa mungkin Grace ada kaitannya?” Tuding Xiao Jun sembari menatap Haris dengan sorot penuh tanya.


“Aku rasa benar, dia satu-satunya orang luar yang dekat denganmu dan Weini. Tapi dia pun hampir mati keracunan, dia meracuni dirinya sendiri. Ini yang membingungkan, aku baru bisa mendapatkan jawaban setelah bertemu langsung dengannya.” Gumam Haris.


Mata Xiao Jun berbinar, “Ayah akan membaca pikirannya?” Tanya Xiao Jun takjub.


Haris menatap heran pada putranya, segitu kagumnya Xiao Jun akan kelebihan itu padahal teknik membaca pikiran hanya ilmu standar dalam sihir klan Wei. “Bukankah kau juga bisa melakukan itu? Kenapa kau terlihat sangat kagum?” Tanya Haris.


Xiao Jun menggelengkan kepalanya, “Kemampuanku masih belum stabil ayah, kadang kuat kadang tidak terdeteksi sama sekali.” Xiao Jun malu malu mengakuinya.


Haris justru tertawa, ia memang tahu kualitas Xiao Jun hanya saja ia berniat mencairkan suasana tegang dengan candaan garing itu. “Kuserahkan padamu tugas itu, dan ingatlah untuk lebih melunak pada Grace. Hatinya sangat


terguncang, menjadi dirinya juga bukan perkara mudah.” Pinta Haris dengan lembut namun terdengar tegas.


“Aku mengerti ayah.” Jawab Xiao Jun. Ia pun penasaran dengan sikap nekad Grace, tetapi yang menjadi masalah baru adalah tindakan Weini yang sedikit mencolok hingga menimbulkan kecurigaan dari pihak lain.


“Ayah, paman Lau sepertinya mulai curiga dengan Weini. Dia bilang Weini dan Stevan bersikap aneh dan tak lama kemudian Grace dinyatakan melewati masa kritis. Apa mungkin Weini menolong Grace?” Tanya Xiao Jun ragu-ragu.


Haris menaikkan satu alisnya, ia perlu diam beberapa detik memikirkan jawaban. “Aku tidak yakin kemampuannya sudah sampai di level itu, lagipula untuk sihir itu sangat beresiko tinggi. Jika gagal maka racun akan terserap ke tubuhnya dan dia harus mati menggantikannya.”


Xiao Jun tersentak, “Apa mungkin dia lemah karena itu? Ayah, apa yang harus kita lakukan?” Xiao Jun terlihat panik, ia melirik jam tangan dan mendengkus lantaran masih harus menunggu dua jam untuk tiba di Jakarta.


Haris tidak menjawab, ia pun gusar dan terus memendam perasaan tak enak. Semuanya baru bisa terbongkar setelah ia melihat Weini secara langsung.


***


Liang Jia berlari kencang menuju kamarnya, ia tak sabar untuk segera bertemu kedua putrinya. Setelah berhasil kabur dari hadapan dua pria gila di aula, firasatnya merasa sangat buruk dan ia harus bergegas melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat. Beberapa pengawal yang berjaga di sekitar ruang utama hingga lorong kamar Liang Jia segera menunduk ketika melihat nyonya rumah itu.


“Tutup gerbang utama paviliunku dan jangan biarkan siapapun masuk!” Pekik Liang Jia kepada para pengawal itu kemudian melanjutkan berlari dengan tergesa hingga sampai ke kamarnya.


“Ibu, apa yang terjadi padamu?” Tanya Yue Xin dan Yue Xiao serempak, keduanya mendekati Liang Jia yang barusan memastikan pintu terkunci rapat.


Liang Jia mendekap putrinya secara bergantian, dengan susah payah ia menahan tangisan. Setelah mulai merasa tenang, Liang Jia menyampaikan hal penting yang harus diketahui kedua putrinya. “Xin, Xiao, dengarkan ibu … Ibu tidak berhasil menolong ayahmu, sepertinya tidak ada harapan untuk itu. Sekarang yang paling penting, kalian berdua segera pergi dari sini.” Ujar Liang Jia dengan getir dan menatap kedua putrinya.


Yue Xiao seketika terisak menangis, sementara Yue Xin menggelengkan kepala tampak tidak percaya. Kedua matanya pun sudah berkaca kaca, “Jadi ayah sudah ….” Tangis Yue Xin akhirnya pecah.


Liang Jia tak kuat menahan isakan tangisnya lagi, ia mendekap kedua putrinya. Mereka bertiga berpelukan sangat erat. Tak pernah terbayangkan akan kehilangan sosok ayah sekaligus suami mereka secara tragis. Kendati


hubungan Liang Jia dengan suaminya terbilang tidak akur, namun tak berarti ia lantas membencinya. Bagaimanapun bagi Liang Jia , Li San adalah suami yang telah memberikannya lima orang putri.


“Dengarkan ibu, sekarang bukan saatnya menangis. Kalian harus segera pergi, lebih cepat lebih baik.” Liang Jia meyakinkan kedua putrinya, kemudian ia berjalan cepat menuju meja di samping ranjangnya, mengambil ponsel lalu memberikan kepada Yue Xin.


“Bawa ponsel ini bersama kalian, tidak perlu bawa barang apapun dari sini. Ibu akan memerintahkan beberapa pengawal untuk menjaga kalian sampai kalian berada di tangan yang aman. Hubungi nomor bibi Xin Er, bilang


padanya bahwa aku memohon padanya agar menantunya bersedia memberi kalian tempat berlindung sementara. Xin Er tidak akan menolak kalian, dia pasti bisa diandalkan. Mengerti!” Ucap Liang Jia lirih, wajahnya sudah sembab karena air mata namun ia terus meyakinkan kedua putrinya lewat sorot mata yang teduh.


“Ibu tidak ikut dengan kami? Lalu apa yang ibu lakukan di sini?” Tanya Yue Xiao cemas.


Liang Jia menggelengkan kepala, “Terlalu beresiko kalau ramai yang pergi, biarlah ibu di sini sebagai pertukaran kalian. Asalkan kalian bisa pergi dari sini dan selamat. Jangan cemaskan ibu, sudah jadi tanggung jawab ayah dan ibu melindungi kalian.” Ujar Liang Jia meyakinkan putrinya.


Yue Xin menggelengkan kepala, tangisnya kian melengking. “Tidak, aku tidak mau meninggalkan ibu. Aku tidak mau merepotkan mereka kecuali ibu ikut dengan kami. Jika mau mati, lebih baik kita mati bersama.” Tolak Yue Xin dengan berlinang air mata.


“Hentikan kekonyolanmu Xin! Apa kalian mau jadi anak yang tidak berbakti? Ini perintah ibu, kalian tidak punya hak membantahnya.” Tegas Liang Jia.


Kedua putri itu sesengukan lalu menunduk, mereka tak kuasa membangkang lagi pada sang ibu. Liang Jia pun memanfaatkan itu untuk mempertegas perintahnya. Disodorkan paksa ponsel itu ke tangan Yue Xin kemudian


mendorong tubuh kedua putrinya mendekati pintu. Namun sampai di muka pintu, kedua gadis itu berbalik dan segera berlutut di hadapan Liang Jia sambil terisak.


“Ibu, ijinkan kami memberi penghormatan tertinggi untuk ibu. Kami tidak mau disebut anak durhaka, dan dengan berat hati menuruti perintahmu. Kami mohon ibu harus jaga diri dan selamat, kami pasti akan kembali menolongmu. Maafkan kami ibu ….” Pekik Yue Xin mewakili suara hati adiknya. Kedua gadis itu bersujud berkali-kali pada Liang Jia dengan iringan tangisan yang sangat menyayat hati. Siapa yang pernah menduga akan ada perpisahan setragis


ini lagi dalam keluarga tersohor itu.


Liang Jia hanya berdiri mematung, membiarkan kedua putri itu menunjukkan baktinya. Ia harus menguatkan hati meskipun tangannya sangat ingin meraih mereka dan memintanya jangan pergi. Tetapi jika ada yang harus dikorbankan demi kehidupan yang lain, Liang Jia secara ikhlas mengorbankan dirinya untuk melindungi darah dagingnya. Dan ia pun sudah pernah melakukan itu kepada putri bungsunya.


Dalam suasana penuh haru itu, tiba-tiba suara dobrakan pintu membuyarkan segalanya. Ketiga wanita di sana terkesiap dan menatap takut pada sosok yang masuk setelah berhasil merobohkan pintu kamar. Senyum menyeringai yang mirip malaikat penjemput nyawa itu menatap sadis pada mereka bertiga.


***


Hiks, siapa yang tega mengacaukan suasana haru itu? Dan apa yang akan terjadi selanjutnya? Penasaran kan? Namun sebelum author lanjut posting episode selanjutnya, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan pada


karya ini agar semakin banyak penggemarnya. Mohon berikan like dan komentar ya guys. Thanks ^^