OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 235 POSISI YANG TEPAT BAGIMU, GRACE



Lau menyiapkan sarapan di dapur kesayangannya, lama sudah ia berpisah dengan seperangkat alat masak yang ia koleksi. Subuh belum juga pergi, menyembunyikan sinar mentari yang terang dan hangat. Pengawal itu sengaja bangun lebih dini, ia tahu semalam tuannya pulang begitu larut malam, dan pasti akan terbangun sesaat lagi. Kebiasaan pengusaha muda itu berangkat ke kantor lebih awal dari karyawan lainnya, dan pulang paling terakhir.


“Paman, kau sudah bikin sarapan sepagi ini?”


Benar saja dugaan Lau, Xiao Jun mungkin hanya tidur dua jam saja. Ia muncul di dapur dengan penampilan gagah dan rapi, mengenakan jas hitam favoritnya. Xiao Jun mengambil gelas untuk mengisi air mineral, Lau hendak melayaninya namun ia mengangkat satu tangannya sebagai isyarat bahwa ia bisa melakukannya sendiri.


“Selamat pagi, Tuan. Untuk tuan yang selalu siap sangat awal, aku juga harus menyesuaikan waktumu. Silahkan cicipi buburnya selagi hangat, Tuan.” Lau membawakan semangkuk bubur yang mengebulkan uap, baru saja diangkat dari kompor.


Xiao Jun tergugah dengan aromanya, Lau sungguh tahu seleranya yang ingin menyantap makanan hangat. Setelah tadi malam merasa kedinginan, untung saja ketahanan tubuhnya kuat, jika tidak pasti ia terbangun dengan flu atau mungkin demam. “Makan bersamaku, paman. Setelah ini kita ke kantor, ada yang perlu kuperiksa. Tolong kumpulkan informasi lagi tentang pegawai kita yang dipecat ketika kita pergi. Jika mereka belum mendapat kerjaan lain, rekrut kembali.”


Lau mengangguk paham, namun masih ada yang mengganjal. “Baik tuan. Lalu bagaimana dengan nona Grace? Anda harus memberinya posisi di kantor, sesuai perintah tuan besar. Apa saya harus menyuruh Fang Fang


membangunkannya untuk berangkat bersama?”


Xiao Jun menghela napas, lemah rasanya memulai hari dengan mendengar nama gadis itu lagi. “Jangan, biarkan saja dulu. Aku perlu bantuanmu, paman. Cukup kita berdua saja yang datang lebih awal.”


Lau memahami keberatan Xiao Jun, memang tak nyaman rasanya digandoli orang yang tidak disukai. Sebisa mungkin harus menghindari dan tidak berurusan banyak dengannya, tetapi untuk masalah Grace, sepertinya


akan sulit dihindari.


“Paman, apa kamu punya saran, wanita itu harus diberi posisi apa?” Xiao Jun membuka diri menerima pendapat Lau, ia belum terpikir di mana harus menempatkan Grace di kantor.


Lau memilin kumis tipisnya sembari menangkat alis. “Hmm… Yang saya dengar kemampuan nona Grace selama belajar bersama nyonya Gu, kemampuannya standar saja. Ia tidak menunjukkan keahlian yang menonjol, tetapi di negaranya ia lulusan seni musik. Orang dengan jiwa seni yang tinggi, biasanya kurang handal mengurusi bisnis.” Lau terdiam, ia masih belum terpikir posisi apa yang cocok untuk Grace.


“Jadi, bagusnya gimana paman?” Xiao Jun mempertegas pertanyaannya. Ia perlu pendapat orang kepercayaan sebagai bahan pertimbangan.


Lau masih terdiam, hingga akhirnya ia mendehem lantaran masih kurang yakin dengan sarannya. “Bagaimana kalau posisi asisten sekretaris? Dia bisa menjadi cadangan saja, sementara sekretaris utama tetap menghandel semua tanggung jawabnya. Dengan begitu, nona Grace tidak akan terlalu mencampuri masalah bisnis yang lebih dalam. Ia hanya perlu mengatur jadwal meeting anda, atau janji dengan klien, selebihnya biar sekretaris utama yang bereskan. Bagaimana tuan?”


Xiao Jun tertegun, masukan Lau terdengar masuk akal namun ia masih belum puas. “Asisten sekretaris? Hmm… Ada saran lain? Kalau bisa posisi yang tidak perlu bertemu denganku.”


Lau mengulum senyum, cinta bisa membuat tuan mudanya kehilangan akal sehat. “Sementara belum ada yang lebih cocok dari posisi ini, tuan. Tidak mungkin juga kita menaruhnya di posisi custumer service. Ia akan menganggap posisi itu sebagai penghinaan dan melaporkannya pada tuan besar.”


Xiao Jun berpikir ulang, tangannya mengusap hidungnya yang tidak gatal. Ia kerap melakukan kebiasaan itu ketika buntu berpikir. “Paman atur saja, kita lihat ke depannya bagaimana.”


***


hari. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan pagi, Grace masih tertidur pulas sehingga Fang Fang segan membangunkannya. Ia tahu gadis itu tidur menjelang subuh, bahkan ia mendengar isakan tangis ketika mengintip Grace di kamarnya.


Teriakan nyaring mengejutkan Fang Fang, suara itu jelas milik Grace yang masih di kamar. Bergegas pelayan itu berlari menghampiri lalu mengecek apa yang terjadi. “Nona?” Ia terheran, mendapati Grace yang masih duduk di atas ranjang dengan bed cover yang acak-acakan menutupi kakinya. Begitu mendengar namanya dipanggil, gadis itu menoleh pada Fang Fang dengan tatapan nanar.


“Jam berapa ini? Kenapa kamu tidak membangunkanku?” Bentak Grace, ia sampai mengontrol napas hanya karena kesal. Semula ia berencana enggan tidur di waktu tanggung, sambil menunggu pagi maka ia menonton drama


Korea dari ponselnya. Tanpa disadari mata lelahnya terpejam, drama yang ia setel justru menontonnya tidur hingga kehabisan baterai ponsel.


Fang Fang menunduk, serba salah harus menjawab apa. “Maaf Nona, aku pikir anda kurang istirahat, aku tidak berani mengganggu anda tidur.” Ucap Fang Fang hati-hati.


Grace malah mendorong bed cover yang menghalangi kakinya hingga jatuh ke lantai, ia sungguh murka, merasa betapa apesnya harus memulai hari dengan marah-marah. “Hanya maaf? Lalu aku telat berangkat ke kantor bersama Xiao Jun, kamu bisa putar balik waktu hanya dengan kata maaf?”


Fang Fang menggelengkan kepala, kali ini ia memberanikan diri menatap majikannya. “Tuan Xiao Jun bersama pengawalnya sudah berangkat kerja sejak pukul lima subuh, nona. Anda tetap tidak bisa mengikutinya, anda tertidur tepat pada jam itu.”


Grace mengeryitkan dahi, kedua alisnya terangkat dengan mata yang membesar. Impiannya untuk berangkat bersama pria yang dicintai, layaknya dalam drama percintaan yang ia kagumi, penuh romansa dan saling gandengan, kandas begitu saja. Tiba-tiba Grace tertawa, sangat menakutkan. “Dia berangkat sepagi itu? Apa jam kerja di sini seperti jam masuk sekolah? Apa jarak kantornya jauh? Ha ha ha … Atau dia sengaja menghindariku?” Grace kembali melanjutkan tawa sembari mengusap air mata di ujung mata. Menyakitkan, andai Xiao Jun bisa membayangkan bagaimana rasanya di posisinya.


“Paman Lau bilang, anda bisa menyusul ke kantor kapanpun setelah anda siap.” Ujar Fang Fang dengan kalem, tidak terpengaruh tangisan pilu Grace yang babak belur dengan perasaannya.


Tatapan sinis Grace diarahkan pada Fang Fang, di saat ia terpuruk sendirian, pelayan itu masih punya ketenangan yang stabil tanpa menunjukkan empati padanya. “Kamu! Kamu senang ya lihat aku susah? Kamu orang kiriman Xiao Jun kan buat nyakitin aku?” Pekik Grace, tudingan tanpa bukti itu dengan mudah ia lontarkan pada pelayannya.


“Kok diam? Jawab! Kamu orang suruhan buat bikin aku susah kan?” Grace makin kalap, bantal di dekatnya diraih untuk melempari pelayannya.


Fang Fang bergeming, membiarkan serangan tak berarti itu mengenai kepalanya. Ia bahkan tidak bersuara sedikitpun, mentalnya sangat terlatih untuk mendengar ocehan seperti ini.


“Kamu pelayanku tapi tidak setia padaku, buat apa ada kamu? Aku bisa sendiri kalau kamu tidak bisa diandalkan! Pergi!” Jerit Grace, paginya terkontaminasi air mata dan frustasi. Entahlah, apa ia masih sanggup memulai hari dan menginjakkan kaki di kantor?


***