OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 404 KEBERANIAN GRACE



Grace masih berkumpul di kamar Liang Jia, kendati ia merasa tak enak mengganggu kebersamaan suami istri itu, tetapi Liang Jia memintanya tinggal di paviliunnya agar tidak saling berjauhan dalam kondisi yang belum stabil ini.


Mereka berkumpul menyaksikan berita dari Indonesia yang disetel Grace dari ponselnya. Spontan Grace menutup mulutnya saat kaget melihat Stevan dengan lantang bicara dan jadi sorotan kamera hingga di-zoom besar. Sesuatu yang dipegang Stevan yang menjadi sorotan kamera.


Liang Jia mendekatkan pandangannya ke ponsel Grace, ia pun ikut terkejut lalu mengambil alih ponsel dari tangan Grace. Ia perlu melihat lebih dekat benda yang terpampang di layar itu.


"Ini kan plakat Yue Hwa. Kenapa ada di tangan orang lain?" Liang Jia tak mengerti bahasa yang dibicarakan Stevan, pun tak mengenal siapa pria yang memegang benda berharga milik putrinya.


Li San mendengar itu lalu bergerak tak tenang, "Perlihatkan padaku!" Pintanya dengan nada lemas.


Grace diam saja, membiarkan pasangan tua itu melihat dulu. Ia tak akan angkat bicara sebelum salah satu dari mereka menyuruhnya menerjemahkan berita itu.


Raut wajah Liang Jia dan Li San tampak mengkerut, keduanya tampak saling pandang. "Itu benar plakat asli klan Li milik Yue Hwa, bagaimana orang ini bisa punya?"


Liang Jia pun menggeleng lemah, ia tak bisa menjelaskan apapun pada suaminya Ia menoleh pada Grace yang terpaku diam menatapnya. "Grace, apa kamu mengerti bahasa mereka? Tolong jelaskan apa yang mereka katakan?"


Grace tersenyum simpul, ia hanya menunggu dipersilahkan untuk bicara. Matanya beralih melihat ke layar ponselnya sebelum ia menjawab. "Pria ini adalah sahabat baik Yue Hwa, dia juga aktor yang sering satu proyek drama dengannya. Dia bilang plakat ini dijatuhkan oleh Yue Hwa, belum sempat ia kembalikan tapi Yue Hwa sudah keburu menghilang. Intinya pria ini berusaha meyakinkan publik bahwa Yue Hwa bukan orang jahat seperti yang publik tudingkan."


Grace menjelaskan dengan penuh semangat, wajahnya tampak berbinar-binar dan senyuman yang bahagia, padahal hal yang disampaikannya cukup menegangkan bagi Liang Jia dan Li San.


"Grace, apakah pria ini juga dekat denganmu? Sepertinya dia pria yang baik." Celetuk Liang Jia yang spontan terlontar lantaran melihat rona bahagia yang bersemu di wajah Grace. Raut wajah yang hanya dimiliki oleh orang yang tengah jatuh cinta, dan tak bisa luput dari penglihatan Liang Jia.


Grace membisu seketika, tenggorokannya terasa kering bahkan lidahnya kelu hingga lupa berkata-kata. Ia menundukkan wajah, menyembunyikan urat malunya yang jelas betul terlihat dari pipi yang memerah.


"Tante... Aku...." Lirih Grace malu-malu.


Liang Jia tersenyum tulus, ia mendekati Grace kemudian menepuk pundaknya lembut. Hanya wanita yang mengerti perasaan wanita, dan Liang Jia paham bahwa Grace sedang jatuh cinta. "Jangan sembunyikan perasaanmu, tidak ada yang salah kok menyukai seseorang. Tante justru bahagia, akhirnya kamu mendapatkan yang sungguh mencintai dan kamu cintai. Dia pria yang baik dan setia, tante bisa menilainya hanya dengan melihat wajahnya."


Grace semakin serba salah dan malu, rasanya kurang pas membahas tentang perasaannya di saat situasi masih memburuk. "Tante, aku dan dia baru pendekatan. Ah, sudahlah tante... Aku tak enak membahasnya sekarang." Lirih Grace.


Liang Jia tersenyum, ia senang melihat Grace yang banyak berubah menjadi gadis baik. Dia memang dasarnya baik, hanya saja obsesi akan cinta yang membuat hatinya buta.


Grace mengangguk pelan, ia pun memberanikan diri menatap wajah Liang Jia. "Terimakasih tante, aku mengerti sekarang apa yang tante katakan memang benar."


Li San menerawang jauh, mencemaskan putri bungsunya yang belum jelas keberadaannya. Ia sama sekali tak mendengar apapun yang dua wanita itu bahas. "Jia, perintahkan pengawal untuk mengantarkanku ke penjara bawah tanah. Aku mau menemui saudaraku, dia pasti tahu di mana putranya menyembunyikan Yue Hwa."


Liang Jia dan Grace terkejut mendengarnya, permintaan yang tiba-tiba itu jelas menakutkan. Baru satu hari Xiao Jun berhasil melumpuhkan Kao Jing dan menjebloskannya ke dalam penjara yang ketat penjagaan, tapi sekarang Li San hendak menemui tawanan berbahaya itu dalam kondisi tubuh yang belum pulih.


"Jangan suamiku! Tubuhmu belum pulih, dia juga pernah melukaimu. Aku takut dia akan mempengaruhi pikiranmu lagi, atau... Mungkin dia bisa melukaimu lagi." Liang Nia menentang tegas kehendak suaminya. Apapun yang terjadi, ia tak akan membiarkan Li San yang tengah lemah ini berhadapan langsung dengan Kao Jing.


"Tapi hanya dia harapan kita tahu di mana putranya menyekap Yue Hwa. Kita tidak bisa membiarkan putri kita ada di tangan dia terlalu lama, aku tidak mau ada penyesalan lagi di sisa hidupku. Aku ingin putriku kembali, aku ingin minta maaf padanya." Lirih Li San, air matanya mengalir dari ujung matanya.


Liang Jia yang tak tega melihat itupun langsung menyeka air mata suaminya dengan sapu tangan. Ia melihat kesungguhan Li San yang tersiksa karena penyesalan terdalamnya, dan Liang Jia yakin bahwa faktor pemicu dropnya kondisi kesehatan Li San juga karena pikirannya yang terbebani karena memikirkan putrinya.


"Jika itu memang cara yang bisa kita andalkan, biar aku saja yang temui dia." Seru Liang Jia sambil menatap suaminya, dari sorot matanya mengharap restu dari suaminya.


Li San tampak gusar, tubuhnya bahkan ia gerakkan dengan kasar. "Jangan! Aku tak mau dia menyakitimu. Aku bersumpah atas diriku, aku tak mau dia menyakiti orang-orang yang kucintai lagi!" Tegas Li San, namun sesaat setelah mengucapkannya, tubuhnya lunglai dan menyandar di tepi ranjang. Emosi yang berlebihan itu membuat dirinya merasakan pusing.


Liang Jia merangkul suaminya, berusaha menenangkan gejolak emosinya. Tidak ada yang mau mengalah di antara mereka berdua, hanya karena saling menjaga dan tak ingin menyakiti.


Hati kecil Grace tergerak melihat tekad suami istri itu berlomba saling melindungi. Ia tak bisa tinggal diam, sebagai putri dari pembuat onar di keluarga ini. Kekacauan yang menyebabkan perpecahan keluarga, bahkan keluarga Xiao Jun ikut terkena imbasnya, Grace merasa ikut bertanggungjawab memikul dosa ayahnya.


"Tante, paman, berhentilah keras kepala! Biar aku saja yang menemui ayahku!" Seru Grace lantang. Seruan yang berhasil membuat Liang Jia dan Li San menatap cemas padanya. Namun Grace tak akan gentar, binar matanya yang tegas itu menjadi jawaban atas tekadnya yang sudah bulat.


"Grace, kau tidak boleh menemuinya! Dia sedang khilaf, bisa saja dia melukaimu. Apalagi kamu terang-terangan menentangnya, Ini bukan rencana yang bagus untukmu!" Liang Jia tegas menolak Grace, ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Grace yang sudah berani menentang ayahnya di hadapan publik.


Grace menggeleng mantap, semantap tatapannya yang meyakinkan Liang Jia. "Tenang saja tante, di antara kita bertiga, akulah yang paling tepat menemuinya. Lagipula aku ingin membuktikan sekali lagi, apakah dia masih menyayangiku? Aku ingin tahu mengapa dia tega mengorbankan aku!" Seru Grace, tanpa ia sadari tangannya mengepal saat ia menyerukan niatnya.


🎬🎬🎬