OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 485 TAWARAN



Sepanjang perjalanan dalam jet, Xiao Jun lebih memilih diam, mendengarkan sesekali Dina dan Stevan yang saling berceloteh. Yang Xiao Jun inginkan hanya satu, segera menyelesaikan pekerjaannya di Jakarta dan kembali ke Hongkong segera.


"Bos muda, jadi kapan kamu mau lamar Weini?"


Pertanyaan Stevan terdengar nyaring di tengah kesunyian yang sengaja diciptakan demi mendengar jawaban Xiao Jun.


Xiao Jun terkesiap, ia menyudahi pikiran beratnya karena teralihkan panggilan Stevan yang menyodorkan pertanyaan kepo itu. Saat ia menatap ke belakang, barulah Xiao Jun sadar ada enam pasang mata yang menagih jawabannya. Ia menelan ludah, sorot mata yang sedang menatapnya itu terlihat menakutkan saking antusiasnya.


"Ah... Kalau nggak berhadapan langsung dengan dia, nggak apa apa kali ya manggil nama lamanya. Aku sering keseleo lidah kalau manggil gelarnya, apalagi nama aslinya." Belum juga Xiao Jun menjawab, nyatanya Stevan lebih tak sabar memecahkan keheningan. Ia tiba-tiba panik, efek masih terbawa suasana tegang di kediaman Li yang mengekang tindak tanduknya.


Kini semua mata tajam menyoroti Stevan, dia telah mencuri perhatian yang semula ditujukan pada Xiao Jun. Sadar ditatap dengan wajah kesal, Stevan pun hanya nyengir dan mengaku salah.


"Berisik lu, kita lagi nungguin jawaban bos. Iya kan bos muda." Ujar Dina sewot.


Xiao Jun melengos, baru saja ia merasa terselamatkan berkat ocehan Stevan, tapi kini semua kembali menagih jawabannya. Ia hanya merasa heran saja, mengapa nyaris semua orang ingin tahu tentang rencananya melamar Weini?


Bos muda itu melirik Lau, berharap pengawal setianya itu peka dan menjadi juru bicaranya. Tapi nyatanya Lau sengaja menghindari tatapannya dengan menunduk. Xiao Jun nyengir, tampaknya mereka sengaja menyudutkannya dalam posisi ini. Masalah percintaannya selalu jadi berita panas untuk disorot, tidak hanya oleh media tapi juga orang terdekat mereka.


Xiao Jun menghela napas, ia menyerah lantaran tak tahan dengan sorotan mengerikan yang tidak membiarkannya lolos.


"Aku belum tahu, kalian bantu doa saja." Jawab Xiao Jun asal asalan.


Keluhan yang kompak terdengar dari para penonton yang menunggu jawabannya, sungguh tidak memuaskan padahal sudah serius menunggu bos muda itu buka mulut.


"Bantu dengan doa saja apa artinya bos? kalau bos ada kesulitan, Dina siap pasang badan." Seru Dina menyombongkan dirinya.


Komentar Dina pun langsung ditanggapi Stevan, menciptakan babak baru perdebatan dua orang itu. Sejak dulu memang tak pernah bisa klop dan cekcok soal pendapat mereka, tapi justru itulah yang merekatkan persahabatan mereka.


Xiao Jun diam dan tersenyum senang karena Dina sungguh berguna menolongnya, ia kembali bisa menepi dengan tenang, menikmati sisa perjalanan yang sesaat lagi akan berakhir.


Dalam mata yang terpejam, wajah Weini terlihat jelas olehnya. Baru sebentar tak melihat gadis itu saja sudah membuat Xiao Jun tak karuan.


Kamu lagi apa? Aku merindukanmu.


❤️❤️❤️


Haris menemui Weini di aula utama, tempat yang dulu selalu diduduki oleh Li San, dan kini kursi kebesaran sang penguasa lama itu telah ditempati oleh penguasa baru. Cukup mudah menemukan Weini setiap harinya karena ia akan duduk di ruangan itu sama halnya yang ayahnya lakukan semasa hidup.


“Gong Zhu....” Haris membungkuk pelan sebagai bentuk penghormatannya.


Weini berdiri lalu turun demi menghampiri Haris, “Bangunlah ayah, tidak perlu sungkan. Apa yang membuat ayah kemari? Bukankah harusnya ayah bersama ibu?” tanya Weini heran, ia hapal kebiasaan baru Haris yang suka berduaan dengan Xin Er di waktu tertentu.


Raut wajah Haris cukup tenang tapi tak bisa menyembunyikan makna sesungguhnya, ada yang ingin ia sampaikan secepatnya pada gadis itu. “Gong Zhu, saya rasa ini saat yang tepat untuk anda mengumpulkan media. Kita tidak bisa bungkam lebih lama lagi, pengangkatan anda secara tertutup sudah membuat desas desus mereka semakin menjadi. Apalagi di saat pemakaman yang disorot oleh media, mereka mungkin bungkam saat itu tapi tidak bisa seterusnya. Kita perlu meluruskan kekacauan yang terjadi dan jangan biarkan mereka menentang anda di kemudian hari.”


Weini menyipitkan matanya, ia tahu kecemasan Haris memang sangat beralasan. Weini pun sudah memikirkan ini semua, cepat atau lambat pun ia harus muncul di hadapan publik dan mengumumkan tentang dirinya. Tentang apa yang selama ini ia sembunyikan dari mereka, tapi perlukah secepat ini? Tanah makam ayahnya bahkan belum mengering, kediaman Li pun baru saja sepi ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya, apa tidak bisa menunggu hingga keadaan jauh lebih stabil? Itulah yang terbersit dalam benak Weini sejak kemarin.


“Ayah, apa bisa ditunda beberapa hari lagi? Aku merasa terlalu terburu-buru juga kurang baik menurutku.” Ujar Weini mencoba bernegosiasi dengan Haris.


Weini tampak menundukkan wajahnya, mencerna apa yang Haris sampaikan dan mencoba mempercayainya. “Ayah... bukan bermaksud meragukanmu, tapi... aku rasa apapun yang kita ungkapkan, tetap akan ada yang tidak menyukai kita. Dan... aku takut kelebihan kita ini justru membuat mereka membenci kita, atau bahkan menganggap kita berbahaya.”


Haris terdiam, ia tahu kecemasan Weini bukan tanpa alasan. Selalu ada sisi buruk dari setiap tindakan yang dilakukan. Weini pun ikut terdiam, mencoba memikirkan jalan keluar terbaik selain pengakuan.


“Gong Zhu, baiklah... aku tidak akan memaksamu mengaku tapi setidaknya kita harus segera menggelar pertemuan dengan media, anda harus angkat bicara sebagai penguasa baru. Ini mutlak harus dilakukan, saya mohon pertimbangkan untuk segera dilaksanakan.” Haris menyatakan kesungguhannya dengan membungkuk hormat.


Weini tegugu kaku, ia belum bisa memberikan jawaban sampai Haris berlalu meninggalkannya setelah memberi hormat. Semua terasa berat, semakin tinggi posisinya semakin besar tekanannya. “Apa sepenting itukah sebuah pengakuan?” Desis Weini masih berdiri tanpa gerakan sedikitpun.


Satu tamu berlalu namun muncul lagi tamu lain yang mendatangi aula utama, di saat Weini belum berhasil menata hatinya, dua saudarinya justru datang menemuinya.


“Gong Zhu....” Sapa Yue Yan begitu ia menginjakkan kaki ke ruang tengah aula, punggung Weini terlihat dari luar dan sikap diamnya membuat Yue Yan heran.


Weini terkesiap lalu membalikkan badannya, matanya membulat saat tahu siapa yang datang menemuinya. “Kakak pertama, kakak kedua, senang melihat kalian di sini. Ayo duduk dulu....” Weini dengan ramah menunjukkan tempat untuk bicara santai dengan dua saudarinya.


“Apa kami mengganggumu, Gong Zhu?” tanya Yue Fang yang tampak segan lantaran mengira Weini sedang banyak pikiran dan tak ingin diganggu.


Weini menggeleng pelan seraya tersenyum ramah, “Kak, jangan panggil seformal itu, kita kan saudara, panggil aku adikmu. Kakak tidak mengganggu, aku bahkan bosan karena tidak ada kegiatan.” Gumam Weini sengaja bercanda agar suasana mencair.


Yue Yan dan Yue Fang tertawa kecil, tawa yang menyebar pada Weini hingga ketiga wanita itu tampak begitu akrab. “Adik, maksud kedatanganku sebenarnya untuk berpamitan denganmu. Aku sudah satu minggu lebih di sini, suamiku memang sudah pulang duluan tapi aku tidak enak dengan keluarganya di sana. Jadi, besok pagi aku akan meninggalkan ibu dan kalian.” Lirih Yue Yan, agak berat untuk disampaikan namun inilah kenyataannya.


Weini meraih tangan kakak pertamanya, momen yang jarang terjadi dalam persaudaraan mereka tetapi tampaknya akan ia biasakan bersikap hangat kepada saudara-saudaranya. “Kak, kita pasti akan berkumpul lagi, kelak jika ada kesempatan pulanglah. Ibu pasti sangat senang melihat kita berkumpul lagi, kita hanya punya satu ibu... aku harap kita bisa kompak membahagiakannya.” Ucap Weini lembut.


Yue Yan mengangguk setuju, begitupula dengan Yue Fang yang sejak tadi memilih diam. “Pasti adik, aku percayakan ibu padamu, dan juga Yue Fang dan Yue Xiao, dua kakakmu ini semoga bisa menemanimu juga.”


“Iya adik, setelah ayah tiada, aku tidak punya minat untuk merantau lagi. Lebih baik aku menemani ibu di sini, apalagi nanti kalau kamu sudah menikah, aku takut ibu akan kesepian.” Ujar Yue Fang menambahkan apa yang kakaknya sampaikan namun ia sedikit keceplosan sehingga membuat raut wjah Weini mengerut saat mendengar pembahasan tentang pernikahan.


“Menikah?” Ceplos Weini singkat.


Yue Yan dan Yue Fang malah menatap Weini dengan bingung, kemudian mereka bersitatap sejenak sebelum Yue Fang kembali bersuara. “Ya, kamu menikah. Apa ibu belum cerita kalau beliau meminta pihak keluarga Wei untuk mempercepat pernikahan. Ini wasiat ayah yang dititipkan ke ibu, ayah tidak mau kamu menunda pernikahan dan berkabung tiga tahun. Jadi dalam waktu tiga bulan ini, kamu dan Jun akan menikah.” Ujar Yue Yan mengungkapkan yang sebenarnya.


Pernyataan itu jelas sangat mengejutkan Weini, ia tidak menyangka akan menjadi orang yang terakhir tahu berita ini. Sekarang Weini mengerti, pantas saja banyak yang bersikap aneh padanya, terutama Xiao Jun. Mereka diam-diam pasti memikirkan tentang permintaan terakhir Li San yang menyangkut dirinya.


“Ah sepertinya kamu belum tahu, gawat ini... kakak baru saja membocorkan rahasia ibu.” Gumam Yue Fang agak panik melihat sikap diamnya Weini.


“Tapi ini bukan rahasia lagi, aku pikir semua sudah tahu, kita saja tahu. Maaf adik, kalau aku mengejutkanmu. Tapi bolehkan kamu pura-pura tidak tahu? Jangan ungkapkan pada Ibu ya, atau beliau akan memarahiku.” Pinta Yue Yan yang ikut gelisah.


Weini menatap dua kakaknya secara bergantian, hendak marah tapi bukan mereka sasarannya. Lagipula untuk apa ia harus marah? “Tenang saja kak, aku tidak akan bilang ke ibu dan ke siapapun. Makasih ya sudah ceritakan padaku.”


Yue Yan dan Yue Fang bernapas lega, tak bisa dibayangkan jika Weini kesal dan mengadu pada Liang Jia. Perlahan Weini meraih tangan kedua kakaknya, dua tangan Weini menggenggam masing masing tangan kakaknya. “Kak, aku harap selamanya kita akan akur sebagai saudara. Apapun yang terjadi, ada ataupun telah tiada kedua orang tua kita. Ku harap jangan ada di antara kita yang saling berkhianat. Apapun yang tidak kalian sukai dariku, terus teranglah katakan. Akan lebih baik kita saling jujur, aku tidak ingin berakhir seperti nasib ayah dan paman kita. Cukup sudah keretakan ini selesai sampai di generasinya, kakak bersedia kan?” Pinta Weini bersungguh-sungguh.


Dalamnya hati tidak ada yang tahu, sekalipun Weini bisa membaca pikiran orang namun ia sungguh tidak mengharapkan kejadian ayah dan pamannya yang berujung tragis itu terulang pada masa ia menjadi penguasa. Cukup sudah korbannya, cukup Chen Kho dan Li San yang kini telah beristirahat tenang.


Yue Yan dan Yue Fang mengangguk bersamaan, menyusul senyuman manis yang ia sunggingkan sebagai pertanda baik atas permintaan adiknya. Tawaran untuk bersaudara dengan akur selamanya.


❤️❤️❤️