OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 527



Weini tidak menjawabnya, ia malah tampak fokus terdiam namun dalam hati merapalkan sebuah mantera. Tak lama kemudian di tengah tempat mereka berdiri terpancar sinar keemasan yang menyilaukan. Xiao Jun akhirnya paham apa yang Weini lakukan karena ia bisa merasakan dengan jelas aura sihir yang sama dengan miliknya.


Tangan Weini terjulur, mengambil sesuatu dari tengah cahaya keemasan itu. Kini tangan mulus itu tidak lagi kosong, ada sesuatu yang ia genggam dan siap ditunjukkan pada Xiao Jun. “Coba tebak apa isinya?” Pinta Weini tersenyum lebar.


Xiao Jun menaikkan kedua alisnya, rasa hati ingin mengintip tetapi Weini menyembunyikannya dengan rapat. “Hmm... apa Hwa? Aku tidak bisa mengintipnya.” Xiao Jun dengan polosnya berkelakar hingga mengundang tawa Weini pecah.


“Bukankah kamu suka bernostalgia, tapi sepertinya kamu kalah dari aku. Jauh sebelum kamu memikirkan tentang kenangan, aku sudah menyimpan ini sebagai kenangan.” Seru Weini, tapi ia tetap menutupi sesuatu yang ada di tangannya. Membuat Xiao Jun kian penasaran saja.


“Ini tentang kita?” Tanya Xiao Jun.


“Ng....” Weini mengangguk. Ia pun menyodorkan tangannya yang masih mengunci sesuatu dalam genggamannya hingga sampai di depan Xiao Jun. Membiarkan pria itu tidak sabaran saat ia membukanya dengan sangat pelan. Namun ketika Weini membuka sepenuhnya, apa yang ada di telapak tangan Weini sukses membuat senyuman Xiao Jun melebar.


“Kamu masih menyimpannya?” Xiao Jun tak habis pikir, rasanya tidak masuk akal jika benda yang justru sudah luput dari ingatannya itu ternyata disimpan sebaik itu oleh Weini. Benda yang ia masukkan ke dalam dimensi gaib, aman dan tak akan terjamah siapapun tak terkecuali waktu.


Weini ikut tersenyum manis, sudah menduga bahwa Xiao Jun akan bereaksi seperti itu. “Ya, karena sejak kamu belum menganggap ini berharga, aku sudah menganggapnya begitu penting.”


“Angpao kosong yang isinya kau kembalikan, ternyata kamu memang sangat menyukainya ya.” Seru Xiao Jun seraya menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan tingkah Weini.


Weini ikut menggelengkan kepala, namun berlainan arti dengan isyarat Xiao Jun tadi. “Bukan angpaonya yang aku sukai, tapi si pemberinya.” Ujar Weini dengan lancar meralat apa yang Xiao Jun katakan.


Mereka terdiam sesaat, Xiao Jun merasa hatinya penuh dengan bunga bunga cinta. Ternyata sejak dulu mereka memang saling suka walau terlalu gengsi mengakuinya. Xiao Jun tidak bisa mengekspresikan rasa senangnya lewat kata kata lagi, ia pun dengan sigap menarik kepala Weini hingga terbenam dengan lembut di dadanya. Hanya lewat pelukan saja sudah membuat hati mereka membumbung tinggi. Biarkan sejenak saja, mereka ingin menikmatinya sesaat lagi. Dalam diam, mereka saling membisikkan kata cinta di hati.


❤️❤️❤️


Dina nyaris tertidur kalau tidak disadarkan oleh bunyi ponselnya yang sejak tadi ia tunggu sampai mengantuk. Semangatnya langsung terkumpul, ia membelalakkan mata yang mulai lengket itu demi membaca pesan balasan dari Xiao Jun. Senyum lebarnya mengembang, bersiap untuk mengejutkan yang lainnya.


“Guys, bos Jun udah balas. Mereka lagi otewe... otewe!” Pekik Dina kegirangan hingga separuh berjingkrak. Semangat yang langsung menulari Grace, dan semua yang ada di sana. Mereka membenahi diri lagi, dan bersiap menjalankan aba-aba Dina selanjutnya.


Di tengah riwehnya mereka yang ada di dalam kamar hotel itu, ada dua orang yang sejak tadi berlomba melirik diam diam. Pasangan yang tengah dicomblangkan oleh Grace dan Weini itu tampaknya sudah menunjukkan kemajuan yang pesat. Satu hari beraktivitas bersama ternyata menciptakan kesempatan bagi mereka untuk mojok juga. Dan nyaris tidak ada yang menyoroti mereka berdua, saking tersita pikiran pada pasangan Xiao Jun dan Weini yang sibuk mau lamaran itu.


“Fang, apa aku boleh tanya sesuatu padamu?” Bisik Su Rong yang jarak bahunya hanya sekitar lima centimeter dari bahu Fang Fang. Kedekatan itu mempermudah mereka untuk saling mendengarkan meskipun setengah berbisik.


“Apa? Tanyakan saja.” Jawab Fang Fang ikut bisik bisik.


Fang Fang menoleh ke arah Su Rong, melihat keseriusan yang terpancar dari sorot matanya. Entah apa yang menurut pria itu penting dipertanyakan sehingga harus meminta maaf segala. Gadis itupun mengangguk, pertanda tak keberatan mendengar pertanyaan Su Rong.


“Apa kamu akan terus mengikuti nona Grace? Walaupun dia sudah menikah?” Su Rong terus menatap wajah Fang Fang saat ia menanyakan itu. Ingin menunjukkan betapa seriusnya ia akan pertanyaan itu.


Fang Fang tampak berpikir sejenak, tak menyangka justru pertanyaan itulah yang diajukan Su Rong. Ia berpikir pria itu ingin mengenal dirinya lebih dalam, seperti bertanya tentang keluarganya, apa yang ia sukai atau mungkin apakah ia memiliki ikatan dengan seseorang atau tidak. Tapi justru pertanyaan sulit yang dilontarkan pria itu.


“Apa kau sangat ingin mendengar jawabannya?” Fang Fang malah baik bertanya.


Su Rong mengangguk mantap. “Ya, karena aku ingin tahu apa rencanamu tentang masa depan.”


Fang Fang menghela napas kasar, bicara soal masa depan padanya rasanya seperti mengajaknya menebak dalamnya lautan, teramat misterius. “Aku tidak tahu harus menjawab apa. Yang pasti aku pernah bersumpah setia padanya. Tapi jika dia yang sudah tidak membutuhkan aku, aku siap mundur.” Jawab Fang Fang dengan mantap, apapun asal Grace bahagia, ia ikut bahagia. Dan itulah prinsipnya.


Su Rong mengangguk paham, rasanya ia punya harapan besar setelah mendengar jawaban itu. Setelah menyadari perasaannya terhadap Fang Fang, pria itu pun mulai menaruh perhatian serius terhadap langkah ke depannya. Profesi mereka yang sama sama sebagai abdi pada klan Li, jelas sedikit menghalangi geraknya. Su Rong paham bagaimana perasaan seorang pengawal terhadap tuannya, dan itulah yang ia resahkan pada gadis itu. Rasa hatinya kian lega, ia pun mantap untuk meneruskan perasaannya.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Giliran Fang Fang yang ingin mencari jawaban. Pasalnya apa yang dipertanyakan sungguh di luar prediksinya.


Su Rong tersenyum, menatap lekat pada gadis di sampingnya. “Karena ada sesuatu yang ingin aku lakukan denganmu, jadi aku harus mempertanyakan itu dulu agar tidak membebanimu.” Jawab Su Rong pelan.


Sepasang bola mata Fang Fang bergerak ke kiri dan kanan, antusias dan pikirannya membumbung jauh. Apa mungkin dia akan mengajak aku menikah? Tanya Fang Fang dalam hatinya.


“Aku tidak mengerti maksudmu.” Tegas Fang Fang, padahal ia ingin memancing pria itu bicara lebih serius lagi.


Su Rong terdiam, kesempatannya telah terbuka di depan mata, dan ia harus meraihnya. Namun yang membuat ia sedikit ragu adalah, kurang etis rasanya jika ia mengungkapkan cinta di tengah acara orang lain. Su Rong ingin menciptakan momennya sendiri dan menyatakan bahwa ia ingin meminta gadis di sampingnya untuk membentuk sebuah keluarga bersama dirinya. 


Fang Fang menatapnya lekat, penuh harap dan menanti sebuah jawaban. Su Rong pun mulai mengerakkan bibirnya, mengatakan sesuatu yang sudah ia pertimbangkan.


"Aku akan memberitahu kamu ketika waktunya tepat." Jawab pria itu mantap, namun ia tidak tahu bahwa Fang Fang merasa kehilangan semangatnya saat ia mengucapkan itu.


Dasar pria tidak peka. Gerutu Fang Fang kecewa dalam hati.


❤️❤️❤️