OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 392 AYAH YANG ASLI



Haris baru menyadari sesuatu setelah mendapati lirikan yang diam-diam ditujukan padanya dari supir taksi yang ia tumpangi. Suara hati supir itu membuat Haris melirik pakaiannya, jika bukan karena si supir dalam hati mengomentari pakaiannya yang seperti kostum kungfu, Haris mungkin tak menaruh perhatian pada kain yang melekat di tubuhnya. Haris tersenyum nyengir saat memeriksa pakaiannya yang ternyata saja legendaris baginya, jubah kebesarannya yang sekaligus menjadi identitasnya sebagai pengawal kepercayaan di klan Li.


Nona, kamu tahu betul cara mengormatiku. Batin Haris tersenyum, ia sangat yakin bahwa ini adalah inisiatif Weini yang mengenakan kostum terbaiknya sebagai pakaian yang melekat di akhir hayatnya. Tetapi Haris mungkin akan menyimpan jubah ini lagi setelah melepaskannya, selain karena ia belum mati, pun karena ia sangat menyayangi


jubah ini.


“Eh?” Haris terkejut saat terlintas penasaran dalam benaknya. Spontan ia memegang wajahnya dan merasakan


gurat keriput yang belum pernah ia miliki sebelumnya. “Pak, boleh tolong arahkan spion tengah ke arahku?” Pinta Haris serius.


Supir taksi itu menuruti permintaan Haris, dengan satu tangan ia menggeser spion tengah agar mengarah pada penumpang di belakang. Haris mencondongkan tubuhnya ke depan, ia perlu meyakinkan sesuatu yang membuatnya penasaran. Sepasang mata Haris terbelalak mendapati pantulan wajahnya saat ini, Haris menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi yang ia duduki, tak perlu lama untuk memastikan kenyataan yang baru ia


sadari.


“Pak, ini hari apa dan jam berapa sekarang?” Tanya Haris pada supir yang semakin bingung dibuatnya. Penampilan mencolok Haris sudah cukup membuatnya takut, lalu ia memeriksa wajahnya seperti orang asing yang belum mengenal dirinya sendiri, dan sekarang ditambah pertanyaan aneh itu membuat si supir merasa tengah membawa


penumpang dari makhluk astral saja. Tetapi si supir tetap menjawab pertanyaan aneh itu hingga membuat Haris manggut-manggut.


Aku hanya mati beberapa jam dan kamu telah berhasil membuka topengku, nona. Kamu tidak akan sadar sekuat apa dirimu jika tidak terdesak keadaan. Nona, terimakasih telah mengembalikan hidup lamaku lagi. Batin Haris merasa sangat bersyukur, akhirnya ia bisa terlepas dari topengnya dan akan kembali menjadi dirinya yang dulu.


***


Xiao Jun memakirkan mobilnya di tempat yang agak jauh dari rumah Weini, saking ramainya mobil yang tempat yang agak jauh dari rumah Weini, saking ramainya mobil yang terparkir sepanjang jalan kecil itu. Hari menjelang subuh namun keramaian masih jelas terlihat di sekitaran, Xiao Jun enggan dibuat penasaran kemudian ia bergegas


keluar mencari tahu apa yang terjadi. Betapa terkejutnya ia saat kakinya berhasil melangkah hingga di depan pagar rumah Weini, segerombolan orang yang membawa peralatan layaknya orang yang hendak syuting. Sebagian orang yang bertahan di depan rumah Weini itu tampak tertidur di teras, bahkan ada yang berani mengintip dan menyoroti ke dalam rumah dengan kamera lewat lubang ventilasi rumah. Xiao Jun mengepalkan tangannya, geram melihat tindakan yang sudah melampaui batas.


“Apa-apaan ini? Berani sekali kalian selancang ini hanya demi berita? Apa bisa dibenarkan meliput dan menayangkan sesuatu tanpa seijin yang bersangkutan? Ah... Rupanya kalian mau berurusan denganku? Baiklah, aku akan siapkan tim pengacaraku untuk menuntut kalian semua yang berani menayangkan berita yang menyangkut rumah ini.” Tegas Xiao Jun yang tidak main-main dengan ucapannya. Weini memang publik figur yang resiko pekerjaannya memang disorot pemberitaan, namun tindakan oknum pencari berita yang menghalalkan segala cara itu tidak bisa dibiarkan.


Satu persatu wartawan yang mendengar gertakan Xiao Jun pun mulai ciut. Mereka bergegas membereskan


peralatan dan pergi dengan diawasi sorot mata tajam Xiao Jun. Sebagian dari mereka cukup mengenal sosok Xiao Jun bahkan pernah mendapatkan ancaman yang sama ketika mereka meliput Weini yang kepergok bersama bos muda itu. Lebih baik tidak berurusan dengan orang yang punya uang dan kekuasaan, apalagi yang ditudingkan adalah benar bahwa mereka lah yang melanggar etika kerja.


Xiao Jun berdiri melipat tangan mengamati kepergian para wartawan hingga tak tersisa satupun. Tak boleh ada seorangpun yang mengusiknya sekarang, ia ingin segera masuk ke dalam rumah ini. Rumah yang menjadi satu-satunya kenangan tentang Haris dan Weini, dan Xiao Jun berharap bisa mendapatkan petunjuk dari sini. Diraihnya gagang pintu yang terkunci itu, dengan sedikit tenaga dalamnya ia sanggup merusak benda itu hingga pintu terbuka.


Xiao Jun menjatuhkan tubuhnya dalam posisi berlutut, tubuhnya tegap serta pandangannya yang menatap lurus


dan hampa. Weini sekarang berada di tangan musuh, meskipun ia membekalinya dengan benda sihir untuk melacaknya, tetapi Xiao Jun merasa kemampuannya belum sanggup melacak keberadaan kekasihnya. Getaran sihir yang ia rasakan hanya berkutat di dekat rumah ini, namun jelas terlihat tidak ada apa-apa selain rumah dalam


keadaan kosong.


“Ayah, maafkan aku yang terlambat menyadari kesusahanmu. Aku tidak menolongmu, aku sungguh tak berguna.” Xiao Jun menampar wajahnya berulang kali, entah harus bagaimana lagi melampiaskan kekecewaannya. Ia sungguh tak bisa menghilangkan rasa bersalah serta duka yang mendalam.


Ia tidak tahu di mana Weini menguburkan ayahnya, pun tak tahu harus bertanya pada siapa yang mengetahuinya. Untuk saat ini pikirannya terasa buntu, yang terpikirkan hanyalah rasa sedih karena kehilangan ayahnya untuk kedua kali, dan ini mungkin untuk selamanya. Cukup lama Xiao Jun berlutut serta menundukkan kepala,


dibiarkannya air mata berkolaburasi dalam rasa berkabungnya. Hingga ia merasa cukup dalam posisi itu, kemudian berdiri dengan susah payah lantaran kepalanya terasa agak limbung.


Xiao Jun mengedarkan pandangan ke sekitar lalu fokusnya berhenti pada satu benda yang ada di pojokan. Benda yang cukup menarik perhatiannya hingga ia berjalan mendekatinya, teringat lagi masa di mana ia berhasil mendapatkan kepercayaan Weini kembali berkat bantuan alat ini. Senyum getirnya mengembang, ditariknya kursi yang khusus digunakan untuk memainkan alat musik ini. Xiao Jun menghela napasnya, sekejap ditatapnya senar-senar itu lalu jemarinya mulai lincah memainkannya.


Petikan demi petikan mengalunkan melodi sebuah lagu yang mengingatkannya tentang masa kecil. Ia ingat betul nada lagu yang sering dimainkan oleh Haris berkesempatan kembali ke rumah. Haris belum sempat mengajarinya berbagai hal kala kecil, pun saat mereka dipertemukan kembali sewaktu ia dewasa. Sekarang kesempatan untuk belajar dari ayahnya telah kandas, mungkin inilah nasib yang digariskan untuk Xiao Jun. Emosinya mulai kacau, permainan musiknya mulai berantakan saking ia tak memperhatikan senar yang dipetiknya lagi.


“Aaaaarrghhh!” Teriak Xiao Jun beriringan dengan isakan tangisnya yang menjadi-jadi. Ia tak akan menahan diri lagi di tempat sesunyi ini, hanya ia sendiri dan dalam rumah ayah yang telah pergi meninggalkannya. Segala emosi ditumpahkannya, Xiao Jun tersedu sedan dengan kepala yang direbahkan di atas kecapi.


“Kenapa semua ini tidak adil untukku!” Pekiknya frustasi lalu kembali menunduk, menyembunyikan gurat kehancurannya.


Seiring tangisan yang terdengar menyayat hati, lamat-lamat sepasang kaki melangkah memasuki halaman


rumah itu. Si pemilik kaki mempercepat langkahnya begitu mengetahui seseorang sedang menangisinya di dalam. Banyak yang pastinya merasa kehilangan dan menganggap Haris telah mati. Haris pun sampai di dalam rumahnya, pandangannya mengedar ke sekeliling yang tampak sedikit berantakan. Namun yang paling berantakan adalah putranya yang duduk di pojokan sambil menunduk dalam tangisan. Perlahan Haris berjalan mendekatinya kemudian meraih pundaknya.


Xiao Jun terkejut merasakan sebuah sentuhan, tangisnya terhenti. Ia tak menyangka ada orang selain dirinya di sini. Ia mendongak demi melihat siapa gerangan yang menyentuhnya, dan rasa terkejut itu semakin menjadi saat melihat senyuman dari seorang pria yang sangat ia kenali di masa kecilnya. Pakaian yang melekat di tubuh pria itu, wajahnya yang kini terhias sedikit keriput, serta senyuman yang selalu membuat tenang Xiao Jun semasa kecil, orang yang benar-benar ia kenali dan rindukan telah kembali. Dialah ayah yang asli... Yang selama ini dicari


oleh Xiao Jun, dan dia tidaklah mati.


“Ayaaah....”


***