
Suara jarum jam yang terdengar di keheningan ruang tamu, sehening hati Weini yang bungkam. Separuh jiwanya seolah mati mengikuti jejak Haris yang pergi meninggalkannya. Telah kering air mata untuk menangisinya, berharap ini hanyalah mati suri, berharap Haris kembali bernapas. Namun Haris yang masih berada dalam pelukan Weini justru semakin mendingin dan kaku, jiwa ayah hebatnya itu telah meninggalkan raga. Sepenuhnya meninggalkan
Weini kembali menjadi sebatang kara. Weini masih ingin memeluk lebih lama tubuh dingin Haris, tanpa isakan lagi, hatinya terlalu sakit meski sekedar untuk kembali menangis, ia sudah tak sanggup.
Flashback….
“Pengawal Wei, kau kembali?” Nostalgia Weini pada masa kecilnya, saat Weini disuruh kabur dan menunggu Wei di depan kuil. Saat itu, di tengah cuaca dingin dan di tengah keramaian, tak seorangpun yang menganggap Weini ada. Tak seorangpun yang mengulurkan tangan padanya, atau sekedar bertanya apakah ia sudah makan? Apa dia kedinginan? Weini yang polos waktu itu hanya meringkuk kedinginan, menahan lapar dan jas besar dari Haris tidaklah cukup menghangatkan tubuh. Saat itu, Weini mengira akan mati kedinginan atau kelaparan, atau bahkan mati menunggu andai Wei ingkar janji, anda Wei tak kunjung kembali. Namun dalam rasa pesimis itu, seketika terbuyarkan saat sebuah tangan dewasa menjulur padanya. Sebuah tangan besar dan hangat yang saat itu bak tangan malaikat pelindung bagi seorang Weini kecil. Saat tangan itu terjulur padanya, Weini merasa keajaiban berpihak lagi padanya, ia seperti mendapatkan kesempatan hidup kedua kalinya.
Back to reality….
Dan kini tangan dewasa dan hangat itu tak lagi menggenggamnya, tak lagi terjulur menghangatkan tangan Weini yang kini sudah besar pula. Tangan kokoh Haris itu telah melemah serta dingin, namun Weini terus menggenggamnya meskipun dalam diam. Weini merasa tengah menjadi orang paling menderita di jagat raya ini setelah dipaksa melepaskan tangan serta tubuh Haris. Yang terus diingatnya adalah momen ketika mereka yang terlihat seperti ayah dan anak itu hidup bersama, Haris berjuang keras membesarkannya dan selalu menggandeng
tangan kecilnya ke manapun, dalam situasi apapun.
“Aku kehilangan arah, hilang tempat berpijak tanpamu ayah.” Desis Weini lirih, tanpa isakan… Tanpa air mata.
Masih dalam posisi memeluk Haris, Weini meraih tasnya yang tergeletak di sebelah tubuhnya. Ia tak bersedia melepaskan pelukannya dari tubuh Haris, meskipun harus susah payah mendapatkan ponsel dari tasnya dalam posisi itu. Dalam kondisi darurat ini, hanya ada satu orang yang harus ia hubungi. Hanya dia yang bisa diandalkan untuk mengurus semua ini. Ketika panggilannya terhubung dan mendengar suara dari seberang, Weini menahan napas sesaat agar tidak terisak lagi.
“Halo… Om Felix….”
***
Pertarungan Lau semakin memanas lantaran ia kesulitan menghadapi lawan dengan tangan kosong sementara penyerangnya menggunakan pedang. Fokusnya terpecah antara mempertahankan diri dan mengawasi keberadaan kotak itu, di saat lengah itulah seorang penyerang berhasil mengarahkan pedang padanya. Dan….
Sayatan pedang tajam itu tak terelakkan oleh Lau hingga mengenai lengannya, darah mengucur membasahi lengan kemeja Lau yang ikut sobek oleh tajamnya pedang. Lau meringis memegangi lengan yang terluka itu namun matanya masih melirik kotak yang nyaris berpindah tangan ke pengawal lain. Sekuat tenaga Lau melompati pengawal itu dan gerakannya diikuti oleh serangan susulan dari pengawal lain.
Sebuah pedang tajam dan panjang menghunus ke arah belakang Lau, seringai pengawal yang mengacungkan pedang itu merasa memperoleh kesempatan emas untuk melenyapkan nyawa Lau. Begitu pedang dihantamkan pada sasaran punggung Lau, Dorrr… Sebuah tembakan lepas dengan tepat melumpuhkan si pemegang pedang. Tembakan yang menembus dada pengawal itu menumbangkan tubuh serta pedang yang dipegangnya dalam sekejab.
Teriakan panik kian menjadi-jadi saat perkelahian di aula utama sudah terkontaminasi baku tembak. Xiao Jun yang sedang menghajar anak buah Kao Jing pun terkejut hingga kepalan yang hendak dilayangkan sebagai pukulan pun tertahan. Kini perkelahian didominasi oleh kehadiran sekelompok pria hitam misterius yang bersenjata. Beberapa tembakan diarahkan ke langit-langit hingga meruntuhkan dekorasi di atas dan kepingannya berjatuhan. Spontan
orang-orang yang berlindung di pojokan langsung tiarap ketakutan mendengar gedoran pistol itu.
Kao Jing melindungi kepalanya dengan dua tangannya, serangan senjata api itu di luar prediksinya bahkan Chen Kho pun tidak menyusun strategi penyerangan seperti itu. Lalu darimana datangnya penyerang itu yang tampaknya
“Berhenti semuanya! Letakkan senjata kalian, ketua kalian sudah dilumpuhkan. Atau kalian mau menyusul pengawal yang tergeletak bersimbah darah di lantai itu?” Teriak Xiao Jun menyuarakan ancaman yang serius. Pengawal yang direkrut Kao Jing pun bergeming, satu persatu mereka mulai menjatuhkan senjata begitu melihat Kao Jing sudah pasrah dibekuk Xiao Jun.
Lau tersenyum lega menatap tuan mudanya, ada rasa bangga melihat keberanian Xiao Jun. Kotak berisi penawar racun sudah aman dalam pegangan Lau. Pengawal tua itu membungkuk hormat saat Xiao Jun menatapnya,
sebuah penghormatan lantaran respek terhadap Xiao Jun yang berhasil mengalahkan musuh.
“Pengawal, borgol tuan Kao Jing dan masukkan dalam penjara bawah tanah. Tanpa persetujuan dariku, tidak ada yang boleh menjenguknya! Kalian yang masih setia pada tuan besar Li San, segera berdiri di hadapanku! Aku beri titah sebagai perwakilan tuan besar, perketat keamanan rumah, segera laporkan padaku jika melihat Chen Kho.” Titah Xiao Jun dengan tegas.
Puluhan pengawal yang sebelumnya tertindas Kao Jing dan Chen Kho yang semena-mena langsung berlutut hormat kepada Xiao Jun. Dengan patuh dan bangga pada tuan muda itu, mereka segera bertindak sesuai arahan tuan
muda. Namun sebelum Kao Jing diseret pergi oleh para pengawal, pria itu melirik sinis pada Xiao Jun seolah tidak takut pada hukuman yang diberikan Xiao Jun.
“Jangan senang dulu bocah ha ha ha… Kau tidak akan bisa mengalahkanku dengan mudah! Jangan senang dulu ha ha ha….” Tawa melengking dari Kao Jing masih terdengar sekalipun ia sudah diseret keluar dari aula utama.
Xiao Jun menatap kepergian ayah Grace itu dengan sorot mata penasaran, gertakan itu mungkin tak bisa disepelekan apalagi hingga sekarang Chen Kho belum kelihatan batang hidungnya.
“Tuan, apa anda tidak terluka?” Tanya Lau dengan cemas begitu ia mendekati Xiao Jun.
Xiao Jun terkejut melihat luka di lengan Lau, “Aku baik-baik saja, tapi lihatlah tangan paman berdarah. Sayatannya terlihat cukup dalam, ayo segera kita obati.” Ujar Xiao Jun yang tampak serius mencemaskan keadaan Lau.
Lau tersenyum seraya menggeleng, “Ini luka ringan tuan, nanti akan saya urus. Tapi sekarang ini lebih penting, saya sudah memeriksanya dan ini penawar asli.” Lau menyodorkan kotak yang dimasukkan dalam saku celananya.
Xiao Jun menerima kotak itu lalu tersenyum, “Syukurlah, semua sesuai perhitungan ayah. Tapi siapa yang datang membantu kita?” Xiao Jun baru teringat para pria misterius dalam kostum hitam yang keluar sebagai pahlawan berpistol, entah siapa yang mengutusnya kemari.
Pertanyaan itu langsung menggiring Xiao Jun menemukan jawabannya, seiiring suara tepuk tangan yang nyaring dari seseorang yang baru terlihat kakinya melangkah masuk dalam aula utama. Kehadirannya membuat Xiao Jun dan Lau tersentak kaget, semua sungguh di luar prediksi mereka.
***
Nah siapa kira-kira orang misterius yang masuk sambil tepuk tangan itu? Yang tebakannya benar nanti dapat senyuman dari author, hehehe….