OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 25 AKU MENGENALMU DARINYA



Ni wen wo ai ni you duo shen, wo ai ni you qi fen…


Lantunan lagu Teresa Teng mengiringi perjalanan Weini dan Lau dari barat ke selatan. Mendengar lagu melankonis itu begitu merilekskan pikiran Weini. Ia bahkan terbayang masa kecilnya. Ini lagu favorit ibunya yang sering disenandungkan padanya menjelang tidur.


Ibu, aku masih hidup. Apa kau masih ada di dunia ini? Batin weini lirih. Sering ia bertanya, apakah ia masih punya harapan untuk bertemu ibu dan saudaranya. Namun ia tak tega mengungkit masalah ini pada Haris. Pria itu jelas lebih terluka karenanya.


“Nona, anda ingin makan siang dulu sebelum kerja?” Lau mencairkan keheningan.


“Ng… aku tidak begitu lapar. Apa paman lapar?” Weini malah bertanya balik.


“Saya sudah makan siang di kantor tadi. Ah, lagipula beresiko jika kita berdua makan di tempat umum. Itu bisa jadi bahan berita yang tidak baik untuk anda.” Lau teringat status gadis itu yang kini sedang digandrungi anak muda seusianya.


“Huft… Aku tidak menyangka menjadi artis itu merepotkan.” Keluh Weini. Ia harus berjaga sikap mulai sekarang atau ia akan habis jadi pemberitaan negatif.


“Nikmati saja kondisi ini, Nona. Kadang pamor itu bisa redup jika masa keberuntungan lewat.” Lau mencoba menyemangati Weini yang terlihat jelas masih perlu penyesuaian diri dengan profesinya.


“Paman benar. Xie xie sarannya. Oya, paman baru di Jakarta kan? Kok bisa hapal jalan di sini?”


“Sebelum menetap, saya sudah beberapa kali mengunjungi kota ini. Nona sendiri, apakah lahir di sini?” Lau mulai pertanyaan memancing. Mengorek sedikit informasi tentang gadis yang disukai tuannya tentu akan jadi kabar yang menggembirakan.


“Tidak. Aku juga pendatang di sini. Kota kelahiranku di kampung yang jauh dari pusat keramaian. Paman dari mana?” Ujar Weini sok polos.


“Oh, Begitu. Saya dan Tuan berasal dari Hongkong. Kami akan menetap cukup lama di sini untuk urusan bisnis.” Lau berkata sesungguhnya. Informasi kecil itu tidak perlu dirahasiakan apalagi jika Xiao Jun serius dengan Weini, cepat atau lambat mereka akan saling terbuka.


“Hongkong?” Trauma Weini mengusik lagi setelah mendengar kota yang membuangnya disebut. Orang ini satu kebangsaan denganku? Kenapa kebetulan banget.


“Ya, nona?” Lau melihat Weini tertegun cukup lama.


“Ah, maaf saya melamun. Jauh sekali asal anda dan eh… siapa nama pria itu?” Weini selalu mendengar Lau memanggil tuan namun tak sekalipun menyebut nama. Miris sekali ia belum juga tahu nama pria arogan itu.


“Xiao Jun. Nama tuan saya, Nona.”


“Xiao Jun…” Weini mengulang nama itu. Sebuah nama yang terdengar indah. Ia ingin bertanya lebih namun sungkan. Lau pasti curiga untuk apa ia bertanya soal marga padahal mereka tidak akrab.


Lau tersenyum melihat mimik Weini yang tampak tidak bisa menyembunyikan perasaan. “Kami baru di sini, Tuan juga tidak punya teman satupun. Ia terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaan. Maaf jika sikapnya terkesan dingin terhadap anda.”


“Orang seperti dia harusny punya banyak teman. Kenapa malah menyendiri?” Weini merasa dengan wajah dan status pria arogan itu sangat disayangkan jika tidak bisa dimanfaatkan untuk bergaul.


“Tuan memang agak tertutup, tidak semua hal bisa menarik perhatiannya. Mungkin karena didikan serta kedewasaannya yang tidak sesuai usia.”


Tanpa Weini sadari, Lau memberi umpan padanya. Seorang gadis tidak akan merasa peduli kepada pria yang belum dikenalnya. Lewat curhatan ini, mungkin pandangan Weini akan sedikit berubah terhadap Xiao Jun.


“Berapa usianya?” Weini terjebak penasaran.


“Sebentar lagi akan genap di usia delapan belas tahun.”


“Apaaa?” Tubuh langsing yang duduk tersandar itu tiba-tiba tegak bahkan tegang.


“Semuda itu kok bisa jadi CEO? Apa dia nggak sekolah?” Timpal Weini. Ia heran benarkah ada orang sejenius itu yang sukses berbisnis di usia nyaris sebaya dengannya.


“Hehe… Tuan memang tergolong jenius. Ia menempuh pendidikan prifat dan lebih fokus mewarisi bisnis keluarga.” Lau sedikit berbesar hati, gadis mana yang tidak silau mengetahui kesuksesan pria yang menyukainya.


“Kasian. Dia pasti sangat terbebani hingga tak bisa menikmati masa mudanya.” Suara Weini lirih, ia sungguh prihatin dengan kehidupan Xiao Jun.


Tebakan Lau jelas meleset. Weini tidak bertanya lagi saat tahu sedikit fakta tentang tuannya. Sebaliknya raut wajah gadis itu terlihat sedih dan diam dalam pikirannya.


***


“Siang Kak Bams.” Sapa Weini kepada pak sutradara yang terlihat kerepotan dengan naskah.


“Tumben lu nggak pake telat. Buru ke ruang make up buat prepare.” Sergah Bams yang memang sangat sibuk.


“Baik bos. Masih ada sepuluh menitan nih, aku boleh makan dulu nggak?” lapar yang tertunda itu mendadak terasa sangat menyiksa. Lebih baik ia isi perut sekarang sebelum maag melanda.


“Iya, buru!”


Kantor managemen artis naungan Bams memang sangat manusiawi, seluruh cast dan kru selalu mendapat jatah makanan. Weini merasa sangat tertolong karena ia tidak perlu repot membawa bekal atau menghabiskan waktu untuk mencari makanan sebelum kerja. Dan menu siang ini cukup membangkitkan selera makannya.


Ayam bakar Kalasan, wow.


“Stevan kemana sih belum nongol juga. Scene dia paling banyak nih.” Cecar Bams. Meskipun itu bukan ditujukan pada Weini, namun ia yang paling merasa bersalah.


Apa dia masih terjebak wartawan? Weini gelisah. Ia harus menghubungi pria itu.


“Nongol juga lu, panjang umur! Nih script lu, buruan dipelajarin.”


Stevan muncul tepat di saat Weini memegang ponselnya yang mati. Pria itu terlihat lesu namun sudah disodori setumpuk naskah oleh Bams. Stevan memandang sekeliling hingga akhirnya beradu pandang dengan orang


yang ia cari. Weini terpaku dalam tatapan teduh pria itu apalagi si pemilik mata berjalan mendekatinya.


“Syukurlah lu baik-baik saja.” Ujar Stevan melempar senyum lega.


“Eh, kau meledekku? Harusnya aku yang bilang seperti itu padamu.” Weini tertunduk sejenak menyembunyikan rasa segannya.


Stevan malah mengacak rambut Weini dengan lembut. “Jangan menyalahkan diri. Itu resiko gue yang maksa mau jemput lu.”


Jawaban itu melegakan perasaan Weini. Ia bahkan tersipu saat pria itu memainkan rambutnya walau sedetik. “Thanks kak.” Suara lirih Weini tidak tersampaikan pada Stevan yang sudah berlalu dari hadapannya.


***


Saya dan Tuan berasal dari Hongkong.


Suara Lau seakan menggema dalam hati Weini. Sejak meninggalkan Negara itu, ia tidak pernah berurusan dengan sesuatu yang mengingatkannya pada masa lalu. Tapi hari ini, siapa yang menyangka orang dari sana bisa hadir dalam hidupnya. Melihat kehebatan dan penampilan Xiao Jun, ia yakin pria itu berasal dari keluarga terpandang. Apa mungkin ia salah satu relasi ayahnya? Ah… mustahil lah. Hongkong bukan milik ayahnya seorang. Masih banyak orang kaya berpengaruh selain keluarganya.


Weini memainkan ponsel sebelum tidur. Hanya itu satu-satunya hiburan yang ampuh menghilangkan penat seharian. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, nomor tidak dikenal yang menelponnya belum sempat ia tambahkan


sebagai kontak.  Ia memencet menu panggilan dan mendapatkan nomor yang menelponnya tadi siang.


“Eh… ini dua nomor yang berbeda. Nomor kak Stevan baru menelponku hari ini. Lalu ini nomor siapa?”


Nomor Stevan belum jadi disave, Weini memeriksa kembali histori panggilan untuk memastikan dua nomor itu berbeda. Akhirnya baru ia sadari ketidak telitiannya. Tujuh miscall kemarin tidak menelponnya lagi, tapi Weini heran siapa yang begitu penting menghubunginya. Ia memencet panggilan pada nomor itu.


Tut… tut… telpon tersambung.


“Halo…”


***