
Percakapan dalam telpon antara Xiao Jun dan Dina sudah berakhir, tetapi Xiao Jun masih berdiri diam, sibuk dengan pikiran kalutnya. Hingga Liang Jia yang berfirasat buruk sesuatu terjadi pada putri bungsunya tak lagi tahan untuk diam, ia pun bertanya dan memecah ketegangan.
“Ada apa dengan Yue Hwa?” Tanya Liang Jia tampak gusar.
Xiao Jun menoleh pada orang-orang di belakangnya kemudian menatap Liang Jia dengan gugup. “Dia sudah tahu semuanya, tapi tidak bisa dihubungi sekarang. Bahkan ayahku pun tidak bisa dihubungi. Aku khawatir terjadi sesuatu pada mereka, atau mungkin Weini tak bisa menerima kenyataan lalu….” Xiao Jun enggan meneruskan pikiran negatifnya, lagipula Liang Jia juga tampaknya mengerti apa yang ditakutkan Xiao Jun. Ibu dan anak itu saling
bertatapan dengan sorot cemas tak karuan, Liang Jia bahkan reflek meremas sapu tangannya saking gusarnya.
Grace yang mendengar itupun segera menyalakan ponselnya, ia sengaja mematikan alat komunikasi itu karena takut Stevan terus menghubunginya di saat yang tidak tepat. Dan betapa shocknya Grace membaca pesan masuk dari Fang Fang yang lebih ia prioritaskan ketimbang puluhan chat dari Stevan. Gadis itu membungkam mulut dengan satu tangannya kemudian berteriak yang ditujukan pada Xiao Jun.
“Gawat, Fang Fang bilang tadi Weini mampir ke tempatmu Jun, lalu dia ke tempatku dengan marah dan menangis. Dia mendesak Fang Fang menjawab pertanyaannya, dia tanya siapa aku dan apa hubunganku dengan paman Li San.” Pekik Grace, rasanya pengakuan Fang Fang ini menjadi benang merah hilangnya Weini.
Xiao Jun, Liang Jia bahkan Li San tercengang seketika dan mengarahkan pandangan pada Grace. Xiao Jun berlari menghampiri Grace untuk menanyakan lebih jelas. “Jam berapa pesannya?” Tanya Xiao Jun mencocokkan waktu
pesan Weini dan Haris kepadanya. Grace menyodorkan ponselnya agar Xiao Jun memeriksanya sendiri, tetapi Xiao Jun justru menekan tombol panggilan pada Fang Fang.
“Fang, ceritakan apa yang terjadi!” Perintah Xiao Jun tidak sabaran begitu mendengar suara Fang Fang.
“Tuan, seperti yang saya katakan pada nona Grace, tadi siang nona Weini datang dan tampak sangat marah. Aku tidak sempat menjawabnya tapi dia sudah tahu kalau nona Grace adalah keponakan tuan besar. Lalu dia pergi begitu saja dengan keadaan marah dan menangis.” Jelas Fang Fang.
Xiao Jun mengepalkan tangannya, ia masih berusaha mengontrol diri agar tetap berpikir tenang. “Tolong sekarang cari Weini, tanyakan ke Stevan juga, bantu Dina mencari Weini sampai aku kembali.” Perintah Xiao Jun dan segera mengakhiri pembicaraan.
Li San menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu, hatinya tercabik mengetahui kondisi putrinya yang menyedihkan. Mengapa baru sekarang ia memikirkan perasaan putri kecilnya itu? Bulir air mata kembali
membasahi pipinya, membayangkan betapa berdosa ia pada Weini.
“Jun, pergilah sekarang… Cari dan bawa kembali Yue Hwa.” Lirih Li San memberi perintah pada Xiao Jun.
Liang Jia menyetujui dengan anggukan pelan, ia melirik Li San yang diam-diam menangis dan tangisan itu menular padanya.
Wen Ting hanya jadi penonton dalam kondisi ini, tetapi ia tak bisa tinggal diam lebih lama lagi. “Aku ikut denganmu, Jun. Kita selamatkan ayah mertua dan kekasihmu.” Tegas Wen Ting menyatakan keikut-sertaannya.
Li San tampak terguncang, kecemasan Xiao Jun memang ada benarnya lantaran Chen Kho belum juga muncul. Entah siasat apalagi yang akan dilakukan pria licik itu. “Di mana kakakku sekarang?” Tanya Li San lirih.
“Aku penjarakan di ruang bawah tanah, aku yakin putranya pasti datang menolongnya dan mungkin membuat ulah.” Jawab Xiao Jun lantang.
Grace yang mendengar nasib ayahnya hanya bisa menunduk pasrah, meskipun ada ikatan darah di antara mereka tetapi perbuatan keji ayahnya pun tidak bisa dibenarkan. Dan Grace sadar betul, itulah sebabnya ia berpihak melawan ayah dan kakaknya.
Belum juga disekapati bersama keputusan untuk Xiao Jun, fokus mereka dibuyarkan oleh kedatangan dokter pribadi Li San yang masuk memeriksakan kondisi tuan besar itu.
***
Mungkin satu-satunya orang yang tahu keberadaan Chen Kho telah dilenyapkan. Haris adalah orang pertama yang ditemui dan dikorbankan begitu Chen Kho menginjakkan kaki di Jakarta. Kini pria yang jadi buronan keluarga Li itu tengah duduk santai di kamar hotel yang dipesankan anak buahnya. Ia tampak menyeringai puas sembari mencoba kekuatan baru hasil menyerap energi Haris. Luka di lengannya yang cukup parah karena serangan Haris pun nyaris sembuh total berkat pemulihan diri lewat semedinya.
“Tuan, apa kita perlu bergerak sekarang?” Tanya seorang tangan kanannya yang resah menunggu instruksi selanjutnya tetapi bosnya justru terlihat santai. Kecemasan pengawal itu jelas beralasan kuat, ia takut jika Haris mati dan kematian Haris dijadikan kasus pembunuhan yang berbuntut panjang. Chen Kho mungkin saja tidak dirugikan tetapi status anak buahnya yang datang sebagai turis dengan visa yang sudah kadaluwarsa itu yang jelas merasa
resah. Mereka sudah menguntit Weini dan Haris lebih dari sebulan demi kemenangan bosnya hari ini, namun mengorbankan keselamatan dirinya yang tentu tidak dijamin oleh Chen Kho. Mereka tidak punya pilihan, karena hidup dan mati mereka di tangan Chen Kho.
Chen Kho menoleh sinis pada anak buah yang melayangkan pertanyaan itu, tampak ia tidak senang dengan sikap buru-buru pengawalnya. “Tenang saja, tidak perlu repot berburu. Begitu mangsa itu mulai bergerak, kita segera bertindak. Biarkan saja dia sekarat dulu, aku mau lihat berapa lama sepupuku itu kuat bersembunyi meski tahu pengawalnya terluka parah. Kalau bukan dia yang pulang, mungkin pengawal itu akan bergerak menghampiri
tempat persembunyiannya. ha ha ha….” Tawa keras Chen Kho menggelegar, saking nyaringnya hingga membuat para pengawalnya ikut tertawa canggung.
Chen Kho memang terlihat tenang dari luar, namun batinnya terus menerawang keberadaan Haris lewat chip sihir yang terkoneksi dengannya pasca penyerapan energi itu. Hingga saat ini chip itu masih terdeteksi di lokasi yang sama, dan Chen Kho yakin sepandai-pandainya mangsa bersembunyi, pasti akan keluar dan termangsa olehnya. Jika bukan karena kekuatannya masih terbatas, ia tidak bisa menerawang tentang Weini, entah apa sebabnya. Andai mudah mendeteksinya dengan kemampuan sihir, jelas saja sasaran pertama yang didatanginya adalah Weini.
Dan Chen Kho tidak tahu juga bahwa sebusuk-busuknya siasat buruknya, ia tak tahu satu fakta bahwa Haris telah meninggal dan Weini telah mengeluarkan chip sihir Haris dan menyembunyikannya dalam dimensi lain yang tertanam di rumahnya.
***
Met malam minggu ya guys, jangan lupa like dan komentarnya tentang bab ini. Apa kalian tegang membacanya?