
pertemuan dadakan di aula masih belum bubar meskipun sumber masalahnya sudah diseret keluar. Li San duduk di tempat paling tinggi dan bisa menyaksikan tingkah pola orang-orang yang menghadapnya. Ia menaruh
perhatian pada Grace yang tampak kebingungan tanpa ada yang bersedia memberi penjelasan.
“Kebetulan kalian berkumpul di sini, Xiao Jun sebaiknya sampaikan langsung pada tunanganmu tentang rencana kita.” Perintah Li San, ia sengaja meminta Xiao Jun yang menyampaikan agar tercipta komunikasi di antara mereka.
Mendapat titah seperti itu tidak banyak memberi Xiao Jun harapan menolak, ada baiknya memang begini saja. Cepat atau lambat ia tetap harus mencari Grace bersama Li An. “Baik ayah.”
Xiao Jun memandang wajah Li An, dalam diam pun gurat cemasnya masih terlihat jelas. Li An tahu maksud pembicaraan itu pasti tentang rencana dirinya diangkat menjadi pengawal Grace. Ia belum menyatakan
kesanggupan tetapi dalam konteks ini, ia tidak punya pilihan lagi selain menurut.
“Nona Grace, perkenalkan ini kakakku Wei Li An. Dia akan menjadi pengawal sekaligus pelayanmu ketika di Jakarta.” Xiao Jun menyampaikan itu dengan formal dan menjaga jarak.
Grace meragukan tawaran Xiao Jun itu, ia masih belum yakin dengan keputusan yang tidak ditanyakan pendapat padanya. Ia harus dikawal oleh orang terdekat Xiao Jun, ini sebuah keberuntungan atau sebaliknya? Ia menatap gadis yang dimaksud kakak tunangannya, begitu cantik, modis, dan terlihat lemah bagaimana bisa menjadi pengawalnya.
“Ng, terima kasih atas perhatianmu Jun. Tapi apa tidak berbahaya menempatkannya pada posisi pengawal? Mmm … maksudku, dia …” Grace ragu meneruskan perkataannya.
“Dia wanita? Lemah? Tidak meyakinkan bisa melindungimu?” Xiao Jun tersenyum ketika menyampaikan isi pikiran yang terbaca jelas olehnya. Pendapat jujur dari Grace tentang kakaknya memang tidak salah, ia pun tidak sampai hati membiarkan Li An berada di garda depan sebagai pengawal. Semua hanyalah kedok, agar ia dapat membawa Li An keluar dari lingkaran kekuasaan Li San.
Grace jelas sangat terkejut, Xiao Jun menelanjangi pikirannya. “Ng, bagaimana kamu bisa tahu?” ia reflek menampar bibirnya yang keceplosan membenarkan pernyataan Xiao Jun secara tidak langsung.
“Maksudku, aku nggak tega biarkan kakakmu ambil resiko. Ng, maaf kak, maaf Jun aku nggak bermaksud meragukan…” Grace serba salah gara-gara ucapannya sendiri. Harusnya ia lebih mengikuti alur agar dapat
peluang mengambil hati Xiao Jun, yang ada malah ia merusak kesempatan itu.
Li An menatap Grace, ia pun punya penilaiannya sendiri terhadap gadis manja itu. Penolakan halus Grace terhadapnya justru terdengar menyenangkan, tanpa perlu menyampaikan ketidak setujuan ia tinggal menunggu batalnya rencana itu dengan tenang.
“Masuk akal, tapi dia bisa jadi pelayanmu.” Xiao Jun berkelit lagi, gawat jika Li San lebih mendengar Grace. Ia menatap tajam ke Grace, memberi ancaman tak langsung lewat bidikan mata hingga gadis itu ketakutan.
Li An justru yang tersentak kaget, setelah dipromosikan jadi pengawal sekarang ia diminta jadi pelayan. Merendahkan diri demi adik mantan bejat, melayaninya setiap hari, membayangkannya saja sudah seperti mimpi buruk yang panjang.
“Pe pelayanku? Oh okelah, itu terdengar lebih realistis.” Dengan terpaksa Grace menyanggupi permintaan itu, lirikan mata Xiao Jun sungguh menakutkan.
Li San tak banyak bicara, urusan ini dianggap beres. Anggap saja bonus untuk kepatuhan Xiao Jun, lagipula Li An tetap berstatus pelayan. “Semua sudah selesai, kalian lanjutkan kegiatan masing-masing.” Li San membubarkan orang-orang di hadapannya.
***
Xiao Jun mengajak Li An mampir ke kediamannya, mereka masih menanti kembalinya Wen Ting yang belum juga sempat memenuhi undangan makan bersama. Li An duduk dengan tatapan kosong menatap gerbang, seolah menantikan seseorang muncul dari sana.
“Apa yang lagi dipikirkan kak? Sepertinya serius?” Xiao Jun menghampirinya dengan segelas minuman.
Li An meraih gelas itu sambil menyatakan terima kasih lalu kembali menatap ke gerbang. “Sejujurnya, aku nggak ingin berurusan dengan tunanganmu. Semua yang ada hubungannya dengan pria brengsek itu, hanya mengingatkanku pada kelakuannya.” Li An meremas kerah bajunya, emosi yang masih besar pasca kejadian memalukan barusan.
Xiao Jun menatap iba, ia mengerti kondisi hati kakaknya. “Aku paham kak, maaf membuatmu tidak nyaman. Aku pun tidak suka kakak menjadi pelayan dia, itu hanya modusku saja supaya kakak dekat denganku. Aku pasti
menjaga kakak, sesampai di Jakarta akan ku urus dia dan kakak tidak perlu dekat dengannya.”
“Kamu memang adik yang baik, aku hanya tahu menyusahkanmu. Jun, kakak hargai niat baikmu tapi kita punya jalan hidup masing-masing. Sejak kecil juga kita sudah dipisahkan, kita tetap hidup dengan cara berbeda. Kamu jangan terlalu khawatirkan aku, nggak masalah kok aku tetap tinggal di rumah ayah yang penting hatiku tenang.” Li An mencoba meyakinkan Xiao Jun, ia tetap ingin di Hongkong.
Xiao Jun tetap keberatan, ia masih berkeras dengan membujuk Li An. “Kakak di sini dan pria itu masih di sini, dia bisa melakukan segala cara untuk mencelakakanmu. Saat tidak ada aku, siapa yang bisa diandalkan menolongmu andai kejadian tadi terulang?”
Li An membisu, harga dirinya terkoyak rasanya. Melindungi diri sendiri saja tidak bisa diandalkan dan ia masih jual mahal pada Xiao Jun. “Aku tetap tidak mau berurusan dengan adiknya. Jun, jangan paksa aku.” Li An memohon
pada Xiao Jun, ia kehabisan cara untuk meyakinkan adiknya yang keras kepala.
“Aku belum bisa mengiyakan permintaanmu kak. Sebelum ada cara lain untuk menjauhkanmu dari pria itu, jalan ini tetap yang terbaik meskipun kakak nggak mau.” Ujar Xiao Jun tegas.
Li An menggeleng kencang, Xiao Jun memaksanya berdebat. “Aku lebih baik dijodohkan dengan siapapun asalkan tidak berurusan dengan keluarga mereka. Siapapun terserah yang penting menurutmu dia pria yang baik, aku bersedia.”
Win win solusi yang ditawarkan Li An sangat mengejutkan Xiao Jun, ia tak mengira kakaknya akan berpikiran sempit hingga mengorbankan perasaannya menikahi orang yang belum tentu ia cintai. “Dijodohkan? Kak, apa kau mau menyusul nasibku dan kak Li Mei? Kau masih punya kesempatan menikahi orang yang kau cintai, kau bukan hanya mengorbankan masa depan, tapi kebahagiaanmu jika berpikir pendek seperti itu.”
“Orang yang kucintai? Hahaha, Jun cinta pertamaku malah pada pria bejat. Aku tidak pandai menilai orang, lebih baik dijodohkan seperti kak Li Mei yang sekarang bahagia daripada atas nama cinta tapi salah pilih. Usiaku juga sudah layak menikah, aku nggak mau terobsesi yang muluk. Cukup menikah, punya keluarga sendiri dan bisa dekat dengan ibu. Itu saja gambaran kebahagiaanku.”
Xiao Jun tidak bersedia berkomentar, ia masih menganggap keinginan Li An hanya emosi sesaat.
“Jun, carikan aku suami yang baik. Kau bisa menilai orang, jadi tolong aku!” pinta Li An, ia sangat serius memohon.
***