OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 266 LEWAT LAGU, KUDAPATKAN KEMBALI HATIMU



Aku dapat menciumnya dengan jelas, aroma tubuh maskulinnya yang begitu kurindukan.


Ini bukan lagi mimpi, ia berdiri saling menatap denganku dan membuat sejuta khayalku melayang.


Hanya satu pintaku, jika dia datang membawa kebahagiaan maka aku bersedia andai waktu berhenti kini.


Namun jika ia hanya datang untuk memberiku tambahan luka, lebih baik ia tak perlu datang kembali.


_Quote of Weini aka Yue Hwa_


***


Deg! Deg! Detak jantung yang memompa lebih cepat hingga Weini merasa kaku dan tak mampu bergerak walau hanya sejengkal. Xiao Jun kian mendekat, senyum menawannya begitu melekat, seolah sanggup menghipnotis


Weini agar tak berpaling menatapnya. Saking dekatnya, aroma parfum khas pria itu membius Weini, ia perlu menahan napas agar tetap terlihat tenang meskipun ia rasa kini wajahnya sudah bersemu merah.


Jarak yang semula terpisah dua meter, kini menciptakan rekor baru dengan jarak tak lebih dari 70 cm. Terlalu dekat malahan, untuk porsi sepasang kekasih yang belum berbaikan. Weini tetap bergeming, bibirnya sedikit terbuka dan ia mengandalkan napas dari sana. Ini bukanlah sebuah kode agar si pria mengecupnya, sungguh otak Weini mogok berpikir sejenak dan hanya mengandalkan nalurinya untuk bertindak.


Tangan Xiao Jun perlahan mengarah pada Weini, membuat gadis itu salah tingkah dan reflek memejamkan mata. Xiao Jun tersenyum kecil melihat reaksi Weini yang begitu lugu dan tak berdaya, sepertinya gerakan simpel itu menimbulkan kesalah-pahaman. Xiao Jun bukanlah ingin mendekap atau meraih wajah bersemu gadis itu – meskipun hati kecilnya menginginkan itu – ia hanya ingin membetulkan kerah piyama Weini yang terlipat sebelah sehingga helaian rambut curly Weini tergulung sedikit ke dalam lipatan kerah itu.


Eh? Gumam Weini dalam batin, ia barusan kegeeran mengira Xiao Jun akan melakukan sesuatu yang lebih dari ini. Perlahan sepasang matanya terbuka, mengintip pria yang masih berdiri di depannya. Lebih menjengkelkan lagi, ia melirik wajah Xiao Jun yang masih menyunggingkan senyum dengan tenang, padahal ia tegang tak karuan dibuatnya.


“Silahkan duduk.” Gestur tangan Weini dengan kaku menunjuk sofa agar Xiao Jun segera berlalu dari hadapannya. Posisi tubuh mereka yang dekat itu membuatnya takut terlihat memalukan, Weini bahkan cemas andai debaran jantungnya yang meletup ini terdengar pria itu.


Xiao Jun memilih menuruti permintaan Weini tanpa sepatah katapun, ia berbalik badan dan duduk pada sofa yang ditempatinya. Weini masih berdiri mematung sampai pria itu dipastikan bersantai di tempat duduk. “A … Aku ambil minum bentar.” Ujar Weini agak terbata-bata, ia bergegas menuju dapur sembari merutuki dirinya yang tak becus.


Tangan Weini menempel tepat di depan dada, area di mana ia merasakan betul dentuman dasyat di dalam sana. Napas yang sedari tadi ditahannya pun bisa ia lampiaskan sekarang, ada rasa lega dan sesak yang berkolaburasi dalam hembusan napasnya. C’mon Weini, jangan bikin malu diri sendiri! Seru Weini dalam hati, kakinya kembali melangkah mendekati kulkas dan memastikan ada sesuatu yang layak disajikan untuk tamu tak terduga malam ini.


Weini mengangkat satu alisnya, isi kulkas itu nyaris penuh dengan cemilan dan puding. “Kapan ayah bikin ini? Sebanyak itu mana mungkin bisa dihabiskan berdua?” Gumam Weini sedikit kesal, Haris bukan tipe orang yang percaya tentang kebetulan di dunia ini. Ayah angkatnya itu punya prinsip bahwa segalanya sudah diatur dan tak ada yang kebetulan. Melihat persiapan yang mendekati sempurna ini, Weini curiga bahwa Haris sudah tahu bahwa


Xiao Jun akan mampir. Dan sekarang pria tua itu sengaja menyingkir, memberi ia dan Xiao Jun kesempatan untuk mendekatkan diri lagi.


“Ayah, aku nggak tahu harus berterima kasih atau harus kesal padamu.” Weini menggeleng lemah, bibirnya menarik seulas senyum yang begitu manis.


Perhatian Xiao Jun teralih pada kecapi yang ada di sudut ruang tamu, sesuai laporan Dina bahwa Weini membeli alat musik tradisional itu dan rutin berlatih. Xiao Jun beranjak lalu mendekati benda itu, kursi kecil yang biasa diduduki Weini kala berlatih pun ditarik keluar. Jemarinya mulai menyentuh senar-senar, ia tergiur untuk meresmikannya.


Weini berjalan menuju ruang dapur dengan nampan berisi teh dan pudding serta cheesecake yang sudah dipotong kecil. Langkahnya tertahan ketika suara kecapi yang melantunkan sebuah lagu mandarin lawas terdengar sangat merdu. Weini mengernyitkan dahi, firasatnya menebak bahwa Haris sudah pulang dan memainkan kecapi. Ia kembali berjalan dengan antusias, setidaknya ia tidak berduaan di rumah bersama Xiao Jun.


Tebakan Weini meleset saat ia melihat dengan mata kepala, jemari siapa yang dengan luwes memetik senar kecapinya. Gadis itu nyaris tak percaya dengan kenyataan di hadapan, pria itu terlihat begitu menikmati permainannya hingga dapat menghasilkan nada yang tepat walau dengan mata terpejam. Sayangnya hanya sampai di pertengahan lagu, permainan yang begitu bagus itu dihentikannya. Xiao Jun menyadari performnya disaksikan oleh seseorang dan orang itu tengah terpukau.


Xiao Jun mengangguk sembari tersenyum, tak sedikitpun raut wajahnya menampakkan akan tertawa karena pertanyaan Weini. “Ng, waktu kecil ibuku yang mengajari, tapi hanya beberapa lagu saja yang aku kuasai.” Jawab Xiao Jun, ibu yang ia maksud adalah Liang Jia. Masih membekas dalam ingatan Xiao Jun, masa-masa awal ia menjadi anak angkatnya, nyaris setiap hari Liang Jia memperlakukannya seolah ia adalah Yue Hwa. Mengajarinya bermain kecapi yang notabene permainan yang lebih identik dengan perempuan. Alasan itupula yang membuat Li San berang lalu menghancurkan kecapi dalam kamar Liang Jia serta membumi-hanguskan segala barang peninggalan Yue Hwa.


“Oh ….” Kilah Weini singkat. “Sambil diminum dulu.” Lanjut Weini, saat pikirannya mulai bisa berpikir dengan nalar dan tenang.


Xiao Jun masih terdiam di hadapan kecapi, seraya menatap punggung Weini yang meletakkan nampan ke atas meja. “Kamu bisa lagu barusan? Apa bersedia menyanyikannya?” Tawaran itu serius terlontar dari Xiao Jun, ia


menanti persetujuan Weini untuk berkolaburasi dengan permainannya. Mungkin dengan cara yang lebih alamiah ini dapat meretakkan kerenggangan dan rasa canggung mereka.


Weini menoleh, ia tidak memberi satu katapun sebagai jawaban namun lewat sebuah anggukan pelan, ia menyetujui permintaan Xiao Jun. Bos muda itu tersenyum, begitupula dengan Weini yang berdiri menunggu permainan dimulai. Ia masih menjaga jarak meskipun bersedia bernyanyi untuk Xiao Jun.


浮云散, Fu yun san (Awan yang tersebar mengambang)


明月照人来,Ming yue zhao ren lai (Bulan yang cerah bersinar pada orang-orang yang tiba)


团圆美满今朝最,Tuan yuan mei man jin chao zui (Hari ini adalah reuni yang paling bahagia)


清浅池塘鸳鸯戏水,Qing qian chi tang yuan yang xi shui (Kolam yang bersih dan dangkal, bebek-bebek mandarin bermain di air)


红裳翠盖并蒂莲开,Hong shang cui gai bing di lian kai (Gaun merah dan topi zamrud, sepasang suami istri yang setia seperti dua kuntum teratai yang bermekaran)


双双对对恩恩爱爱,Shuang shuang dui dui en en ai ai (Berpasangan, saling cinta antara pasangan)


这款风儿向着好花吹  Zhe kuan feng er xiang zhuo hao hua chui (Angin lembut sepoi ini berhembus ke arah bunga-bunga indah)


柔情蜜意满人间。 Rou qing mi yi man ren jian (Penuh kehangatan dan kasih sayang di antara orang-orang)


Dikutip dari lagu Mandarin lawas berjudul 月圆花好 - Yue yuan hua hao* (Bunga bermekaran dan bulan purnama).


***


Behind the scene adegan nyanyian Weini dan suara kecapi Xiao Jun.


Suara hati Weini sepanjang menyanyikan lagu itu dengan suaranya yang merdu. Lagu ini terlalu romantis untuk kunyanyikan, apa dia sedang menggodaku?


Suara hati Xiao Jun sepanjang memainkan kecapi mengiringi nyanyian Weini. Ada hal baru lagi yang kutahu darimu selain kau memiliki suara yang merdu. Kau sangat menjiwai nyanyian itu, kau punya kebeningan hati yang tersorot lewat ekspresimu bernyanyi. Dan aku terus mengaminkan sepanjang lirik yang kau nyanyikan, semoga suatu hari menjadi kenyataan. Berpasangan, saling cinta antara pasangan seperti dua kuntum teratai yang bermekaran.


***