OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 518 KUNJUNGAN DADAKAN



“Weini....” pekik Bams histeris seraya merentangkan kedua tangannya, siap mendaratkan pelukan kepada Weini.


Kunjungan dalam kencan tiga pasangan (plus satu lagi yang masih proses pencomblangan) itu mengagendakan jadwal ke kantor managemen untuk menemui pak sutradara, tentu saja dibuat secara kejutan. Bams senang bukan kepalang saat melihat Weini dan kawan-kaan yang lainnya datang, saking semangatnya ia hampir mematahkan kursi yang ia duduki lantaran terlalu bersemangat berdiri.


Sayangnya pelukan itu gagal mendarat, bahkan nyaris mengenai Dina andai Bams tidak segera menurunkan tangannya. Dina menatapnya angkuh seraya melipat tangan di depan dada. “Eits, sama tuan putri terhormat, dilarang bersentuhan fisik, meliputi salaman, cipika cipiki, apalagi pelukan. Big No!” Seru Dina bersemangat serata membuat kode silang dengan dua tangannya.


Weini yang melihat reaksi berlebihan Dina pun nyaris buka mulut, namun Dina lebih cepat menghalanginya bicara. Weini hanya bisa diam tersenyum, membiarkan Dina mengerjain Bams dulu.


Bams tampak canggung, ia menggaruk kepalanya dan sedikit menundukkan wajah. Kalau dipikir-pikir memang ia bertingkah sok akrab saja, padahal ia baru satu kali melihat wajah asli Weini di layar televisi, dan ini pertama kali bertemu langsung tetapi ia langsung bersikap seakan sudah sering berjumpa saja dengan Weini versi terbaru. “Maaf, aku lancang ya. Nggak lagi deh he he... Weini, apa kabarmu?” Tanya Bams ramah, berusaha memperbaiki sikapnya yang keliru tadi.


“Eits....” lagi lagi Dina menyilangkan kedua tangannya, kepalanya pun menggeleng cepat dengan bibir yang ikutan berdecak.


Senyuman Bams hilang lagi, wajahnya mulai tampak kesal lantaran tidak tahu kesalahan apa lagi yang ia perbuat kali ini. Ia melirik Dina yang mulai bersuara bawel lagi.


“Dilarang menyebut nama nona, kau tahu hukumannya apa kak? Kik....” Dina memeragakan dengan jari telunjuk yang menggorok leher, membuat Bams merinding membayangkan imajinasi dirinya yang dipenggal.


Weini mulai menahan senyumnya lagi, kali ini agak sulit karena Dina sudah makin kelewatan bercandanya.


“Trus dipanggil apa dong? Duh kok serba salah banget sih gue?” rengek Bams serba salah.


“Panggilnya gini, Gong Zhu.” Ujar Dina seraya memberikan contoh penghormatan ala pelayan di kediaman Li yang ia lihat.


Bams menaikkan satu alisnya, agak ribet sebenarnya namun daripada salah lagi berhadapan dengan seorang penguasa, lebih baik ia menurut. Walau agak kaku, Bams meniru gerakan Dina barusan dan hendak membungkuk hormat ala pelayan wanita. “Gong Zhu.” Seru Bams dengan logat yang kaku. Sontak Weini menghentikan aksinya, cukup sudah mengusili sahabat sekaligus rekan kerja yang ia hormati dulunya.


“Sudah kak Bams, berdiri yang tegak dan santai saja. Dina hanya mengusilimu saja.” Seru Weini dengan lembut menarik tangan Bams untuk berdiri tegak. Mendengar perkataan Weini barusan langsung membangkitkan mendesirkan darah Bams, nyaris mendidih saking geramnya menahan kesal. Ia melirik pada Dina yang tampak cuek terkekeh kemudian berlindung di belakang punggung kekar Ming Ming.


“Dinaaa... Awas ya! Ku potong gajimu satu bulan!” Pekik Bams dengan nada kesal dan sombong karena dia memang punya wewenang mengatur gaji karyawan di kantor ini meskipun bukan dia HRDnya.


Stevan berdehem, sejak tadi hanya berdiri sebagai penonton dan ia sangat menikmati penggojlokan Bams. Tapi berhubung namanya disebut sebagai pembenaran, ia pun tak bisa tinggal diam. “Bener sih yang lu katakan Din, tapi nggak gitu juga kali caranya. Nggak lihat tadi lu bikin anak orang hampir jantungan?” celetuk Stevan kemudian tak tahan lagi, ia pun terkekeh karena teringat ekspresi wajah Bams yang tampak takut itu sangat lucu.


Bams mengepalkan tangannya seraya menatap kesal pada Stevan dan Dina secara bergantian. “Ng... kalian berdua, tunggu tanggal mainnya ya! Aku balas kejahilan kalian.”


Xiao Jun tersenyum kemudian berniat mengakhiri kekonyolan mereka bertiga. Ia pun berdehem dan dalam sekejab semuanya hening. Kharisma Xiao Jun memang tidak terbantahkan, hanya mendengar dehemannya saja sudah membuat semua hening.


“Kak Bams, sudah boleh kabari pihak mereka, Weini setuju untuk menghadiri premier dan menyelesaikan tanggungan kerja yang lain.” Seru Xiao Jun tegas.


Stevan, Dina, Grace ternganga mendengar apa yang Xiao Jun sampaikan. Masalah pekerjaan yang menyangkut mereka namun mereka sama sekali tidak mengetahuinya. Andai tidak datang kemari saat ini, mungkin berita penting seperti ini luput dari perhatian mereka.


Bams tersenyum lebar mendengar keputusan Weini, ia terharu dan merasa sangat luar biasa jika Weini bersedia hadir dengan status dan wajah cantiknya yang sekarang. “Tuan serius? Nona Weini sungguh akan hadir? OMG, ini pasti akan menjadi momen spektakuler yang mengguncang dunia. Ini pasti pertama kalinya nona Weini muncul di layar kaca tanah air. Astaga aku sangat terharu, terima kasih atas profesionalitas kerjamu.”


Weini tersenyum lalu mengangguk, “Tidak perlu terima kasih kak, justru aku yang minta maaf karena aku yang mengacaukan semua ini. Kalian sampai harus menanggung akibatnya.” Gumam Weini lembut. Yang lain yang mendengar hanya bengong dan terdiam, tak mengerti jelas apa yang terjadi dan apa yang sedang mereka bahas.


Dina muncul dari persembunyiannya, rasa penasaran membuat ia keluar dari belakang punggung kekasihnya. “Tunggu dulu, sebagai manager nona Weini, aku wajib tahu jadwal artisku. Sebenarnya ada apa ini? Apa kak Bams tidak tahu kalau melobby kerjaan langsung pada artis itu tabu. Selagi ada manager, pokoknya wajib lewat jalur manager. So, singkat ceritanya... ini lagi pada ngomongin apa sih? Kok tiba-tiba nona Weini setuju mau datang di premier?” Ujar Dina setelah capek berpura-pura bicara tegas. Akhirnya Dina malah keluar gelagat aslinya yang blak-blakan.


“Dina benar, aku juga belum tahu ada masalah apa ini? Apa yang dimaksud itu premier film yang kita bintangi itu?” Tanya Stevan yang ditujukan pada Weini.


Weini mengangguk pelan membenarkan apa yang dikatakan Stevan, “Ya, apa yang sudah kita mulai memang harus diselesaikan tanpa merugikan pihak manapun. Hanya sekali ini saja, setelah itu aku akan mundur total dari dunia entertainment.”


Grace yang mendengarnya langsung terpukau dengan tanggung jawab seorang Weini, meskipun sudah memiliki segalanya dan bisa saja mangkir dari hal ini namun Weini memilih menyelesaiannya.


“Horeee kalau begitu aku akan kembali jadi manager lagi. Yes! Akhirnya setelah sekian lama, aku kembali berguna untuk nona.” Teriak Dina kegirangan, padahal sebelumnya ia yang sok sensi namun pada akhirnya dialah yang terlihat paling senang.


❤️❤️❤️