
Weini masih tidak puas dengan pembicaraan yang diputuskan oleh Lau. Setelah beberapa kali memanggil pengawal Xiao Jun itu di ujung telpon namun tidak ada sahutan, yang ada justru gertakan suara pria yang seakan berhasil menemukan buronan. Weini mencoba menghubungi balik namun ponsel pria itu sudah tidak aktif.
“Kak Dina… sini kak.” Weini memanggil Dina yang masih berada dalam studio dengan kencang hingga Dina berlari menghampirinya.
Wajah bingung Weini bisa ditebak oleh Dina bahwa hasil percakapan via telpon itu tidak berakhir baik. “Non, Ada apa? Apa yang disampaikan om Lau sampai non tegang gitu?”
Weini menggeleng lemah, dia masih menatap layar ponsel dengan perasaan tidak percaya. “Kak, paman Lau… sesuatu yang buruk terjadi pada dia. Kak lakukan sesuatu buat nolong dia…” Weini membujuk Dina mewakilinya bertindak, mustahil ia bisa meninggalkan lokasi syuting di saat kerjaan saja belum mulai namun Dina masih
punya kesempatan untuk pergi dari sini.
“Heh? Bukannya kalian habis telponan? Aku nggak paham non buruk gimana yang terjadi? Om sakit?” tebak Dina polos, bagaimana bisa bertindak jika ia tidak tahu duduk perkaranya.
Weini lagi-lagi menggeleng, “Dia ditangkap orang, nggak tahu siapa. Tadi lagi ngobrol sama aku tahu tahu ada suara pria yang berteriak menangkapnya. Lalu… telponnya putus.”
Dina terperanjat kaget, pikiran anehnya menerawang. “What? Jangan-jangan om dirampok, non kita lapor polisi aja.” Dina langsung inisiatif menghubungi nomor darurat namun digagalkan oleh Weini.
“Bukan kak, tidak perlu lapor. Ini pasti ada hubungannya dengan keluarga Xiao Jun. Paman bilang Xiao Jun sudah kembali ke Hongkong, dan sepertinya Paman Lau kena imbasnya. Kak… atau aku bolos syuting aja, carikan aku alasan buat kabur. Mungkin masih ada waktu untuk menolong paman Lau.” Rengek Weini, ia serius dengan
niatnya. Selama ini ia belum pernah bolos kerja, satu kali saja ia mangkir dari tanggung jawab mungkin bisa dimaklumi.
Dina menahan langkah Weini, kekhawatiran telah menutup akal sehatnya. “Nggak bisa gitu non, kerja ya kerja. Sekali aja non bikin kelonggaran displin, pasti bakal ketagihan mengulang di lain kesempatan.”
Weini terdiam, yang dikatakan Dina benar. Jangan karena masalah pribadi sampai mengacaukan kerja keras orang lain yang sudah mempersiapkan segalanya untuk syuting. “Sorry… aku khilaf.” Ujar Weini lirih, hatinya tak lagi di sini tetapi raganya harus terus di sini hingga pekerjaan ini selesai.
“Nggak usah nyalahkan diri non, sedih itu normal kok. Jangan terus diratapi yang penting gimana cari solusinya kan.” Dina mengelus pundak Weini, menghibur sesimpel ini yang bisa ia lakukan.
“Solusi? Ah… kak Dina aja yang ke sana plis, lihat apakah paman Lau masih di sana?” Weini tidak menyerah, jika ia tidak bisa pergi maka harus ada wakil yang ia utus menyelesaikan misi.
“Nggak bisa non, jarak Bogor ke Jakarta belum lagi macetnya juga pasti sampai di sana udah telat. Keburu penjahatnya kabur kalau memang bener ada. Kenapa gak minta Paman Haris aja yang cek kondisi ke sana?” Dina tiba-tiba punya ide cemerlang yang tidak terpikirkan oleh Weini.
Seulas senyuman girang tersungging dari bibir Weini, seketika itu pula ada setitik terang dalam kegelapan yang ia rasakan. “Kak Dina… kau benar. Makasihhh…” ia memeluk Dina dengan erat, managernya benar-benar bisa diandalkan.
Tanpa membuang waktu, Weini menghubungi Haris yang pasti ada di rumah dan siap membantu. Kini ia berharap kedatangan Haris tepat untuk membantu Lau, bagaimanapun masalah ini timbul karena dirinya, cintanya yang egois tanpa meminta restu kepada pihak keluarga Xiao Jun terlebih dulu.
***
Grace mengurung diri di kamar sepanjang hari tanpa bersedia makan dan enggan ditemui siapapun. Bentuk protes itu dilayangkan untuk ayahnya yang memaksakan perjodohan dengan pria yang tidak pernah ia temui.
“Grace, buka pintunya. Daddy masuk sebentar aja.” Kao Jing masih mencoba merayu Grace membukakan pintu. Pelayan yang mengantarkan makanan pun bolak balik sekian kali dan tidak berhasil mengantarkan makanan untuk nona itu.
“Kecuali Daddy membatalkan rencana gila itu, pasti kubukakan.” Jawab Grace, suaranya terdengar samar lantaran terhalang pintu dan tembok kedap suara. Ia tidak peduli ayahnya dengar atau tidak, hatinya masih dongkol dan panas tiap teringat kejadian kemarin malam.
“Grace, kau mulai beranjak dewasa. Daddy tidak menyangka anak gadis daddy sudah besar dan cantik.” Kao Jing melayangkan pujian ketika Grace melepas lelah seusai latihan musik.
“Daddy kok aneh hari ini? Tiap hari daddy lihat Grace tapi baru sadar Grace sudah besar?” celetuk Grace cuek, ia lebih memilih berselonjor menenangkan pikiran bila perlu ketiduran.
Kao Jing tertawa, “Kau masih saja cuek, ingat pesan daddy secuek apapun kamu jangan lupa kodratmu sebagai wanita. Kelak pasti jadi istri orang, jangan bikin malu daddy.”
Dahi Grace mengkerut meskipun dengan mata terpejam dan ia tetap memijit lembut keningnya, perkataan ayahnya barusan sangat aneh, ia merasakan firasat buruk untuk kelanjutan pembicaraan ini. “Daddy bicara seakan aku sudah mau menikah. Hah… masih lama daddy, jangan dipikirkan lah.”
“Ehem… kalau sudah ketemu jodoh jangan ditunda lagi. Masa depan anak gadis itu bukan dari suksesnya karier tapi dari suami yang tepat. Daddy membebaskanmu berkarier hanya untuk mengisi waktu luang sampai calon suami pilihanku muncul.” Kao Jing mulai serius, ia tidak bisa terus-terusan lembut pada anaknya yang manja.
“Naif banget pikiran daddy, kebahagiaanku kelak nggak tergantung dari suamiku. Aku tetap jadi diri sendiri, nggak mau dikekang.” Seru Grace, pembicaraan yang tidak menyenangkan itu membuat suasana santai yang ia harapkan buyar. Ia tak ingin berlama-lama di depan ayahnya lagi dan bersiap meninggalkan Kao Jing.
“Tunggu! Ayah belum selesai bicara. Jangan pikir hanya karena kau lahir dan besar di sini, kesopananmu pada orangtua ikutan luntur.” Hardik Kao Jin, ia mulai menunjukkan tabiat asli.
Grace terpaku diam, langkahnya tersendat oleh gertakan ayahnya. Untuk kali pertama ia mendengar ayahnya bicara sekeras itu padanya. Sekarang ia berdiri mematung menantikan kata-kata lanjutan dari Kao Jing.
“Lusa kita berangkat ke Hongkong, kemasi barang-barangmu! Sudah waktunya kau menjalani kehidupan serius, daripada setiap hari hanya bermain musik dengan teman-teman liarmu.” Perintah Kao Jing yang hampir membuat Grace pingsan.
“Daddy usir aku? oh… aku salah apa?” tanya Grace masih shock, ia tahu ayahnya selalu serius dengan perencanaan. Sama seperti Chen Kho yang diutus tinggal di Hongkong sampai sekarang, mungkin ia pun tidak diijinkan kembali lagi.
“Bukan diusir, tapi sudah saatnya kamu dinikahkan dengan pria tepat. Pamanmu sudah mengaturkan perjodohanmu dengan putranya, Li Xiao Jun. Kalian akan jadi pasangan sempurna, penerus klan Li yang sesungguhnya.” Ambisi Kao Jing membara, ia tidak pernah terlihat segembira saat ini.
Grace terhuyung, ia tumbuh besar di era modern tapi masih mempunyai orangtua yang kolot. “Daddy, sudah tidak jaman menjodohkan anak. Aku nggak bisa nikah sama orang yang nggak dikenal, darimana daddy yakin dia tepat sedangkan daddy saja tidak pernah bertemu dia kan? sorry I could not accept that.” Grace berlari menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua, ia tak peduli ayahnya berteriak atau memarahinya.
Flash back selesai…
Kao Jing mengira putrinya tidak makan apapun sejak kemarin padahal kini Grace sedang menikmati stok cemilannya sembari menggerutu. “Seenaknya menjodohkanku, pasti pria itu jelek, gemuk, tidak laku sampai harus dijodohkan. Apa bagusnya nikah sama saudara? Aku belum pernah jatuh cinta, belum pernah pacaran masa
langsung nikah. Apa kabur saja biar daddy kapok dan batalkan perjodohan ini?”
Sayangnya pikiran nekad Grace hanya isapan jempol, ia tahu kuasa ayahnya apalagi sang paman yang memiliki segalanya. Di ujung dunia pun ia bersembunyi, pasti akan ditemukan mereka. Mendadak ia pesimis bisa menghindari perjodohan ini, mungkin ia harus menyiapkan hati pasrah menerima takdirnya.
“Menikah muda… jadi nyonya… hmm…”
Ia tidak mampu berpikir lagi terlebih Kao Jing berhasil membuka pintu kamarnya dengan kunci cadangan. Sepertinya takdir ini memang tidak bisa terelakkan…
***