
Sebelum mengenalmu, aku tak pernah berani mengharapkan sesuatu.
Selalu menerima apa yang ditakdirkan untukku, baik atau buruk.
Setelah mengenalmu, aku menjadi pembangkang terhadap hatiku.
Berusaha mangkir dari gelora asmara namun berharap terpatri di hatimu.
__Quote of Xiao Jun__
***
“Wei niiiiii…” Sisi berlari dengan teriakan kencang sepanjang koridor menuju kelas. Ia tahu sahabatnya pasti sudah di dalam kelas. Ia tak peduli harus menyenggol siapapun yang menghalangi langkahnya, yang jelas ia harus segera menemui Weini.
“Apaan sih?” Weini risih melihat kelakuan norak Sisi, ia masih duduk dengan tenang tanpa respon yang berlebihan.
Sisi meraih kedua tangan Weini dan menggenggamnya erat. “Gue bangga banget sama lu! Wajah lu terpampang gede di mana-mana.”
Weini nyengir. Hal biasa menurutnya malah dianggap seistimewa itu bagi Sisi. Poster iklan produk dari perusahaan Xiao Jun memang menyewa puluhan billboard dan tersebar di pusat kota Jakarta. Wajah Weini jelas terpajang di sana selaku brand ambassador hingga kontrak berakhir dua tahun kemudian.
Brak… pujian Sisi yang berlebihan itu mengundang rasa muak sang rival. Metta menggebrak meja dan keluar kelas bersama kedua pengikutnya. Gadis congkak itu bahkan menjatuhkan kursi di barisan terdepan sebagai bentuk protes.
“Cih… manusia itu tumben hanya menggertak gitu doang. Mana mulut bawelnya?” sindir Sisi. Baru kali ini ia merasa sangat senang melihat kebungkaman Metta. Pada akhirnya Weini lah yang tertawa di akhir sebagai pemenang. Sisi merasa beruntung tidak salah memilih teman.
“Kau kangen diomelin dia? Wait and see, kalau omongannya udah terbukti, kau pasti melihat kesombongannya lagi.” Ujar Weini. Ia paham betul mengapa gadis sombong itu belakangan ini pasif, ketenaran Weini semakin mendekati puncak sedangkan Metta yang sesumbar akan mengalahkannya justru belum debut hingga sekarang.
“Siapa juga yang kangen! Amit-amit! Btw, kapan lu bakal temuin gue ama Stevan? Janji adalah utang yang dibawa mati lo! Gue bakal nagih terus.” Ancam Sisi.
“Siapa juga yang janji ama kamu. Itukan permintaan sepihak, aku nggak mengiyakan.” Weini menggoda Sisi. Padahal ia sudah berusaha meminta Stevan meluangkan waktu untuk Sisi. Namun aktor tampan itu selalu
mengelak dengan berbagai alasan. Alih-alih ngedate ama Sisi, ia malah lebih tertarik mendekati Weini.
Suara Sisi yang sibuk protes itu terdengar menggema di pendengaran Weini. Beberapa pekan lalu saat di lokasi shooting ia juga mengalami hal demikian. Pandangannya serasa kabur dan suara di sekeliling mendengung memekakkan telinga. Weini menopang kepala dengan kedua tangan, ruangan kelas serasa berputar mengitarinya.
“Weini? Hei… lu kenapa?” Sisi melambaikan tangan tepat di depan wajah Weini. Sikap aneh Weini membuatnya cemas.
Weini hanya menggeleng pelan tanpa mampu bersuara. Ia mulai merasa ada yang janggal dengan dirinya. Kekhawatiran menyeruak, apa mungkin ia sakit atau ada hal buruk yang akan menimpanya.
***
Xiao Jun membolak-balik buku di tangannya dengan gelisah. Raganya berada di kantor tetapi jiwanya melayang ke kampung halaman. Ia tidak bisa fokus mengerjakan apapun saat ini.
“Tuan muda, saya akan minta bawahanku merekam upacara pernikahan nona Li Mei dan dikirimkan untuk anda.” Lau sangat cemas melihat kondisi majikannya. Ia paham perasaan Xiao Jun yang tidak berdaya. Mereka jelas
sangat mengenal Li San yang tak berperasaan dan selalu menepati niatnya.
“Terima kasih, paman Lau. Kau sangat mengenalku.” Xiao Jun merasa salut dengan pengawalnya, tanpa ia perintah terkadang Lau sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Meskipun hanya menonton rekaman, Xiao Jun harus mensyukurinya.
Lau membungkuk hormat menerima pujian itu. “Tuan, cuaca cukup cerah. Jika anda tidak semangat bekerja, sebaiknya pergilah keluar mencari suasana baru.”
“Kau mengusirku secara halus?” kilah Xiao Jun singkat.
“Hamba tidak berani.” Lau lagi-lagi harus membungkuk mohon ampun atas kelancangannya.
Xiao Jun tersenyum kecil, jelas ia hanya bercanda dengan pengawal yang ia anggap paman itu. Lau benar, hari yang sangat cerah teramat sayang dibiarkan lewat begitu saja. Ia mengalihkan pandangan keluar jendela, seulas
senyuman dari wajah cantik yang terpampang besar di hadapannya mengundang rindu yang tak tertahan lagi. Xiao Jun meraih kunci mobil, menjemput si pemilik senyum.
***
Kondisi Weini belum juga membaik. Sepintas jika tidak diperhatikan dengan jelas,ia terlihat baik-baik saja. Sisi yang setengah hari bersamanya pun terkecoh, malahan ia terus mengganggu Weini dengan segala curhatan. Bel pertanda pulang akhirnya membebaskan Weini dari keresahan, ia takut tiba-tiba tidak sadarkan diri di lingkungan sekolah dan menyedot perhatian publik.
“Lu nggak ada jadwal syuting kan, kita ngemal yuk.” Pinta Sisi sembari bergelayut manja di lengan Weini.
“Next time aja, Si.” Tolakan halus dari Weini justru membuat Sisi salah paham.
“Aku mau bantu ayah ngajar kursus.” Jelas Weini berbohong. Ia mendorong pelan tubuh Sisi, menyingkirkan dari hadapannya.
Semula Sisi percaya alasan Weini, namun ketika mereka melihat seorang pria yang berdiri di samping mobil Sport merah melambaikan tangan kepada Weini, ia menggertak gigi menahan geram.
“Weini!” seru Stevan menghampiri gadis yang ia panggil.
Kemunculan mendadak Stevan sontak mengejutkan Weini. Ia tidak siap bertemu lawan mainnya di luar jam kerja apalagi Sisi pasti akan salah paham. “Kak Stev kok kemari?” Tanya Weini polos.
“Gue anter balik yak.” Stevan to the point tanpa memperhatikan Sisi yang berdiri di samping Weini. Tatapan Stevan begitu lekat hingga membuat Sisi cemburu.
Kepala Weini terasa semakin berat, keinginannya untuk segera pulang dan istirahat sepertinya tak berjalan mulus. “Ng… Aku mau…”
Tiiiiit… tiiiiiit…. Suara klakson mobil yang bunyinya beruntun mengaburkan suara Weini. Perhatian mereka tertuju pada mobil sedan mewah berwarna hitam.
“Eh” Weini hapal betul siapa pemilik mobil itu. Sepasang kaki jenjang dengan setelan formal keluar dari mobil. Xiao Jun berjalan sangat cepat kemudian menarik tangan Weini dengan kencang. Tubuh Weini nyaris mendarat dalam dekapan Xiao Jun jika ia tidak menahannya. Sisi terkesima melihat adegan itu, ia menutup mulutnya yang ternganga lebar. Sementara Stevan menunjukkan ketidak-senangannya secara langsung.
“Maaf, Weini sudah janji pulang denganku.” Ujar Xiao Jun tegas. Weini menatapnya tanpa berkedip, pria itu begitu serius namun wajahnya terlihat makin manis. Sesaat setelah menyadari kekagumannya, Weini memarahi diri sendiri. Ini bukan waktu mencuri pandang pada pria!
“Kak Stev maaf, aku nggak bisa ikut mobilmu. Bolehkah kau antarkan temanku pulang, plis.” Weini memasang wajah melas dan terlihat sangat imut di mata Stevan sampai ia segan menolak permintaan itu. Sisi begitu
kegirangan, ia jingkrak sambil mengedipkan mata pada Weini. Ia tahu sahabatnya pasti paham kode terima kasih darinya.
“Lain kali kau harus pulang denganku ya! Sampai ketemu di lokasi syuting besok.” Stevan berbalik badan menuju mobil tanpa memerdulikan Sisi yang kepayahan mengejar langkahnya.
“Trims sudah bantu aku atasi masalah ini. Aku balik dulu.” Weini hendak meninggalkan Xiao Jun begitu saja, namun reaksi itu justru memancing Xiao Jun bertindak lebih. Pundak kecilnya dirangkul erat oleh tangan kekar itu. Weini berupaya memberontak agar terlepas dari dekapan sepihak itu.
“Simpan tenagamu, atau kau lebih suka pingsan di sini.” Ujar Xiao Jun, ekspresinya sedingin kutub utara.
Hah? Dia tahu aku nggak enak badan? Apa karena itu dia ngotot nganterin aku pulang? Tanpa Weini sadari ia merasa begitu senang diperhatikan oleh Xiao Jun. Bahkan Sisi dan Stevan tidak menyadari kondisinya, namun Xiao Jun tiba-tiba muncul dan menolongnya. Ia tak kuasa berkata lagi, hanya mampu mengikuti langkah Xiao Jun yang memapahnya ke dalam mobil.
***
Konsentrasi Xiao Jun terbagi dua antara melihat Weini dan menyetir. Sepanjang perjalanan mereka berdua tak melontarkan satu katapun. Kepala Weini terasa berat, ia memejamkan mata untuk mengalihkan rasa pusing. Xiao Jun secara diam menyalurkan chi untuk gadis di sampingnya.
Mudah sekali gadis ini menyerap energi ‘Yang’ dariku? Gumam Xiao Jun membatin, orang biasa memerlukan waktu penyesuaian untuk menerima transfer energi agar tidak mental. Namun Weini seperti sudah terkoneksi sebelumnya, energi itu berpindah dengan lancar ke tubuhnya.
Thanks God. Udah mendingan kepalaku. Rasa pusing beransur memudar, Weini sanggup membuka matanya. “Astaga kok udah sampe sini?”
Mobil Xiao Jun berhenti di perempatan lampu merah Grogol, Weini tersentak kaget hingga rasa pusingnya tak terasa lagi.
“Aku belum kasih alamatku kan? Kok kamu bisa tahu arah rumahku?”
Xiao Jun bergeming, seolah kepanikan Weini itu hanya ada dalam khayalan. Mobil kembali berjalan dan semakin mendekati jalan menuju rumah Weini.
“Hei! Aku ngomong nih!” Weini jengkel diabaikan. Tetapi percuma, Xiao Jun tetap bungkam dan fokus mengemudi.
“Sudah sampai. Yuk!” Xiao Jun baru buka suara ketika mobil terparkir persis di depan pagar rumah Weini. Ia melepas seatbelt, mengambil dompet dan ponsel di atas dasbor dan bersiap turun.
“Tunggu! Darimana kau tahu rumahku?” Weini belum puas sebelum mendengar jawaban.
“Paman Lau pernah mengantarmu pulang.” Xiao Jun menatap Weini. Tatapan yang terasa memabukkan hingga membuat Weini memalingkan wajah.
“Iya ya. Kok aku bisa lupa.” Weini menepuk jidat. Ia pasti terlihat bodoh di depan pria itu.
Xiao Jun hendak membuka pintu mobil namun Weini menghadangnya. “Eh tunggu. Nggak usah diantar masuk. Aku bisa sendiri.” Gawat jika Haris melihatnya pulang dengan pria.
“Aku hanya mau memastikan kau tak pingsan di depan rumah.” tolak Xiao Jun. alibinya cukup masuk akal.
“Plisss no. Aku nggak siap menghadapi ayahku.” Weini merangkapkan tangan dan merengek seperti bocah. Sayangnya Xiao Jun tak peduli dan tetap keluar dari mobil.
“Hei… jangan ke rumahku!”
***