OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 319 MUSUH DALAM SELIMUT



Lantunan merdu musik oriental, suara tawa yang membahana dari berbagai sudut dalam ballroom, dan tak satupun yang sadar bahwa seorang penyusup telah mengotori suasana bahagia di sana, kecuali Haris. Pria dengan


setelan pakaian serba hitam, berwajah manis dengan potongan rambut yang gaul itu bergerak gesit mendekati Xiao Jun, di sisi lain Haris pun tak kalah cepat menyusul gerak musuh di depan yang sepenuhnya menaruh fokus pada Xiao Jun. Sesaat ketika pria itu mengeluarkan sebuah senjata rahasia dari balik lengan jasnya dan ditujukan untuk melukai Xiao Jun, saat itu pula Haris mengerahkan kemampuan tersembunyinya.


Xiao Jun masih asyik berbincang dan tertawa kecil bersama relasi bisnis Wen Ting, ia tidak sadar bahaya tengah mengintainya. Sedikit lagi penyusup itu berhasil menusukkan senjata pada Xiao Jun yang berjarak 60 cm darinya, namun seketika itu juga suasana berubah drastis. Haris terpaksa mengerahkan kemampuan sihirnya untuk menghipnotis semua yang ada di sana, tanpa terkecuali. Pemandangan yang terlihat dari suasana pesta itu sekarang hanyalah kesunyian dan orang-orang yang berubah menjadi patung, kecuali Xiao Jun.


Xiao Jun baru menyadari kejanggalan yang sedang terjadi dan saat perasaannya peka menangkap tanda sihir dari ayahnya. Mata Xiao Jun membulat besar, ia belum sempat menata hatinya yang terkejut melihat apa yang terjadi di depannya. Secepat kilat Haris setengah terbang sambil menyeret seseorang keluar dari ballroom. Xiao Jun mengejar jejak ayahnya, ia pun mulai mengerahkan kemampuan sihirnya untuk berlari cepat, persis ketika ia mengejar Weini yang turun dengan lift.


Haris memboyong tubuh pria yang berhasil ia takhlukkan dengan sihir hingga ke atas rooftop hotel. Hanya itu tempat yang paling aman dan tidak terjangkau siapapun saat ini. Setelah ia memastikan situasi telah aman, Haris mengerdipkan mata dan seketika itu pula keadaan dalam ballroom kembali normal. Musik kembali dilantunkan, suara penyanyi yang merdu melanjutkan nyanyiannya, serta canda tawa para tamu yang bersuka cita, semua kembali hidup.


Penyusup yang kini berada dalam cengkraman Haris pun ikut sadar, ia gelagapan dan nyalinya menciut lantaran bingung dengan apa yang terjadi padanya. Jelas-jelas ia tadi berada di dalam ruangan, namun entah bagaimana ceritanya ia bisa berada di tempat gelap berpayungkan langit malam nan dingin. Haris menatap nanar pada penyusup itu, jiwa pengawalnya keluar untuk tegas menakhlukkan musuh.


Xiao Jun berhasil menyusul Haris tepat waktu, ia berdiri di depan pintu kecil yang menghubungkan rooftop dan terkesiap melihat apa yang terjadi. Ayahnya membekukan seorang pria yang gelagatnya seperti pembunuh


bayaran. Yang tidak Xiao Jun sangka adalah kehadiran pengacau dalam suasana pesta, andai ayahnya tidak sigap saat itu, entah kekacauan apa yang akan menjadi akhir pesta Li An dalam sekejab.


“Katakan siapa tuanmu, aku akan melepaskanmu hidup-hidup.” Gertak Haris bersungguh-sungguh. Matanya tajam menghakimi si pria dan berusaha membaca semua isi pikirannya. Pria itu berpendirian kuat dan sanggup bungkam meskipun kematian mengancam di depan mata. Haris tahu betul itu adalah prinsip seorang pengawal seperti dirinya, namun kepada siapa orang ini bekerja adalah hal yang ingin Haris ungkap.


“Oh tidak.” Umpat Haris reflek saat menyadari isi pikiran pria itu lebih memilih bungkam dan mati ketimbang membocorkan rahasia. Niat pria itupun berhasil, karena Haris terlambat menggagalkannya menggigit pil beracun yang sudah disiapkan di bawah lidah pria itu dalam keadaan terdesak.


“Ayah?” Xiao Jun berlari menghampiri Haris saat mendengar suara Haris yang meninggi. Xiao Jun terkejut mendapati tubuh pria itu tak bergerak dalam cengkraman ayahnya. Pria asing itu tidak bernyawa lagi dengan mata terbelalak serta hidung dan mulut yang mengeluarkan darah.


Haris melepaskan tangannya dari tubuh pria yang sudah menjadi mayat itu. Ia masih mencari tahu identitas atau barangkali petunjuk yang bisa mengacu pada jawaban atas rasa penasarannya. Haris meraba pakaian serta tubuh yang terbujur diam itu dan Xiao Jun terus mengamatinya.


“Dia sudah mati.” Ujar Haris menjawab pertanyaan dalam hati putranya. Perhatian mereka belum teralih dari sosok tubuh pria itu, Xiao Jun ikut berjongkok dan ikut menyelidiki.


“Apa mungkin ini orang suruhan tuan Li?” Xiao Jun mulai berasumsi, jelas motivasi pihak yang tidak senang dengan kebahagiaan Li An dan Wen Ting adalah Li San. Mungkin saja Li San enggan membiarkan kakaknya hidup bahagia dengan pria yang luar biasa hebat dan berpengaruh.


Haris menggelengkan kepala dengan pelan, “Sasarannya adalah kamu, kalau tuan Li yang mengirimnya untuk apa dia mau membunuhmu?” Gumam Haris. Agak tidak masuk akal jika menyimpulkan bahwa Li San adalah otak di


“Lalu siapa ayah?” Tanya Xiao Jun penasaran. Ia menatap lekat pada Haris.


Haris tidak bisa menjawab, ia sendiri berusaha mencari tahu namun satu-satunya orang yang bisa ditanyakan malah memilih mengorbankan diri demi tuannya. Nasib seorang pengawal seperti Haris, di mana nyawa terkadang tiada harganya ketimbang sebuah pengabdian. Beruntung bagi yang mendapatkan tuan yang punya perasaan, jika tidak maka akan bernasib sama dengan pria yang kematiannya belum tentu dihargai oleh sang tuan.


“Ayah tidak tahu, yang pasti kita harus membereskan jasadnya dulu.” Ujar Haris, ia belum mendapatkan ide rencana selanjutnya untuk mengurusi tubuh yang mulai kaku itu.


Xiao Jun ikut berpikir, “Ini bukan area kekuasaan kita, sebaiknya kita tunggu pesta selesai dan bicarakan dengan Wen Ting.”


***


Li San duduk gusar dalam ruang bawah tanah di bawah aula utamanya. Ruangan rahasia yang bahkan tidak diketahui oleh Liang Jia. Ia perlu ketenangan serta menjamin keamanan saat tangan kanannya datang melaporkan misi rahasia mereka. Seorang pengawal senior menghadap Li San sembari memberikan penghormatan. Li San menyibak tangannya sebagai isyarat agar pengawal itu berdiri dan segera menyampaikan informasi.


“Lapor tuan, misi kita tidak berhasil. Seseorang menyusup dan membunuh pengawal kita sebelum ia berhasil masuk ke dalam hotel.”


Li San terguncang mendengar kabar yang sangat buruk itu. Tangannya mengepal dan gemetaran menahan kesal. “Kenapa bisa gagal? Kita sudah menyiapkan segalanya dengan matang, pengawal yang dikirim pun sangat terlatih


menyusup. Apa dia ketahuan lalu dibunuh oleh orang suruhan Wen Ting?”


Pengawal senior itu menundukkan kepala lalu bersujud, kemurkaan Li San saat ini memang wajar. Mereka sudah menyiapkan rencana dari jauh hari dan sangat matang, namun siapa yang menyangka di hari H justru yang terjadi di luar prediksi. “Hamba tidak tahu tuan, tetapi hingga sekarang pesta itu masih berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Tetapi yang janggal adalah pengawal kita dibunuh dan dilucuti pakaiannya, semua identitas dan kartu akses pun ikut raib. Jika benar orang suruhan tuan Wen Ting yang membunuhnya, untuk apa harus ditelanjangi seperti itu? Jika ingin memeriksanya pun tidak perlu melucuti semua pakaiannya.”


Li San mengangkat satu alisnya, masuk akal asumsi yang disampaikan pengawalnya. “Jadi maksudmu ada pihak yang memanfaatkan situasi ini dan melanjutkan penyamaran menggunakan semua milik orang kita?”


“Benar adik. Kamu memang jeli, aku salut dengan instingmu. Ha ha ha ….” Pembicaraan Li San dan pengawalnya diinterupsi oleh kehadiran sosok yang tidak terduga. Tawa tamu tak diundang itupun mengguncang batin Li San yang langsung bergejolak.


“Kakak, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu bisa tahu tempat ini?” Tanya Li San yang saking terkejutnya hingga beranjak dari tempat duduk. Ia menatap tajam pada Kao Jing yang terus berjalan mendekatinya.


***