
Grace membuang muka, ia tak bersedia menatap Weini yang menyorotinya dengan tatapan lembut. Semakin diperlakukan baik, Grace makin tidak sanggup menahan rasa sedihnya.
“Aku tahu kamu tidak melakukannya untukku, tapi setidaknya kamu menghargai perasaan orang yang mencintaimu. Di luar sana ada pria baik yang tak henti menangisimu.” Ujar Weini pelan. Sulit menemukan kata-kata yang pas untuk berbincang dengan Grace dalam kondisi tegang begini. Gadis itu rentan tersinggung karena rasa putus asa yang sangat besar pada dirinya.
Grace luluh seketika ketika tahu apa yang Stevan lakukan demi dia. Ia menatap Weini dengan genangan air mata yang tak bisa ditampung lagi. “Pria bodoh itu, dia salah jatuh cinta. Tolong bilang padanya aku tidak akan memaafkannya kalau dia terus menangisiku.”
Weini menggelengkan kepala, “Kenapa tidak katakan langsung padanya? Pria bodoh itu terlalu mencintaimu, dia mungkin tak akan pernah memaafkanmu jika kehilangan dirimu saat ini.” Ungkap Weini tersenyum tipis.
Grace tak lagi menjawab, rasa nyeri yang hebat mulai menusuk jantungnya. Wajahnya sampai mengkerut menahan sensasi itu. Weini terus memegang tangan Grace yang satunya, dan Grace tak menolak perhatian itu. Ada rasa hangat dan nyaman dari sentuhan Weini, terasa kasih sayang yang tulus dari Weini untuknya.
“Kita tidak punya hak mengatur kematian sendiri, takdir yang punya kehendak. Jangan pergi, kamu harus terus hidup.” Bisik Weini lembut, kata-kata itu seakan mengandung kekuatan yang memotivasi semangat Grace, namun hanya sekejab saja.
Grace kembali menundukkan wajah, menyembunyikan raut pasrahnya. “Aku benci dengan kehidupanku sekarang, untuk apa hidup? Jika benar ada kehidupan kembali, aku tidak sudi menjadi bagian keluarga itu lagi. Aku tidak mau menjadi anaknya lagi, aku mau terlahir sebagai laki-laki.”
Deg! Kata-kata Grace barusan menohok Weini. Terdengar familiar dan menyakitkan baginya, namun mengapa ada kemiripan antara ia dan Grace? Tersudutkan hanya karena terlahir sebagai seorang perempuan. “Tapi kamu
masih punya kesempatan bahagia dengan orang yang bisa menerimamu. Jika memang keluarga itu tidak bisa diharapkan ….” Ujar Weini sedikit ragu hingga suaranya terdengar lemah.
Grace tersenyum nyengir, Weini tak akan mengerti posisinya. Betapa terkungkungnya ia sebagai nona dari seorang ayah bernama Kao Jing. Ia tertipu kasih sayangnya, yang dikira tulus dari seorang ayah. Dan ternyata baru ia sadari bahwa dirinya dibesarkan hingga sekarang untuk dipersiapkan sebagai senjata. Ia tak lain adalah pion sang ayah untuk mengejar ambisinya.
Flashback kejadian di hotel ketika Grace memasukkan pil racun.
Di tangan Grace sudah tergenggam dua jenis pil, ia sudah memikirkan baik-baik. Tidak ada satupun dari ia dan Weini yang lolos dari obat. Saat pil itu larut sepenuhnya, Grace tersenyum tipis dan mengangkat gelas berisi racun itu dengan tangan kiri, sementara di tangan kanan adalah gelas yang akan ia sodorkan pada Weini yang berisi pencahar. Satu-satunya alasan ia kejam pada Weini karena ia tahu besok gadis itu akan menyusul Xiao Jun ke
Beijing. Segalanya sudah diatur sempurna, bukan hanya Xiao Jun yang punya kuasa, namun Chen Kho pun punya siasat tak terduga untuk menjebak mereka. Hingga Grace mengambil keputusan nekad itu, ia masih belum mengerti mengapa nyawa Weini begitu berarti bagi kakaknya. Nyaris setiap saat ia diteror Chen Kho yang meyakinkan agar ia menguatkan tekad, jangan goyah karena rasa takut dan kasihan, ia tinggal memasukkan pil lalu menyodorkan pada Weini, dan tugasnya selesai.
Ketika melihat kepolosan Weini yang tanpa curiga sedikitpun padanya, Grace kian merasa bersalah. Meskipun hanya obat pencuci perut yang diberikan, namun ia tetap menyebabkan kesakitan pada Weini. Dalam hati Grace tak henti meminta maaf pada Weini, yang tak mungkin terucapkan secara langsung. Topeng yang ia pakai untuk berhadapan dengan Weini kala itupun sangat memuakkan, saat ia harus bermanis kata namun hatinya terasa pahit. Grace mungkin masih punya pilihan untuk tidak meneguk racunnya, tetapi rasa bersalah pada Weini dan tak mampu menjerat gadis itu sebagai korban kakaknya lah yang membuat Grace mengesampingkan rasa takutnya. Diteguknya wine beracun itu dengan segala keberanian yang tersisa, harapannya hanya agar kematiannya tidak sia-sia dan menjadi pukulan bagi keluarganya lalu berhenti mengusik hidup Weini dan Xiao Jun demi ambisi gila mereka.
Flashback selesai.
Dan semuanya tampaknya sia-sia, pengorbanan nyawa Grace setelah ia pikirkan rasanya bukan sesuatu yang mencambuk hati ayahnya. Grace baru teringat bahwa Kao Jing pernah berkata bahwa jika ia ingin menjadi anak
“Terlambat, aku tidak akan tertolong lagi. Weini, aku mohon setelah ini hibur Stevan. Bantu dia move on dariku. Aku tidak pantas untuknya.” Pinta Grace, ia membalas genggaman tangan Weini.
Weini tersenyum mendapati respon balik dari Grace, hal yang ia perlukan untuk bertindak lebih lanjut. Gadis itu menggeleng seraya tersenyum, “Tidak. Aku tidak akan mengatakan itu padanya. Kamu saja yang katakan langsung.” Tolak Weini.
Grace menunduk, “Aku tidak mau bertemu dia, jangan sampai dia menyaksikan kematianku.” Ujarnya lemah, tak tersisa harapan.
“Kamu masih punya banyak waktu bersamanya, percaya padaku!” Ujar Weini mantap. Tangannya meremas jemari Grace yang lembut, menjalarinya sebuah denyut kehidupan baru.
Grace malah menangis mendengar itu, “Jangan terus menghiburku, aku tak punya banyak waktu lagi. Weini … Dengarkan aku, jangan susul Xiao Jun ke Beijing. Di sana ada perangkap untuk menjebakmu. Jangan pergi … Mereka tidak akan melepaskanmu!”
Weini tersentak dengan pengakuan Grace, giliran ia yang penasaran dan tak habis pikir kenapa ada yang mengintainya di Beijing. “Mereka? Siapa mereka? Kenapa mereka mau menjebakku?” Weini mendesak Grace secara tak langsung, tangannya mengeluarkan tenaga ekstra hingga kekuatannya tidak terkontrol.
Grace merasakan nyeri hebat di jantungnya, seketika ia mulai sesak dan kesulitan bicara. Meskipun ingin menjawab Weini, namun mulutnya tak mampu lagi melontarkan sepatah katapun.
Weini tersadar dari apa yang ia lakukan, ia meraih jemari Grace yang sempat dilepaskan sesaat. “Grace … Grace … Bertahanlah!” Weini memencet bel panggilan darurat untuk dokter kemudian mencoba menenangkan Grace.
“Ja… ngan per… gi!” Grace susah payah mengucapkan dua kata itu dengan terbata-bata. Air matanya berderai menatap Weini, keinginannya begitu kuat untuk menyampaikan pesan itu meskipun nyawanya di ambang batas.
Weini tak kuasa menahan tangisnya, ia shock. Entah apa yang dimaksud Grace namun keinginan gadis itu begitu kuat untuk melindunginya. Saat ini Weini sadar bahwa Grace memang berkorban untuknya, meskipun bukan itu satu-satunya alasan.
Tim medis datang tergesa lalu melewati Weini yang masih bergeming di tempatnya berdiri. Ia tak punya kata-kata lagi untuk diucapkan, segalanya terasa menyakitkan.
Dan Grace tengah berjuang antara hidup dan mati ….
***
Hiks … Author turut bersedih untukmu, Grace.