OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 126 SAAT ORANG KETIGA MENGKHAWATIRKANMU



Dina nyaris menyerah dengan segala upayanya menghubungi Xiao Jun dan Lau, wajar bila Weini begitu sedih lantaran tidak biasanya kedua pria itu menghilangkan diri dengan misterius secara bersamaan. Ini panggilan kesekian puluh ke nomor Lau tetapi tidak juga diangkat sedangkan mereka hampir sampai ke lokasi syuting.


“Udah deh kak, nggak usah dihubungi lagi. Biarin ajalah…” Weini ikut lelah melihat usaha Dina yang tak membuahkan hasil. Ia sudah menata hati agar mood dalam bekerja, setidaknya ia bisa mengalihkan rasa sedih dengan menyibukkan diri.


“Ntar kalau belum ada kabar, kita samperin ke apartemennya aja ya non. Non fokus kerja dulu.” Ujar Dina menghibur Weini.


“Hmm… turun yuk kak.” Seru Weini sambil merapikan diri dan mengenakan kacamata hitam sebelum turun. Ia mengganti topic pembicaraan dengan Dina, kebetulan tujuan mereka sudah sampai dan saatnya kembali bekerja. Weini turun lebih dulu dan melenggang masuk ke ruang produksi tanpa menghiraukan siapapun yang menyapanya. Kaca mata sangat efektif menyembunyikan mata sembab serta tatapan tak bersemangat darinya.


Stevan melihat kedatangan Weini serta tingkahnya yang aneh, tidak biasanya gadis ceria itu cuek terhadap sekitar. Setiap kali ia datang, hampir semua kru yang ia temui pasti disapa ramah. Stevan melirik Dina yang tergopoh menggotong tas perlengkapan Weini, saking tidak perhatiannya Dina tersandung kabel kamera yang belum dirapikan kru. Tubuhnya terhuyung dan nyaris jatuh, beruntung saja Stevan dengan gesit menahannya.


“Thanks” Ujar Dina nggak enak hati merepotkan aktor tampan yang menolongnya.


“Tas lu kegedean sampe kabel aja dilabrak.” Goda Stevan usil.


Dina sewot, komentar Stevan barusan seakan ia yang sengaja mengusili kabel. “Namanya juga lagi apes. Udah ah, non Weini udah masuk duluan. Dah…”


“Wait wait, gue masih ada perlu ama lu.” Stevan menarik lengan baju Dina hingga gadis itu mau tak mau berhenti.


Dina memandangnya dengan heran, apa pentingnya dia sampai harus ditahan oleh Stevan?


“Apaan?”


Stevan celingukan ke sekeliling sebelum fokus pada Dina, “Dia kenapa?”


Akhirnya Dina sadar sikap ramah Stevan tak lain karena penasaran dengan perubahan sikap Weini. Diam-diam aktor itu masih perhatian pada lawan mainnya, meskipun pernah ditolak cinta namun ia tetap menunjukkan kepedulian. Dina tak akan menampik masalah apa yang sedang dialami Weini, toh Stevan juga mengenal Xiao Jun barangkali ia bisa membantu menghubunginya.


“Itu… tuan Xiao Jun dan asistennya nggak bisa dihubungi jadi non galau aja. Ya kali ada apa-apa sama mereka, nggak biasanya sih mereka kayak gitu. Aku juga heran, kemana tuh tuan muda baru beberapa hari tunangan eh kok ilang. Kita aja belum nodong dia makan-makan.” cerocos Dina bak ember bocor.


Stevan mengernyitkan dahi, gadis yang ia cintai tengah tersakiti oleh pria pilihannya. Walaupun tersisihkan dari persaingan cinta ini, Stevan tidak menaruh dendam pada Xiao Jun. Justru ia heran, Xiao Jun yang segitu cinta pada Weini bisa hilang tanpa kabar berita.


“Sejak kapan?” tanya Stevan singkat.


Dina mengingat-ingat persisnya sejak kapan kedua bosnya putus komunikasi. “Mmmm… kayaknya kemarin malam tuan Xiao Jun ngapel deh, apa mungkin mereka bertengkar ya? Duhh kok aku nggak nanya dulu ya mereka kenapa gitu?” Dina malah gemes pada dirinya sendiri, ia baru sadar belum bertanya apa ada masalah dengan mereka


berdua hingga salah satu memutuskan komunikasi.


Stevan nyengir, ia mengira Dina bisa diandalkan ternyata IQ nya tak cukup tinggi untuk jadi manager yang teliti. “Lu orang paling deket sama dia tapi nggak tahu apa-apa. Nggak becus ah…”


Stevan diam saja, ia tetap tidak puas dengan keterangan dari Dina. “Gue nggak yakin dia orang kayak gitu.” Ia mengeluarkan ponsel dari kantong jasnya, jika belum kroscek langsung ia tidak percaya Xiao Jun tidak bisa dihubungi.


“Coba telpon aja, kali lu yang telpon malah diangkat.” Perintah Dina sok mengatur Stevan. Ia ikutan kepo melirik layar ponsel Stevan yang mencari kontak Xiao Jun.


Stevan menelpon di hadapan Dina, ia bahkan menekan tombol loudspeaker saat menghubungi Xiao Jun. senyum Dina tersungging ketika suara mbak operator menyatakan nomor yang dituju sedang tidak aktif.


“Ah kan, apa kata ku. Masa sih seorang bos mematikan ponsel segala, lah urusan bisnisnya gimana dong? Aneh nggak menurutmu?” tanya Dina, ia perlu teman untuk memastikan spekulasinya.


“Entahlah. Gue kan bukan bos, mana gue tahu aneh kagaknya.” Ujar Stevan sesuka hati, ia melangkah pergi begitu saja. Pikirannya sibuk mengkhawatirkan Weini, sikap aneh gadis itu pasti hanya tameng menutupi kesedihan. Sebelum memastikan sendiri, Stevan belum tenang membiarkan Weini syuting apalagi scene kali ini banyak


adegan romantis yang menuntutnya ceria. Ia mengintip Weini yang sedang dirias tim make up artis dari balik jendela studio.


“Ya ampun say, sembab banget matanya. Abis nangis ya say? Nampak banget loh.”  Ujar si penata rias histeris saat kaca mata hitam Weini tersibak. Sepasang mata indah Weini mulai bengkak akibat tangisan.


“Masih bisa diakalin kan mbak? Ditutup pake concealer bisa nggak?” Weini ikutan panik, perasaan ia hanya menangis sebentar ternyata berefek fatal pada penampilannya. Beda cerita jika ia libur dan menangis sejadi-jadinya, mata sebengkak kaki gajah pun tidak ia pedulikan asal hatinya plong.


“Bisa sih…” ujar si penata rias kemudian sibuk mengakali mata sembab itu dengan sapuan make up.


Weini hanya duduk pasrah wajahnya dipermak seperti apapun, ia bahkan tidak menyadari sedang dimonitori oleh Stevan dari belakang. Matanya terpejam, di samping untuk mengistirahatkan sejenak dari perih, ia juga mengikuti arahan si penata rias yang sibuk memakaikan beragam krim di bawah matanya.


Dina baru saja tiba dengan menjinjing tas besar berisi kostum dan lagi-lagi ia bertemu Stevan. “Lah, kirain lagi reading naskah kok malah ngintip di sini?”


Dipergoki sedang mengintip jelas membuat Stevan kikuk, ia buru-buru menempel telunjuk di bibirnya untuk mengkode Dina agar tutup mulut. “Gue cuman mau pastiin keadaan dia, plis jangan kasih tahu dia.” Tanpa menunggu diusir, Stevan bergegas pergi dari hadapan Dina.


Dina hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Stevan. Sebelum masuk menyusul Weini, ia malah sempat berpikir  betapa beruntungnya Weini dicintai dua pria berkualitas A+. Coba dibandingkan dengan dirinya yang masih menjomblo, jangankan didekati dua pria bahkan satu pun belum ada yang mengincarnya. “Daripada mubajir, Stevan sama aku aja deh. Setuju gak pembaca? Hehehe…”


Di saat sedang asyik melamunkan pria tampan, Dina dikejutkan dengan getar ponsel Weini yang ia kantongi. Dilemparnya tas berat yang ia jinjing agar leluasa meraba ponsel itu keluar dari saku celana jeans. Dina optimis panggilan masuk di ponsel nona nya pasti dari seseorang yang sejak pagi mereka hubungi. “Nona pasti senang kalau tuan yang telpon.”


Sayangnya ketika melihat layar ponsel, nama penelpon adalah paman Lau. Dina melirik ke dalam melihat Weini yang masih sibuk dirias, jika bukan Xiao Jun yang menghubungi mungkin tidak apa-apa kalau Dina yang menerimanya.


“Halo paman.”


***