
Beberapa teman lama datang mengunjungi Lau tanpa pemberitahuan, tanpa permisi mendobrak masuk ruangan yang ia kunci. Lau meletakkan ponsel yang masih terhubung dengan Weini, panggilan Weini yang samar-samar terdengar menyadarkannya bahwa pembicaraan mereka belum berakhir. Dipencetnya tombol merah pada layar untuk menutup telpon, apa yang terjadi selanjutnya tidak perlu didengarkan orang lain. Cukup ia selesaikan secara jantan, antara pria dengan pria.
“Pengawal He lama tidak berjumpa, mengapa begitu tegang pada pertemuan ini? Anda sekalian jauh-jauh kemari pasti lelah, mari kubuatkan teh dan bicarakan dengan tenang.” Lau masih berusaha tenang meskipun ia tahu tujuan mereka repot-repot menghampirinya pasti untuk menangkapnya.
“Ku hargai keramahanmu, Lau. Tapi maaf kita tidak punya banyak waktu bertele-tele, tuan besar memerintahkan kami menangkapmu atas tuduhan kerjasama kebohongan dengan tuan muda.” Pengawal He menunjukkan plakat perintah yang dibekali oleh Li San, dengan kuasa plakat itu siapapun yang diberi tugas punya hak istimewa
menentukan strategi ataupun menghalalkan segala cara untuk menyelesaikan misi tugas. Jika Lau terbunuh saat penangkapan inipun maka pengawal yang ditunjuk khusus untuk bertugas akan luput dari hukuman, inilah kekuasaan penuh yang dimaksud dari si pemegang plakat.
Lau masih bisa tersenyum dan tenang walaupun misi kedatangan tamunya sudah ia dengar. Ia enggan mengelak atau kabur, bagaimanapun juga ia lebih tenang bila ada di dekat Xiao Jun yang pastinya mengalami kesulitan seorang diri di sana. “Oh, kalian mau langsung melaksakan perintah. Aku tidak akan melarikan diri, lebih enak menyusul tuanku daripada mengurusi bisnis sendirian. Mumpung ada kesempatan di luar, lebih baik menikmati secangkir teh lokal lalu aku akan ikut kalian tanpa perlawanan.”
Pengawal He dan tiga rekannya saling memandang, mereka heran dan ragu dengan tawaran yang janggal itu. Perkiraan mereka misi penjemputan paksa ini akan berujung pertikaian atau mungkin pertumpahan darah mengingat kemampuan kungfu Lau yang sangat mumpuni. Nyatanya ia bersedia dibawa setelah tawaran minum tehnya disetujui.
“Tepati ucapanmu untuk kooperatif setelah jamuan minum selesai, ikut kami tanpa perlawanan.” Pengawal He memastikan kembali sebelum ia setuju untuk duduk sejenak.
Lau tersenyum, “Kita hampir tiga puluh tahun menjadi pengawal, apa masih kurang lama untuk saling mengenal?”
Pengawal He dan anak buahnya dipersilahkan duduk di sofa ruangan itu, Lau sendiri yang menyeduh teh dari dapur mini di ruangan kantor Xiao Jun. Cita rasa teh Jawa Tengah yang belum pernah dinikmati para pengawal itu, Lau yakin akan sesuai dengan selera mereka.
Lima cangkir teh tersaji di atas meja, Lau memberikan satu persatu pada rekannya tetapi mereka terlihat ragu mencicipi. Lau melirik reaksi mereka kemudian ia menyeruput teh panas itu terlebih dulu. “Tenang saja, tidak ada racun dalam minuman kalian. Atau perlu kucicipi satu persatu supaya kalian yakin?”
Pengawal He enggan dinilai negative, ia mengambil cangkir jatahnya dan mulai menyeruput. Melihat komandonya minum, pengikut yang lain pun langsung mengambil bagiannya. Senyuman tipis menyungging dari bibir Lau, seburuk apapun kondisinya jika bisa duduk dan dibicarakan dengan tenang pasti lebih baik daripada menggunakan kekerasan.
“Pengawal He, apakah tuan Xiao Jun baik-baik saja?” tanya Lau, ia mencoba mengambil hati rekan seprofesinya.
Pengawal He kurang senang disodori pertanyaan tentang tuan muda yang sedang bermasalah itu. Dalam benaknya, Lau pasti merencanakan sesuatu. “Kau masih berani bertanya setelah persekongkolan yang dilakukan dengan tuan muda? Nyalimu besar juga, jangan dikira karena aku bersedia mengulur waktu demi tawaran minummu lalu kau kira aku bisa diajak kompromi. Maaf pengawal Lau, hukum tetap hukum jangan samakan dengan persahabatan.”
Lau tertawa kecil mendengar argument itu, “Ha ha ha… apa kau kira aku mau menyuapmu dengan minuman ini? Bisakah kita menanggalkan sejenak jabatan dan bicara dengan status teman?”
“Ha ha ha… aku hanya menjalankan tugas melindungi dan melayani tuanku, apa loyalitas itu disebut persekongkolan? Anda juga pengawal, jika ada di posisiku apakah harus bertentangan dengan tuanmu?” ujar Lau, ia tetap berpembawaan tenang.
Pertanyaan Lau sukses membuat pengawal He mengernyitkan dahi, ia membayangkan posisi itu dan tak bisa memungkiri hati kecilnya. Andai dia berada dalam posisi Lau, mungkin akan melakukan hal yang sama. “Ya, ini pilihan yang sulit tapi tuan besar adalah tuan utama kita. Kau harusnya jadi kaki tangan tuan besar dan melaporkan sikap tuan muda yang mulai melenceng. Kita hanya bawahan, apa artinya nyawa kita jika sudah dalam masalah. Tuan muda tetap anak kesayangan, sesalah apapun dia tuan besar tidak akan membunuhnya. Sekarang siapa yang bisa menolongmu? Kau yang paling dikorbankan dalam masalah ini.”
“Bisa berkorban untuk tuan Xiao Jun adalah kebanggaan terbesarku, aku bersedia mati untuknya dan tidak akan ada penyesalan.” Ujar Lau Mantap.
Pengawal He yang semula antipati mulai simpati pada kesetiaan Lau. Ikatan batin mereka pasti sangat dalam lantaran sejak kecil Lau lah yang mengurus Xiao Jun. “Itu pilihanmu, aku tidak menyalahkan.”
“Aku bersedia ikut, namun bagaimana nasib perusahaan ini selepas kepergianku? Tuan Xiao Jun membangunnya dengan kerja keras, aku ikuti proses perjuangannya. Sangat disayangkan kalau terbengkalai hanya karena masalah keluarga.” Lau serius menyuarakan isi hati, amanah Xiao Jun untuk mengurus bisnis selama kepergiannya itu menjadi beban jika harus ikut pulang.
Pengawal He tertawa, “Bicara seperti itu seakan kau tidak kenal tuan besar. Urusan bisnis tidak akan dicampur aduk dengan masalah keluarga. Dia sudah mengirimkan tim professional untuk menjalankan perusahaan ini tanpa kalian. Apalagi yang kau bebankan?”
Lau ikut tertawa, ia terlalu meremehkan Li San. Nyatanya ia lah yang tak dianggap dan mudah tergantikan. “Syukurlah, aku bisa pergi tanpa rasa bersalah pada tuan muda. Pengawal He, kelak kutitipkan tuan besar dan tuan muda padamu. Anggap saja ini wasiatku, waspadai pengkhianat yang sesungguhnya! Kalian dengan mudah
memvonisku bersekongkol, tapi di dekat kalian pasti ada pengkhianat yang sedang tertawa puas. Kau bisa percaya atau tidak, tapi kumohon setelah kematianku tolong jaga tuan Xiao Jun untukku.”
Pengawal He tidak menjawab permohonan Lau, meskipun terdengar menyedihkan tapi mereka ditakdirkan menjadi pengawal berhati sekeras baja. Abaikan perasaan dan tepis air mata, hidup mati hanya demi mengabdi dengan resiko mati terhormat atau tercela.
Lau menyodorkan kedua tangan, bersedia diborgol sesuai prosedur penangkapan. Tidak ada gunanya melakukan perlawanan, yang ada hanya memperparah hukuman dan menyulitkan tuannya. Ia hanya berharap sebelum eksekusi berlangsung, ia masih diberi kesempatan memberikan penghormatan terakhir pada Xiao Jun. Berterima
kasih atas segala kebaikan dan keakraban yang Xiao Jun berikan selama ini.
Tuan muda, maafkan aku tidak bisa melindungi Weini. Jika ada kehidupan lain, aku bersedia menjadi pengawalmu lagi.
***