OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 431 KUTUKAN DIA



Weini masih berdiam dalam kamarnya, entah sudah berapa lama tetapi goncangan yang beberapa saat lalu terasa jelas itu sudah sepenuhnya hilang. Keadaan kembali normal dalam keheningan, dan tidak terasa lagi getaran magic seperti sebelumnya.


"Siapa dia yang dimaksud? Dia? Berarti ada orang selain dia yang ikut andil dalam masalahku." Weini tak habis memikirkan kata-kata Chen Kho. Hingga saat inipun Weini belum tahu siapa nama pria yang menyekapnya itu.


Susah payah Weini mengingat semua yang pernah Chen Kho katakan, sedetail mungkin. Hingga teringat satu hal yang sangat Weini sesali baru meresponnya. "Dia memanggilku sepupunya, apa mungkin dia kakak Grace?" Tanya Weini pada dirinya.


Teka-teki itu mulai ada titik terang, Grace pun pernah bilang untuk menjauhi kakaknya, bahwa kakaknya mengincar nyawa Weini. Ya, Weini sangat yakin bahwa pria di luar itu adalah sepupunya juga.


"Kenapa kamu tega? Kita bahkan masih satu darah, satu leluhur." Gumam Weini sedih, ia tak menampik bahwa keluarganya cukup aneh, tidak ada rasa kekeluargaan yang kuat dan justru saling menikam satu sama lain.


Rasa penasaran yang besar menghilangkan rasa takut di hati Weini, ia menyingkirkan meja yang menghalangi pintu kemudian keluar dari kamar dengan penuh waspada. Langkahnya dipelankan meskipun sebenarnya jejaknya tidak meninggalkan suara, ia menuju ruang tengah yang tadi jadi sasaran amukan Chen Kho.


Saar mendekati koridor ruang tengah, banyak serpihan kaca yang berceceran di lantai. Untung saja Weini cukup awas hingga tidak melukai telapak kakinya. Barang-barang yang semula rapi terpajang pun banyak yang hancur berantakan, namun Weini belum menemukan Chen Kho. Ia bingung dan cemas kalau pria itu sudah pergi dan meninggalkan ia sendirian di sini.


Suara tubuh yang menggeliat dan bergesekan dengan sesuatu terdengar samar-samar, Weini menajamkan pendengarannya serta mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari sumber bunyi itu. Matanya menangkap sesosok tubuh yang meringkuk dengan tangan menutupi kepala. Weini melihatnya, pria yang ia cari ternyata masih ada di sini.


Weini bergegas menghampirinya, tidak ada kekhawatiran kalau Chen Kho akan melukai dirinya. Yang ada justru ia merasa cemas dengan kondisi Chen Kho yang tampaknya terluka. Weini berjongkok di hadapannya, melihat dalam diam pria yang menyembunyikan wajah dengan lutut yang ditekuk.


Chen Kho menyadari kehadiran Weini, setelah susah payah menguasai diri dari sesuatu yang merasukinya, ia kembali normal meskipun tangannya terluka akibat amukan yang dahsyat.


Perlahan Chen Kho menengadah dan tatapan matanya beradu dengan Weini, gadis itu hanya diam menatapnya prihatin.


"Kamu tidak takut? Tidak sembunyi dariku?" Senyum Chen Kho mengembang tipis.


Weini tak menjawabnya, ia terus menatapi pria yang terlihat miris itu. "Aku belum tahu siapa namamu, jika kita memang sepupu berarti kau saudara dari Grace?" Tanya Weini yang mulai mengatur jarak agar tidak terlalu dekat dengannya.


Pria itu menyeringai, seperti menyembunyikan sesuatu. Ia pun tak lagi beradu pandang dengan Weini karena mengalihkan perhatian pada langit langit ruangan itu.


"Li Chen Kho, sepupumu yang tidak berguna."


Lirihnya pelan.


Dari sorot matanya yang kosong, Weini bisa melihat keputus-asaannya yang jelas. Tak ada semangat dari binar mata itu.


"Siapa dia? Dia yang menyuruhmu membuat kekacauan ini?" Tanya Weini lagi, ia pun bersiap kabur jika Chen Kho kembali mengamuk gara-gara pertanyaan itu.


Hingga beberapa detik berlalu, kondisi tetap aman dan di luar prediksi Weini. Chen Kho masih terus menatap ke atas, seperti bisa melihat awang-awang. Senyumannya terlihat seperti mengejek dirinya sendiri, tak lama tawanya pecah.


Anehnya, Weini tidak merasa takut, ia justru merasa prihatin dan tanpa disadari air matanya menetes.


"Dia tidak punya perasaan, dia bilang dia itu bagian dari kita. Tapi mengapa dia justru mau menghabisi keturunannya?" Chen Kho mulai buka suara.


Weini terkesiap, ia tak mengerti maksud pembicaraan Chen Kho. Mungkin pria itu sedang bicara melantur ataukah itu sungguh kenyataan?


"Maksud kamu apa?"


Chen Kho menatapnya, bola matanya bergerak meskipun fokusnya tetap pada Weini, ia seperti orang yang tengah ketakutan.


"Yue Hwa, kau harus segera pergi dari sini. Dia... Dia bisa membunuhmu. Aku tidak mau mengotori tanganku karena ulahnya. Aku tidak mau melukaimu!" Pekik Chen Kho, ia meraih paksa tangan Weini.


Weini menggeleng cepat, tangannya digenggam kencang oleh pria itu. Ia ingin melepaskan diri, namun Chen Kho ternyata mulai menyalurkan sesuatu padanya. Weini tak bisa mengerti maksud Chen Kho, ia jelas tahu bahwa pria itu sengaja memberikan kekuatan kepadanya.


"Kenapa kau lakukan itu padaku? Kenapa kau perlu sebaik itu?" Tanya Weini tak habis pikir, aliran energi yang disodorkan Chen Kho luar biasa besar, Weini sampai berpeluh keringat dan tubuhnya terasa panas mendapatkan donor energi sebesar itu.


Chen Kho tertawa keras, entah apa yang lucu menurutnya. Weini hanya diam saja menanti jawabannya, pria itu terlihat seperti gila namun sebenarnya Weini merasa sangat iba. Chen Kho terlihat sangat menderita, sangat tidak bahagia.


"Kalau saja aku bisa menghilangkan seluruh kekuatan dia, aku rela. Matipun aku rela." Gumam Chen Kho.


Sayangnya niat Chen Kho untuk menyerahkan seluruh kekuatan pada Weini, nyatanya tidak berhasil. Tubuh mereka berdua terpental, bagaikan magnet yang saling tolak menolak.


Weini terpelanting hingga tengkurap di lantai, sedangkan Chen Kho menghantam dinding dengan keras baru terjatuh ke lantai.


"Chen Kho!" Pekik Weini khawatir.


Chen Kho malah tersenyum, meskipun tubuhnya babak belur, ia tetap berusaha mendekati Weini dengan merangkak.


"Hwa, andai aku bisa lepas dari jeratan takdir ini, aku ingin kau menikah denganku."


Weini menggeleng lemah, percuma meminta cintanya, ia tidak akan bisa. "Aku tidak bisa, aku sudah terikat. Hatiku sudah diikat." Tegas Weini.


Chen Kho mengangguk, tawa kecilnya terdengar. "Ya, aku tahu... Aku tahu bahwa aku tidak akan memiliki cinta. Aku tidak bisa mendapatkan siapapun yang aku cintai, itulah kutukan sialan yang dia berikan. Sihir sialan yang membuatku terkutuk!" Kesal Chen Kho, ia sungguh mengamuk pada sosok 'dia' yang selama ini mempengaruhi tindakan jahatnya.


"Dia siapa? Katakan padaku! Aku akan membantumu mengalahkan dia!" Weini lagi-lagi menegaskan pertanyaan yang belum terjawab itu.


Chen Kho terdiam, bukan karena ia tidak ingin menjawab tetapi karena ia tidak mampu. Bibirnya serasa dibekam sesuatu yang tak tampak, ia dikunci rapat untuk mengatakan siapa 'dia'.


"Kamu... menguasai ilmu dia juga... Kamu... kamu... mungkin dikutuk untuk... tidak bisa memiliki orang yang... kau CINTAI." Setengah mati Chen Kho mengatakan itu, hingga ia menyaringkan suaranya di bagian akhir. Itulah efek yang mungkin Weini alami, diteror oleh sesuatu yang tidak ia sadari telah merasuki dirinya.


"Apa maksudnya?" Pekik Weini, ia terkejut mendengar kutukan itu juga ada padanya. Ia tidak merasa mempelajari sesuatu dari 'dia', tapi mengapa 'dia' justru hendak mencelakainya.


Chen Kho tak lagi bisa menjawab, ia benar-benar tak sadarkan diri lagi sekarang. Kekuatan besar yang menghimpitnya terus dan berusaha ia lawan dengan kekuatan manusianya yang tak seberapa. Alhasil, ia pingsan karena kelelahan.


"Chen Kho...." Saat Chen Kho tak sadarkan diri, kekuatannya tak bereaksi lagi terhadap Weini. Mereka tidak saling bertolak dan Weini segera menghampirinya. Semula ia mengira Chen Kho telah meninggal, namun Weini kembali lega saat merasakan napas masih keluar masuk dari lubang hidungnya.


"Akan kucari siapa 'dia', aku tak rela mendapatkan kutukannya!" Gumam Weini, ia mengepalkan tangannya menahan ambisi serta amarahnya.


🌹🌹🌹


Hi guys, semoga di episode ini kalian bisa sadar bahwa sebenarnya dalam cerita ini tidak ada yang benar-benar jahat. Bahkan Chen Kho yang ingin kita keroyok berjamaah itu juga punya kesedihannya sendiri. Jahat itu bukan kemauan Chen Kho, ia murni hanyalah korban. Dan ia sangat tersiksa karena tidak bisa memiliki orang yang ia cintai. Itulah sebabnya ia tidak berani serius pada Li An, dan ketika Li An mulai masuk dalam hatinya, justru harapan untuk memiliki Li An sudah sirna. Yakin nih kalian masih membenci Chen Kho?


Nah, misteri yang belum terpecahkan adalah sosok Dia ini.


Selamat mengikuti kisah-kisah menjelang ending ya ❤️ semoga kalian masih setia mengikuti kisah Weini dan Xiao Jun hingga happy ending.


🌹🌹🌹


Rekomendasi novel romance akhir pekan ini.