
Grace mengurung diri di kamar sejak pertemuan di aula kemarin, ia bahkan nekad bolos pelajaran demi
menenangkan diri. Biarlah hukumannya digandakan bibi Gu, ia tidak peduli asalkan bisa tenang saat ini. Selama tinggal di kediaman para nona, ia tidak pernah berkumpul atau bertemu penghuni lainnya. Nyaris seluruh waktunya habis di vila dan ia hanya kembali untuk tidur. Hari ini berbeda, ia dengan sengaja mengurung diri tanpa diketahui dua sepupunya.
Pasca ia mengetahui calon kakak iparnya yang akan melayaninya setelah pindah ke Jakarta, Grace bingung menentukan sikap. Mereka belum saling mengenal, lain cerita kalau pelayan biasa yang jadi kandidat, Grace tentu tidak ambil pusing. Ia menunggu kelanjutan, seharusnya Li An akan mendatanginya untuk proses perkenalan pra
kerja. Hingga sesiang ini belum ada tanda-tanda ia akan dikunjungi tamu, Grace balik berpikir apa mungkin ia yang terlalu berharap.
“Nona, anda mau kemana?” pelayan setia Grace bertanya ketika melihat Grace meraih blazer.
“Temani aku ke tempat Xiao Jun.” Perintah Grace singkat.
“Maaf nona, anda ke sana buat apa? Di sana sedang ramai, nona bakal ketahuan mengunjungi tuan tanpa ijin.” Pelayan itu takut terlibat masalah lagi sehingga lebih dulu mengingatkan majikannya.
Grace tak jadi mengenakan blazer yang masih ia pegang. “Ramai? Ada acara apa? Ah, kebetulan pasti kakaknya di sana. Aku harus inisiatif mencarinya dulu, dia lebih tua dariku mana mungkin dia yang akan mendatangiku.” Seru Grace yang semangat memakai pakaian luar yang lebih formal. Ia harus menunjukkan diri yang lebih baik di hadapan orang yang ia cintai, agar pria itu tahu bahwa ia sudah banyak berubah baik.
“Jangan pergi nona, anda hanya akan tersisihkan. Saya dengar tamu tuan muda Xiao Jun menginap di sana. Dan katanya ... dia melamar nona Li An.” Pelayan yang latah dan kepo itu keceplosan, ia sudah tahu sejak kemarin para pelayan menggosipkan kabar itu. Namun demi keamanan bersama, kabar burung itu harus dirahasiakan oleh para pelayan agar tidak menimbulkan masalah. Nyatanya ia malah salah ngomong dan berhasil memancing reaksi majikannya.
“Apa? Tamu Xiao Jun? Pengusaha muda itu melamar kak Li An? Lalu buat apa dia masih mau jadi pelayanku?” Grace sangat terkejut, antara percaya dan tidak dengan kabar yang disampaikan pelayannya.
“Kau dengar darimana? Apa ini benar?” Grace menodong pertanggung jawaban pelayannya.
Pelayan itu kebingungan dan menggelengkan kepala, serba salah harus menjawab apa. “Maaf nona, saya asal bicara. Mohon jangan dibesarkan masalah ini nono, ampuni saya.” Pelayan itu menampar wajahnya berulang kali, lebih baik ia yang menampar daripada menerima hukuman yang lebih berat akibat kecerobohannya.
“Sudah sudah, aku tidak menyalahkanmu. Hanya minta kejelasan informasi, apa benar pengusaha itu yang kau maksud?” tanya Grace sembari mengkode agar pelayannya berhenti menyiksa diri.
Pelayan itu merasa lebih lega kemudian mengangguk, “Benar nona, pengusaha yang datang dengan tuan muda Xiao Jun. Betapa beruntungnya nona Li An, dulu dia pernah jadi pelayan bersama kami di sini. Siapa sangka nasibnya seperti cinderella. Nona jangan tunggu dia lagi, dia tidak mungkin jadi pelayan nona.”
Grace tersenyum lega, “Syukurlah.” Grace merasa beban berat di pundaknya hilang seketika. Pernikahan adalah
pilihan yang tepat bagi Li An. Sebagai sesama wanita, ia mengerti kebutuhan seorang wanita dewasa yang ingin dicintai oleh orang yang dicintai. Grace bersyukur serta turut berbahagia untuk Li An.
***
Wen Ting duduk membaca portal online dari ponselnya sembari menyilangkan kaki, ia duduk di ruang tamu Xiao Jun sejak beberapa jam lalu, seorang diri tentunya.
“Tuan, aku menghampiri ke kamarmu rupanya anda di sini. Apa anda bosan?” Xiao Jun menyapa Wen Ting yang sudah berpenampilan rapi persis hendak menghadari jamuan formal.
Wen Ting berdiri dan tersenyum, “Lumayan (bosan). Jam berapa dia ke sini?” ia melirik jam tangan dan sudah entah berapa kali bolak balik menatapi jarum waktu.
Xiao Jun tersenyum, ia tahu siapa yang dimaksud. “Dia tidak mungkin kemari kalau tidak ada yang menjemput.”
“Hei, dia belum menerimamu. Kau jangan kegeeran dulu.” Pekik Xiao Jun dengan senyum yang terkulum, ia menyusul pria yang mulai berjarak jauh darinya.
“Maka bantu aku buat dia setuju.”
Xiao Jun tersenyum lebar, ia suka sikap gentle pria itu. “Kakak ipar, tunggu!”
***
Li An dudu termenung bertemankan suara televisi yang ia setel sebagai teman, bukan untuk ditonton ia malah larut dalam pikiran.
Ayah, di manapun kau berada, aku rindu padamu. Ayah, usiaku sudah 23 tahun, belasan tahun tidak bertemu ayah pasti bertambah tua. Aku juga, hahaha ... maafkan kekhilafanku yang hampir saja menyerahkan diri pada pria yang salah. Aku sangat ingin menikah, sangat berharap restu dari ayah dan ibu. Harapanku tidak muluk ayah, aku tidak ingin hidup menyusahkan Li Jun, ibu, ayah. Semoga akan ada pria yang tepat untukku, tidak perlu kaya asal dia bertanggung jawab dan mencintaiku. Ayah, kau pasti mendengarku ... aku sangat yakin!
Li An khusyuk mengirimkan telepati pada ayahnya, hal yang sering ia lakukan ketika sendirian di rumah. Meskipun tidak ada hasil efektif, namun setidaknya ia merasa sangat plong setelah curhat satu arah dengan sang ayah.
“Apa aku salah kalau bercita-cita jadi ibu rumah tangga? Aku ingin menikah muda, mengurus keluarga, menantikan suamiku pulang kerja dengan masakan enak.” Li An terdiam, ia keceplosan menyuarakan isi hati.
“Tapi masalahnya belum ada calon suami ....” ia tertawa lepas, geli membayangkan keinginan yang seolah bertepuk sebelah tangan. Li An terbayang pertemuan kemarin dengan sang pria penenang yang muncul tiba-tiba. Ia bagaikan pahlawan yang datang di saat tepat ketika ia sekarat di medan perang.
Li An memukul kepalanya berkali-kali hingga mata terpejam, “Aarrgghh ... jangan mikir yang nggak nggak, dia orang kaya, dia tidak mungkin suka padaku. Ingat Li An, belajar dari pengalaman, sudah tahu perbedaan status jadi jangan banyak berharap.”
Sedetik kemudian, Li An mulai goyah dengan pikiran lain. “Tapi ... dia baik dan terlihat tulus. Kalau bukan karena dia, tuan besar pasti tidak akan percaya aku dijahatin.”
Dalam kebingungan yang menyesatkan pikiran itu, Li An menjatuhkan diri ke atas ranjang empuk. “Ayaaah... aku bingung!”
***
Jakarta, di waktu yang lebih lambat satu jam ....
Haris bersin-bersin tanpa sebab, cuaca di luar sedang panas dan ia tengah mengajar. Ketidak nyamanan itu
membuatnya minta ijin keluar dari ruang belajar. Ia mengucek hidung yang terasa gatal, perasaannya tidak menentu seperti ada seseorang yang sedang membicarakannya. Haris tidak bisa menebak ketidak nyamanan hatinya, dan lagi-lagi bersinnya kumat.
“Ayah, kau kena flu? Pakai masker dan minum obat ya!” ujar Weini yang kebetulan melewati Haris yang
berdiri di tengah pintu. Dina menunggunya di dalam mobil.
“Hmm, nggak. Ini cuman hidung gatal. Kamu hati-hati di jalan ....” ujar Haris yang terlambat satu menit, Weini terlanjur masuk ke dalam mobil dan berlalu.
***