
Tatapan ayah dan anak itu saling beradu, dua ekspresi yang berbeda dari sorotan teduh itu. Grace tak bisa menahan rasa harunya saat orang yang ia tunggu telah sadar.
"Ayah... akhirnya ayah sudah siuman." Ujar Grace lega sambil menggenggam erat tangan Kao Jing.
Kao Jing masih bingung, ingatannya belum sepenuhnya kembali. Ia masih mengira berada di penjara, seperti yang ia ingat sebelum menancapkan garpu ke perutnya. Wajahnya mengerut seakan masih merasakan perih dari kenekatannya itu.
"Apa aku sudah mati?" Tanya Kao Jing kebingungan.
Senyum Grace berubah seketika, bibirnya tak lagi menarik seulas senyuman namun mengerucut penuh rasa bimbang.
"Ayah... tenang ayah, sudah nggak apa-apa, ayah sudah selamat." Hibur Grace.
Kao Jing masih ternganga tak percaya, ia ingin bangkit dari tempat tidur namun gagal karena tubuhnya yang masih belum begitu bertenaga. Grace dengan sigap menopang lengan ayahnya, menuntunnya kembali berbaring.
"Tidak... aku ingin mati saja. Aku tidak pantas lagi hidup, Chen Kho pasti sudah menungguku di sana. Kasian... aku tidak mau dia kesepian." Kao Jing gelagapan, nampak gugup dan pesimis.
Grace berusaha sekuat tenaganya untuk menekan tubuh Kao Jing agar tidak nekad bangun dulu. Apa yang dikatakan ayahnya pun membuat ia merasa sakit hati. Di saat ia yang sepenuhnya berkorban, menjaga serta memperhatikannya masih tidak dianggap penting oleh Kao Jing.
"Ayah... bisakah ayah sedikit saja menghargai aku? Aku juga anakmu... Aku masih ada untuk ayah. Ya... memang aku tidak bisa menggantikan posisi kak Chen Kho, tapi aku yakin kak Chen Kho juga tidak akan tenang melihat ayah seperti ini." Grace tersulut emosi, ia pun sedikit mengeraskan suaranya untuk menegaskan pada Kao Jing.
Kao Jing terdiam, bola matanya terlihat berputar ke kanan kiri seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Chen Kho... Chen Kho tidak tenang lihat aku begini?" Lirihnya memikirkan kata-kata Grace.
Grace mengangguk, "Ya... Kakak pasti lebih senang melihat kita melanjutkan hidup, kalau ayah sayang sama kak Chen Kho, harusnya ayah tidak melukai diri sendiri. Kita bisa hidup lebih baik lagi, kita mulai semua dari awal lagi ayah."
Kao Jing terenyuh, kesadarannya pun mulai terkumpul. Perlahan ia mulai mengalihkan tatapannya ke arah Grace, sorot matanya berbinar-binar saat melihat gadis itu.
"Putriku... Putriku...." Lirih Kao Jing, ia terlihat seperti orang linglung.
Grace bergegas mendekati ayahnya, menjatuhkan diri dalam pelukan Kao Jing.
"Iya ayah, aku putrimu... Grace Li." Jawab Grace pelan.
"Aku masih punya putri...." Lirih Kao Jing.
Grace mengangguk dalam pelukan ayahnya.
"Iya, ayah masih punya Grace. Kita akan hidup bersama lagi ayah. Setelah ini, Grace akan ajak ayah pergi. Ayah mau ke mana?"
Kao Jing masih bingung, ingatannya masih tentang penjara. "Aku tidak mau di penjara, aku tidak mau." Ujar Kao Jing ketakutan.
Kondisi Kao Jing yang seperti orang linglung itu meresahkan hati Grace. Ia tak menyangka ayahnya akan berubah semenjak di penjara, tekanan mental Kao Jing tampak terguncang, ia berperingai layaknya anak-anak yang harus dihibur.
"Ayah... ayah sudah nggak di penjara, ayah sudah bebas. Setelah ini ayah mau tinggal di mana? Grace akan bawa ayah ke sana." Lirih Grace menghibur Kao Jing.
Kao Jing terdiam memikirkan kata-kata Grace, separuh bisa ia terima, separuhnya lagi tidak. Ia merasa ini sudah rumahnya, untuk apa harus pergi lagi ke mana?
❤️❤️❤️
Fang Fang sedang bersandar santai di muka pintu, saat ia melihat kondisi yang sepi. Namun begitu mendengar derap langkah yang mendekat, ia segera menegakkan tubuhnya. Seseorang yang hadir saat ini membuat Fang Fang terkejut, tak menyangka saja mendapat kunjungan dadakan dari sang penguasa.
"Salam hormat pada Li Gong Zhu." Fang Fang membungkuk hormat pada Weini.
Weini mengangguk pelan, "Santailah, bagaimana keadaan di dalam?"
Fang Fang menunduk tak berani menatap Weini, "Saya diminta keluar, saya tidak tahu kondisi di dalam."
"Baiklah, saya mau masuk sebentar untuk melihat langsung." Ujar Weini.
Fang Fang memberi jalan pada Weini, tinggallah ia dan dua pengawal Weini yang berjaga di depan pintu.
Saat pontut terbuka, Weini melihat Grace yang sedang menenangkan Kao Jing. Weini merasa lega begitu tahu pamannya sudah siuman. Grace terkesiap melihat kedatangan Weini, ia segera berdiri memberi salam.
"Tidak perlu sungkan Grace, aku kemari untuk melihat kondisi paman. Syukurlah sudah siuman, sejak kapan Grace?" Tanya Weini perhatian.
Kao Jing menatap takut pada Weini, melihat pakaian yang dikenakan Weini membuatnya khawatir akan ditindak hukum lagi.
"Tidak... tidak... aku tidak mau di penjara! Tidak... jangan bawa aku ke sana." Pekik Kao Jing frustasi.
Grace menatap ayahnya cemas, ia segera berlari menenangkan ayahnya. Weini terkesiap, tak menyangka kondisi kejiwaan Kao Jing ikut terguncang.
"Ayahku jadi seperti ini sejak ia sadar tadi, ia mudah cemas seperti yang Gong Zhu lihat." Gumam Grace sedih.
Weini prihatin melihatnya, sekalipun Kao Jing salah namun bukan ini yang ia harapkan.
"Mungkin paman masih penyesuaian, efek traumanya di penjara belum hilang. Asal kau sabar menenangkannya, aku yakin dia akan membaik lagi seiring waktu."
"Jangan tangkap aku!" Pekiknya mencoba memberontak.
"Paman, aku ke sini bukan untuk menangkapmu. Lihat aku datang sendiri kan? Tidak ada pengawal yang akan menangkapmu." Ujar Weini meyakinkan dengan tenang.
Kao Jing percaya apa yang dikatakan Weini, ia tidak lagi bertingkah memberontak. Grace mulai lega, setidaknya Weini berhasil menenangkan ayahnya.
"Grace, aku perlu bicara denganmu. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat." gumam Weini.
"Ayahku sudah mulai tenang, anda khusus ke sini untuk bicara denganku, aku siap mendengarkannya. Ini suatu kehormatan bagiku." Jawab Grace serius.
Weini menghargai keseriusan Grace, ia pun mengangguk setuju lalu menatap ke arah Kao Jing.
"Paman, istirahat lah dulu. Aku dan Grace bicara sebentar di sana, paman santai dulu ya." Weini mengucapkan kata-kata itu dengan mengeluarkan sentuhan sihirnya, ia menghipnotis sejenak Kao Jing agar menurutinya.
Grace tak peka dengan sihir, yang ia tahu Kao Jing menurut pada Weini tanpa menimbulkan kekacauan. Kini dua gadis itu duduk di kursi yang ada dalam kamar itu.
"Aku sudah memenuhi janjiku, untung saja semua berjalan sesuai rencanaku." Gumam Weini.
Grace mengangkat teko berisi teh yang agak dingin, namun Weini tak keberatan meminumnya. Grace pun menuangkan teh ke dalam dua cangkir kecil lalu menyuguhkan untuk tamunya.
"Terima kasih telah memperjuangkan kebebasan ayahku, aku tidak tahu harus berterima kasih dalam bentuk apa lagi padamu, Gong Zhu." Guman Grace.
Weini tersenyum menatap sepupunya yang cantik, "Kamu dan ayahmu hanya perlu hidup bahagia, itu satu satunya cara berterima kasih padaku."
Grace tertegun, ia tak pernah mengira Weini bisa setulus itu padanya. Beruntung memiliki seorang saudara yang berhati mulia, Weini benar benar orang yang susah dicari di era hidup seperti ini.
"Apa kalian sudah punya rencana untuk menetap di mana? Maafkan aku, mungkin terkesan aku mengusir kalian, tapi ini strategiku untuk memenangkan hati mereka. Ke depannya pun hidup kalian akan jauh lebih tenang, dan tidak dikaitkan dengan masa lalu lagi. Biarlah mereka beranggapan seolah aku tidak peduli, cukup kamu saja yang tahu bahwa aku tetap memperhatikan kalian di manapun kalian berada." Weini menyampaikan maksudnya, ia perlu segera meluruskan agar sepupunya tak salah paham.
Grace tertegun, ia sungguh tak mengira bahwa Weini berpikiran sejauh itu.
"Aku kira kamu benar-benar mengusir kami dari kehidupanmu. Ya... aku juga tidak bisa menyalahkanmu, bagaimana pun itu jauh lebih baik daripada membiarkan ayahku mendekam di penjara. Gong Zhu, aku sungguh berterima kasih padamu."
"Tak perlu sungkan, sepupu. Sekarang pikirkan saja di mana tempat yang nyaman untuk kalian tempati. Beritahu aku secara pribadi, aku akan menyiapkan khusus untuk kalian." Seru Weini.
"Tapi... kami tidak boleh menerima fasilitas dari klan Li, kalau kamu ketahuan bukankah itu akan menyulitkanmu? Tidak... aku tidak bisa membiarkan kamu kesulitan gara-gara kami. Terima kasih atas niat baikmu, kami akan berusaha dari awal dengan apa yang kami miliki." Grace terpaksa menolaknya, ia tidak mau Weini menanggung akibat di kemudian hari. Terlebih ia baru menjabat sebagai pemimpin, akan banyak mata yang mengawasinya.
Weini tersenyum tipis dan membuat Grace bingung akan maksudnya. Bagian mana yang terdengar lucu hingga Weini bisa tersenyum seenteng itu?
"Kamu lupa? Sebelum aku memegang kekuasaan ini, aku sudah kerja keras dan mengumpulkan hasil kerja kerasku. Sekarang semua tabungan itu rasanya tidak berguna, tidak sebanding dengan apa yang aku miliki saat ini. Mubajir rasanya kalau ku biarkan tidak berfungsi, aku malah berpikir akan menyumbangkan semuanya untuk amal. Tapi sekarang aku tahu harus memanfaatkannya untuk apa." Ujar Weini seraya tersenyum lepas pada Grace.
"Tapi itu hasil kerja kerasmu, kamu saja belum menikmatinya. Aku tidak bisa memakainya untuk kepentingan kami. Jangan khawatir, aku akan kerja keras untuk menghidupi ayahku." Tolak Grace, ia sungguh tak enak hati pada kebaikan Weini.
"Ayolah, kau mematahkan hatiku dengan penolakanmu. Aku akan merasa sangat senang jika kau mau memanfaatkannya. Ini tidak sebanyak yang kamu bayangkan, jadi tolong jangan tolak aku." Pinta Weini sedikit memaksa.
Grace menatap Weini yang memohon padanya, gadis itu bahkan menggenggam tangan Grace demi meyakinkannya. Grace tak berdaya dibuatnya, "Baiklah... aku malah merasa berdosa membuatmu tertekan begitu. Terima kasih Gong Zhu, kelak aku pasti mengembalikan padamu."
Weini menggeleng, "Kembalikan dalam bentuk lain, aku tidak mengharapkan imbalan berupa harta lagi. Aku sudah cukup berlebihan harta sekarang." Canda Weini yang akhirnya membuat tawa mereka berdua pecah.
"Ya, itu tidak diragukan lagi. Kau mewarisi aset kekayaan keluarga yang luar biasa banyaknya. Aku ikut senang atas kebahagiaanmu sekarang. Tak disangka orang yang dulu sempat aku benci, ternyata banyak menolongku. Ah... memalukan sekali kalau ingat masa itu." Gumam Grace menepuk jidatnya.
"Hmm... tidak juga, aku malah sering senyum senyum sendiri saat mengenang masa itu. Bodohnya aku yang terlambat menyadari bahwa kamu sepupuku. Terima kasih juga dulu pernah berkorban untukku." Gumam Weini tulus.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya? Apa ada perkembangan baik tentang hubungan percintaanmu?" Selidik Weini seraya menatap Grace dengan sorot mata usil.
Grace memanyunkan bibirnya, mencoba menilai sendiri kualitas percintaannya dengan Stevan.
"Hmmm... nggak tahu deh, aku nggak yakin dia masih mau sama aku setelah tahu kondisi keluargaku seperti ini."
"Jangan pesimis, Aku kenal betul kak Stevan. Dia tidak akan peduli bagaimana kacaunya hidupmu, selagi dia tulus mencintaimu, dia tidak akan melepaskanmu." Ujar Weini serius.
Grace yang mendengar itu antara percaya dan tidak percaya. "Ya... ku harap begitu, tapi aku tak yakin dia sanggup LDR. Aku saja belum tahu akan membawa ayahku tinggal di mana."
Weini menatap Grace dengan senyuman manisnya, ia sudah menyiapkan jawaban yang tepat untuk keresahan Grace.
"Kenapa tidak kembali ke Jakarta saja? kau sudah memulai hidup di sana, kau sudah punya teman tinggal di sana, dan tentunya orang-orang yang menerimamu dengan baik. Ada Stevan, kak Dina, kak Bams dan lainnya. Lanjutkan saja kariermu, kau punya aura bintang yang kuat. Dalam waktu singkat, kau pasti akan sukses, percayalah padaku."
Grace mempertimbangkan ucapan Weini dengan serius. Ia membayangkan membawa Kao Jing ke Jakarta, memulai segalanya di sana. Setidaknya ia tidak perlu beradaptasi dengan lingkungan baru lagi, sudah ada orang-orang yang peduli padanya.
"Hmm... Bukan ide yang buruk. Aku akan membujuk ayahku agar mau ke sana."
❤️❤️❤️
Hi guys, kalau cerita ini dijadikan versi audio book, apa kalian berminat mendengarnya?
Sumbang ide dan saran ya, menjelang bulan-bulan terakhir cerita ini. Moga kalian tetap setia membaca sampai tamat ya.