
Pagi yang masih gelap terbawa cuaca mendung yang menggelantung awan hitam pekat di atas langit. Tidak ada kehangatan sinar mentari, semuanya terbungku dalam kuatnya bau hujan yang sebentar lagi akan turun. Mungkin kali ini rintik air dari langit itu akan berkolaburasi dengan angin kencang, siap membuat manusia yang berteduh di dalam rumah lebih memilih untuk menarik selimut tebalnya lagi. Meneruskan mimpi yang belum tuntas malam tadi.
Sayangnya sifat bermalas-malasan itu tidak berlaku bagi orang-orang di kediaman Li. Semua aktivitas pagi berjalan seperti biasa, sang nona penguasa saja sudah duduk dengan penuh wibawa di kursi kebesarannya yang kita beralih fungsi sementara di paviliun Liang Jia. Menjelang pernikahan Yue Xiao yang tinggal menghitung hari, aula utama pun tidak bisa diutak-atik karena akan didekor sedemikian apik demi menunjang kebutuhan pesta. Weini pun tidak keberatan ruang kerjanya dipindahkan sementara di ruang utama paviliun Liang Jia, malah merasa nyaman karena tidak perlu berpindah jauh dari tempat tinggalnya.
“Kak Dina, apa kamu mengerti ini semua?” Weini menyodorkan berkas-berkas yang harus ia tanda tangani, berkas yang mulai disetorkan padanya untuk menyetujui beberapa hal penting yang menyangkut kerjasama perusahaannya dengan perusahaan asing. Dalam kesempatan ini pula, Weini bisa mengetes seberapa banyak ilmu yang diserap Dina tadi malam. Weini belum bisa mengatakan caranya berhasil, sebelum ia menguji semua kemampuan yang diberikan pada Dina dan bisa gadis itu kuasai.
Dina mengambil berkas yang diberikan Weini, membukanya perlahan sembari mengerutkan dahinya. Weini yang melihat ekspresi wajah gadis itu sempat berpikir bahwa Dina akan kesulitan memahami istilah bisnis walaupun ia sudah berkemampuan membaca, menulis dan berbicara mandarin dengan fasih. Dina membolak balikkan lembaran kertas itu, diam, bertampang serius, membaca dengan seksama. Semakin membuat Weini yakin bahwa tidak semua ilmu yang ia setorkan pada gadis itu berhasil.
“Ini tentang kesepakatan bisnis, berisi MOU yang harus Gong Zhu setujui.” Ujar Dina sembari menyodorkan kembali berkas dan menunjukkan di mana Weini harus membubuhkan tanda tangannya.
Weini bukannya melihat ke arah telunjuk Dina, namun dengan sepasang mata berbinar menatap lekat wajah Dina. Takjub! “Kak, kamu ngerti semuanya? Nggak ada yang kamu bingungkan?” Weini malah balik bertanya.
Dina melongo, tidak sadar sejak tadi ia sedang diuji oleh nonanya. Ia pun mengangguk dengan mantap. “Iya, ini mudah sekali aku mengerti.”
Weini ikutan melongo, terlalu cepat untuk percaya bahwa Dina sudah menguasai semuanya. Ia pun sibuk mencari berkas lain yang menurutnya rumit lalu menyodorkan pada Dina. “Kalau ini, menurut kakak gimana?”
Dina membaca sejenak, raut wajahnya tampak serius dan meyakinkan, sesekali terlihat ia mengangguk, membuat Weini berdebar-debar menunggu responnya. Dina akhirnya mendongak ke arah Weini, air mukanya masih serius namun sudah bisa menarik seulas senyuman. “Oh, ini sih maksudnya gini non....” Dina menjelaskan dengan detail, mengalir begitu saja dan tidak tampak kesulitan. Weini takjub menatapnya, teringat pada asisten yang dulu datang mengajarinya, sama persis seperti yang Dina lakukan sekarang.
“Gong Zhu mengerti kan?” tanya Dina di penghujung penjelasannya.
Sepasang mata Weini tanpa kedip menatap Dina, “Kakak... kamu benar benar menyerap semuanya. Hebat! aku sampai terkagum-kagum padamu.” Gumam Weini sangat bahagia.
Dina menutup berkas di tangannya, menatap lekat sepasang mata Weini tanpa berkedip pula. Otak lemotnya masih saja milik Dina, tak berubah meskipun sudah dibuat pintar dalam satu malam. Dina baru menyadari kepintaran mendadaknya, mulutnya ternganga, menyusul dua tangannya yang menepuk pipi. “Wah, ini nggak mimpi kah? Aku kok mendadak jadi konsultan bisnis? Wah... wah... nggak perlu kuliah bertahun-tahun, aku jadi pintar hanya dalam beberapa menit megang tangan Gong Zhu.” Seru Dina bahagia minta ampun. Tak sabar ia ingin memamerkan kebolehannya dan menyombongkan diri tentunya, di hadapan Ming Ming.
Weini menempelkan telunjuk di bibirnya, mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mematikan dinding tidak bisa mendengar. “Sssttt, kak jangan keras-keras. Nanti ada yang denger repot loh.” Ujar Weini cemas.
Dina malah terkekeh, selagi hanya berdua dengan nonanya, sesekali tingkah konyolnya keceplosan. “Ah, ini sih nggak bisa ditutupi seterusnya Gong Zhu. Semua juga akan heran kenapa aku bisa pintar dalam satu malam. Lalu aku harus jawab apa kalau ditanyain orang-orang?”
Weini diam sejenak, memikirkan kata-kata Dina yang memang benar adanya. “Iya ya, hmm kalau dibilang jadi pintar karena mimpi juga nggak masuk akal.”
“Lagian nih, semua juga tahu kalau Gong Zhu punya kemampuan sihir, dan aku ini bukti nyatanya. Jadi menurutku tidak perlu ditutupi lagi, semua juga bisa memahami bahwa kekuatan sihir itu ada positifnya juga.” Jelas Dina yang aslinya mencari cara agar diijinkan pamer kemampuan barunya. Kalau Weini tidak berhasil dipengaruhi, ia malah bisa disuruh menyamar, pura pura tidak menguasai lalu disuruh belajar ulang. Dina benci kata belajar, dia sudah bukan di usia anak sekolah yang harus menimba ilmu lagi – itu menurut Dina.
Weini berpikir serius, menimbang masukan dari Dina. “Baiklah, tidak ada yang perlu ditutupi tapi hanya untuk diketahui orang terdekat saja. Kak Dina jangan gembar gembor ya, aku tidak mau dicurigai nantinya.” Pinta Weini mengharap pengertian dari Dina.
Dina mengangguk setuju, “Baik Gong Zhu, atas perintah anda. Aku hanya ingin pamer pada beberapa orang, ng... sama Ming Ming dulu, trus sama Grace, Stevan, Fang Fang. ha ha ha... akhirnya aku bisa mengerti apa yang mereka bicarakan dan aku jauh lebih pintar karena otakku sudah jadi otak bisnis.” Celetuk Dina seraya terkekeh puas, membayangkannya saja sudah menyenangkan apalagi sampai melakukan apa yang ia katakan barusan.
Weini hanya nyengir, sifat pamer Dina memang tidak bisa hilang sekalipun sudah jauh lebih pintar namun tidak menjamin bahwa orang yang pintar itu juga bijak menggunakan kepintarannya. “Yang penting jangan ngomong keluar ya kak.” Jelas Weini mengingatkan kembali, takut kalah khilafnya Dina keterusan.
Weini tersenyum melihat kegokilan Dina, hari harinya di rumah ini akan lebih berwarna karena ada Dina di dekatnya. “Baiklah, aku juga sudah menentukan posisi yang tepat untukmu kak. Sesuai keahlianmu saat ini, kamu akan menjadi penasehatku dalam urusan bisnis. Huft, sepertinya aku tidak sesakti yang ku kira. Semua hal yang ku serap ternyata berpindah semua tanpa tersisa, padahal maksud aku kalau bisa dicopy paste ilmunya. Karena semua sudah nyantol padamu, maka aku akan bergantung padamu kak. Aku benar benar nggak paham soal bisnis ha ha....” Weini mengakui kelemahannya tanpa malu-malu, ia terpaksa harus menunggu mangsa lain lagi untuk menyerap kepintaran lagi. Bagaimanapun sebagai penguasa, ia harus mengerti sedikit tentang bisnis supaya tidak selalu tergantung pada orang lain.
“Hah? Jadi nona juga nyolong ilmu orang?” celetuk Dina.
“Pssssttt! Kak jangan keras-keras!” kesal Weini.
Dina menunjukkan penyesalannya, ia pun bungkam dalam seketika. Weini yang melihatnya merasa sedikit tidak enak.
“Oya kak, besok pagi kakak harus menemui bibi Gu, jadwalnya sudah diaturkan. Kakak akan belajar dua jam dalam satu hari.” Kilah Weini yang teringat pesan dari ibunya sebelum ia kemari.
Dina shock, jantungnya berdebar kencang saat mendengar nama Bibi Gu disebut. “Hah? Aku masih harus belajar sama dia? Aku kan sudah pintar, Gong Zhu... bisa nggak aku nggak usah berurusan sama dia? Aku takut....” Pinta Dina, wajah cerianya sudah redup berganti kegusaran pada sesuatu yang belum ia hadapi.
Weini dengan sangat terpaksa menggelengkan kepalanya, “Itu kehendak nyonya besar kak, aku tidak bisa utak atik keputusan ibuku. Anggap saja hanya buat formalitas saja, lagian yang kakak kuasai itu hanya bahasa dan ilmu bisnis, bukan ilmu tentang tata krama. Jadi tetap saja kakak harus belajar.”
Dina mendekati Weini, berusaha mengeluarkan jurus rengekannya. “Kalau begitu minta tolong satu kali lagi non, transferkan ilmu tata krama ya.”
Weini hanya nyengir saja, memang yang namanya hati manusia tidak ada puasnya. “Nggak bisa kak, kakak harus belajar. Selamat menjadi murid bibi Gu ya kak.” ledek Weini, karena ia tahu bagaimana judesnya Bibi Gu yang fenomenal itu.
Di sela rusuhnya Dina yang sedang merenungi nasib, Ming Ming berjalan masuk dan memberi hormat pada Weini. Pria itu pun melihat Dina berdiri di sebelah Weini dengan tampang kusut. Membuatnya bertanya-tanya apa yang terjadi pada kekasihnya.
“Ming Ming, aku sudah menentukan posisi untukmu. Mulai sekarang kamu ku angkat sebagai pengawal pribadiku yang khusus mengikuti aku dan Dina. Tapi aku harap kalian bisa profesional selagi bekerja ya, bisa membedakan mana waktu pribadi dan waktu bekerja.” Ujar Weini dengan lantang dan penuh wibawa, berbeda dengan pembawaannya yang cenderung santai ketika berhadapan dengan Dina.
“Baik Gong Zhu.” Jawab Ming Ming dan Dina secara bersamaan.
Ming Ming mengerutkan dahinya, menatap penuh tanda tanya pada Dina yang bisa fasih menjawab tanpa logat bahasa sehari-harinya di Jakarta. “Dina, kamu sudah mulai belajar bahasa Mandarin kah?”
Dina melirik sejenak ke arah Weini, mendapatkan restu berupa anggukan dari nona penguasa itu barulah ia berani bersuara. Dengan wajah penuh kesombongan, Dina tak sabar untuk pamer kemampuan barunya. “Tentu saja, mulai sekarang bicaralah padaku dengan bahasa Mandarin.” Ujar Dina sambil memasang wajah angkuhnya yang penuh totalitas.
Ming Ming tersentak, tak menyangka Dina membalasnya dengan bahasa Mandarin. “Ini serius? Kamu belajar di mana bisa pintar secepat itu?”
Dua gadis dalam ruangan itu saling berpandangan kemudian dengan kompak hanya cekikikan, membuat Ming Ming semakin bingung karena dijawab dengan tawaan padahal ia serius bertanya.
❤️❤️❤️
Kalau lagi nulis tentang Dina, bawaannya ketawa mulu. Nggak tahu deh kalian yang baca, terhibur nggak dengan kekonyolan Dina. Hehe... yuk share di kolom komentar, biar hidup ceritanya. ❤️