OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 71 SHE SAY YES!



 Chen Kho menggedor pintu kayu rumah Li An, ia sangat tergesa-gesa seakan tengah diburu seseorang. Li An membukakan pintu meskipun merasa cemas, ada hal apa yang membawa tuan muda itu kemari dalam situasi yang


lain dari biasanya.


“Adikmu… hosh.. hosh.. hosh…” Chen Kho mengatur napas, berlari dari kediaman Li kemari membutuhkan tenaga ekstra dan ia nekat melakukan itu.


“Tuan, anda kenapa?”


“Adikmu, ibumu… akan dieksekusi.” Ujar Chen Kho dengan susah payah. Ia memegangi dada yang terasa berat.


Li An terduduk kaget mendapati berita mengejutkan itu. Apa orang ini bisa dipercaya? Tapi untuk apa ia tergopoh-gopoh kemari hanya untuk menyampaikan berita bohong?


“Dia tidak pulang kemarin, pernikahan Yue Yan… hosh hosh hosh.” Kata-kata Chen Kho masih terbata-bata. Ia duduk berhadapan dengan Li An yang masih membisu.


“Tuan besar sangat marah dan mengutus pengawal membawanya pulang untuk dipenggal bersama ibumu.” Timpal Chen Kho setelah ia mengatur napas dengan normal lagi.


Tatapan Li An kosong, berita yang disampaikan Chen Kho serasa mimpi. Xiao Jun adiknya tidak mungkin membangkang, ia selalu menurut demi keselamatan ibu. Sekarang ia membuat tuan besar murka hingga divonis


hukuman mati. Kalau hanya dia yang hidup, apa artinya hidupnya sebatang kara?


Li An berdiri, ia mantap dengan keputusannya. “Terima kasih infonya tuan muda.” Usai mengucapkan itu, Li An membungkuk hormat dan berlari meninggalkan Chen Kho.


“Tunggu!” Chen Kho mengejar dan menarik pundak Li An hingga ia berhenti berlari.


“Kau mau kemana?” Tanya Chen Kho


“Saya akan menemui tuan besar dan memohon dieksekusi bersama saudara dan ibu.” Seru Li An mantap.


Chen Kho terkejut, gadis itu bernyali besar berani mengambil keputusan yang mengorbankan hidupnya. Ia tak takut mati sedikitpun.


“Jangan gegabah! Aku menyampaikan padamu bukan berharap kau ikut mati. Aku bisa menolong mereka, percayakan padaku!” Chen Kho memasang wajah yang paling meyakinkan. Ia harus mendapatkan kepercayaan gadis itu, atau harga dirinya akan tercabik.


Li An menatap lekat pria di hadapannya. Selama berbulan-bulan, pria itu selalu datang meskipun selalu diabaikan. Ia juga orang pertama yang menyampaikan kabar apapun tentang Xin Er walaupun tidak diminta. Ia pernah


berhasil meyakinkan tuan besar untuk mengijinkan Xin Er berobat keluar negri, mungkin sebaiknya menauh sedikit harapan padanya?


“Tu… Tuan, aku mohon tolong selamatkan nyawa ibu dan adikku!” Li An bersimpuh lutut dengan isak tangis yang pecah.


Chen Kho segera meraihnya bangkit, namun Li An bersikukuh memilih bersujud. Kepalanya tertunduk menyembunyikan tetesan bening yang mengucur deras. “Kau tidak perlu sungkan, aku akan menolong mereka. Percayalah!”


Tangan berotot itu merapat ke pundak kurus Li An, mencoba peruntungan untuk menjinakkan gadis tertutup itu. Tidak ada respon penolakan, Chen Kho melihat peluang untuk kian dekat hingga didekapnya tubuh Li An dalam pelukan. Gadis itu memberi reaksi yang mengejutkan, dibalasnya rangkulan itu dengan melingkarkan tangan ke punggung Chen Kho.


***


Dokter selesai melakukan pemeriksaan standar terhadap weini kemudian menghampiri Xiao Jun yang meminta tidak diusir keluar dan berdiri pasif di belakang pintu.


“Pasien sudah siuman dan kondisinya sudah stabil. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap. Nanti minta salah satu keluarga pasien ke bagian administrasi.” Dokter menyampaikan hal itu sebelum keluar bersama


rombongannya.


Xiao Jun mendekati Weini yang tak melepas pandangan padanya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi hingga harus berakhir terbaring di rumah sakit. Dan yang paling penting, sejak kapan pria itu bersamanya? Orang


pertama yang ia lihat ketika sadar justru dia, padahal Weini mengira Haris lah yang akan selalu di sisinya saat ini.


Weini masih lemah, namun ia mencoba bicara walau sekata. “Kamu… di sini?”


Xiao Jun menangkap maksud Weini, ia pasti heran karena keberadaaannya. “Aku batal pulang, saat mendengar kabarmu aku memutuskan kemari.” Xiao Jun mendekatkan jarak, tidak ada kursi di ruang itu hingga ia harus sedikit membungkuk.


Weini tersipu diperlakukan seperti itu, melihat wajah Xiao Jun dalam jarak sedekat ini membuatnya serba salah. Sayangnya ia masih belum bertenaga bahkan sekedar menggerakkan leher pun tidak sanggup.


Jemari Weini yang tertancap jarum infus diraih Xiao Jun. kendati tak bisa digenggam, ia cukup puas hanya dengan menyentuhnya.


“Maafkan aku. Ada hal yang harus kupertimbangkan sehingga kau jadi terabaikan. Sekarang aku sudah memutuskan…”


Weini mengernyit, ia menebak mungkinkah Xiao Jun menyesal menyuekinya kemarin? Weini sangat yakin Xiao jun ada di dalam apartemen namun tidak bersedia menemuinya. Hingga saat pria itu berlutut dengan satu kaki di hadapannya, pikiran Weini kacau seketika.


“Aku Li Xiao Jun memintamu menjadi kekasihku. Apa Weini bersedia?” Xiao Jun menepati ikrarnya, menyatakan perasaan yang sesungguhnya pada gadis yang ia sukai.


Hening… Weini membeku oleh tembakan cinta yang blak-blakan. Ia merasa sedang dilamar sebagai istri ketimbang kekasih. Sekarang ia bingung harus menjawab apa? Weini memikirkan perasaannya, entah sejak kapan ia


mulai sering memikirkan Xiao Jun, merasa kecanduan untuk bertemu atau mendapat kabar darinya. Apa itu yang disebut jatuh cinta?


“Ng… kalau tidak bisa jawab sekarang nggak apa apa. Kakiku sudah pegal, aku berdiri dulu.” Entah berapa lama Weini melamun hingga Xiao Jun harus berlutut sekian lama menunggu jawabannya. Kakinya gemetaran ketika


berdiri, ia pasti kesemutan hingga ketakutan kakinya tersentuh Weini.


Melihat kekonyolan itu membuat senyum Weini merekah, pria yang selalu berpembawaan serius itu ternyata bisa melakukan hal konyol. Ia merasa beruntung bisa melihat sisi lain dari pria yang selalu terlihat dingin dan perfeksionis.


“Ya…”


Xiao Jun menoleh ke Weini, memastikan suara lirih itu berasal dari Weini. Meskipun sangat pelan, tapi Xiao Jun yakin tidak salah mendengar. Weini baru saja berkata ‘Ya’.


“Kamu bilang ya?” tanya Xiao Jun antara percaya atau tidak.


Weini tersenyum dan mengangguk pelan. Keduanya saling bertatapan tanpa niat berkata-kata. Suasana terasa canggung, hanya dengan diam bertatapan saja mampu membuat mereka tersipu malu. Kemana keberanian mereka yang sering saling mengganggu saat masih pedekate?


Plok plok plok… “Dia bilang Ya!” Seru Haris.


Weini dan Xiao Jun langsung beralih perhatian pada bunyi tepuk tangan dan suara tak asing itu. Haris, Stevan dan Dina menyerbu masuk sebagai nyamuk.


“Kita hampir saja melewatkan tontonan menarik. Hehe… Tuan, kita harus ditraktir nih ada yang jadian!” seru Dina kegirangan. Ternyata musibah ini ada hikmahnya, dua orang yang saling jual mahal itu kini mengakui perasaan.


“Huh… gue nggak setuju lu berdua pacaran.” Cecar Stevan yang malah mendapat tatapan menusuk dari berbagai arah hingga dia terpaksa tersenyum kaku daripada dikuliti hidup-hidup.


Demi menormalkan perasaan gugup dan malu, Xiao Jun mendehem lalu mengalihkan fokus. “Paman sudah datang, sebaiknya kalian berbicara dulu. Saya tidak akan mengganggu.” Xiao Jun memberi kesempatan pada


ayah dan anak. Ia sudah cukup lama menyita waktu Weini padahal awalnya ia hanya minta ijin melihatnya sebentar.


Haris mengangguk setuju, ia perlu bicara dengan Weini empat mata. Hebatnya Xiao Jun bisa mengetahui niatnya dan tahu diri untuk menyingkir sejenak.


“Dina, ikut aku sebentar.” Perintah Xiao Jun saat ia berpapasan dengan Dina.


“Eh, kok aku lagi? Kayak bola ping pong dioper sana sini. Hiks… Tuan bisakah kita makan dulu? Aku lapaaaar!”


***