OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 529 CINTA YANG MENGALAHKAN



Jarum jam berhenti berdetak, begitupun dengan orang orang yang tengah bersembunyi, dalam sekejab berhenti bak manekin dalam berbagai gaya. Tak satupun yang berhasil lolos dari pengaruh sihir skala besar itu, kecuali Xiao Jun. Pria muda itu berdiri di sebelah Weini yang mematung dengan mata menyipit dan bibir yang sedikit terbuka. Ekspresi wajah gadis itu tampak berubah nyaris di setiap detik ketika Xiao Jun memperhatikannya. Hanya dari raut wajah itulah yang meyakinkan Xiao Jun bahwa sukma gadis itu sudah keluar dari tubuhnya.


“Dina... Grace... Stevan?” Xiao Jun memanggil satu persatu temannya yang ia yakini sedang bersembunyi di dalam ruangan ini. Tidak ada yang menyahutnya, hingga terpaksa Xiao Jun harus beranjak dari sisi Weini. Berjalan menulusuri setiap sudut ruangan untuk menemukan penghuni lain yang menyelinap di sini.


Berbekal pencahayaan dari ponselnya, Xiao Jun pun baru menyadari satu hal bahwa waktu sungguh berhenti. Fitur dalam ponselnya tak bisa berfungsi, sebagaimana mestinya jika tidak ada sinyal. Untung saja masih bisa dihidupkan layarnya, sekalipun tidak bisa digunakan untuk mengakses dunia luar.


Tidak sulit menemukan posisi persembunyian rekannya yang lain. “Grace?” Xiao Jun memanggil lalu mengguncang pelan pundak Grace yang sedang berjongkok di belakang sofa. Sama halnya dengan Weini, gadis itupun mematung dengan ekspresi wajah tersenyum. Xiao Jun menggelengkan kepalanya, keadaan menjadi kacau balau serta di luar prediksinya. Lamaran yang telah ia perhitungkan dengan baik, rupanya bisa berantakan karena halangan yang tak terduga ini.


“Siapa yang begitu hebat mengacaukan segalanya? Kenapa hanya aku yang sadar?” Xiao Jun bertanya sendiri, kebingungan yang berat melandanya. Entah harus mencari jawaban pada siapa, ia pun seperti terjebak dalam dunia lain, antara dia yang sudah tiada ataukah teman-temannya yang mematung di sana?


“Apa kita tidak boleh bersatu Hwa? Mengapa di saat moment berharga ini, ketika aku pikir tiada lagi penghalang, tetap saja ada yang menghalangi kita?” Lirih Xiao Jun, pikiran kusutnya sangat sulit ditepiskan. Terlebih ia bingung dengan keadaan yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.


Xiao Jun kembali menghampiri Weini, ia terkejut mendapati raut wajah Weini yang berubah lagi, seperti menahan sakit, seperti hendak menangis. Xiao Jun mendekapnya, takut melihat gadis itu tersakiti entah oleh siapa dan di mana. Ia benar benar tak tahu harus berbuat apa untuk menolong gadisnya sekarang. “Hwa, kamu di mana? Apa yang sedang kau lakukan? Aku harus bagaimana menolongmu?” lirih Xiao Jun terdengar sangat menyayat hati, sayangnya tidak ada yang bisa mendengarnya. Xiao Jun merasa sendirian di dunia yang gelap ini.


Dalam dekapan itu, Xiao Jun bisa merasakan dinginnya tubuh Weini. Bahkan tak ada debaran jantung yang terasa dari gadis itu ketika mereka berpelukan, hal itu semakin menambah ketakutan dari Xiao Jun. Membuatnya semakin mendekap erat tubuh kekasihnya.


“Haruskah aku biarkan kamu menderita sendiri? Aku sudah berjanji akan menjagamu, akan membahagiakanmu, tapi aku bahkan tidak tahu di mana kamu sekarang dan apa yang sedang kau hadapi. Hwa... aku mencintaimu, kembalilah. Menikahlah denganku Hwa.” Lirih Xiao Jun, hatinya terus memikirkan cara agar ia bisa menyeret sukma Weini masuk lagi dalam tubuhnya.


“Ayah... apa kau bisa mendengarku? Apa yang harus ku lakukan sekarang?” Lirih Xiao Jun, berharap sang ayah bisa mendengarkan jerit hatinya.


Permintaan yang begitu tulus serta setetes air mata yang jatuh dari kelopak mata Xiao Jun menetesi jemari Weini. Kendati ia seorang pria, bukan berarti ia tidak bisa menangis ketika terancam kehilangan orang yang ia cintai. Xiao Jun tak akan membiarkan hal itu terjadi, tak ingin melepaskan Weini pergi.


“Kamu punya cara... kekuatanmu adalah cinta.” Sebuah suara pria terdengar menggema, menghentikan tangisan Xiao Jun dalam sekejab. Menyadarkannya bahwa itu adalah suara yang pernah didengarnya, suara leluhurnya.


❤️❤️❤️


“Uhuk... uhuk....” Weini terbatuk batuk pasca mendarat dengan kasar ke bawah. Jeratan di kakinya masih belum bebas, selendang wanita itu masih terikat kencang di sana. Tapi tidak lagi berkekuatan seperti sebelumnya. Perseteruan yang tidak seimbang itu jelas ketahuan siapa pemenangnya jika diteruskan. Namun wanita misterius itu justru terbang mendekat ke arah Weini, mendekat kemudian berjongkok di hadapan Weini yang masih lemah.


Jemari dingin wanita itu mengangkat dagu Weini, melihat sorot mata lembut gadis itu dan mencari jawaban dari sana. Kini ia ragu, karena pancaran mata yang asing itu sungguh tidak menyimpan jawaban yang ia cari. “Hmm... sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kekuatan tuanku bisa dimiliki gadis lemah sepertimu? Aku tidak percaya kalau dia salah pilih orang. Dia tidak mungkin memilih gadis seperti kamu!” Gumam wanita itu, kini suaranya mulai melunak, tidak lagi bernada kebencian.


Weini mulai merasa tenang, ia bisa merasakan bahwa lawannya bisa diajak kompromi meskipun entah bagaimana nasib akhirnya nanti. “Aku Li yue Hwa... aku sungguh tidak tahu siapa tuan yang kamu maksud. Aku... aku hanya berguru pada satu orang, Wei Ming Fung.” Ujar Weini, mengatakan apa yang sebenarnya ia ketahui.


“Aku tidak tahu!” jawab Weini tegas, ia sudah mengumpulkan tenaga yang tersisa. Tangannya mulai menghangat, mengumpulkan lagi energi serta sihirnya yang hampir padam tadi.


Senyum wanita itu menyeringai, menyusul suara gertakan giginya yang terdengar jelas. Habis sudah kesabarannya, kesempatan yang ia berikan pada Weini untuk menjawab semua teka teki yang mengganjal di hati. Segalanya terasa percuma, Weini tetap tidak bisa memberikan ia jawaban. Ia menggerema tertahan, menyoroti Weini dengan nanar. “Hmmm... jika kamu memang tidak tahu, untuk apa juga aku memberimu kesempatan hidup. Tuanku tidak mungkin memilih orang seperti kamu! Kembalikan ilmu tuanku! Lebih baik kamu tidak perlu ada di dunia sana!” Gertak wanita itu kemudian menggerakkan kembali selendangnya terbang ke arah Weini.


Weini mulai bertenaga lagi, ia pun dengan gesit menghindari serangan itu. Tetapi yang tidak bisa ia prediksi adalah kemunculan gelombang sihir yang rasanya seperti magnet dengan kutub yang saling tarik menarik. Weini terkesiap, sihir itu mirip dengan sihir penyedot energi yang ia kuasai namun dalam tenaga yang lebih kuat.


Ada seseorang lagi di sini selain wanita itu? gumam Weini dalam hatinya, ia tak melihat siapapun di sana namun terasa nyata kehadiran gelombang sihirnya.


“Mati saja kau!” teriak wanita itu seraya menghentakkan selendangnya. Weini yang belum kembali fokus itu langsung terjerat, lehernya tercekik dari dua sisi. Selendang itu meliliti tubuh Weini, kencang dan semakin kencang sehingga napas Weini terasa sesak.


Aku tidak ingin mati seperti ini. Jun... Jun... bukankah tadi kita bersama? Lirih Weini, di sisa kekuatannya yang terbatas itu, ia masih bisa mengingat tentang kekasihnya. Mengingat kembali keberadaan mereka sebelum terjerembab dalam dimensi gelap.


Tubuh Weini terangkat tinggi oleh selendang yang wanita itu mainkan. Tanpa ampun, tanpa sedikitpun belas kasihan pada orang yang sama sekali tidak mengerti maksud hatinya. Wanita itu berniat menghabisi Weini dengan tangan dinginnya.


Prang! Suara nyaring yang terdengar seperti suara barang pecah, datang dari atas yang terlihat pekat gelap. Saking nyaringnya hingga mengalihkan perhatian wanita itu, mendongak ke atas memeriksa suara apa yang mengusik kepentingannya. Di tengah lilitan yang hampis membungkusi seluruh tubuhnya bagaikan kepompong, Weini masih bisa mengintip dari celah kain di wajahnya, ada seberkas cahaya yang menyoroti dari atas. Seperti cahaya yang diturunkan dari langit, saking tingginya tempat tak terbatas ini.


“Ng... siapa yang berani mengusikku!?” Pekik wanita itu seraya terbang menuju sumber keributan. Tidak ada balasan apapun, yang ada justru suara pecahan yang kembali terdengar. Serpihan kegelapan pun berjatuhan dari atas, menimpa Weini yang masih terlilit namun ia bisa melihat serpihan gelap itu berterbaran bagaikan debu tertiup angin.


Perlahan ikatan kain yang menjerat Weini terasa sedikit longgar, makin longgar dan suara pekikan wanita misterius itu kembali terdengar. “Tidaaaak!”


Cahaya terang menyusup dari langit, menerangi gelap pekat, membunuh bayangan yang ada di bawah serta mengancam nyawa yang berkuasa atas kegelapan yang ia ciptakan itu. Lilitan di tubuh Weini akhirnya terlepas seiring cahaya terang yang telah mendominasi kegelapan. Namun saat Weini mencoba menelisik lebih jauh, ingin memburu wanita yang tengah meronta karena terkena sinar itu, nyatanya sang lawan tetap tak terjamah. Sosoknya mulai menghilang, kabur dari pandangan mata Weini yang terasa berat lagi sekarang. Tak tertahankan lagi, Weini tidak bisa mencegah dirinya ketiduran. Dan di antara kesadaran yang di ambang batas itu, Weini masih menangkap sebuah suara yang sangat ia kenali.


“Hwa... kembalilah.” Dan itu adalah suara kekasihnya, Xiao Jun.


Tenang rasa hati Weini, ia akhirnya mendapatkan jawaban bahwa ia tidaklah sendirian dalam kegelapan ini. Ada jiwa yang memanggilnya, menuntunnya menemukan jalan untuk pulang. Weini memejamkan matanya, tubuhnya terasa ringan bahkan mungkin seringan kapas. Hatinya merasakan kedamaian, tetapi dalam sekejab ada rasa aneh yang menyelinap lagi. Menyusul sebuah bisikan yang terdengar jelas di telinganya.


“Ini bukanlah akhir, akan ku tunggu kedatanganmu lagi. Kamu bukan tuanku, kembalikan tuanku!” Suara wanita misterius itu menggaung jelas, menyisipkan teror bagi Weini lagi.


❤️❤️❤️