OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 30 IJINKANKU MEMANGGILMU AYAH!



Sekelebat bayang hitam berseliweran melewati Weini yang tersungkur jatuh saking kagetnya. Kemana Haris dan apa yang terjadi pada pengawalnya? Ia segera mengumpulkan keberanian dan berdiri lagi.


“Pak Haris?” teriak Weini setengah ragu. Ia berjalan ke ruang tamu mencari kemana perginya bayangan hitam yang terbang barusan. Firasatnya mencurigai ada sesuatu di ruang kelas, iapun meraih gagang pintu kemudian


membukanya pelan. Ketika pintu terbuka penuh, ia melihat Haris duduk di kursi guru dan memandang ke arahnya. Weini merasa lega, Haris akhirnya muncul juga.


“Aku mencarimu dari tadi, pak. Tadi itu trik apaan yang dipakai?” Tanya Weini sambil mendekati Haris. Pria itu menatapnya diam, sorot matanya begitu menakutkan hingga membuat Weini tidak nyaman lagi.


Alih-alih mendapat jawaban, Weini kembali melihat dengan mata kepala sendiri sosok Haris lenyap dari hadapannya. Tanpa meninggalkan jejak apapun, ia lenyap bagaikan butiran debu. Weini segera berlari keluar dari


ruang sepi itu. Hanya ia sendiri di dalam rumah, dan ia mulai mengira dirinya sedang berhalusinasi.


“Ini hanya khayalan. Haris pasti lagi keluar. Tadi Cuma halusinasiku aja?” Weini menepuk pipinya, barangkali ia akan sadar setelah ini.


Plok… plok…plok… terdengar tepukan tangan dari arah belakang Weini, spontak gadis itu menoleh mencari sumber suara. Haris terlihat berjalan mendekati Weini dengan senyum ramah. Gadis muda itu terbengong


dibuatnya, sejak kapan Haris muncul?


“Weini, kau ketakutan?” Haris meledeknya sembari tertawa kecil.


“Pak Haris, ini kau yang asli atau jelmaan?” Weini masih ragu, siapa tahu Haris hilang lagi seperti sebelumnya.


“Yang tadi kan nggak bisa ngomong. Yang di hadapanmu sekarang bahkan sedang menggodamu.” Haris terbahak. Ia tidak menyangka Weini akan sepanik itu padahal ia hanya mengetes kepekaan sihir murid satu-satunya itu.


“Pak Haris, NGGAK LUCU!” Weini mengerutu. Kekhawatirannya malah jadi bahan lelucon, padahal ia sempat mengira kehilangan orang terdekat semata wayangnya.


“Baiklah aku minta maaf mengejutkanmu. Tapi itu hanya trik sihir. Itulah yang kulakukan ketika membawamu kabur dari kepungan musuh. Sebagai muridku satu-satunya, sudah waktunya aku menurunkan sihir itu padamu. Jadi sekarang kau masih mau lanjut marah, atau berterimakasih pada gurumu?”  Haris mengeluarkan alibi yang ia yakini bisa meredakan emosi labil gadis muda.


“Jadi kau mengujiku, Pak?” Weini masih terlihat kesal. Setelah cukup dibuat kesal oleh Xiao Jun, di rumah masih berlanjut diisengin Haris, kini amarah Weini menemukan pelampiasan yang tepat.


“Yup! Guru menguji murid itu sah saja. Sebelum belajar akan lebih baik kalau melihat dulu kehebatan ilmunya. Nah sekarang kau layak mempelajari itu Weini.”


Ucapan itu terdengar menenangkan hati, Weini bahkan tidak sanggup melonjak lagi. Terlalu banyak sisi baik yang diberikan Haris untuknya, tidak pantas bila ia marah hanya karena menjadikannya pelampiasan.


“Terima kasih, Pak Haris. Guruku!” Weini menunduk memberi hormat sesuai aturan perguruan sihir.


“Moodmu sangat jelek hari ini, ada yang mengganggumu?” Haris mengamati kondisi hati Weini yang tidak menentu.


“Ah… itu…” Weini merunduk. “Ada yang ingin aku tanyakan, apa ini waktu yan tepat untuk bicara serius pak?” Weini melanjutkan Tanya, ia sudah tidak sanggup menahan penasaran lebih lama lagi.


Haris mengangguk lalu berjalan menuju ruang makan, pembicaraan serius pun harus dilakukan di tempat yang nyaman. Weini mengekori langkah pria itu hingga mereka mengambil posisi duduk masing-masing.


“Ada apa? Ceritalah!” pinta Haris lembut. Ia begitu paham memperlakukan seorang anak dengan ketulusan.


Weini tersendat, tiba-tiba ia kehilangan kata. Ia resah bagaimana cara memulai pembicaraan ini. Haris masih menanti tanpa mendesaknya.


“Pak Haris…” Weini bungkam sejenak menata hati. “Andai kelak aku menikah, ng… marga apa yang harus aku akui?”


Haris tersenyum, ia sudah membaca pikiran Weini dan tetap berpura-pura tidak mengerti. Akan lebih baik membiarkan seseorang mengeluarkan uneg-unegnya hingga plong.


“Anak perempuan tidak melanjutkan garis keturunan dan marga. Jadi tidak masalah jika kau tidak menggunakan marga. Tapi jika kau merasa perlu, kau bisa memakai marga aslimu.”


Weini tampak tidak puas dengan penjelasan Haris. “Apa aku masih pantas pakai marga itu, setelah apa yang mereka lakukan padaku?”


“Walau kau mengingkarinya dan mereka tidak mengakuimu, darahmu tidak akan bisa menolak asalnya.” Ujar Haris masih dalam keadaan tenang yang stabil.


Keduanya membisu. Atmosfir dalam ruang itu terasa sangat dingin. Weini jelas tidak puas dengan pernyataan Haris. Ia punya harapan yang lebih dari itu.


“Pak Haris, mungkin ini sangat lancang. Ta… tapi aku merasa lebih nyaman tanpa embel-embel Li. Bolehkah aku ikut margamu saja?” Weini dengan mata berkaca-kaca mengiba pada seorang pengawal pribadinya yang


sekaligus sudah ia anggap seperti ayah.


“Kau lupa bahwa sejak kita pindah ke sini, kau yang bilang kita menanggalkan formalitas demi keamananku. Kenapa sekarang kau ungkit perbedaan status?” Bulir air menetes dari sudut mata Weini.


“Ya, tapi kebenaran tidak bisa dipungkiri. Selamanya kau tetap nonaku.” Haris menggeleng lemah, ia tak kuasa menghadapi deraian air mata seorang gadis, apalagi ia penyebabnya. Haris kemudian berdiri mendekati


Weini dan bersujud hormat.


Weini terkejut. Pria itu berlaku formal lagi seperti dulu, ia sungguh tidak menginginkan hal itu. Weini segera menarik Haris bangun dari posisi sujutnya.


“Cukup, pak cukup!” Weini menepis sikap gongshou dari Haris.


“Meskipun di sini kita menyesuaikan diri tetapi selama ini hati saya tidak berubah dan memandang anda sebagai nona terhormat. Mohon Nona jangan bersikap keras kepala lagi.” Pinta Haris secara formal. Ia mengingatkan


Weini akan statusnya.


“Apa kau bisa meramal masa depan? Apa kau tahu kelak aku bisa pulang ke rumahku atau terus menetap di sini? Jika ya, biarlah menjadi urusan di masa depan. Yang aku inginkan adalah masa kini. Kau sendiri yang


mengajarkanku untuk tidak menyepelehkan segala hal, kita perlu persiapan untuk yang terbaik dan terburuk. Aku hanya bernegosiasi tentang yang terburuk.” Weini mengatur nafasnya, ia tidak bermaksud mengeluarkan nada tinggi saat bicara dengan orang yang ia hormati.


“Nona, apa yang terjadi? Anda pasti punya alasan kuat sampai mempermasalahkan ini.” Haris mulai menebak hal apa yang memancing tekad Weini meminta ketegasan marga.


Weini menarik kursi dan terduduk lemah. Sebelum ia menjawab, matanya menatap lekat pada Haris. “Ada seorang pria yang bertanya tentang margaku. Baru kali ini aku kebingungan menghadapi sebuah pertanyaan.”


“Apa dia orang luar? Di sini tidak banyak yang mempermasalahkan itu.” Haris berpikir keras. Orang yang mempertanyakan marga biasanya berniat menjalin hubungan dekat. Apa Weini sudah punya pacar?


“Ya, dia bukan orang sini. Aku bohong padanya bawah aku tidak punya marga. Tapi ia bukan orang yang mudah ditipu. Ia bilang namaku punya arti yang bagus. Padahal aku sendiri nggak tahu apa namaku ada artinya. Bukankah


itu hanya nama latin dan tidak ada artinya?” ujar Weini meluapkan keresahannya. Gara-gara satu pertanyaan dari Xiao Jun, kepercayaan diri yang ia kumpulkan bertahun-tahun runtuh sekejab.


“Dia tidak salah. Namamu memang punya arti yang bagus.” Haris mulai tersenyum. Sudah saatnya ia menghibur hati majikannya.


“Sungguh?” Weini penasaran.


Haris mengangguk mantap. “Ya. Sebenarnya waktu berencana membawamu kabur, aku bingung mencari nama. Jadi asal kubuat yang simpel dan terdengar seperti nama latin saja. Wei ku ambil dari margaku, dan Ni itu dari aksara mandarin yang berarti anak perempuan.”


Mata Weini berbinar, ternyata misteri namanya terpecahkan. “Jadi artinya aku adalah anak perempuan Wei?”


Haris mengiyakan lewat isyarat anggukan kepala. Meski akan merepotkan kelak, terkadang kebohongan itu diperlukan untuk memberi kebahagiaan sejenak. Weini tidak akan menyadari bahwa ia tengah menikmati dusta


yang diciptakan Haris.


“Jadi selama ini aku memakai margamu pak Haris? Ha ha ha” Weini terbahak saking girangnya. “Kalau begitu mulai sekarang aku akan memanggilmu ayah.” Kini ia membuat keputusan sepihak.


Haris langsung bereaksi menolak. “Jangan! Panggil pak saja seperti biasa.”


Penolakan itu justru membuat Weini makin ngotot. Ia langsung berlutut dan bersujud. “Ku mohon ijinkan aku memanggilmu ayah.”


Haris kian serba salah, ia bergegas menarik tangan Weini agar segera menghentikan kekonyolannya. Weini terus melunjak agar keinginannya disetujui. Hingga Haris kewalahan menolak dan akhirnya menyerah. Dalam hati ia berkali-kali memohon ampun kepada Liang Jia dan Li San karena membuat putri mereka memanggilnya ayah.


“Sekarang coba katakan, siapa bocah yang berani bertanya seperti itu padamu?”


Weini menopang dagu, sempat ragu untuk menjawab namun sekarang ia tidak sepenuhnya menyalahkan Xiao Jun. Berkat pertanyaan itu, kini ia bisa memiliki ayah. “Li Xiao Jun.”


“Li Xiao Jun?” Haris terhuyung. Nama itu terdengar aneh dan menyakitkan. Ia memegang dadanya dan segera menarik kursi untuk menopang tubuh.


Siapa dia?


***