OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 31 MASA LALU YANG KEMBALI HIDUP



Suara gedoran pintu terdengar memecah kesunyian rumah. Xin Er berlari mengangkat selot kayu yang digunakan sebagai penahan pintu. Balok panjang itu ia geletakkan begitu saja, ia bergegas menyambut kedatangan Wei dan seorang putri kecil.


“Ini pasti nona muda. Xin Er memberi hormat.” Xin Er membungkuk dan memberi salam gongshou kepada gadis kecil yang digandeng Wei ke rumahnya.


Dari celah dinding kayu kamar tidur, Li Jun mengintip gerak-gerik orangtuanya. Diamatinya dengan seksama gadis yang umurnya kurang lebih dirinya itu. Berambut panjang digerai lurus dan hitam, samar-samar terlihat kecantikan dan kelembutan dari tatapannya. Li Jun mempertajam pendengaran, ayahnya sedang mengenalkan gadis itu. Ia bernama …


“Ah… gawat.” Keluh Xiao Jun. sepertinya ia tertangkap basah menjadi penguntit. Degup jantungnya kian berdebar kencang. Gadis itu melirik ke arah matanya. Li Jun berusaha tidak berkedip agar tidak ketahuan. Celaka! Gadis itu berjalan mendekatinya.


“Tidaaaaak!” Xiao Jun terperanjat, matanya terbelalak kaget. Ia mengatur nafas yang ritmenya cukup kacau. Kedua telapak tangannya ia kepal dan renggangkan berulang kali, pandangannya menyebar ke sekeliling. Mimpi barusan bisa membuatnya tersengal-sengal saat bangun. Anehnya ia merasa kejadian dalam mimpi itu cukup nyata. Terutama wajah gadis itu, ia berpikir keras di mana pernah melihatnya.


“Gadis yang datang bersama ayah di saat aku dan cie-cie pulas tidur. Di mana aku pernah melihatnya?” Xiao Jun menerawang jauh ke masa silam, memutar memori kala itu, menelisik misteri yang menunggu dipecahkan.


“Dia datang bersama ayah, lalu ibu memanggilnya nona muda. Keluargaku mengabdi pada keturunan Li sejak dulu, berarti dia pasti anak Tuan Li San. Nona Yue Hwa.” Xiao Jun menarik benang merahnya, ia tersadar mengapa begitu familiar dengan foto Yue Hwa yang ia lihat di kamar Liang Jia. Ini bukan mimpi biasa melainkan ingatan masa kecilnya yang sudah ia lupakan sekian lama.


Xiao Jun tak habis pikir, mimpinya belakangan ini sering tentang keluarganya. Seakan ada sesuatu yang tersirat dan menunggu untuk diungkapkan. Dengan kekuatan sihir yang melemah di sini, ia tidak bisa berbuat banyak.


“Aku harus mencari alasan untuk segera kembali ke Hongkong!” tegas Xiao Jun pada dirinya sendiri. Ia merasa itulah satu-satunya cara agar dapat mendeteksi lagi sinyal sihir yang tak bisa ia lakukan di sini.


***


Kediaman Li San, Hongkong.


Yue Yan dan ketiga adiknya tengah berkumpul di kamarnya. Semenjak pulang ke tanah kelahiran, mereka berempat kembali terkurung dalam peraturan rumah yang membosankan. Terbiasa hidup fleksibel di luar negri


membuat mereka harus beradaptasi dengan keras di rumah sendiri. Sebaliknya, sepupu mereka – Chen Kho – justru sangat menikmati liburan. Pria itu bebas sesuka hati berkeliaran di kota maupun di dalam rumah. Li San tidak berani mengekang keponakannya dengan aturan meskipun ia tuan rumah.


“Awalnya aku kira kita bisa merasakan kehangatan keluarga setelah puluhan tahun merantau, ternyata dulu dan sekarang sama saja.” Yue Fang mengeluh. Putri ketiga dari Li San itu yang paling tidak betah berada di rumah. Setiap hari yang ia kerjakan hanya bermain games dari ponsel untuk mengusir kejenuhan.


“Aku ingin kerja di luar, tapi ayah tidak mungkin mengijinkan.” Menyusul keluhan dari Yue Xin, putri kedua Li San. Mengingat status keluarga mereka yang terhormat, Li San tidak mungkin memberi kebebasan bagi keturunannya dalam menentukan segala hal termasuk jodoh dan karier.


“Sejak kita pulang, ibu malah sering sakit-sakitan.” Yue Yan menimpali curhat panjang antara saudara.


“Aku rasa ibu terbebani dengan kepulangan kita.” Ujar Yue Xiao, putri ke empat Li San dengan ketus. Kalimat yang ia lontarkan memancing tatapan penuh Tanya dari ketiga saudaranya.


“Adik jangan berpikir begitu. Ibu sangat menyayangi kita, mustahil ia terbebani.” Sebagai anak tertua, Yue yan lebih dewasa dalam berpikir maupun bertindak. Ia selalu berusaha meredam perselisihan di antara saudara dan berhasil hidup rukun hingga sekarang.


“Apa yang mustahil? Ibu menganggap kita benalu. Di hatinya hanya ada Yue Hwa!” pekik Yue Xiao geram.


“Tanya saja sama kak Yue Fang, kami tak sengaja mendengar pembicaraan ibu dengan pembantunya. Ibu terbebani melihat kita pulang, keberadaan kita semakin mengingatkan ibu pada adik sialan itu!” cecar Yue Xiao kesal, emosinya sudah meluap hingga ubun-ubun.


“Adik, jaga bicaramu! Tidak sopan berkata kasar pada orang yang sudah tiada.” Yue Fang turun tangan. Ia menepuk meja dengan keras pertanda protes pada adiknya.


“Kenapa kau ikutan marah kak? Kau dengar sendiri kan, ibu masih sangat menyayanginya. Kita yang hidup ini tetap kalah kasih sayang dari dia.” Yue Xiao kian menggila, nada bicaranya kian melengking.


“Sudahlah. Gimanapun kita tetap lebih beruntung dari Yue Hwa. Di antara kita berlima, hanya dia yang dipermasalahkan ayah. Apa jadinya kalau kita berempat juga menyusul nasib dia? Diutus ayah untuk mati!” Yue Yan mulai meredakan suasana. Akan gawat jika obrolan mereka disabotase pihak lain dan diadukan pada Li San. Mereka mungkin tidak diberi ampun.


“Ha ha ha… lucu banget kamu! Orang yang udah mati saja kau cemburui. Sadar nggak kalian bahwa ada orang yang lebih mengancam?” Yue Xin terkikih melihat keluguan saudaranya.


“Siapa?” ujar Yue Fang dan Yue Xiao bersamaan. Sedangkan Yue Yan hanya diam menyimak apalagi yang dipikirkan saudaranya.


“Adik laki-laki satu-satunya. LI XIAO JUN!” Yue Xin menegaskan ucapannya saat menyebut nama Xiao Jun.


“Oh…” ujar Yue Xiao singkat.


“Iya juga, kenapa bisa lupa sama orang itu. Gara-gara dia, kita dikirim ke rumah paman. Sekarang dia pergi, ayah baru mengutus kita pulang.” Lanjut Yue Xiao.


“Dan lagi iya menguasai seluruh bisnis ayah. Dia dididik menjadi penerus keluarga Li padahal dia bukan anak kandung ayah.” Nada iri dilontarkan Yue Xin. Ia tidak akan lupa bagaimana dirinya dan ketiga saudaranya dipaksa merantau saat masih kecil, penyebab semua ini karena putra dari Wei.


“Lalu dia mau kalian singkirkan? Hmm… jangan naïf, sadar kodrat kita sebagai wanita. Kita tidak punya hak warisan dan bukan penerus marga.” Yue Fang mengingatkan kedua saudaranya yang mulai berpikir licik.


“Fang-fang, kita ini hidup di jaman modern. Wanita dan pria punya kesamaan hak. Kita bisa berkarier, menikah dengan orang yang kita cinta. Dan kita punya hak menuntut warisan!”  Yue Xin enggan kalah soal argumentasi, apalagi menyangkut orang yang ia benci.


“Ya, jika kamu berasal dari keluarga lain. Tapi kebebasan itu tidak berlaku dalam keluarga Li! Sudahlah, hentikan pembahasan konyol ini.” Yue Yan angkat bicara. Sedari tadi ia menjadi pendengar tanpa memihak siapapun. Jika pembicaraan terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan akan menjurus pada skandal pemberontakan. Ia harus segera mengakhiri sebelum tembok mulai menguping.


“Terserah kakak. Yang pasti aku nggak respek sama Xiao Jun. Dia lebih tidak pantas menjadi ahli waris keluarga Li. Kita yang punya darah murni leluhur Li harus disingkirkan sama anak pungut? Aku nggak terima!” Yue Xin mengakhiri perdebatan dengan mempertahankan pendapatnya. Ia dan Yue Xiao saling berpandangan dan menguatkan satu sama lain lewat isyarat tubuh.


Tembok yang sedemikian tebal dan jarak yang terpaut jauh tidak menghalangi sepasang telinga untuk mendengar pertengkaran antar saudara. Li Chen Kho tersenyum licik dari balik kamarnya yang terpisah ratusan meter. Berbekal pendengaran yang tajam, ia leluasa menguping tanpa khawatir  dicurigai. Setidaknya ia tahu siapa yang bisa dimanfaatkan untuk memainkan perannya.


“Li Xiao Jun! Tunggu tanggal mainnya! Ha ha ha…”


***