OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 411 SEPARUH SADAR



Aku mendengarmu...


Suara asing yang terus membisiki ku


Aku merasakanmu...


Aliran energi yang hangat merasuki diriku


Ingin kubuka mata ini


Tetapi katupnya terasa berat menahan


Aku tahu semua yang terjadi tanpa sanggup menunjukkan perasaanku


Sampai kapan tubuh ini terus tertidur?


_Suara hati Yue Hwa_


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Tubuh Weini tengah dibasuh pelan dengan handuk hangat oleh gadis pelayan yang melayaninya. Meskipun tidak sadarkan diri tetapi Chen Kho memerintahkan pelayan itu untuk mengganti pakaian Weini tiga kali sehari. Tugas pelayan itupun cukup ringan, hanya membersihkan tubuh, mengganti pakaian, dan menjaga sang putri tidur itu.


Pelayan itu mengangkat satu tangan Weini agar mudah dibasuh, sesekali ia menatap kagum pada wajah cantik Weini yang seperti bersinar. Walaupun heran dengan status nona yang dilayaninya itu, ia tak akan berani bertanya pada majikannya yang berhati dingin. Bisa-bisa jika ia salah bicara atau bertindak, mungkin nyawanya akan ditukar dengan kelancarannya.


"Ah...." Pelayan itu terkejut lalu reflek menjauhkan tangan Weini darinya. Ia bergerak mundur beberapa langkah saking terkejutnya melihat sesuatu yang bersinar dari tangan nona cantik itu. Setelah memberanikan diri melihat lebih jelas, pelayan itu ternganga lebar saat tahu sinar yang mengangetkannya ternyata dari pancaran cincin di jari manis nona itu.


"Aku harus lapor pada tuan." Ujar pelayan itu kemudian buru-buru berlari keluar hendak mencari Chen Kho.


Jangan pergi... Jangan panggil dia ke sini....


Suara hati Weini menjerit, ia tak kuasa bangun dan tersadar sepenuhnya. Kekuatan yang terkuras banyak dari tubuhnya belum cukup pulih baginya. Meskipun sudah menghisap banyak energi dari tubuh Chen Kho, tetapi tak juga cukup bagi Weini untuk memulihkan diri. Weini muak bila Chen Kho didekatnya, suaranya, napasnya yang terasa dekat, Weini berharap segera bangun dan kabur dari tempat entah apa ini.


*Jun, apa kau tak bisa menemukanku? Tolong... Bawa aku pergi dari sini!


🎬🎬*


"Mereka mati dalam kecelakaan? Dasar tak becus!" Geram Chen Kho sambil menggerakkan gigi.


Pengawal yang sudah kembali dan melaporkan pada Chen Kho itu hanya bisa menunduk, apa yang perlu ia sampaikan sudah dilakukan.


Chen Kho menoleh ke arah pengawalnya, "Kamu melihat mayatnya? Yakin dia sudah mati?" Selidik Chen Kho dengan nada sinis.


Pengawalnya tampak bingung, tak lama kemudian ia pun memberi jawaban. "Saya tidak melihat langsung, akan sangat berbahaya kalau saya muncul, di sana penjagaan masih sangat ketat, tuan. Tapi berita yang saya dapatkan cukup akurat dan pemberitaan sudah tersebar luas." Ujar pengawal itu menyampaikan alibinya.


Chen Kho menatap tajam padanya, "Aku tak percaya dia mati semudah itu kecuali ia bunuh diri. Lalu bagaimana dengan mereka? Apa ikut mati juga?" Tanya Chen Kho dengan nada tinggi, tak peduli nyawa pengawalnya yang penting target mereka harus mati.


Pengawal itu tak berani menatap wajah Chen Kho yang murka. Ia sedikit gemetaran karena yakin apa yang akan disampaikannya pasti membuat Chen Kho mengamuk. "Mereka kritis tuan...." Jawabnya pelan dan takut.


Pengawak itu makin ketakutan, seharusnya Chen Kho yang lebih berotak memimpin mereka, tetapi terkadang pria itu terlihat bodoh dan tak bisa diandalkan. Pengawalnya merasakan betul perubahan sikap Chen Kho, kadang tegas, menakutkan dan penuh trik keji, tapi kadang justru terlihat tak bisa apa-apa. Dan sekarang yang pengawalnya hadapi adalah sisi diri Chen Kho yang tak bisa memimpin.


"Sejak nona Grace menyatakan fakta yang bertentangan dengan rencana kita, publik justru berbalik simpati pada nona Yue Hwa. Akan sulit menekan tuan besar jika simpati publik tengah tersorot untuknya. Tuan Kao Jing justru dianggap pengkhianat dan pantas dihukum." Jawab pengawal itu dengan hati-hati menyampaikannya.


Chen Kho menyeringai, "Grace? Anak manja itu sudah berani bersuara rupanya. Di mana dia sekarang?"


"Dia masih di kediaman Li, bersama nyonya dan tuan besar." Jawab pengawal itu.


Belum juga Chen Kho merespon pernyataan pengawalnya, suara ketukan pintu membubarkan pembicaraan rahasia mereka. Chen Kho memerintahkan anak buahnya membuka pintu lewat lirikan mata. Segera pengawal itu membukakan pintu, dan Chen Kho mengernyit saat melihat pelayan pribadi Weini masuk tergesa-gesa.


"Ada apa?" Tanya Chen Kho tak sabaran.


Pelayan itu bersujud sambil ketakutan. "Tuan, barusan saat saya membersihkan tubuh nona, tiba-tiba cincin di tangannya bersinar terang." Pelayan itu masih tampak ketakutan, jiwa penakut dan polosnya tak bisa ditutupi.


Mendengar itu langsung membuat Chen Kho bereaksi, tanpa memberi jawaban pada pelayan yang masih bersujud, Chen Kho berlari cepat mendatangi ruangan Weini. Harapannya sangat besar, berharap sesampainya di kamar itu, Weini sudah siuman.


Pintu kamar Weini masih terbuka lebar karena pelayan yang lari terbirit-birit itu. Begitu Chen Kho masuk dan mendapati tubuh Weini yang tertutupi selimut putih, lantaran belum selesai dibasuh oleh pelayan itu. Tak ada perubahan dari gadis itu, masih tetap terpejam dan tampak pulas dalam tidurnya.


Chen Kho menelan ludah, jika ia menuruti kehendak hatinya, bisa saja ia melakukan apapun pada gadis yang tak berdaya itu. Kecantikan, kemolekan tubuh, dan kesempatan yang jelas di depan mata, rasanya afdol bila Chen Kho memanfaatkannya. Ia berjalan pelan menghampiri Weini, tatapannya tak berkedip menikmati wajah cantik itu.


Perlahan tubuh Chen Kho melorot jatuh terduduk persis di samping Weini. Ia mengamati cincin yang menghebohkan pelayan tadi, dan benar saja laporan pelayan itu, cincin di jari Weini masih bersinar.


"Pertanda apa dari benda sialan ini?" Gerutu Chen Kho tampak tak suka.


Pikirannya menerawang jauh, memikirkan banyak pertimbangan yang mengusik ketenangannya. Chen Kho memegangi kepalanya yang terasa penat berpikir, "Aaargghhh! Kadang aku tak mengerti untuk apa aku bertindak sejauh ini? Demi ayahku? Demi memuaskan ambisi gilanya? Atau aku yang menggila? Apa yang dia janjikan padaku setelah membantunya kudeta? Aku tak suka jadi pemimpin, aku mencintai kebebasan! Dan setelah bertemu denganmu, aku semakin berpikir keras. Apa sebaiknya kita tak perlu lagi menampakkan diri di dunia luar? Kita berdua saja di sini, dunia milik kita... Aku akan menunggumu bangun, kita bisa hidup bersama dengan tenang. Kau tak perlu bertemu keluargamu yang kejam itu, tak perlu mencintai kekasihmu yang tak becus itu. Cukup ada aku, hanya aku yang bisa melindungi dan memilikimu!" Pekik Chen Kho pada Weini yang terpejam.


Tidak! Aku tidak mau bersamamu. Jangan mimpi aku sudi denganmu! Enyah dari hadapanku!


Batin Weini terus memberontak, tapi sayang kata-kata itu tak bisa terdengar Chen Kho.


Pria itu mulai menatapnya dengan napsu, ia menikmati lekuk tubuh Weini yang tertutup selimut itu. Tinggal disibak saja, kemolekan dan kulit mulus gadis itu bisa ia sentuh. Pikiran yang terus menghasutnya itu mulai menggerakkan Chen Kho untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Weini, dan satu tangannya dengan gesit menyibak kain penutup tubuh Weini itu.


🎬🎬🎬


Hi readers, dalam episode ini author sekaligus mengucapkan selamat hari raya idul adha bagi teman-teman yang merayakan ya. 😊


Edisi ini author juga menampilkan visual karakter yang paling kalian benci, pengen kalian telan hidup-hidup kalau bisa, atau bahkan pengen kalian keroyok andai itu nyata.


Tapi setelah melihat visualnya, yakin masih mau menghajarnya? πŸ˜‚


Li Chen Kho ini memang menggemaskan, saking gemasnya pengen dijitak rasanya. Author pengen tahu, kalian ingin nasib dia di akhir seperti apa sih?