
"Li Gong Zhu, suatu kehormatan anda berkunjung ke tempat kami."
Kao Jing yang baru bangun dari tidur siangnya kaget melihat kehadiran Weini di ruang tamu bersama Fang Fang. Pria tua itu segera membungkuk hormat bahkan nyaris saja bersujud jika tidak segera dicegah oleh Weini.
"Paman, jangan sungkan, berdirilah! Di sini tidak ada aturan seperti di sana, paman tak perlu berlaku hormat padaku." Ujar Weini tersenyum tulus.
Kao Jing membalas senyuman itu tak kalah tulus, semenjak pengampunan yang diberikan oleh Weini, akhirnya Kao Jing bisa sepenuhnya menghormati penguasa baru itu.
"Apa kabarmu, paman? Apa sudah betah tinggal di sini?" Tanya Weini berganti topik.
"Ya, perlahan sudah bisa adaptasi dengan lingkungan baru. Tapi aku tampaknya tidak ada harapan untuk belajar bahasa baru, maklum saja otak paman sudah tua. Tidak pikun saja sudah bersyukur." Tawa Kao Jing yang tak sungkan membicarakan kekurangannya.
Weini ikut tersenyum saja, memang faktor usia tidak bisa disepelekan.
"Yang penting paman sehat ya."
"Terima kasih Gong Zhu, silahkan dilanjutkan ngobrolnya. Mungkin sebentar lagi Grace pulang, paman mau ke kamar lagi." Pamit Kao Jing yang tak pandai berbasa basi lagi dengan Weini. Dibiarkannya dua gadis itu bertukar cerita sambil mengisi hari waktu yang ada.
Suara bel berbunyi, Fang Fang kembali sigap lagi untuk menyambut tamu.
"Ah, itu pasti Dina. Bentar ya Gong Zhu." Gumam Fang Fang senang, ia kemudian berlari menghampiri pintu dan membukanya.
Dina terlihat melambaikan tangannya, menyapa Fang Fang kemudian celingukan ke arah dalam. Matanya sibuk mencari sosok Weini yang akhirnya dilihatnya. Dina bergegas masuk, melupakan sejenak kekasihnya yang masih berdiri di muka pintu.
"Nonaaa...." Seru Dina heboh dan penuh semangat.
Weini berdiri menyambut Dina dalam pelukannya, bukan pelukan biasa namun Dina sampai berjoget saking senangnya.
"Mimpi apa aku hari ini bakal ketemu nona lagi. Kok datang nggak bilang-bilang sih nona?"
Weini tersenyum manis, "Gimana mau bilang, bukan kejutan lagi dong kalau diomongin." Serunya lagi.
Tatapan Weini berpaling dari Dina dan menatap sosok pria tinggi, tampan dan berwajah kalem yang sedang membungkuk hormat padanya. Mereka pernah bertemu sebentar di kediaman Li tapi tidak sedekat sekarang hingga Weini bisa melihat jelas wajahnya.
"Ah, kenalkan nona, ini pacarku Ming Ming." Seru Dina yang kembali ingat kekasihnya yang terlantar.
"Ming Ming cepat beri hormat sama nona." Perintah Dina, padahal dirinya sendiri tidak berlaku hormat, malah langsung mendekap erat Weini.
"Ng... hormat kepada Li Gong Zhu." Seru Ming Ming lantang khas seorang pengawal.
Dina menahan senyumnya, geli saja kalau melihat mimik serius Ming Ming.
Weini menoleh pada Dina, heran karena tertawa tanpa sebab. Apalagi Ming Ming, ia sempat bingung dan merasa ada yang salah dengan dirinya.
"Jangan sungkan, masuklah kita ngobrol di dalam sambil tunggu Grace pulang." Ujar Weini yang mewakili tuan rumah mempersilahkan tamunya masuk.
Fang Fang mengambil minuman, membiarkan tamu itu bersantai sejenak melepas rindu.
"Non, di sini berapa hari? Lama dikit ya plis, biar puas dulu kangennya mumpung Grace masih lajang. Eh, nanti malam nginap di sini yuk, kita para gadis seru-seruan." Gumam Dina bersemangat memberikan usulnya. Ia lupa total kalau Ming Ming juga hadir dan membutuhkannya.
"Aku memang akan nginap di sini, tapi kamu gimana kak? Itu...." Weini mengkode pada Ming Ming yang tampak menunduk malu karena sedang dibicarakan.
"Ng, gini aja deh, gimana kalau para cowok juga nginap di sini. Biar rame, kan lumayan ada Ming Ming, Stevan dan bos Jun. Wah pasti seru nih, biarkan cowok cowok sendiri, kita juga fokus cewek cewek non." Seru Dina bersemangat, dalam otaknya sudah terpikir beberapa ide permainan yang akan mereka mainkan andai ini deal.
Weini manggut-manggut, "Hmm ide bagus, boleh juga. Nanti aku akan coba bicarakan ke Jun. Ya semoga saja dia tidak lembur." Ujar Weini memberi persetujuan.
Dina jingkrak-jingkrak kegirangan yang sontak membuat Ming Ming senyam senyum. Ia suka sikap Dina yang blak-blakan, apa adanya dan ini sangat mengingatkannya tentang Dina yang awal dikenalnya.
❤️❤️❤️
"Grace, nggak usah lari deh, jalan juga bentar lagi sampai." Teriak Stevan yang cemas karena setelah turun dari lift, Grace terus berlari menuju apartemennya.
"Aku mau sampai duluan." Balas Grace terus berlari.
"Kamu pakai heels, kalau keseleo gimana?" Pekik Stevan lagi cemas.
Tak disangka Stevan, bukannya berhenti berlari, Grace justru bertingkah konyol, ia melepas sepatu hak tingginya lalu menentengnya dan kembali berlari.
Stevan menghela napas pasrah, kelakuan gadis itu benar benar tak bisa dicegat. "Ah sudahlah, kau keras kepala sekali Grace."
Grace memencet password apartemen lalu membuka pintu dengan tergesa-gesa. Kedatangannya belum disadari yang lainnya lantaran asyik dengan celotehan Dina.
Weini yang pertama sadar kedatangan sepupunya, ia berdiri lalu membalikkan badannya, sontak yang lain melihat ke arahnya dan tahu bahwa Grace tiba.
"Sepupuku... akhirnya ketemu lagi." Grace memeluk erat Weini, erat sampai tak mau dilepaskan.
Weini tersenyum, ia membalas pelukan Grace lalu menepuk punggungnya pelan. "Aku juga, demi melihat kamu yang lagi bahagia ini, makanya aku kemari." Ujar Weini yang akhirnya bisa terlepas dari pelukan erat Grace.
Grace tersipu malu, tak menyangka saja bahwa ia yang akan duluan diledek teman-temannya. Padahal ia pikir Weini dulu yang akan menikah dan ia yang akan heboh meledeknya. Ternyata terbalik, jodoh Grace duluan tiba giliran untuk melepas masa lajangnya.
Stevan sudah masuk ke dalam, bergabung dengan yang lainnya. Saat tatapan matanya beradu dengan Weini, ia tersenyum dan sedikit mengangguk sebagai sapaan.
Weini membalasnya dengan kehangatan yang sama. "Grace, kak Stev, selamat ya. Aku turut berbahagia untuk kalian. Semoga dilancarkan sampai hari H ya." Ucap Weini tulus.
Grace mengangguk senang, senyumannya mengembang lagi.
"Kamu harus datang ya, Hwa. Aku tungguin loh, pokoknya aku nggak mau resepsi kalau kamu nggak datang." Ancam Grace.
Stevan tercengang, lagi lagi sifat manja Grace keluar. "Yang benar aja sayang, itu kartu undangan seribu pcs siap disebar loh, masa nggak jadi resepsi?"
Weini dan yang lainnya tertawa, tapi Weini menggenggam tangan Grace erat.
"Jangan cemas, untuk kamu apapun pasti aku lakukan. Aku pasti datang sehari sebelum pernikahanmu, tidak hanya aku tapi ibuku, ayah Haris, ibu Xin Er juga akan hadir." Ujar Weini menenangkan Grace.
Grace tersentuh, ia kembali menyiksa Weini dengan pelukan eratnya hingga terasa seperti tercekik.
"Makasih ya sepupuku...."
❤️❤️❤️