OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 21 PERHATIAN DALAM DIAM



Ada tempat di mana kau merasa nyaman dan enggan berpaling


Ada masa di mana kau memilih ketenangan di antara keramaian


Ada cara di mana kau kan temukan sekeping perasaan  yang hanya tercipta untukmu


__Quote of Yue Hwa aka Weini__


***


Jadwal Shooting iklan perdana Weini sudah ditentukan oleh managemen. Naskah juga mulai ia pelajari di selang shooting sinetron. Weini baru menyadari ternyata membagi waktu dalam dua job itu sangat menguras pikiran


dan tenaga.


“Ah, cilaka.” Weini meneput jidat ketika teringat ia belum meminta ijin Haris untuk kontrak iklan. Parahnya lagi, iklan itu menuntut adegan fighting dan ia tidak diperkenankan menggunakan peran pengganti. Bergegas ia bangkit dari tidur dan menghampiri Haris yang masih berada di ruang kursus.


Haris tengah merapikan alat tulis usai kelas sorenya selesai. Ia menyadari keberadaan Weini yang mengintipnya dari celah pintu.


“Awas mata merah loh kalau menguntit.” Gurau Haris memancing Weini keluar dari persembunyian.


Weini beranjak dari balik pintu kemudian masuk ke ruang kelas. Pendingin ruangan bersuhu 16 derajat celcius itu masih terasa panas bagi Weini, rasa gugup membuat tubuhnya gerah.


“Pak Haris, aku melakukan sebuah kesalahan. Silahkan marah dan aku tidak akan membantah.”


Di luar dugaan Weini, pembawaan Haris begitu rileks sampai ia terbawa suasana. “Bicaralah.” Perintah itu terlontar dengan nada yang sangat lembut.


“Aku menyetujui sebuah kontrak iklan tanpa seijinmu. Maaf aku tergiur dengan bayaran dua ratus juta sampai lupa mendiskusikan denganmu.” Tatapan yang begitu sayu dan sarat penyesalan dari kedua mata Weini. Ia sangat gegabah mengabaikan peran Haris dalam menentukan job, bagaimanapun Haris sudah seperti ayahnya.


“Jika kau merasa mampu melakukannya ya tidak masalah. Lagipula aku sendiri lupa menambahkan pasal tentang persetujuan tawaran kerja dalam perjanjian kita.” Ujar Haris santai.


“Masalahnya itu, proyek kali ini menuntutku beradegan kungfu.” Suara Weini melemah saat mengucapkan kungfu.


Haris membungkam. Ia mengajari Weini kungfu aliran Wing Chun sejak usia tujuh tahun, kemampuan gadis itu di luar ekspektasinya. Ia seakan ditakdirkan untuk mewarisi ilmu bela diri yang membutuhkan konsentrasi dan ketenangan batin itu. Walaupun bisa melawan, Weini selalu menyembunyikan kemahirannya dan itu semua karena Weini mematuhinya. Kini ia sudah gadis tujuh belas tahun, ia punya hak menentukan mana pilihan yang baik untuknya, walau mungkin bukan yang terbaik.


“Berapa dendanya kalau memutuskan kontrak?”


“Dua kali lipat dari bayaran.” Weini pasrah, yang terjadi terjadilah.


“Kalau begitu kau harus lakukan yang terbaik, kita tidak punya uang sebanyak itu.” Ujar Haris bercanda. Ia jelas mendukung keputusan Weini. Bakat terpendam tidak boleh dibiarkan selamanya terpendam.


Ini kesempatanmu unjuk kemampuan, Nona Yue Hwa.


***


Sebuah mobil sport merah terparkir nyaris satu jam di samping gudang kosong. Hujan mengguyur kawasan barat Jakarta begitu deras, namun si pemilik mobil betah berada di dalam. Dari posisi duduknya di belakang kemudi, ia bisa melihat dengan jelas spot di seberang. Rumah bercat putih kombinasi cream dengan halaman yang cukup rindang, meski tidak terlihat mewah tetapi dari tampilan luar saja dapat mencerminkan kenyamanan.


“Nona Weini tinggal bersama ayahnya. Tidak diketahui di mana ibunya karena sejak kecil hanya ayah yang mengasuhnya. Ia masih sekolah di tingkat SMA. Ayahnya seorang guru mandarin privat. Ia menghidupi nona Weini


dari pekerjaan itu saja.”


Masih terngiang seluruh informasi yang diutarakan Lau siang tadi. Xiao Jun tidak menyangka gadis itu menanggung beban hidup yang cukup miris juga. Ia paham betul rasanya tumbuh tanpa sosok orangtua yang lengkap.


Xiao jun meratapi masa kecilnya yang kelam. Semenjak diangkat menjadi putra Li San, ia telah melupakan kebebasan. Setiap hari hidup dalam aturan dan pengawasan. Kini ia meminta Lau agar tidak mendampinginya. Biarlah ia merasakan kebebasan dalam hal privasi. Meskipun harus mengandalkan GPS untuk sampai ke tujuan. Dan hanya dengan menatap rumah sederhana itu, Xiao Jun merasa senang. Ia tak berharap melihat Weini keluar, membayangkan gadis itu berada dalam kehangatan rumah saja sudah membuatnya bahagia.


Dering ponsel Xiao Jun menggema. Smartphone hitam itu bergetar di atas dasbor lalu segera diraih pemiliknya. Sebuah panggilan video dari Liang Jia menunggu sambungan dari Xiao Jun. dering masih menanti respon dari pemilik, namun Xiao Jun ragu mengangkat sambungan telpon itu sekarang. Ia khawatir Liang Jia bersama Li San dan melihatnya sendirian di dalam mobil. Tapi bagaimana kalau yang menelpon justru ibunya?


“Ni Hao.” Xiao Jun membuka percakapan kepada Liang Jia yang tersenyum dalam panggilan video.


“Xiao Jun, apa kabarmu? Mengapa lama menerima telponku? Ibumu merindukanmu.” Liang Jia mengalihkan video pada Xin Er yang duduk di sebelahnya. Begitu melihat Xiao Jun, wanita berusia kepala enam itu kehabisan kata. Kedua mata berkaca menatap wajah anak yang sangat dirindukan.


“Ibu, apa kabarmu? Mengapa kau tampak kurusan?” Xiao Jun mulai cemas melihat fisik ibunya yang terlihat lebih kurus dan wajah lelah. Ia curiga tuan besar menyusahkan ibunya ketika ia jauh dari rumah.


“Tidak nak. Ibu baik-baik saja, hanya terlalu merindukanmu.” Mustahil bagi Xin Er untuk jujur bahwa ia menderita penyakit paru-paru hingga sekurus ini.


“Ibu tolong jaga kesehatanmu. Aku sangat baik di sini tidak perlu cemas.”


“O, ya. Ibu akan sampaikan kabar baik tentang kakakmu Li Mei. Tuan besar mengijinkannya kembali ke Hongkong dan akan menjodohkannya dengan pria yang tepat.” Memang inilah tujuan Xin Er menghubungi putranya. Atas seijin Liang Jia, ia ingin menjadi orang pertama yang menyampaikan kabar bahagia ini.


Sungguh kabar baik beruntun yang diterima Xiao Jun hari ini. Lau mengkonfirmasi keadaan kedua saudaranya yang baik, lalu sekarang Xin Er menyampaikan rencana pernikahan. Ia tak habis pikir mengapa Li San yang


tak punya hati itu bisa menyetujui kepulangan kakaknya. Tetapi ia merasa lega, setidaknya ada yang bisa menggantikannya menjaga Xin Er sementara waktu.


“Aku pasti menghadiri pernikahan kakak.”


***


“Camera rolling and ACTION!”


Studio dengan lighting dan setting bernuansa tahun 80an menjadi lokasi shooting Weini. Ia mengerahkan kuda-kuda untuk menantang lawannya. Mimik yang sangat serius serta balutan kostum hanfu sangat mendukung


karakternya sebagai petarung kungfu. Weini menghadapi lawan seorang pria bertubuh kekar dan memiliki kemampuan tanding yang sepadan. Meskipun ini hanya shooting dan mereka telah melakukan latihan sebelum take, Weini tetap merasa ini pertarungan yang tegang.


“Arrghhh…” Si pria menyerang Weini dari belakang hingga ia tersungkur.


“Bukankah ini hanya acting, mengapa anda mengeluarkan tenaga dalam sungguhan?” Weini mengelak untuk serangan susulan. Ia berhasil menepis kepalan tinju yang hampir mengenai perut.


“Anda harus professional walau hanya acting.” Pria itu sinis membalas Weini. Ia terus menggencarkan serangan.


Weini Nampak kewalahan menghindar, ia bisa saja menyerang balik namun apa itu tidak berlebihan? Ini hanyalah shooting iklan.


“Kok talent itu over acting ya? CUT CUT!!!”


Bams menyudahi scene yang aneh di hadapannya. Ekspresi dari dua pemain itu sudah di luar skenario, kemenangan justru lebih menonjol di pihak lawan ketimbang Weini. Pria kekar itu masih memberikan serangan bertubi tanpa menghiraukan aba-aba sang sutradara. Perkelahian mereka bahkan sudah merusak propertI di sekitar studio.


“Aaarrghhhhh…” Weini tersungkur jatuh karena mengelak tendangan dari sisi kanan. Seluruh kru langsung berlari menengahi perkelahian sungguhan ini.


Apa yang terjadi?


***