
Dina yang kelaparan berat dengan lantang meminta Xiao Jun mentraktirnya makan hingga mereka berakhir di depot 24 jam dalam rumah sakit. Sesekali kantuknya menguap diiringi air mata saking beratnya ia melawan
hasrat tidur. Ketika nasi ayam bakar tersaji di depannya dengan kepulan uap yang keluar dari nasi, gentian air liurnya yang nyaris menetes saking tergoda.
“Makan tuan, hehehe…” Dina langsung melahap persis orang yang kelaparan dua hari.
Selera makan Xiao Jun mendadak hilang, rasa kenyangnya sudah diwakili makan oleh Dina.
“Pelan-pelan, aku nggak akan merebut makananmu. Tapi setelah kenyang, ceritakan semua yang terjadi!” perintah Xiao Jun. Ia memilih menyeruput teh hangat manis untuk menghilangkan kantuk.
Dina meneguk es jeruknya, “Lisa menyuruh asistennya jadi peran pengganti dan beradegan dengan Weini…” Dina mengesampingkan makanannya, ia berceloteh panjang demi menuntaskan informasi yang diminta Xiao Jun.
“Hmmm… oke Dina. Trims infonya. Setelah makan pulang saja. Kau cukup kerja keras hari ini.” Ujar Xiao Jun dengan tenang, tapi bagi Dina perintah itu terdengar seperti bentuk perhatian. Jika Xiao Jun bukan kekasih Weini, ia pasti sudah salah paham dengan perhatian kecil itu.
“Hahaha… Tuan, kau manis juga. Aku hampir salah paham loh, bisa-bisa aku kepincut. Btw, selamat ya udah jadian. Jangan sakiti Weini loh kalau nggak mau digigit pengawalnya.” Dina menyeringai sembari memonyongkan mulut, ia memberi isyarat ada seseorang di belakang Xiao Jun.
Stevan muncul dengan wajah dongkol seakan hendak menelan rivalnya hidup-hidup. “Beraninya lu ngambil kesempatan dalam kesempitan, nembak Weini dalam kondisi sakit. Lu pasti maksa dia!”
Xiao Jun menghela napas, keegoisan antar pria memang sulit diidentifikasikan. Ia tahu Stevan bukan orang yang jahat, justru pria itu lebih berkesempatan melindunginya di tempat kerja ketimbang Xiao Jun meskipun kali ini ia lalai.
“Lalu bagaimana kamu menjelaskan kejadian ini? Kamu bilang perhatian sama dia, menjaga dia, tapi kenapa justru ia cidera?” skak mat dari Xiao Jun membuat Stevan kehabisan kata-kata.
Stevan kalah, kalah telak malah. Harusnya ia malu pada dirinya yang gagal menjadi pahlawan, ia tahu rencana Lisa namun terlalu percaya diri bisa mengatasinya tanpa bantuan orang lain. Stevan baru merasa dirinya betul betul egosi.
“Duduk di sini. Kita makan dulu!” Xiao Jun menarik Stevan duduk di kursi kosong di sampingnya, bergabung dengan Dina yang sedang melahap porsi kedua. Xiao Jun memanggil pelayan dan menawarkan menu pada
Stevan. Perasaan akrab itu tidak ditolak Stevan, ia menuruti Xiao Jun begitu saja seperti terhipnotis kebaikannya.
“Lain kali kita minum bareng, aku yang traktir.” Seru Xiao Jun. Demi menemani Stevan makan, ia ikut memesan semangkuk mie ayam untuk mengganjal perut.
“Wah, bos memang royal. Setelah Weini sembuh, kita rayakan bersama!” Dina sangat bersemangat jika menyangkut traktiran makan.
Stevan belum memberikan tanggapan, ia memilih menikmati santapannya dengan penuh perasaan bersalah. Haruskah ia memberi tahu Xiao Jun semuanya?
“Bro, setelah ini Weini dan paman akan menghadapi masalah besar. Tadi kami menjenguk Metta, dan lu tahu dia bukan cewek biasa. Papanya konglomerat yang punya banyak saham di PH gue dan Lisa. Dia bakal layangkan
gugatan ke Weini, dan paman menyanggupinya!”
Pengakuan Stevan membuat Dina tertohok. Kenapa masalah begitu senang menghampiri Weini, sepertinya ia akan mengajak artisnya mandi kembang untuk buang sial.
“Siapa nama ayahnya?” tanya Xiao Jun singkat.
Stevan melihat keseriusan di wajah Xiao Jun, sepertinya pria itu bisa diandalkan meskipun mungkin tak bisa menandingi kekuasaan lawannya.
“Anwar Gumilang.”
Prrffff…. Dina tersedak minumannya begitu mendengar nama itu. “Ngapain anaknya jadi asisten Lisa kalo emang papanya tajir gitu?”
“Ini masalah pribadi deh, kelihatan banget kan gadis itu sirik banget sama Weini.” Timpal Stevan.
Xiao Jun menyeruput habis teh manisnya, ia tidak mengeluarkan ekspresi berlebihan ketika mendengar nama itu. “Oke, serahkan saja padaku.”
pengusaha yang sudah puluhan tahun berkuasa.
“CCTV di lokasi kejadian apa sudah diperiksa?” Xiao Jun membuyarkan pikiran aneh-aneh mereka agar balik ke fokus utama.
“Eh? Nggak tahu ya, mungkin belum karena seharian orang kantor sibuk klarifikasi.” Ujar Dina.
“Oke, selebihnya biar aku yang urus. Kalo ada info lain, kabari segera.” Tiba-tiba jiwa kepemimpinan Xiao Jun tercetus, lewat kharismanya ia mampu mengerahkan orang untuk menuruti perintahnya dengan ikhlas. Termasuk Stevan yang secara tak langsung sudah menjadi pendukungnya.
***
“Ingat, ini rumah sakit. Lu jangan bikin keributan tengah malam!” Bams mengancam Lisa yang mulai menunjukkan tanda-tanda membangkang. Jika bukan karena alasan mereka yang mengaku keluarga pasien yang belum
diidentifikasi, tak mungkin semudah itu mereka berkeliaran di rumah sakit selarut ini.
“Kita jenguk Weini dulu baru ke asisten lu.” Seru Bams sembari mencari nomor kamar Weini.
Lisa berhenti melangkah, ia tidak sudi melihat kondisi Weini sekalipun gadis itu kritis. “Gue langsung ke kamar Metta aja!”
Bams tak berdaya menghadapi kelakuan minus Lisa. Artis itu sudah menghilang sebelum Bams memberi tanggapan, “Serah elu deh, *****!”
Lisa memilih turun dengan lift menuju lantai ruangan Metta. Ia lebih baik mati daripada diajak bertemu Weini, baginya gadis itu tak pantas dikasihani. Jika Weini lolos dari maut, selanjutnya ia akan membuat hari-harinya tidak mudah.
Lantai 6 ruangan nomor 601. Lisa memastikan kamar ini adalah ruang perawatan Metta. Ia mengernyit heran, bagaimana mungkin seorang asisten rendahan seperti itu mampu mengambil kelas kamar VVIP? Mendadak
Lisa ragu bahkan takut, ia tidak tahu apapun tentang Metta selain fakta bahwa ia adalah teman sekelas Weini. Itulah alasan ia memanfaatkannya untuk balas dendam. Kalau Metta bukan orang biasa dan mencari masalah dengannya, Lisa tak bisa bayangkan dampaknya terhadap reputasi kariernya. Mending gue masuk dan pastikan langsung!
Lisa mendorong pintu lalu menerobos masuk. Bukan hanya Metta yang ia dapati dalam ruangan itu, yang lebih mengejutkan seorang pria yang sangat ia kenalpun kedapatan menemani Metta.
“Mas Anwar!” bentak Lisa.
Si pemilik nama tak kalah terkejut dengan kedatangan Lisa yang bukan jam besuk. Namun yang paling bingung di antara mereka adalah Metta, sejak kapan ayahnya dan Lisa saling kenal?
“Pantas aja lu bisa ambil kamar VVIP, dasar Jalang lu pasti simpanan dia kan!” Lisa membentak Metta yang langsung diamankan oleh Anwar.
“Lepasin! Oh, lu sayang banget ama dia trus mau nyingkirin gue gitu aja? Sini jalang gue patahin kaki lu yang sebelah!” Lisa Meronta nggak karuan. Ia lupa diri karena api cemburu hingga sebuah tamparan mendarat di wajahnya.
“Ngapain kamu ke sini?” bentak Anwar. Tamat riwayatnya kalau Metta tahu rahasia di antara mereka.
“Lu juga ngapain ke sini? Mas, lu nggak sayang gue lagi?” Lisa menempel manja pada Anwar. Pria itu kini di antara risih dan serba salah, gadis itu menggodanya di waktu tak tepat. Andai Lisa bersikap manja seperti ini di kamar hotel, sudah pasti Anwar langsung melahap tubuhnya.
“Mas? Lu panggil papi gue mas?” Kecurigaan Metta mulai terkuak. Ia mengerat gigi saking emosi dan muak dengan pasangan di hadapannya.
“Papi… jadi ini sugar babymu?” hardik Metta sinis ke ayahnya.
“Papi??? Lu?” Lisa tidak mampu meneruskan kata-katanya, kepalanya terasa berat dan tak mampu ditahannya. Tubuhnya langsung terkulai pingsan di pelukan Anwar.
***