OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 192 TIGA HATI MENGHARU BIRU



“Selamat datang kembali Li An.” Liang Jia lebih dulu menyapa Li An dengan sambutan hangat ketika melihat gadis itu datang.


Li An merasa terharu mendapat perlakuan hangat dan baik dari seorang nyonya besar, ia segera berlutut hormat. “Li An memberi hormat pada nyonya besar. Panjang umur, panjang umur.” Matanya menunduk ke bawah, penghormatan tertinggi ini Li An rasa memang pantas diberikan kepada wanita yang peduli pada Xin Er. Ia sangat ingin melirik ke arah ibunya yan berdiri di belakang Liang Jia, namun keinginan itu harus tertahan sejenak.


Liang Jia tersenyum lalu menoleh ke Xin Er, “Anak gadismu cantik dan sopan. Kau sangat beruntung.”


Xin Er mengangguk pelan, ada rasa bangga terselip di hatinya. Ia pun mengakui bahwa anak gadisnya


tumbuh cantik dan baik walau tanpa didikannya. “Terima kasih nyonya.”


“Bangunlah, jangan terlalu lama berlutut. Sayang nanti lecet lututmu.” Ujar Liang Jia pelan,


mengijinkan Li An mengakhiri masa penghormatan.


“Ibu Liang Jia, aku dan kak Li An sangat berterima kasih. Tanpa bantuan ibu, pertemuan ini tidak


akan terjadi.” Xiao Jun turut mengucapkan terima kasihnya.


Liang Jia tersenyum bahagia, betapa beruntung Xin Er dikaruniai anak-anak yang berbudi luhur. “Jangan


bicara seperti itu, semua terjadi karena diijinkan langit. Baiklah, kalian habiskan waktu yang singkat ini sebaik-baiknya. Aku akan berjaga di luar.”


Liang melambaikan tangan lalu berbalik meninggalkan mereka dalam kamarnya. Ia dengan suka rela


meminjamkan tempat paling privasi demi menjamin keamanan mereka. Li San hanya tahu kedatangan Li An untuk menemui Grace, pertemuan antar ibu dan anak itu diusulkan Xiao Jun secara mendadak ketika ia merasa ada kesempatan. Meskipun taruhannya cukup besar, andai mereka ketahuan maka Liang Jia pun akan terseret


mendapat hukuman.


Dalam ruangan yang sudah tertutup rapat, menyisakan tiga orang yang saling mengenal dekat, Li An enggan menjaga sikap lagi. Ia berlari ke hadapan Xin Er dan berlutut memeluk kedua kaki ibunya. Tangis ibu dan anak itu pecah.


“Ibu, aku senang bertemu lagi denganmu. Ibu semakin menua, tapi aku tidak berguna sebagai anak gadismu. Aku tidak merawatmu, ibu ...” Li An sesengukan, hatinya seakan terkoyak melihat penampilan fisik Xin Er yang nampak lelah dengan kantung mata yang menghitam serta uban penuh di rambutnya.


Xin Er berjongkok memeluk Li An, sekuat apapun ia menahan tangis namun ia tetap terisak juga. “Anakku, ini bukan salahmu, bukan salah siapapun. Ibu menua itu wajar, kita punya garis kehidupan masing-masing. Jangan salahkan siapapun ya. Justru ibu yang minta maaf, membiarkanmu tumbuh dewasa seorang diri.”


Xiao Jun memang seorang pria, ia lebih tegar daripada hati lunak wanita, tapi ia tetaplah punya sisi lemah ketika melihat tangisan ibu dan kakaknya yang mengharukan.


Tinggal dalam lingkungan yang sama dengan Xin Er juga bukan jaminan Xiao Jun dapat bertemu setiap hari dengan ibunya. Hanya saat ada acara penting atau perkumpulan keluarga yang dapat menyatukan mereka dalam satu ruangan, itupun harus mencuri tatapan dengan ws-was lantaran kucing-kucingan dengan Li San. Xiao Jun juga ingin pelukan itu, tetapi dibandingkan dirinya , Li An lebih membutuhkan kehangatan dan perhatian Xin Er. Ia harus dengan penuh kesadaran bersikap mengalah.


Li An menggeleng dalam pelukan Xin Er, “Ibu juga tak boleh banyak pikiran. Aku baik-baik saja, tapi ... maafkan aku yang sempat khilaf. Maafkan aku, ibu ....” Li An menangis tersedu sedan, ia tidak kuat menyampaikan kesalahannya namun hanya menggelontorkan maaf yang tiada henti.


Xin Er pun tidak ingin mengungkit sesuatu yang menjadi kesalahan masa lalu, melihat tangisan dan penderitaan Li An saja ia sudah sangat terpukul. “Yang sudah terjadi, lupakan saja nak. Jadikan pelajaran hidup untuk lebih baik di masa depan. Bagaimanapun kamu tetap anak kebanggaan ibu.” Xin Er mengusap air mata Li An, membelai rambutnya dan mengecup keningnya. Persis seperti yang ia sering lakukan ketika


membesarkan anak-anaknya.


Xiao Jun sejenak menjadi bagian yang terlupakan, namun ia turut bahagia menyaksikan pertemuan yang penuh derai air mata. Ia melirik jam tangan, hanya tersisa waktu setengah jam kebersamaan. Tujuan utama kedatangan Li An belum terlaksana, dan Xiao Jun pun belum mendapatkan keputusan Li An untuk menerima atau menolak tawarannya kemarin.


Xin Er dan Li An yang masih berpelukan langsung memandang Xiao Jun dan Liang Jia secara bergantian. Dugaan


sementara dan terburuk adalah mereka sudah ketahuan dan Xiao Jun akan disidak. “Bagaimana ini? Tuan besar pasti sudah tahu, aku ikut bersamamu Jun. Kita akui kesalahan sama-sama.” Ujar Xin Er mengambil inisiatif melindungi putranya.


Liang Jia menggelengkan kepala, “Belum tentu, coba untuk tetap tenang. Aku rasa keperluan dia memanggil Xiao Jun bukan karena ini. Sebaiknya Xiao Jun temui dia sekarang seorang diri, dan kalian tetap di sini biar aman.” Liang Jia memberi sarannya, menurut feeling Li San memanggil Xiao Jun untuk urusan bisnis.


Xiao Jun mengangguk setuju, jikapun ketahuan ia sudah menyiapkan plan B. “Baik ibu Liang Jia, aku


segera menghadap tuan besar. Ibu, kak Li An tetap tenang di sini tunggu aku kembali.” Ujar Xiao Jun yang berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada Liang Jia.


***


Pertemuan yang menegangkan antara Chen Kho dan Li San akhirnya berlalu, sensasinya nyaris sama dengan eksekutor bertemu dengan terpidana mati. Chen Kho berjalan sembari menendangi kerikil sebagai pelampiasan. Kejadian barusan masih menjengkelkan untuk dikenang namun masih terlalu segar dilupakan. Jika bukan karena pengaruh sihirnya, mungkin kini ia mendekam di penjara dalam waktu yang tidak ditentukan.


Flash back Chen Kho di aula utama bersama Li San ...


“Selamat siang paman, Chen Kho datang menghadap.” Sapa Chen Kho yang berusaha tetap tenang dan biasa


ketika berhadapan langsung dengan pamannya.


Sapaan ramah itu tak digubris Li San yang sudah memasang wajah bertekuk, “Kau tahu kenapa aku memangilmu?” sindir Li San dengan suara lantang.


“Maaf, paman. Aku tidak berani menebak.” Jawab Chen Kho sambil menundukkan kepala, padahal ia tahu tujuan Li San terhadapnya. Ia hanya sedikit mempermainkan keadaan, siapa tahu ada peluang mengalihkan pembicaraan.


“Dasar anak tidak tahu malu, sudah salah masih saja bersikap lugu. Kuberi kesempatan mengakui perbuatan memalukanmu!” bentak Li San, ia paling benci orang yang menutupi kesalahan.


Chen Kho terdesak oleh ancaman itu, ia mengingat pesan ayahnya yang menyuruhnya menuruti Li San dan jangan membangkang. Jika sudah demikian, ia harus buka mulut walau kaku terasa. “Chen Kho mengaku salah atas kekhilafan kemarin, aku salah dan siap menerima hukuman.” Lain di mulut lain di hati, ia berkata siap menerima hukuman namun hati kecilnya berteriak tidak sudi.


“Bagus kalau kamu mengaku, aku masih punya hati meringankan hukumanmu. Kau tahu akibat perbuatan


tidak senonohmu mengakibatkan saham kita menurun pagi ini. Sepandainya kau menyembunyikan aib, kau tidak bisa menutup mulut semua orang untuk merahasiakan hal memalukan itu.


Chen Kho tak habis pikir, rasanya seperti ada unsur kesengajaan untuk menyingkirkannya dengan cara keji. Xiao Jun yang tiba-tiba muncul menangkap basah dia, lalu saham yang turun sehari setelah kejadian, di sana hanya ada staf yang menjadi tangan kanannya. Bukan sekali dua kali ia berjinah di kantor dan staf dalam divisi itu tahu


kebiasaannya namun tak ada satupun yang berani buka mulut apalagi menyebabkan saham anjlok dalam satu malam. Ini pasti jebakan dan ia masuk dalam perangkap besar lawan.


“Paman, aku merasa dijebak. Pasti ada seseorang yang mau merusak nama baikku. Aku mohon keadilan dari paman.” Chen Kho berlutut memohon belas kasih pamannya.


Li San mengernyit, alasan apalagi yang dikarang keponakannya. “Kau dijebak? Setahuku kau tidak punya rival dalam bisnis, lalu siapa yang tega mau menyingkirkanmu dengan cara licik?”


Chen Kho mengulum senyum, hatinya mulai berpikir positif akan ada harapan untuk selamat. Li San mulai mendengarkannya, ia yakin bisa mempengaruhi pamannya dengan alibi palsu. “Aku merasa Xiao Jun yang telah menjebakku, paman.”


***