
Lau mengintip dari layar kamera belnya, berjaga-jaga mengintip siapa tamu mereka. Kecemasan pengawal tua itu sirna saat mendapati wajah-wajah yang ia kenali sedang berdiri menunggu sambutan atas kedatangan mereka.
“Siapa?” Tanya Xiao Jun yang tahu bahwa Lau sedang mengintip.
Lau menoleh dan tersenyum pada tuannya, “Tamu istimewa, tuan.” Jawab Lau singkat tanpa spesifikasi yang jelas.
Xiao Jun belum berpuas diri, ia segera menghampiri Lau untuk sama-sama melihat siapa gerangan tamu spesial yang dimaksud. Sementara Haris hanya tenang saja tanpa ekspresi berlebihan, begitupun Wen Ting yang kini sibuk memainkan ponselnya.
“Sampai sekarang pesanku belum dibalas, ke mana saja dia?” Wen Ting bertanya sendiri, ia mencemaskan istrinya yang tidak biasanya mendiamkan pesannya. Pria itu mencoba menghubungi nomor Li An.
Lau membuka pintu di saat Xiao Jun menghampirinya, di saat itupula Xiao Jun terkejut dan sempat tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Dering ponsel Li An pun berbunyi ketika ia bahkan belum sempat menyapa adik laki-lakinya. Wen Ting terheran mendengar suara ponsel yang sangat ia kenali, ia segera berdiri dan berlari menghampiri Xiao Jun dan Lau meskipun agak bingung.
“Apa kabar kalian?” Suara Xin Er yang lembut dan tenang yang pertama kali memecahkan keheningan di antara mereka. Tangan Xin Er terbuka lebar hendak menyambut putranya ke dalam pelukan.
“Ni hao, Jun. Ni hao wo de pao pei (apa kabar kesayanganku?” Seru Li An girang, ia sekaligus menyapa Xiao Jun dan suaminya. Li An bahkan sengaja memamerkan ponselnya yang masih berdering karena Wen Ting belum juga menutup panggilan itu.
“Ibu, kakak... Kalian?” Xiao Jun tak bisa berkata-kata lagi, ia terkejut sekaligus senang. Walaupun kedatangan keluarga yang memang ia rindukan itu terkesan tak tepat waktu, namun mereka sudah sampai di sini, lebih baik sekalian saja merasakan perkumpulan keluara yang penuh kehangatan sebelum ia berangkat bertempur.
Xin Er datang dengan menenteng satu tas kecil, Li An membawa dua koper, sedangkan Li Mei fokus menggendong
bayinya. Ketiga wanita itu kompak tersenyum karena sampai tepat waktu dan berhasil memberikan kejutan.
“Kami merindukan kalian dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk bertemu.” Jawab Xin Er dengan senyum yang menenangkan.
Lau yang sempat terkesima akhirnya kembali berkonsentrasi dan segera mengambil alih tas yang dijinjing Xin Er. Wen Ting dan Xiao Jun juga mengikuti jejak Lau, mereka menarik koper dari tangan Li An.
“Masuklah dulu, ibu dan kakak, kita bicara di dalam.” Ujar Xiao Jun dengan hati-hati menuntun ibunya berjalan masuk.
“Sayang, kamu membuatku cemas, ternyata kamu malah menyusul kemari. Kenapa tidak memberitahuku?” Protes Wen Ting yang juga menggandeng tangan istrinya. Sementara Li An tidak membiarkan Li Mei berjalan sendirian, ia pun menggandeng tangan kakaknya itu.
“Kak, kamu pasti lelah, setelah ini bawa Mei Yi istirahat dulu. Untung saja dia pengertian, jadi tidak rewel saat di perjalanan.” Gumam Li An kepada kakaknya. Ia sengaja memberi perhatian dulu kepada kakaknya yang masih merasa sungkan di tempat baru, urusan dengan Wen Ting bisa ia atur belakangan, dan ia yakin suaminya
pasti pengertian.
Li Mei tersenyum, “Baiklah adik, setelah aku memberi hormat kepada ayah dulu. Iya kan sayang, kita sapa
kakek dulu ya.” Ujar Li Mei yang tampak bicara dengan bayinya.
Li An menatap suaminya yang sudah menantikan jawaban, ia sedikit tersenyum geli karena wajah penasaran Wen Ting yang tampak menggemaskan. “Maaf sayang, kalau aku bilang duluan bukan kejutan lagi namanya.” Jawab Li An seraya menampakkan senyuman manisnya, ia tahu persis bahwa Wen Ting akan luluh begitu melihat wajahnya yang tersenyum.
Wen Ting menyentil ujung hidung Li An, andai bukan di tempat yang ramai, Li An pasti mendapatkan hukuman gelitikan darinya. “Lain kali kejutannya dikasih tahu dulu ya, biar aku nggak mati jantungan karena mencemaskanmu.” Bisik Wen Ting di telinga Li An.
Xiao Jun memapah Xin Er meskipun ia tahu bahwa ibunya mampu berjalan tanpa bantuannya, tetapi Xiao Jun tetap merasa khawatir lantaran kesehatan Xin Er baru saja pulih. Tidak banyak langkah yang Xin Er tempuh, ketika ia melihat seseorang yang teramat sangat ia rindukan berdiri menghadang di depannya, otomatis Xin Er dan yang lainnya tidak dapat meneruskan langkah lagi.
Sepasang mata Xin Er yang mulai keriput itu tampak berkaca-kaca, sama halnya dengan Haris yang lebih dulu menitikkan air mata. Pertemuan yang tak direncanakan namun berkesan dalam bagi Haris, ia memang meminta Xin Er patuh dan menantinya datang ke Hongkong. Meskipun ingin sekali Haris mengunjunginya segera, namun nyawa Weini lebih penting untuk diprioritaskan saat ini. Nyatanya, Xin Er tak lagi bersedia diajak kompromi, rindu yang membuncah itu telah menumbuhkan keberaniannya mengingkari perintah suaminya.
“Aku kembali Xin, aku kembali....” Lirih Haris. Yang ia maksud kembali adalah dirinya yang dulu, tanpa topeng yang membuat hati Xin Er canggung.
“Aku tahu kamu pasti kembali, suamiku.” Desis Xin Er dalam isakannya.
***
Weini mencoba mengumpulkan tenaga dalamnya, memulihkan tubuh dari dalam dengan posisi semedi. Ia telah mengunci rapat pintu kamarnya, berharap Chen Kho tidak datang mengusiknya. Selagi ia mengandalkan gadis pelayan itu untuk menyelamatkannya, Weini akan tetap di kamar hingga bantuan yang ia harapkan tiba.
Flashback....
Weini menuliskan pesanan sebagai syarat yang harus dibawa pergi oleh pelayan itu. Catatan kecil itu hanya asal-asalan dan jelas tidak sungguh-sungguh ia inginkan. Weini bertaruh penuh pada kesempatan kecil itu, ia menuliskan sebuah pesan khusus yang ditujukan untuk Xiao Jun di secarik kertas lainnya.
Ikuti gadis ini, dia bisa menuntunmu ke tempatku.
Lalu Weini menulis alamat apartemen Xiao Jun di bawah pesan itu. Weini membalikkan tubuh lalu bergegas menghampiri gadis pelayan itu.
“Ini... Simpan yang ini di bagian teraman dalam pakaianmu.” Perintah Weini, ia menunjuk pakaian dalam atas milik gadis itu, meskipun agak melanggar privasi tetapi tempat itulah satu-satunya yang aman dari pemeriksaan Chen Kho.
Gadis itu kelabakan, ia tak nyaman dengan perintah itu namun tidak punya daya menolak. Diambilnya kertas
yang terlipat kecil di tangan Weini lalu memasukkannya ke dalam pakaian dalamnya. “Ng, aku harus segera berangkat nona.” Ujar gadis pelayan itu kikuk. Ada seorang pengawal yang berjaga di depan kamar, mereka tidak akan leluasa bertindak.
Weini bergegas meraih tangan gadis itu dan digenggamnya kuat. “Siapa namamu?”
Gadis pelayan itu ketakutan, tatapan Weini terlihat tajam padanya. “Xiu Fung, no na....” Jawabnya terbata.
“Xiu Fung, dengar baik-baik. Begitu kamu sampai di Jakarta, cari akal apapun caranya agar kamu bisa datang ke alamat yang aku tulis. Berikan pesan itu pada pria bernama Xiao Jun, dia akan melindungimu dan datang kemari bersamamu. Kamu mengerti?” Tanya Weini setelah memberi penjelasan dengan tegas pada gadis pelayan itu.
Gadis itu mengangguk takut, “Aku mengerti, nona.”
Weini tersenyum lega, “Aku mengandalkanmu, Xiu Fung. Kembalilah untuk menyelamatkanku.”
Pelayan itu tidak memberikan jawaban lagi, ia menghindari tatapan Weini dengan menunduk. “Aku sudah ditunggu nona, aku harus pergi sekarang.”
Dan Weini melepaskannya dengan harapan yang sangat besar, harapan agar gadis itu bisa dipercaya dan kembali dengan selamat untuk menolongnya.
Flashback off....
***
Hi guys, update lagi nih. Senang kan, hari ini boom update dari author. Mohon berikan dukungan nyatanya dengan rajin memberikan like, komentar, supaya author tetap semangat menulisnya.
Oya, mohon bantuan teman-teman juga untuk membaca novel terbaruku berjudul PUBER KEDUA. Wow... dari judulnya saja sudah ketahuan kan ini ceritanya pasti berbau romance. Nah, mampirlah ke lapakku ya, tinggalkan jejak like, komentar dan Favorit di cerita tersebut. Terima kasih, semoga kalian suka.