
Metta belum menyentuh makanannya sejak pagi, rasa kesal dan marah yang berkecamuk cukup mengenyangkan perut. Ia kembali sendiri di ruang dingin dan bau antiseptic. “Mentang-mentang mami lagi keluar negri, trus papi seenaknya selingkuh!?” Sepanjang malam memikirkan itu hingga nyaris putus saraf otaknya.
Baru saja dibicarakan, Anwar muncul membawa sekantong makanan dan buah. Metta membuang pandangan saat ayahnya menatapnya. Ia masih tak sudi menerima kenyataan bahwa ayah yang selama ini ia banggakan ternyata main serong dengan kalangan artis.
“Anak papi belum makan? nggak enak ya makanannya? Ini papi bawakan masakan dari restoran kesukaanmu.” Anwar membuka mika penutup makanan siap saji yang ia bawa. Metta sama sekali tidak menggubrisnya.
“Nggak lapar. Papi jahat!” bentak Metta.
Anwar menaruh makanan di atas meja, ia perlu menegaskan sesuatu pada anaknya. “Metta, masalah semalam jangan bocorkan ke mami.”
“Papi tega ya! Apa karna dia makanya papi sering suruh mami tur keluar negri? Pokoknya tunggu mami pulang, Metta laporin ke mami!” ancam Metta serius.
“Kamu…” Nyaris saja Anwar menampar Metta tetapi terhenti karena ketukan pintu.
Anwar membukakan pintu dan mendapati tiga orang polisi masuk dengan menunjukkan surat tugas. Metta pucat seketika, mengapa orang yang menjenguknya justru polisi?
“Selamat siang pak. Anda Metta Gumilang? Kami akan memeriksa anda sebagai saksi kejadian di studio X dengan korban Weini.” ujar Polisi yang menjalankan SOPnya.
Metta melirik ayahnya dengan tatapan takut, ia tak pernah berurusan dengan polisi dan sangat kebingungan harus berbuat apa sekarang. Ayahnya mengambil alih perhatian polisi, namun alibinya terbantahkan. Polisi tetap tegas meminta keterangan dari saksi.
“Menurut rekaman CCTV di TKP, anda terlihat keluar masuk ke studio dua hari sebelum hari kejadian. Dan anda adalah orang terakhir yang keluar dari ruangan itu sebelum akhirnya dipakai syuting.” Ujar polisi memberikan keterangan.
Deg! Metta merasa tertipu. Lisa meyakinkannya bahwa tidak ada satupun CCTV di ruang itu, dan ia menjamin keamanan Metta. Lisa! Pasti dia yang menjebakku!
“Aku ke sana mencari anting yang jatuh waktu syuting terakhir di sana. Mana ku tahu ruangan itu sepi. Tidak ada yang kulakukan selain mencari anting dan menemukannya di dekat alat lighting.” Ujar Metta meyakinkan, tanpa ia sadari kata terakhirnya akan membuat ia makin dicurigai.
Nyaris satu setengah jam pemeriksaan, polisi akhirnya meninggalkan ruangan dan menyatakan akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke depannya. Metta diharapkan kooperatif merespon panggilan tersebut.
“Papiiii… kenapa bisa aku yang dicurigai? Bukannya papi udah laporin dia duluan? Kok malah aku yang ditargetkan jadi tersangka?” geram Metta, orang yang dianggap bisa diandalkan rupanya tak sesuai harapan.
Anwar kelimpungan, ia meminta asistennya segera melapor ke polisi semestinya Weini yang diperiksa. Namun justru laporan dari pihak Weini yang lebih dulu ditanggapi.
“Papi selidiki habis ini.”
“Kalau papi mau rahasia papi aman. Metta cuman minta papi jeblosin Weini ke penjara. Nggak peduli dia benar atau salah!” negosiasi Metta sangat serius, ia tidak akan membiarkan Lisa cuci tangan begitu saja, tapi juga harus menghancurkan Weini hingga terpuruk dulu.
***
Weini sudah kelewat bosan seharian berbaring seperti orang lemah. Ia merasa cukup fit untuk keluar rumah sakit sekarang, namun prosedur rumah sakit yang mengharuskannya cek ini itu serta Haris yang melarangnya pulang terpaksa mengurungnya di sini.
“Ayaaah… Aku mau pulang!” pekik Weini, rasanya ia bakal mati bosan daripada mati kesakitan.
“Orang yang habis patah tulang mana bisa keluar cepat? Kepalamu saja belum diperiksa ulang, mana tahu nanti amnesia.” Goda Haris.
Candaan itu tak berhasil merekahkan senyum Weini, malah ia tambah merengut karena sikap protektif Haris.
“Ayah, aku kirim sesuatu ke WA mu.”
“Buat obat kangen, kalau ayah lagi merindukannya. Hehe…” Weini mengirim foto Xin Er yang discreen shot dari video kemudian diedit untuk Haris.
Haris membisu, foto itu membungkam semangatnya menjadi rasa merana yang dalam. Betapa ia merindukan istrinya, meskipun entah kapan bisa bertemu lagi tetapi dengan melihat kondisinya tampak baik saja sudah
membuat Haris tenang.
Dina tergopoh-gopoh masuk ke ruangan, ia menyeka keringat gerah dengan tampak super lelah. “Datang jam segini adalah kesalahan, banyak wartawan di luar yang nungguin kamu. Sial banget aku nggak sempat
menghindar jadi terpaksa melayani beberapa pertanyaan sambil jalan.”
“Kok heboh banget emang kenapa kak? Bukannya prescon kak Bams udah cukup jelasin?” tanya Weini heran.
“Namanya pencari berita makin digosok makin sip. Mereka nanyain kondisimu sekarang dan tentang perkembangan kasusnya.” Ups Dina keceplosan, ingin rasanya ia menampar mulutnya yang tak becus mengontrol
pembicaraan.
“Kasus? Kok jadi kasus?” Weini menatap Haris dan Dina bergantian, berharap ada yang bersedia menjelaskan apa yang terjadi.
Kala Dina dan Haris masih memikirkan alasan untuk menutupi masalah ini dari Weini, satu tim dari kepolisian lebih dulu mengetuk pintu kamarnya dan masuk.
“Selamat siang Weini, anda kami periksa sebagai tersangka penganiayaan pada korban Metta Gumilang.”
***
Xiao Jun memeriksa beberapa dokumen yang diserahkan sekretarisnya. Ada satu berkas yang sangat menarik, sebuah proposal pengajuan kerjasama dari Perusahaan XX yang notabene milik seseorang yang tengah
menyudutkan kekasihnya.
“Selamat siang Tuan muda.” Lau baru saja kembali dari Hongkong, setelah pesta usai dan Li San membebaskannya dari hukuman. Ia diperbolehkan kembali mendampingi Xiao Jun sebagai pengawal.
Xiao Jun berdiri menyambut kehadiran pria yang lebih ia anggap saudara ketimbang pelayan. “Paman, kenapa tidak kabari dulu akan pulang hari ini?”
Lau membungkuk hormat, “Maaf, hamba buru-buru kembali dan tidak terpikir memberi kabar. Apa anda kewalahan, Tuan? Bagaimana kabar nona Weini?”
Xiao Jun tersenyum, Lau begitu perhatian bahkan lebih mementingkan kondisi dia dan Weini padahal Lau sendiri juga mengalami kesulitan besar kemarin. “Paman, maafkan menempatkanmu pada posisi yang sulit kemarin. Weini sudah sadar, ah… kita bisa menjenguknya sekarang.”
“Tidak perlu merasa bersalah, ini tugas saya untuk setia dan melindungi tuan. Dengan senang hati, saya ingin melihat nona Weini.”
Pernyataan itu tak langsung dijawab Xiao Jun, masih ada satu beban yang belum dituntaskan. “Tapi sebelum ke sana, bantu aku selidiki tentang orang ini. Kesampingkan urusan bisnis, kita terpaksa harus berhadapan dengan dia yang mengintimidasi Weini.”
Berkas dari perusahaan XX disodorkan pada Lau, “Baik Tuan. Apa perlu saya menyingkirkannya sekalian?”
Senyuman sinis dan dingin tersungging dari Xiao Jun, “Tidak perlu. Biar tanganku yang langsung menyentilnya.”
***