OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 505



Beberapa menit bersitatap, mendebarkan hati Weini yang harap harap cemas mendengarkan kata kata indah dari Xiao Jun. Ya, gadis mana yang tidak berimpian dipinang oleh pria pujaan hatinya. Apalagi dalam kondisi Weini sekarang, yang sudah tahu jelas bahwa kedua belah pihak keluarga sudah merestui, lalu sekarang apa lagi yang menghalangi mereka?


Xiao Jun berpikir keras, antara maju atau tidak saat ini. Ia bisa saja mengucapkan 'Hwa, maukah kau menjadi istriku?" Dan Xiao Jun yakin betul bahwa Weini akan menyetujuinya, hanya saja apa sesederhana ini caranya? Apa tidak akan mengecewakan Weini yang sudah menaruh harapan akan dilamar dengan cara yang lebih romantis?


Tidak... Ini bukan saatnya, aku harus memberikan yang teristimewa untuk dia.


Xiao Jun mengelak dari bisikan hatinya yang mendorong dia untuk segera mengucapkan kata sakti itu.


"Hmm... contohnya berpikir bahwa mulai saat ini hidup kita akan selalu bahagia, nggak ada masalah apa pun di kemudian hari." Ujar Xiao Jun mantap, semantap caranya mengecewakan Weini.


Senyum Weini getir, ia menelan harapannya yang berlebihan. Ternyata tidak semua yang ia pikirkan bisa terkabulkan. Buktinya Xiao Jun tidak mengatakan hal yang ada dalam pikiran Weini.


"Iya, semoga...." Lirih Weini seraya memamerkan senyuman manisnya yang sudah lapang.


Xiao Jun paham kekecewaan Weini, ia hanya bisa membalas senyuman itu tulus. Tunggu waktunya Hwa, aku tidak akan membiarkan hatimu merana lebih lama lagi.


"Hwa, apa kau mau ikut ke Jakarta sebentar?" Tanya Xiao Jun penuh harap.


Weini mengerutkan keningnya, penasaran dengan ajakan tak diduga itu. "Kapan?"


"Lusa." Jawab Xiao Jun singkat.


"Secepat itu?" Pekik Weini kaget, ia sangat ingin tapi tidak yakin bisa meninggalkan kerjaannya.


Xiao Jun mengangguk pelan, "Ya secepat itu. Kita bantu Stevan dan Grace persiapan nikah yuk."


"Heh? bukankah mereka mempercayakan pada EO? Apa yang bisa kita lakukan untuk bantu lagi?" Tanya Weini heran.


"Pasti ada hal yang tidak bisa dipercayakan pada EO, dan kita lah yang harus membereskan sebagai sahabatnya." Jawab Xiao Jun.


Weini tampak berpikir keras, "Aku mau tapi kerjaanku?" Weini bingung dengan tanggung jawab serta keinginan pribadinya.


"Sesekali percayakan pada tim profesional pun tidak masalah Hwa, semasa tuan besar menjabat pun sudah sejak lama perusahaan dikelola oleh tim profesional. Kamu tidak ku culik lama lama, tenanglah." Goda Xiao Jun usil.


Weini tertawa kecil menanggapi candaan itu, kata culik sangat menggelitik hatinya. "Baiklah tuan muda, aku tidak punya alasan menolak lagi." Gumam Weini dengan sederet gigi yang masih dipamerkannya.


"Hwa, ada sesuatu yang aku bawa untukmu juga." Ujar Xiao Jun yang harus mengatakan soal Siu Fong pada Weini.


"Apa?"


"Gadis yang kamu ingin temui, sudah ku bawa kemari." Gumam Xiao Jun.


Mata Weini berbinar, tampak penuh semangat. Tanpa sadar ia menggenggam tangan Xiao Jun dengan erat, "Oya? di mana dia sekarang?"


Xiao Jun tersenyum, ia tidak lagi memberikan jawaban namun langsung menuntun Weini dengan genggaman tangan yang erat. Weini tersipu, ia berjalan beriringan dengan tangan saling bergandengan dan membiarkan para pengawal dan pelayan yang ditemuinya melihat romansa mereka.


❤️❤️❤️


Kediaman Wen Ting, Beijing.


Li An tidak bisa diam meskipun tengah hamil muda. Entah mendapatkan kekuatan dari mana hingga ia bisa berlaku layaknya sedang tidak berbadan dua, saking fitnya tubuhnya di usia kandungan trisemester pertama. Tetap saja Wen Ting tidak membiarkan ia terlalu aktif bergerak, bahkan cenderung ketat mengawasi gerak-gerik istrinya.


"Sayang, sudahlah biarkan pelayan yang mengerjakan itu. Kamu duduk diamlah, nanti juga mereka akan mengantarkan padamu." Wen Ting gusar melihat Li An yang turut campur masak di dapur.


"Aku nggak apa apa, kalau kenapa napa aku bakal diam. Tenanglah." Seru Li An bersemangat.


Wen Ting menyerah untuk menasehati istrinya, sikap rajin wanita itu bertambah dua kali lipat semenjak hamil, dan itu sangat meresahkan Wen Ting yang lebih suka melihatnya diam. Ia membalikkan badannya memilih membiarkan Li An menikmati kesenangannya di dapur.


"Baik, sampai ketemu lusa ya. Oya, kamu mau titip apa?"


Wen Ting terkesiap, langkahnya berhenti saat mendengar pengawalnya sedang asyik melakukan percakapan di telepon. Pria berbadan tegap, tinggi dan mengenakan seragam serba hitam itu tampak mengangguk beberapa kali. Dari nada bicaranya saja, Wen Ting tahu siapa lawan bicara pengawalnya itu. Baru teringat lagi tentang rencananya yang sempat ia bicarakan dengan Xiao Jun saat hendak berangkat ke Beijing, Wen Ting merasa inilah saat yang tepat untuk ia buka mulut menyampaikan maksud baiknya.


Ming Ming baru saja mengakhiri panggilannya dengan Dina, raut bahagia masih jelas terpampang di wajahnya, hatinya pun riang karena sebentar lagi bisa menemui kekasihnya. Saat ia berbalik, Ming Ming tersentak kaget mendapati Wen Ting berdiri di hadapannya dengan wajah usil yang khas dan Ming Ming hapal betul ada modus di balik wajah sumingrah nan tampan itu.


Wen Ting berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding dengan tangan yang terlipat pula, tatapan usilnya lekat menatap Ming Ming yang tiba-tiba berubah canggung. "Ng... Sepertinya ada yang lagi bahagia banget ini." Celetuk Wen Ting.


Ming Ming hanya tertunduk malu, hanya itu yang jadi responnya. Berharap Wen Ting segera beralih fokus darinya.


"Apa nggak berat rasanya hubungan jarak jauh begitu?" Tanya Wen Ting menguji Ming Ming.


Ming Ming tampak berpikir, raut wajahnya pun bertekuk seakan menjawab secara kode bahwa ia merasa berat menjalaninya.


"Ya, dibilang berat ya berat juga tuan, tapi mau bagaimana lagi." Jawabnya polos.


Wen Ting tersenyum, mereka berada di ruang tamu, kemudian sang tuan rumah mengisyaratkan agar pengawal itu mengikuti dirinya. "Kita bahas di sana saja, sambil duduk santai." Wen Ting menunjuk sofa nyaman di ruang tamunya.


Ming Ming mengikuti dengan patuh, meskipun ia bingung apa yang akan bosnya lakukan.


Wen Ting duduk dengan kaki sengaja dibuka lebar, melepaskan rasa capek di tubuhnya dengan kenyamanan sofa.


"Ming, kalau boleh tahu apa rencanamu dengan hubungan ini? Mau kamu bawa ke mana kalau kalian mau serius?" Tanya Wen Ting yang kini raut wajahnya mulai tampak serius.


Ming Ming terdiam, ia pun masih bingung dengan pertanyaan itu, terlebih bingung dengan tujuannya bersama Dina. Bagaimana menyatukan hubungan yang berbeda negara ini, jika dua-duanya saling tak bisa mengalah.


"Aku akan mengajaknya tinggal di sini, Tuan." Jawab Ming Ming walau agak ragu.


"Tapi dia belum tentu cocok di sini, dan menurut firasatku, dia akan bersama nonanya lagi." Ujar Wen Ting serius.


"Li Gong Zhu? Apa mungkin itu tuan? Dia terkendala bahasa, pasti sulit baginya untuk belajar." Gumam Ming Ming tak percaya.


Wen Ting tersenyum tipis, namun senyum yang menyiratkan keoptimisan. "Hmm... kamu belum tahu keluarga Li, apalagi pemimpinnya. Mungkin tidaka ada yang mustahil kalau dia yang berkenan."


Ming Ming hanya diam, ia memang tidak mengerti dan mengenali klan Li. Tentu tidak sebaik tuannya yang memang punya relasi banyak.


Wen Ting menatap Ming Ming serius, "Maka dari itu, aku sudah memikirkannya dari kemarin. Satu satunya cara agar kamu bisa mempunyai kehidupan baru bersama gadis pilihanmu adalah dengan membebaskanmu."


Ming Ming terperanjat, ia tak mengira akan mendengar berita pemecatannya sekarang. "Maksud tuan?" Tanya Ming Ming dengan raut tegang sehingga membuat Wen Ting semakin senang menjahilinya.


"Ya kamu dipecat." Ujar Wen Ting singkat.


Ming Ming memucat dan membungkam bisu, lemas rasanya mendengar kabar buruk baginya. Kesetiaan yang sudah puluhan tahun ia berikan ternyata menjadi harga pengorbanan cintanya.


"Tuan, apa tidak bisa dipertimbangkan lagi? Maksudku... aku akan cari cara menikahinya tanpa harus mengorbankan pekerjaan ini. Aku... Aku sudah terbiasa mengabdi pada anda. Mohon pertimbangan anda lagi, Tuan." Pinta Ming Ming seraya membungkukkan badannya penuh hormat.


Wen Ting tersenyum, "Tapi keputusanku sudah bulat, kau kan kenal aku dengan baik, apa yang aku putuskan tidak bisa diganggu gugat." Ujar Wen Ting mantap.


Pupus sudah harapan Ming Ming, ia tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang selain pasrah menerima kenyataan. "Baik tuan, saya mengerti. Terima kasih anda telah banyak membantu saya, semoga anda selalu berbahagia." Ujar Ming Ming sok tegar dan sok mendoakan kebahagiaan majikannya.


Wen Ting ingin menahan tawanya tapi raut wajah melas Ming Ming membuat pertahanannya runtuh. "Pppffff... ha ha ha...." Tawa Wen Ting terpingkal hingga Ming Ming melongo bingung menatapi sekujur tubuhnya, takut ada yang aneh dan lucu dari penampilannya. Tapi Wen Ting tak tahan lagi, ia pun angkat bicara yang serius.


"Sudah sudah... aku tidak kuat lagi pura pura, Kamu memang aku pecat, tapi tidak perlu kecewa karena ada seseorang yang siap menjadi tuan barumu." Gumam Wen Ting tanpa tertawa lagi.


Wajah Ming Ming bertekuk serius, ia ingin mendengar penjelasan lebih lagi dari tuannya.


"Setelah kamu berangkat ke Jakarta, aku anggap hari itu adalah hari terakhir kamu sebagai pengawalku, ke depannya kamu akan di bawah perintah tuan Xiao Jun. Dan aku harap kamu patuh, anggap ini sebagai perintah terakhir dariku!" Ujar Wen Ting serius.


Ming Ming terkesiap, ia tak menyangka tuannya begitu perhatian hingga merencanakan masa depannya. Meskipun terdengar seperti pemecatan yang kejam, namun Ming Ming paham bahwa tuannya sudah berpikir panjang untuk dirinya. Ikut dengan Xiao Jun adalah hal yang paling memungkinkan untuk ia mendekati Dina.


Dengan mata berkaca-kaca, Ming Ming menunjukkan rasa hormatnya yang paling tinggi kepada tuannya.


"Terima kasih tuan, panjang umur... panjang umur." Ujar Ming Ming lantang dengan suara parau saking terharunya.


❤️❤️❤️