OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 308 PERMINTAAN SERIUS



Suara mobil masuk ke halaman membuyarkan obrolan Haris dan Weini, keduanya saling bertatapan dan tertawa. Mereka tahu siapa tamu yang datang tengah malam, Haris bahkan tersenyum menggoda Weini.


“Kamu saja yang samperin, yang dia cari itu kamu.”Ujar Haris lalu kembali menata barang ke dalam koper.


Weini beranjak dengan wajah sumingrah, Xiao Jun datang pada waktu yang tidak biasa entah untuk apalagi. Ketika pintu terbuka, pria itu malah tersenyum canggung seolah tahu bahwa kehadirannya tak tepat waktu dan mungkin mengganggu.


“Kalian sudah tidur ya? maaf ….” Ujar Xiao Jun.


Weini menggeleng dengan cepat, “Tidak, ayah masih nyiapin barang bawaan, aku hanya temani dia saja. Ada apa Jun? Apa ada yang ketinggalan?” Tanya Weini, heran.


Xiao Jun menunduk canggung lalu kembali mendongak untuk memberikan jawabannya, “Aku hanya ingin lihat kamu sebentar lagi.” Ungkap Xiao Jun malu-malu.


Weini tersenyum tipis, kata-kata Xiao Jun barusan terasa seperti angin segar yang bertiup langsung ke hatinya. “Bukankah belum satu jam kamu pamit dari sini?” Ujar Weini, tawa kecilnya lepas begitu saja.


“Ya, tapi masih kurang. Besok aku nggak bisa ketemu kamu, selagi bisa melihatmu maka harus dipuas-puasin dulu.” Ungkap Xiao Jun, ia pun tidak terima ditertawakan kekonyolannya. Hatinya memang masih rindu, terlebih romansa mereka selama ini lebih banyak diguncang cobaan. Momen romantis merekapun masih bisa dihitung dengan jari, Xiao Jun berharap tidak akan pernah membuat Weini kecewa lagi. Apapun aral rintang di depan, asalkan mereka belajar dari kesalah-pahaman yang lalu dan siap menghadapi bersama dengan keterbukaan.


Weini tertawa kemudian meletakkan kedua tangannya pada wajah Xiao Jun, memencet wajah pria itu dengan gemas. “Kamu pandai gombal sekarang.” Kilah Weini yang masih tertawa. Ia bahkan belum mempersilahkan tamunya masuk.


“Kalian berdua ngapain pacaran di depan pintu, masuk aja nanti dipergokin pak RT loh.” Teriak Haris yang ditanggapi tawaan oleh kedua anak muda dimabuk cintai itu.


Weini menggerakkan tangannya sebagai isyarat agar Xiao Jun masuk, namun pria itu marah menariknya keluar. Weini jatuh dalam pelukan Xiao Jun, sesaat … Sebelum mereka sadar akan kena protes babak berikutnya dari Haris.


“Aku hanya pengen peluk kamu sebentar, sudah malam aku nggak mau ganggu istirahatmu.” Bisik Xiao Jun pelan, bisikan yang membuat daun telinga Weini memerah.


Weini mengangguk pelan, senyumannya begitu merekah. Hanya perhatian kecil saja sanggup membuat hatinya seakan melayang. “Kamu juga istirahatlah, aku titip ayahku selama di sana.” Pinta Weini.


Xiao Jun hanya tersenyum tipis, andai Weini tahu bahwa dia sedang menitipkan seorang pria yang jelas adalah ayah kandung Xiao Jun, entah seperti apa reaksinya. “Pasti, kamu jangan khawatir.”


“Ah, dan juga kalau bisa bawa dia jalan-jalan ya. Mumpung bisa keluar negeri, biar dia bisa menikmati masa tuanya.” Bisik Weini.


Haris yang mendengar itu langsung mendehem, “Aku belum setua itu, Weini.” Protes Haris.


Weini dan Xiao Jun tertawa bersama, indera pendengaran pria itu memang jangan diadu. Xiao Jun mengangguk, menyetujui permintaan Weini. “Andai saja kamu bisa ikutan, pasti seru.” Ujar Xiao Jun penuh harap.


Weini mulai bertingkah jual mahal, “Hmm, kalau aku nyusul … Mau dikasih hadiah apa?” Canda Weini, matanya mengerling nakal dan terkesan begitu menggoda.


Xiao Jun berdebar melihat ekspresi Weini yang menggemaskan, ia langsung menarik Weini lalu mengecup keningnya. “Apa aja yang kamu mau, pasti kuberikan.” Bisik Xiao Jun, rasanya pelukan itu tak ingin ia lepaskan.


***


tetapkan dan berusaha menerimanya tanpa penyesalan.


Penantian itu tiba, ketika tatapan Grace tertuju pada sebuah mobil sport hitam yang ia yakini milik Xiao Jun bergerak masuk ke area apartemen. Gadis itu bergegas beranjak dari tempat duduknya, ia mematut diri di hadapan cermin, merapikan rambutnya yang dikuncir kuda, kemudian berhambur keluar dari kamar.


Fang Fang yang menonton TV di ruang tengah menatap heran pada Grace yang keluar kamar dengan pakaian rapi pada jam yang semestinya digunakan untuk tidur. “Nona mau ke mana?” Fang Fang berdiri dan bergegas


menghampiri Grace yang nyaris meraih pintu.


Grace berhenti melangkah padahal tangannya sudah meraih gagang, “Aku mau ketemu Xiao Jun sebentar, sebelum dia masuk apartemennya. Kamu belum tidur? Istirahatlah besok kita masih kerja.” Ujar Grace penuh perhatian.


Fang Fang menghela napasnya, “Baiklah nona. Jaga diri dan kesehatan anda.” Ujar Fang Fang, apa dayanya yang hanya berstatus pelayan, ia tidak berhak mengatur majikannya sekalipun itu demi kebaikannya.


Grace hanya mengangguk pelan kemudian keluar dari apartemennya, meninggalkan Fang Fang yang masih mematung. “Perhatian itu harusnya ditujukan pada dirinya sendiri, besok dia harus syuting tapi masih begadang.” Ungkap Fang Fang, sedih.


Grace berlari menuju lift, ia harus mencegat Xiao Jun di sana sebelum terlambat. Dan benar saja, ia tepat waktu ketika lift terbuka menampilkan Xiao Jun yang berdiri terkejut di dalam. Kehadiran Grace yang tepat di hadapannya jelas mengejutkan, sudah selarut ini namun gadis itu berpenampilan rapi. Grace tak mengeluarkan sepatah katapun, ia langsung masuk ke lift lalu memencet pintu itu tertutup dengan Xiao Jun yang terheran-heran di dalam. Grace memencet tombol turun ke lantai dasar, secara sepihak ia menyita Xiao Jun.


“Kamu mau ke mana jam segini?” Tanya Xiao Jun pada Grace yang berdiri di depannya. Gadis itu menciptakan jarak dengan membelakangi Xiao Jun.


“Ayo pergi minum, ada yang mau aku bicarakan. Aku perlu mood untuk bicara serius.” Jawab Grace tanpa menoleh pada lawan bicaranya.


Permintaan Grace yang tiba-tiba itu menghentakkan Xiao Jun, mereka nyaris tidak pernah bertemu setelah pertemuan terakhir di apartemen Xiao Jun. Pria itu mencoba membaca pikiran Grace, ia sedikit gusar memikirkan hal serius apa yang akan dibicarakan Grace. Sayangnya, upaya Xiao Jun gagal, Grace hanya berdiri melamun dengan pikiran kosong. Gadis itu mampu mengosongkan pikirannya bahkan tatapannya pun ikut kosong, andai Xiao Jun bisa melihatnya dari depan.


Ajakan paksa itu tak bisa ditolak Xiao Jun, kantuk dan lelahpun tak lagi ia rasakan. Grace tidak seperti biasanya, gadis itu memang tipe pemaksa, namun kali ini Xiao Jun bisa merasakan bahwa gadis itu sungguh ingin menyampaikan hal serius padanya. Sampai lift berhenti pada lantai yang mereka kehendaki, dua pasang kaki itu berjalan gontai keluar dari sana.


“Ikut mobilku saja.” Xiao Jun berjalan mendahului Grace, ia mengambil alih memimpin jalan. Sementara Grace menatap punggung kekar pria itu dengan tatapan pasrah, ia tak boleh berharap lebih lagi sekarang. Cukup sudah, ini waktunya berhenti menyakiti diri lebih dalam lagi.


***


Hal penting apa yang akan Grace sampaikan pada Xiao Jun?


***