
Xiao Jun menyeruput teh hangat yang disuguhkan Lau lalu mengecap kue kering manis sebagai kudapan. Seharusnya ia menikmati suasana santai ini bersama Wen Ting, sayangnya jatah calon kakak iparnya itu bahkan tidak tersentuh.
“Dia belum kembali?” tanya Xiao Jun pada Lau.
“Belum, tuan.” Jawab Lau sekenanya.
“Aku sungguh salut dengan keberaniannya, mungkin hanya dia yang berani menentang tuan besar.” pujian Xiao Jun terhadap Wen Ting bukan tanpa alasan, diam-diam pengusaha muda itu nekad menemui Li San tanpa pemberitahuan. Jika bukan karena Lau yang mengutus mata-mata ke kediaman Li San, mereka pasti bingung kemana perginya Wen Ting.
“Ya, dia sangat bernyali besar.” Kilah Lau singkat sembari menuangkan teh lagi untuk tuannya.
“Dia yang inisiatif bertemu ibu hari ini, tapi malah lebih dulu bertemu tuan besar. Aku takut ia malah mengacaukan
semuanya.” Xiao Jun mulai mengungkapkan ketakutannya, Li San jelas akan murka jika tahu rencana Wen Ting mengadakan upacara pernikahan di Hongkong. Bisa jadi rencana pernikahan mereka akan batal kalau Wen Ting salah mengambil langkah.
Belum selesai renungan pagi Xiao Jun, pria yang dalam pikirannya pun kembali. Lau yang lebih dulu menyadari kedatangan Wen Ting dan menyapanya sehingga Xiao Jun membuyarkan lamunan. Ditatapnya Wen Ting yang berjalan santai mendekatinya, dari seulas senyum lebar pria itu tampaknya tidak ada hal buruk yang terjadi.
“Adik ipar, kau sudah lama menunggu?” Wen Ting langsung menduduki tempat yang memang disediakan untuknya lalu meneguk segelas teh yang disuguhkan Lau.
“Begitulah, sampai teh yang tadinya panas mulai dingin.” Ujar Xiao Jun, sindiran halusnya terdengar seperti lawakan garing namun sanggup membuat Wen Ting tertawa.
“Ha ha ha, maaf aku mendadak perlu bertemu ayahmu. Jadi, kapan kita bisa bertemu ibumu? Maksudku ibu yang asli.” Ralat Wen Ting segera.
Xiao Jun tersenyum, Wen Ting masih ingat rencana itu dan mulai tidak sabaran. Namun ia enggan melepaskan begitu saja sebelum tahu apa yang dilakukan kakak iparnya di kediaman Li San. “Setelah anda menjawab, ada keperluan apa mencari ayahku?”
Lagi-lagi Wen Ting tertawa, senyum dan tawanya sangat murah sehingga sering diekspos. Ia mengkode pada Lau agar meninggalkan mereka, ada pembicaraan empat mata yang harus ia bahas bersama Xiao Jun.
“Saya permisi dulu, tuan tuan.” Lau yang tahu diri langsung pamit undur diri setelah melihat tatapan persetujuan dari Xiao Jun. Dalam diam mereka sudah terbiasa berkomunikasi dengan isyarat mata.
Xiao Jun menatap Wen Ting dengan tajam, ekspresi kedua pria itu yang tadinya santai seketika beralih menjadi serius. “Jadi apa yang mau dikatakan?” tanya Xiao Jun tanpa bertele-tele.
“Putri kelima tuan Li San ada di mana? Apa kau tahu?” tanya Wen Ting serius.
Xiao Jun lebih kaget mendengar pertanyaan yang di luar prediksinya, Wen Ting meminta privasi hanya demi menanyakan keberadaan putri ke lima Li San yang ia sendiri tidak tahu ada di mana. “Kamu tahu darimana soal dia?” Xiao Jun malah bertanya balik.
“Dia yang mengucapkannya, meskipun langsung ia ralat tetapi spontanitas dia saat menjawab itu lah sebenarnya kebenaran. Ia hanya menyembunyikannya. Adik ipar, aku merasa tuan itu terlalu misterius, kemana putri ke limanya? Apa yang kau ketahui, ceritakan padaku!” pinta Wen Ting serius.
“Kamu sangat ingin tahu? Untuk apa? Setelah menikahi kakakku, kalian akan pergi dari sini. Lebih baik tidak perlu campuri terlalu banyak urusan dalam keluarga mereka.” ujar Xiao Jun.
Wen Ting menggelengkan kepala, “Kau salah, adik ipar bisakah kau bayangkan lebih jauh. Apa yang ditutupi ini kelak pasti jadi masalahku juga, kamu keluargaku. Tuan Li menjadikanmu anak angkat, penerus satu-satunya kekayaan klan Li yang nomor wahid di sini. Sementara dia punya lima orang putri, yang salah satunya menghilang. Apa kamu tidak berpikir jika suatu saat putrinya yang hilang kembali lalu balas dendam padamu, pada kalian yang belum tentu punya andil salah padanya, apa yang akan kau lakukan?”
Xiao Jun menunduk diam, pikirannya mencerna masukan dari Wen Ting. Gadis bungsu Li San yang menghilang bersama ayahnya belasan tahun lalu, gadis yang membuat ia harus terpisah dari keluarga dan seluruh keluarganya menanggung hukuman akibat melindungi nyawanya. Xiao Jun bahkan tidak pernah terpikir apa yang harus ia
lakukan andai suatu hari ia menemukan gadis itu, atau gadis itu sendiri yang kembali merebut haknya.
“Li Yue Hwa, setahuku itu namanya. Gadis yang dibawa kabur oleha ayahku yang menjadi pengawalnya. Karena kesetiaan itulah, kami harus menanggung dosa besar ayahku pada klan Li. Aku menjadi anak angkat dan penerus klan Li juga termasuk hukuman yang harus aku tanggung. Gadis yang kau cemaskan itu, entah masih hidup
atau tidak. Abaikan saja dia! Jangan bahas sesuatu yang rumit dan belum pasti terjadi di masa depan.” Kilah Xiao Jun yang enggan memperpanjang pembahasan.
Sayangnya Wen Ting belum puas jika harus diakhiri begitu saja, “Sampai saat itu terjadi dan kau berhadapan dengan gadis itu, apa yang akan kau lakukan?” Wen Ting memancing reaksi Xiao Jun dengan pertanyaannya.
Xiao Jun berpikir lagi, ia sangat yakin ayahnya masih hidup dan berada di Jakarta walaupun belum ia temukan letak pastinya di mana. Bila ayahnya yang terus bersembunyi itu berhasil ia temukan, kemungkinan besar anak gadis bungsu Li juga masih hidup dan terus dijaga oleh ayahnya. Membayangkannya saja sudah membuat hati Xiao Jun sakit dan tidak terima, ia bisa merasakan kemarahan walaupun belum mengenal gadis bernama Li Yue Hwa itu.
“Apa kau tak peduli jika gadis itu kembali dan merebut tahtanya? Aku yakin seharusnya dia lah yang jadi pewaris. Tapi kenapa Li San tidak mengakuinya?” pertanyaan sebelumnya bahkan belum dijawab Xiao Jun, namun Wen Ting sudah menggelontorkan pertanyaan susulan.
“Soal harta dan tahta, aku tidak peduli. Asalkan keluargaku bisa kumpul kembali, itu sudah jadi kebahagiaan terbesarku. Tebakanmu hampir benar, sebenarnya gadis bungsu Li itulah penerus yang asli, tapi Li San memerintahkan agar anak bungsunya itu dibunuh. Ayahku membawanya kabur dan tidak ditemukan sampai
sekarang, membuat kami sekeluarga kesusahan. Aku tidak membenci ayahku, hanya saja ... kadang terpikir gadis itu membuatku sedikit marah.” Xiao Jun meremas kuat kedua jemarinya, kepalan tangan itu bahkan gemetaran saking kuatnya.
Wen Ting sekarang paham, masalah apa yang dialami Xiao Jun dan Li An. Ia tersenyum tenang, lebih tepatnya menenangkan Xiao Jun yang mulai emosi. “Jangan kuatir, adik ipar. Masalah keluargamu juga menjadi masalahku. Kita cari ayah mertua sama-sama, apa kau punya firasat di mana ayah mertua berada?”
Xiao Jun menatap Wen Ting, dari tatapan teduh pria itu menunjukkan kepedulian yang bisa dipercaya. Ia yakin kakak iparnya adalah orang yang dapat diandalkan, mungkin sudah waktunya ia berbagi rasa dengan seseorang yang berkompeten memberi solusi. Akhirnya ia tidak sendiri menghadapi semua masalah ini.
Xiao Jun mengangguk mantap, ia harus memberitahu yang ia ketahui. “Dia ada di Jakarta.”
***
Pssstt! Apa ada reader yang tinggal di Grogol? Siapa tahu tetanggaan dengan Haris dan Weini he he he ...